
Laut awalnya keheranan dengan kedatangan Zahra dan Ilham malam itu. Tujuan mereka menmuinya adalah untuk meminta maaf dan meminta alamat kediaman mereka di kampung. Awalnya Laut enggan memberi informasi, namun demi melihat ketulusan Zahra yang bicara penuh penyesalan akhirnya Laut luluh juga.
"Jangan dendam, Bang." Begitu ucap Ayesha saat Zahra dan Ilham sudah berpamitan. "Bumi juga pasti sudah memaafkan," imbuhnya.
"Aku nggak dendam, cuma masih kesal saja." Elak Laut, tangannya melingkar di pinggang Ayesha.
"Itu sama saja, Bang." Ayesha mendelik, "jangan kayak gitu, aku lagi hamil, Bang."
"Apa hubungannya?"
"Harus banyak amit-amit, kata orang tua, kalau kita benci seseorang nanti anaknya mirip orang yang kita benci." Ayesha menjelaskan seksama, tangannya menyingkirkan tangan Laut yang masih melingkar di perutnya. Namun, gagal.
*****
Zahra dan Ilham benar-benar membuktikan ucapannya, esoknya mereka menuju alamat yang diberi Laut. Ternyata mudah sekali menemukan alamat yang dituju. Rumah besar di pinggir jalan dengan pohon mangga yang sedang berbuah itu nyatanya hanya ada satu. Tepat adzan dhuhur keduanya beserta Alisha sampai di sana.
Ayas sedikit kaget menerima kedatangan mereka. Pasalnya, selama ini Ilham bukanlah orang yang seramah itu. Atau memang seperti itu sikapnya. Mungkin tipikal orang pendiam yang sesungguhnya baik.
Walau begitu, Ayas menyambut mereka dengan baik. Disayangkan, Bumi tidak ada di rumah saat itu. Jadilah keduanya menunggu cukup lama sampai akhirnya Bumi datang.
Zahra serta merta merengkuh tubuh Bumi begitu Bumi sampai di bibir pintu. Bumi yang mendapat perlakuan tiba-tiba keheranan, dia hanya menepuk-nepuk punggung Zahra. Zahra malah menangis dibuatnya.
Lama mereka dalam posisi itu, sampai sebuah celoteh mengakhiri semuanya.
"Umma, janan nangis." Adalah Alisha yang bicara seraya menarik-narik ujung bagian belakang hijab Nadia.
Nadia melerai pelukkannya, ditatapnya Alisha yang baru bangun tidur. Peluruh lara.
"Duduk yuk, Kak." Ucap Bumi, menggiring Nadia dengan menggandeng tangannya.
Ilham mengatupkan kedua tangan di bawah dagunya dengan senyuman di bibir. Bumi patah-patah membalas perlakuan Ilham dengan hal yang sama.
Meski masih bingung, Ayas mencoba bersikap biasa saja. Beruntung Uti tak ada di sana, jika melihat pasti sudah bawel bertanya ada apa.
"Kakak lama ya nunggu Bumi?" tanya Bumi.
"Enggak, koq." Jawab Zahra, tangisnya mereda. Andai bukan untuk urusan meminta maaf, Ilham pasti sudah murka disuruh menunggu selama itu.
__ADS_1
"Apa kabar Kak?" pertanyaan klise, hampir semua orang menanyakannya jika sudah lama tak bertemu.
"Alhamdulklillah Baik, kamu gimana?" Zahra balik bertanya, tangannya merapikan hijab Alisha.
"Allhamdullillah, Kak. Alisha sehat?" Bumi beralih menatap Alisha setelah menjawab pertanyaan Zahra.
"Hamdulah. Pen temu onti Buni, lama nda main." Kalimatnya membuat Bumi bersemu, merasa bersalah juga.
"Bu, boleh bicara empat mata sama Bumi?" pinta Zahra seraya menoleh pada Ayas.
Ayas mengangguk, tanpa dikomando dirinya mengajak Alisha pergi bermain. Alisha yang memang mudah bergaul, iya iya saja ikut saat diiming-imingi melihat kambing.
Kini hanya ada Zahra, Ilham dan Bumi. Hati Bumi tiba-tiba gelisah. Rasanya dia sudah tidak pernah berhubungan dengan Akash. Apa salahnya kali ini sampai secara khusus Zahra dan Ilham menemuinya.
"Bumi, maafkan Kakak sama Abang, ya!?" Ucap Zahra, hanya kalimat itu yang sedari beberapa hari lalu tersusun di pikirannya.
"Maaf untuk apa, Kak?" tanya Bumi tak mengerti, "kita selama ini baik-baik aja kan?" Bumi meraih tangan Zahra yang sedari tadi diremas olehnya sendiri.
"Kakak dan Abang yang nggak baik sama Kamu." Lagi-lagi Zahra menangis, bahkan menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan membenamkan wajahnya di pangkuan Bumi.
