Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
139


__ADS_3

Pagi hari adalah waktu yang sibuk bagi Bumi. Kedua putranya itu akan bangun pukul 04.00 setiap harinya. Si kecil Ara masih bisa diajak kompromi. Cukup diberi susu, dia akan terlelap kembali. Berbeda dengan dua jagoan yang mulai bisa mengatur keinginannya sendiri.


Si kalem Akhza akan senang mendengarkan Ayahnya mengaji. Dia akan duduk saja di pangkuan Ayahnya seraya sesekali jarinya menunjuk pada al-Qur'an di hadapannya. Berbeda dengan Aro, anak itu sukanya ditemani nonton televisi. Dan ingat, tidak boleh diam jika sedang menemani Aro. Jika dia sudah menunjuk sesuatu. Siapa saja yang menemani harus pintar menjelaskannya. Dia tidak akan diam sebelum mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


"Bi Eli temani mas Ar dulu, ya?" Bumi menghampiri Eli yang sedang mencuci pakaian. Eli cepat-cepat mengangguk dan mematikan keran. Wanita itu berjalan menuju ruang televisi seraya mengelapkan tangannya pada kedua sisi gamisnya.


Sementara itu Bumi langsung terjun ke dapur. Ara masih tidur, sehingga ia harus segera menyelesaikan membuat sarapan sebelum gadis kecil itu bangun. Cekatan tangannya memotong buncis bergantian membalik tempe yang sedang ia goreng.


Pada kompor lain, ayam yang sedang ia ungkap rupanya sudah terlalu matang. Bunyi yang awalnya hanya letupan itu, kini berubah jadi suara ces yang mengakibatkan sedikit bau gosong. Dengan cepat Bumi mematikan kompor. Dibukanya tutup pada wajan itu. Menyeruaklah harum daun salam bercampur dengan bumbu dapur lainnya.


"Ehm ... wangi," ucap Akash yang tiba-tiba datang seraya memeluknya dari belakang.


"Kebiasaan!" sentak Bumi yang kaget mendapati tingkah suaminya yang tiba-tiba. Akash hanya terkekeh seraya mencium sekilas pipi istrinya itu.


"Abang mana?" tanya Bumi seraya meniriskan goreng tempe.


"Ikut nonton sama Mas Ar," jawab Akash membuat Bumi membulatkan matanya.


"Kakak kenapa ke sini? kasihan bi Eli, nanti kewalahan kalau Abang sama Mas Ar berantem," cecar Bumi membuat Akash yang niatnya akan duduk, kembali beranjak menuju ruang televisi. Ia tak sanggup jadi terdakwa atas perkelahian dua anaknya nanti.


Tapi, baru sebentar Akash sudah kembali. Ia menarik salah satu kursi dan duduk di sana.


"Bi Eli ditemani mama," ujar Akash sebelum istrinya mengomel.


"Nggak nanya!" sahut Bumi ketus.


Akash tersenyum seraya beranjak, dia tidak bisa membiarkan jika istrinya sudah berkata ketus seperti itu. Dia menarik pergelangan tangan istrinya itu dan memaksanya duduk. Bumi berusaha berontak, hendak kembali berdiri.

__ADS_1


"Duduk! biar aku yang masak," ucapnya seraya menjentikan jari. Bumi mengalah, jujur dia sangat merasa kelelahan. Dan suaminya selalu pintar membaca suasana hatinya.


Sebelum memulai masak, Akash menuangkan teh hangat dari dalam poci. Dia yakin itu adalah teh manis. Setelah itu, dia membuka salah satu lemari kitchen set dan mengambil satu bungkus cracker dari sana.


Dibawanya teh hangat dan cracker itu ke hadapan istrinya.


"Silahkan tuan putri yang cantik!" serunya seraya mengedipkan mata. Bibir Bumi akhirnya terangkat untuk tersenyum.


Dia mulai menyobek bungkus cracker itu. Diambilnya satu dan langsung ia gigit. Sementara itu suaminya sigap sekali memasak tumis buncis dan menggoreng ayam yang sudah diungkap.


Bumi tersenyum melihat punggung suaminya yang naik turun melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba, ide itu muncul. Bumi beranjak dari duduknya mendekati Akash dan langsung memeluknya dari belakang.


