
Kini Bumi sudah berbaring nyaman di bawah selimut yang menutupi tubuhnya hingga menutupi dada. Nadia yang ditugaskan menemani Bumi oleh Akash duduk bersandar pada headboard tempat tidur di samping Bumi. Lantunan ayat suci dari suara lembutnya memenuhi ruangan tersebut. Tangannya sesekali mengelap keringat di dahi Bumi dengan tisu. Wajah Bumi sudah tak sepucat tadi, suhu panasnya sudah turun. Bumipun sudah tidak menggigil seperti tadi.
Merasa ada sentuhan kecil di wajahnya, Bumi mengerjapkan mata. Sosok Nadia yang Dia tangkap saat pertama membuka mata. Bumi sedikit meringis masih merasa pusing di kepalanya.
"Kak Bumi mau apa, biar Nadia ambilin. Kak Bumi tiduran aja, " ucap Nadia seraya menyimpan mushaf pada meja kecil di samping tempat tidur.
"Haus, Nad."
Nadia segeram mengambil air minum yang sudah sedari tadi disiapkannya. Bumi meraihnya, Dia sengaja beranjak dari tempat semula dan duduk mensejajarkan diri dengan Nadia. Setelah menenggak setengah air dari dalam gelas tinggi itu, Bumi kembali menyerahkan gelas pada Nadia untuk dikembalikan di tempat Sebwlumny.
"Kak Akash di mana?" tanya Bumi celingukan.
"Kak Akash ke restoran. Temennya dari Bandung mengajak bertemu." Penjelasan Nadia membuat Bumi mengangguk. Dering ponsel Nadia membuat senyum gadis lembut itu terukir di bibirnya. Adalah Akash sang pelaku yang membuat ponsel Nadia berdering.
"Udah bangun koq, Kak. "
"Tolong tanya mau dibawain makanan apa?"
Bumi yang juga mendengar percakapan via telpon itu hanya menggeleng dan berkata tidak usah dengan gerakan tangan.
"Kata Kak Bumi nggak usah, Kak."
"Hmm, Ya sudah. Kamu temani Dia sampai Kakak datang."
Setelah mengucap iya dan juga menjawab salam Kakaknya Nadia memutus sambungan teleponnya. Dia beralih menatap Bumi yang terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Kakak Kamu tuh seenaknya aja mainin perasaan Aku, tadi pagi bikin Aku cemburu sekarang malah perhatian banget."
Nadia tak bisa menjawab, Dia mendekati Bumi. Memeluk bahunya dari samping.
"Aku nggak apa-apa Nad kalau Dia cuek, asal jangan selalu seperti ini. Dia bisa tiba-tiba bikin Aku terbang tapi akhirnya dijatuhkan lagi. Buat apa, Nad?"
Bumi menghela nafasnga. Mengingat kejadian tadi pagi masih menyisakan sesak di dadanya. Dia tahu takdirnya, Dia sadar cintanya pada Akash bukanlah apa-apa dibanding perjodohan pria itu dengan Rere. Bumi sudah bertekad untuk melupakan semuanya, melupakan segala kenangan dan cintanya. Biarkan waktu yang akan menyembuhkan lukanya. Dia akan dengan baik merawat lukanya. Bahkan sudah berencana untuk meninggalkan kota besar itu. Tapi kenapa di saat-saat seperti itu justru Akash kembali datang. Menawarkan cinta dan perhatian yang seolah-olah bisa Dia rasakan selamanya.
Ponsel Nadia kembali berdering, kali ini dari Ummi.
Nadia segera menjawab panggilan itu setelah menjawab salam dari Ummi dan mengerti apa yang dibicarak Ummi Nadia berkata iya dan bunyi tut tanda panggilan diakhiri terdengar.
"Ummi memintaku pulang Kak, di rumah ada Alisha dan Kak Zha lagi pergi ke acara kantor suaminya. Kakak nggak apa Aku tinggal?" Nadia memberi tahu maksud Umminya menelpon.
Bumi menimang ponselnya, berat sekali membuka lockscreen saat pada layar poto Akash terpampang nyata. Dia tahu harus darimana memulainya. Sebelum membuka aplikasi pesan Bumi terlebih dahulu mengganti wallpapper pada ponselnya dengan gambar anak kucing. Dia mencari-cari kontak bernama Kiblat Cintaku dan tanpa ampun memblocknya.
Bumi mulai membaca pesan bertubi-tubi dari Laut dan juga Ayesha. Bibirnya sedikit tertarik menghadirkan senyum tipis membaca pesan-pesan yang isinya tentu saja mengkhawatirkannya. Baru akan membalas, ponselnya mendapat panggilan video dari Laut. Bumi memasang ekspresi sebahagia mungkin lalu menerima panggilan itu.
