Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
38


__ADS_3

Hening. Bumi masih enggan bicara. Namun, melihat kondisi Akash seperti itu hatinya terasa dicabik-cabik.


"Orang sakit itu ditawarin makan, disuapin keq." Sindiran Akash mendapatkan cebikan dari bibir Bumi.


Bumi beranjak turun kemudian mengambil kursi kayu yang sering dipakai Akash untuk duduk di tepi jendela.


"Geser sini duduk agak pinggir, Aku suapin."


Bumi menepuk tempat kosong di tepi ranjang. Lalu tangannya meraih gelas berisi air putih. Hangat, itu yang tangannya rasakan saat menggenggam gelas tersebut.


"Minum dulu yang banyak!" titahnya pada Akash yang meringis karena merasakan semua tulang sendinya sakit.


Setengah dari air dalam gelas itu berhasil Akash teguk, susah payah Dia hendak menyimpan kembali di meja. Namun, segera Bumi meraihnya. Gelas itu aman sampai di meja.


"Jangan cemberut dong, Suster." Goda Akash saat Bumi menyuapinya.


"Jangan cerewet dong, makan sendiri kalau masih protes." Bumi kembali menyuapkan bubur itu pada Akash.


"Susternya galak, tapi Aku sayang. Gimana dong?" Terus saja menggoda, membuat hati Bumi menceleos.


"Nggak usah sayang kalau datang hanya mampir tapi tidak menetap."


Bumi mencoba membuang pandangannya ke segala arah asal tidak menatap mata itu. Hingga sendok itu membentur bibir Akash dan membuatnya mengaduh. Reflek Bumi berdiri, melihat sendok yang gagal masuk mulut Akash. Malah terjun bebas ke atas pangkuan pria itu. Bubur yang gagal dilahap berhasil mengotori kaos dan sarung yang Akash gunakan.


"Menolong itu harus ikhlas," ucap Akash seraya mengangkat sendok dan melemparnya sembarang ke atas meja. Bumi berdecak kesal. Diambilnya kotak tisu lalu melemparnya pada Akash. Akash hanya menggeleng lalu membersihkan bubur yang mengenai pakainannya. Tisu kotor bekasnya mengelap bubur sengaja Dia lemparkan ke wajah Bumi.


Bumi reflek menghindar, menatap penuh kekesalan. Dia kembali duduk lalu bersiap menyuapi Akash.


"Sudah cukup, buburnya hambar. Yang menyuapi juga nggak ada manis-manisnya." Akash menggerakkan tangannya menolak suapan itu. Perutnya merasakan gejolak tidak enak. Seolah diberi dorongan dari dalam, mulutnya sudah tidak tahan untuk tidak menegeluarkan kembali bubur yang Dia makan. Keluarlah seluruh isi perutnya membuat Bumi panik. Dia reflek mendekat, membungkukan diri seraya memijat tengkuk Akash.

__ADS_1


"Nggak apa-apa keluarkan saja, nanti pasti jadi lebih baik setelah muntah."


Bumi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, berharap menemukan kayu putih. Namun, tidak ada. Akash sepertinya sudah mulai merasa membaik. Pening di kepalanya sedikit berkurang. Perutnya pun tak lagi bergejolak.


"Bajunya ganti deh, Kak."


Bumi membantu menggulung selimut yang banyak terkena muntahan Akash lalu membawanya ke kamar mandi. Sepertinya Akash memang sangat mandiri dan sering mencuci baju sendiri. Di kamar mandi pribadinya terdapat deterjen juga cairan pengharum pakaian. Tanpa pikir panjang Bumi segera saja membilas bagian yang terkena muntah lalu merendam selimut itu ke dalam ember berisi cairan deterjen.


Saat kembali menghampiri Akash, Bumi melihat pria itu masih saja berbaring dengan pakaian yang sama.


"Nggak kuat bangun Dek." Begitu katanya saat Bumi menatapnya.


Bumi mendengus kesal. Repot sekali mengurusi pasien seperti Akash. Dia menatap ke arah pintu berharap kedatangan Nadia.


"Ambilkan kaos dan sarung, di lemari itu." Akash menunjuk lemari kayu berwarna coklat di pojok ruangan. Ingin menolak tapi tidak enak. Bumi berjalan ke arah lemari tanpa kata. Beruntung saat dibuka kaos dan sarung langsung ditangkap oleh pandangannya.