"Jadi gini rasanya meluk orang yang lagi masak?" tanyanya membuat Akash reflek mematikan kompor dan berbalik.


"Gimana rasanya?" Akash balik bertanya seraya merapikan anak rambut yang keluar dari hijabnya.


"Ara ...." Bumi segera berlari. Saat tiba di kamar mama, ia lihat tangan Ara sudah meronta-ronta. Bahkan kakinya yang tadi ia selimuti sudah terbuka membuat kaki itu dia angkat ke udara.


"Uluh ... uluh ... Sayang, kenapa cantik?" Bumi segera mengangkat bayi mungil itu.


"Adek mau mimi?" Bumi mendekatkan telunjuknya pada mulut Ara. Sontak gadis itu membuka mulut. Namun, saat hendak Ara hisap, Bumi segera menjauhkan telunjuk dari bibir Ara.


"Eh, nggak boleh! Bunda buat dulu susunya, ya ... ayok, kita bikin susu buat mimi Ara." Bumi beranjak dan menggendong Ara keluar dari kamar.


Ia membawa Ara ke ruang televisi hendak menitipkan bayi mungil itu pada Eli. Terlihat di sana Aro sedang ikut menggerak-gerakan tangannya meniru gerakan serial kartun islami yang ia tonton. Sementara Akhza, dia hanya duduk di pangkuan mama sambil menunjuk-nunjuk saja.


"Bi, titip Ara," bisik Bumi, tak ingin jika Aro melihatnya menggendong Ara. Dia takut bocah itu cemburu.

__ADS_1


Eli tentu saja segera mengambil Ara dari gendongan Bumi. Sebelum kembali pergi, Bumi sempatkan mengusap kepala Akhza dan berkata "duh, sholehnya Bunda."


Ia cepat-cepat ke dapur karena tak ingin dilihat Aro. Eli sedikit menjauh agar Aro tak melihatnya menggendong Ara. Bumi cekatan membuat susu untuk Ara. Bahkan ia tak pedulikan saat Akash bicara. Tidak terdengar dengan jelas juga apa yang Akash bicarakan.


"Nanti, ya, Kak ngobrolnya. Mau kasih Ara mimi dulu," ucapnya tanpa menoleh pada Akash.


Secepatnya ia berlari kembali ke arah ruang televisi. Bayi mungil itu memang pintar dan sabar. Walau matanya terbuka, ia tidak menangis.


"Bi, tolong kasih ke Ara. Aku mau mandikan dulu Aro." Bumi menyerahkan botol susu pada Eli.


Bumi berjalan ke arah Aro. Bayi montok itu bahagia demi melihat Bundanya. Bumi segera menggendong dan membawanya ke kamar mandi. Tak enak jika Ummi sudah datang dan kedua jagoan itu belum mandi.


Selesai dengan Aro dia segera memandikan Akhza. Kedua bayi itu Bumi pakaikan pakaian yang sama. Warna merah membuat kulit mereka yang putih semakin cerah saja.


Seperti biasa, jika sudah mandi, maka Aro akan minta jatah ASInya. Bahkan Bumi lupa belum menghabiskan teh manis dan crackernya. Baru akan beranjak, Aro sudah terlebih dahulu protes. Ia merengek seraya mengucek matanya berkali-kali. Jika sudah begitu, Bumi harus segera memberikan kesukaan bayi itu.


Seolah tahu, Akash datang ke kamar membawa teh manis yang belum Bumi minum dan sepiring penuh nasi beserta lauk-pauknya.


"Tahu aja nih, Ayah kalau Bunda lapar," ujar Bumi manja.


Akash hanya menggeleng, ia tahu istrinya belum makan dan jagoannya harus segera menyusu. Bahkan ia rela mengurungkan janji dengan sahabatnya demi menyuapi istrinya makan.


Jadilah Bumi menyusui Aro seraya makan dari suapan Akash. Membuat Aro berkali-kali protes karena merasa tidak diperhatikan. Bahkan tangan mungil itu beberapa kali berhasil menepis suapan dari tangan Akash. Bukan marah, Bumi dan Akash malah tertawa dibuatnya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2