"Deeeek, Kamu masih sakit?"
Adalah Ayesha yang pertama kali bicara, terlihat dalam kamera Ayesha sedang duduk dengan Laut tidur di pangkuannya.
"Iiih apa-apaan sih, kalau lagi mesra-mesraan nggak usah pamer deh. Aku masih polos nih, jangan sampai pikiranku kotor lihat kemesuman kalian."
"Kakakmu nih, manja banget. Aku sampe nggak boleh sedikitpun jauh-jauh. Eh Kamu belum jawab pertanyaan Kakak, Dek!"
__ADS_1
Bumi mengerucutkan bibirnya, pasalnya Laut malah sengaja sekali menarik kepala istrinya dan mendaratkan ciuman di pipinya.
"Aku baik koq, Kak. Kalian lanjut aja honeymoonnya."
Kini dalam kamera Bumi bisa melihat Laut mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ayesha, namun lagi-lagi bersandar di bahu istrinya itu.
"Kamu nyusul ke sini sama Akash ya, Lila nggak ada temen sekamarnya kalau Kamu nggak ada. Bisa-bisa jadwal Kakak buatkan Kamu keponakan gagal lho."
Mendengar suaminya bicara seperti itu tentu saja membuat Ayesha kesal. Dengan sengaja Ayesha memukul lengan suaminya seraya berbisik "Kamu tuh bukan khawatir sama Bumi. Malah mikirin itu terus dari tadi," Ayesha dan Laut malah jadi tontonan Bumi.
"Udah deh Kak, Aku baik-baik saja. Kalian mending lanjutkan urusan kalian berdua. Aku tutup ya, Assallamuallaikum."
Bumi mematikan panggilannya lalu melempar ponselnya sembarangan. Hatinya menjadi kesal kembali mengingat ponsel mahalnya itu pemberian Akash. Sepertinya ponsel itu juga harus dihilangkan dari hidupnya.
Bumi beranjak dari tempat tidur, Dia keluar dari kamar tujuannya adalah mengunci gerbang pintu juga jendela bawah. Dia sudah benar-benar tidak ingin lagi bertemu Akash. Dengan kondisi yang masih lemah Bumi menggembok gerbang yang tidak lebih tinggi dari gerbang di rumah Akash maupun rumah Rere. Seketika hatinya kembali sakit. Bumi memang hanya Bumi dan Akash adalah langit. Orang selalu bilang bedanya saja jauh, bagaikan langit dan Bumi. Bumi menertawakan dirinya sendiri, Dia memang tidak pantas berdampingan dengan pria itu.
Setelah memastikan seluruh akses untuk masuk ke dalam rumah terkunci, Bumi memutuskan kembali ke kamarnya. Dia membawa beberapa kotak susu cair serta cemilan, tak lupa menyalakan lampu ruang tamu dan juga lampu teras.
Saat tiba di kamar, Dia mendapati ponselnya berdering. Panggilan dari Nadia, sengaja tidak Bumi angkat. Dia mengabaikan panggilan Nadia dan memilih menaruhnya ke dalam laci meja riasnya. Diliriknya jam yang terpasang di dinding sudah menunjukan pukul 16:00. Bumi memutuskan untuk mandi besar karena dirasa haidnya sudah selesai. Berkat beberapa kali diajarkan oleh Nadia, sekarang Bumi sudah hafal bacaan mandi besar tanpa harus melihat catatan. Sesalnya karena tidaj belajar ilmu agama dengan baik saat kecil kembali menguap.
Bumi segera melaksanakan shalat ashar empat rakaat. Melantunkan ayat suci setelah selesai dzikir dan berdo'a. Pikirannya jau menerawang ke masa lalu yang sungguh telah membuang-buang waktu dengan menonton drama dan hidup sesukanya. Dia memeluk erat Al-qur'an sebelum menaruhnya kembali di lemari. Masih mengenakan mukena Dia beranjak. Samar-samar dari luar terdengar suara seseorang memanggilnya. Bumi mengerutkan kening, Dia sudah dengan benar menggembok gerbang dan tidak mungkin ada yang bisa membukanya. Kecuali....
Bumi beralih ke balkon kamar tanpa melepas mukena nya, Dia mencari sumber suara yang masih meneriaki namanya. Bumi menangkap sosok tubuh tinggi itu dari bawah sana. Akash dengan senyuman di bibir melambaikan tangan.
"Buka pintunya, atau aku dobrak biar hancur semuanya!"
__ADS_1