"Bisa sendiri kan? Aku keluar dulu cari kayu putih sekalian bikin minuman hangat." Bumi menyerahkan pakaian pada sang pemilik lalu beranjak meninggalkan ruangan.


"Nad, Kamu malah asyik ngopi. Aku menunggumu lho!"


"Sudah selesai urusannya?" Nadia terlihat kaget. Seperti kedapatan mencuri.


"Urusan apa? itu Kakakmu muntah-muntah. Carikan kayu putih. Aku mau buat dulu minuman." Bumi melengos meninggalkan Nadia menuju dapur.


Setelah meminta beberapa batang serai, jahe dam kayu manis pada koki Bumi merebusnya di dalam panci kecil. Sekitar 10 menit direbus dan menghasilkan aroma khas juga warna kecolatan. Bumi menuangkan minuman itu pada gelas besar. Sibubuhkannya dua sendok teh madu. Berharap Akash mau meminumnya. Saat kembali dari dapur Nadia masih saja duduk malah sedang mwnyeruput kopinya.


"Nad, kayu putihnya mana?"


Nadia menunjuk kayu putih di meja dengan lirikan matanya. Masih asyik menikmati kopi.

__ADS_1


"Kamu yang gosok badan Kakakmu Nad, Aku nggak enak nih."


Nadia menggeleng, lalu membayangkan repot sekali mengurusi Akash yang sakit itu. Biasanya Dia berteriak lalu terua saja meminta dipijat seluruh badannya.


"Kak Bumi saja deh, hitung-hitung latihan sebelum jadi istri." Nadia berkilah.


"Harusnya kata-kata itu buat Rere," Bumi mengerucutkan bibirnya. Tapi, diambil juga kayu putih itu dan segera kembali ke kamar.


Akash masih tetap tak mengganti pakainnya. Masih meringkuk dengan posisi kedua tangan memeluk kaki yang ditekuk.


"Kak, Kamu kenapa hm?"


Bumi segera meletakkan minuman di atas meja dan berhamburan mendekati Akash yang sedang menggigil.


"Dingin, ambilkan selimut di lemari paling bawah!"


Bumi segera melakukan apa yang menjadi titah Akash. Rasanya kepalanya mau pecah saja mengurusi orang sakit ini. Calon suami orang yang sakit jadi Dia yang kerepotan begini. Bumi membantu Akash duduk, dan melepaskan kaos yang dipakainya. Malu, itu yang dia rasakan saat tubuh putih itu terpampang nyata di hadapannya.


Dengan gerakan pelan Akash memakai kaosnya dibantu Bumi.


"Pakai kayu putih mau ya Kak?" Bumi ragu-ragu menawarkan. Akash hanya mengangguk, apa saja asal Kamu yang melakukannya. Begitu pikirannya.


Bumi segera menuangkan beberapa tetes kayu putih ke telapak tangannya lalu menggosok perut, punggung, leher, dahi hingga telapak kaki Akash. Dia sadar, tidak seharusnya Dia melakukan itu. Tapi, kondisi Akash yang payah membuatnya terpaksa melakukannya. Anggap saja ini rumah sakit, Dia sebagai perawat dan Akash pasien.


Setelah selesai menggosok pria bertubuh jangkung itu Bumi menyelimutinya. Diraihnya minuman yang tadi dia buat lalu menyangga kepala Akash dengan lengannya agar dapat dengan mudah saat minum.


"Kamu tuh nyusahin banget sih, Kak." omel Bumi seraya meletakkan kembali gelas itu.


"Yang penting Aku tahu kalau perasaanmu tidak berubah, masih sayang kan?" Akash menaik turunkan alisnya. Bumi hanya memutar bola mata, kesal.

__ADS_1


Dia hanya tidak ingin terus larut dalam kisah yang sudah bisa ditebak ujungnya. Dia hanya akan menjadi sosok yang didatangi tanpa ditinggali. Bumi hanya orang ketiga di antara Akash dan Rere. Kisahnya bersama Akash tak ubah layaknya senja, indah namun hanya sementara.


__ADS_2