"Kak, jangan kayak gini!" tolak Bumi saat Nadia memeluk kedua betisnya.
Ilham di tempat duduknya merasa iba melihat tingkah istrinya. Perasaan sesal sekaligus marah pada dirinya sendiri menelusup hebat memenuhi rongga hati. Ilham bergerak, beranjak ikut berjongkok di samping Nadia.
Bumi tentu kaget, Zahra saja masih dengan posisinya tadi sekarang ditambah Ilhan melakukan hal yang sama.
"Maafkan saya juga, Bumi." Suara berat Ilham membuat Bumi makin bingung. Bukankah terakhir kali bicara wajah laki-laki itu penuh amarah dan ancaman.
"Kak, Bang, kalian jangan seperti ini." Tolak Bumi, tangannya mengusap punggung Zahra.
"Kami tetap harus meminta maaf, telah menyakiti kamu. Memisahkan kamu dari Akash." Kalimat terpanjang yang pernah Bumi dengar dari mulut Ilham.
"Enggak, Bang," elak Bumi, " nggak ada yang harus dimaafkan. Aku nggak apa-apa."
"Kami tetap bersalah dan harus mendapat maaf darimu." Ilham mendongak dan pandangan keduanya saling bertubrukan, tak lama karena Bumi langsung mengalihkan kembali pandangannya.
"Kak Zahra duduk di atas, ceritakan ada apa sebenarnya?" pinta Bumi, Zahra menurut.
__ADS_1
"Ceritakan, Kak!" pinta Bumi sekali lagi.
Cerita keluar dari bibir Ilham, diselingi dengan kata maaf yang ditujukan pada Bumi tentunya. Bumi seksama mendengar ceita Ilham, matanya terbelalak saat Ilham bercerita tentang percobaan bunub diri Rere. Lebih kaget saat Ilham berkata keduanya telah bercerai.
Kali ini giliran Bumi yang terisak, dadanya sesak. Jadi ini kenapa dalam mimpinya Akash selalu terlihat kesakitan?
Potongan mimpi itu kembali terekam diingatan, Bumi menundukan kepala seraya menutup kedua telinganya. Menangis tanpa suara dengan bibir yang bergumam, "Kak, ternyata kamu nggak baik-baik aja?"
Zahra sudah dapat menguasai diri, giliran dirinya yang menenangkan Bumi. Lama Bumi dalam posisi seperti itu, basah kedua pipinya, air mata meluruh tanpa bisa ditahan lagi seperti selama ini.
Namun, segera Bumi tersadar. Beristighfar dalam hati. Kepalanya diangkat, dihapusnya air mata dengan kedua tangan.
"Maafkan kami, Bumi." Zahra menelisik ke wajah Bumi.
Bumi patah-patah mengangguk, meski dirinya merasa tidak perlu ada yang dimaafkan.
"Saya sesali perbuatan saya," adalah suara Ilham, "jika dulu saya yang memisahkan kalian," Ilham menelan salivanya. "Kali ini saya yang akan menyatukan kalian, tentu dengan izin Allah."
Kalimat selanjutnya dari Ilham membuat Bumi tercekat. Tidak mungkin. Hafidz mau dikemanakan? Bagaimana perasaan Haji Endah dan Haji Ma'sum bila Bumi membatalkan perjodohan mereka.
"Kamu mau kan terima Akash lagi?" tanya Zahra, penuh harapan.
"Hanya kamu yang bisa mengembalikan dunia Akash." Ilham sama berharapnya.
"Kak, Bang. Bumi sudah menerima perjodohan dengan lelaki lain."
Bagai dipantik api, Tubuh Zahra memanas seketika. Sesalnya kian merasuki diri. Bagaimana Akash bisa kembali kedunianya jika Bumi menikah dengan orang lain. Zahra akan dihantui perasaan bersalah semasa hidupnya. Dia tahu betul adik laki-lakinya itu sangat keras.
Ilham bukan lagi, dirinya sama kelabakan. Bagaimana terakhir kali Akash menyorotinya dengan tatapan amarah. Jika sekarang tahu Bumi akan menikah dengan lelaki lain, dipastikan seumur hidup dirinya pun akan dihantui sesal yang tak berkesudahan.
Merasa semua sudah selesai, ba'da ashar ketiganya pamit undur diri. Maaf telah tersampaikan, meski kenyataan pahit harus mereka terima.
Bumi memandang sendu saat mobil Ilham mulai menghilang dari pandangannya. Langkahnya dia bawa menuju kamar dan langsung menjatuhkan diri di atas kasur dengan sprei yang selalu harum.
Ayas mengikutinya, penasaran dengan apa yang terjadi. Dengan derai air mata Bumi menceritakan semua kabar yang dibawa Zahra dan Ilham. Sampai pada akhirnya Ayas bertanya, "apa kamu mau kembali pada Akash dan membatalkan perjodohan dengan Hafidz?"
.
__ADS_1
.
. Like dan komennya kakak