
Beberapa waktu setelah meninggalnya Uti suasana sepi menyelimuti rumah besar itu. Mangga sudah mulai dipetik dan dibagikan kepada tetangga. Ayas kini menjadikan bagian depan rumah mereka digunakan untuj kegiatan posyandu. Kegiatan bulanan tentang pelayanan kesehatan khusus balita dan Ibu hamil. Setidaknya hal itu menjadikan suasana rumah lebih hangat.
Meski baru sekali diadakan, tapi sedikit mengubah keadaan rumah itu menjadi lebih hangat. Jadwal mengaji Bumi kini berubah menjadi ba'da dhuhur. Jadi ketika maghrib dirinya sudah ada di rumah. Dirinya tetap antusias belajar ilmu tajwid agar bacaan al-qur'annya lebih baik lagi. Kegiatannya membaca terjemahan dari setiap surah juga menyita waktunya, sehingga tak lagi ia menengok drama apalagi sekedar membuka sosmed.
Rasa malu pada anak-anak yang bahkan sudah hafal membaca surah yasin membuatnya semakin giat belajar. Sekarang tak perlu lagi teks ketika membaca shalawat nariyah. Shalatnya mulai dibiasakan tepat pada waktunya, bahkan saat adzan berkumandang dirinya sudah siap di atas sajadah.
Meski hatinya masih diliputi rasa gamang, dia tetap berusaha tidak memikirkannya. Rasa rindu pada Akash yang tiba-tiba sering menyelinap masuk memenuhi relung hatinya selalu dia tepis. Waktu bertemu dengan Hafidz sudah tak lagi intens. Pria itu benar-benar sibuk dengan kegiatannya.
Sesekali berbalas pesan jika tak bertemu, nomor Hafidz pada kontak Bumi belum ia beri nama. Entahlah, sulit sekali menerima pria itu.
Pagi yang indah di hari ahad. Sepagian itu Sang Mama sudah selesai memasak. Berbagai olahan sudah tersaji di meja makan. Bahkan dua rantang penuh sudah siap dikemas untuk Bumi Bawa ke rumah Bu Haji Endah.
"Kamu sudah siap?" tanya Ayas saat Bumi keluar dari kamarnya. Memakai rok panjang dengan atasan hoodie yang kebesaran.
"Sudah dong," jawab Bumi riang.
"Kamu pakai baju siapa?" tanya Ayas curiga, itu seperti pakaian laki-laki.
"Baju aku dong," Bumi berkilah.
"Itu bukan baju kamu," selidik Ayas. Mana ada jika itu bajunya tapi kebesaran, sampai lengannya harus digulung. "Baju siapa?" desak Ayas.
"Punya Kak Akash," jawab Bumi tak lagi mengelak.
"Bumi, kamu kan...."
"Mam, please. Sekali ini aja!" Bumi memohon, kedua tangannya dikatupkan dibawah dagu seraya mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Tapi, nak...." Ayas tak melanjutkan demi melihat tampang putrinya yang terus mengiba.
Akhirnya mengalah, membiarkan gadisnya memakai baju itu. Entah tidak sengaja tertinggal atau apa, Bumi menemukan hoodie itu di kamar mandi. Masih wangi parfum Akash, tapi sekarang sudah dia cuci.
Dengan menggunakan ojeg pribadinya Bumi berangkat menuju kediaman Bu Haji Endah. Lili menyambutnya antusias saat ia sampai.
"Mamamu memang juaranya kalau masak," puji Lili saat membuka isi rantang.
"Yang ini buat Bu Haji," beritahu Bumi menunjuk rantang yang satunya.
"Sana antarkan ke rumah calon mertuamu!" titah Lili.
"Bi Lili temani dong!" pinta Bumi, entah mengapa rasanya masih canggung tidak seperti pada Ummi.
"Ya sudah, Bibi bagi dua dulu makanan ini biar sebagian bisa dikasih untuk santri." Ucap Bi Lili seraya sibuk menyendokan lauk pauk ke dalam piring.
Sesampainya di rumah Bu Haji nampak beliau sedang duduk bersantai di teras, keadaan rumah sepi.
"Paman sudah berangkat ke kebun?" tanya Lili
"Iya, Mas Hafidz juga." Jawab Bu Haji, seolah tahu jika sedari tadi Bumi seperti mencari seseorang.
"Bumi mau ikut nanti antar makanan ke kebun?" tanya Haji Endah.
"Boleh deh, Bu Haji. Sedang panen?" tanya Bumi basa-basi.
"Mas Hafidz dan santri sedang memetik mangga di sana, kalau Ayah ya biasa mengurus tanamannya dari rumput-rumput liar." Beritahu Bu Haji.
Bumi hanya mengangguk-angguk mengerti. Berkat makanan yang dia bawa, Bu Haji Endah tak perlu lagi memasak. Pagi beranjak siang itu mereka habiskan dengan membantu Lili merapikan telur bebek yang akan dijual pada pembuat telur asin.
__ADS_1
Waktu memang selalu cepat berlalu, baru beres beberapa box adzan dhuhur sudah berkumandang. Bumi segera melaksanakan shalat dan bersiap mengantar makan siang pada Pak Haji dan juga Hafidz yang masih berada di kebun.
Sebelum pergi, saat Bu Haji masih hendak memakai sandal tiba-tiba seorang santri datang dan membawa pesan dari Hafidz agar dibawakan ponselnya yang tertinggal di kamar.
"Tolong ambilkan ya, Bumi." pinta Bu Haji.
"Nggak apa nih Bumi masuk kamar Mas Hafidz?" tanya Bumi sedikit ragu.
"Nggak apa, tahu kan kamarnya di mana?" tanya Bu Haji meyakinkan, jangan sampai salah masuk kamar.
"Tahu dong, Bu. Pintu kamar yang berwarna coklat di dekat ruang makan kan?" timpal Bumi seraya membuka sandal dan hanya beralaskan kaus kaki masuk kembali ke dalam rumah.
Ini untuk pertama kalinya Bumi memasuki kamar pria super jahil itu. Diputarnya pelan pegangan pintu, membuat suara decitan di sana. Aroma parfum yang sering Hafidz gunakan tercium saat pintu itu dibuka.
Kamar yang rapi, meski hanya ada satu buah lemari dengan tempat tidur dan meja belajar. Kamar yang rapi untuk seorang laki-laki. Bumi menyapukan pandangannya mencari keberadaan benda pipih itu.
Matanya menangkap ponsel itu di atas meja belajar yang mungkin sekarang beralih menjadi meja kerja. Langkahnya pelan menuju meja, matanya menangkap selembar potret yang tergeletak di samping ponsel.
Sebuah potret gadis cantik, dibagian belakangnya terdapat sebuah kalimat yang sangat manis. Bumi merasakan dadanya bergemuruh sejak pertama melihat potret itu. Kenapa Hafidz sampai menyimpan potret gadis lain di kamarnya?
Dengan tangan gemetar Bumi kembali meletakkan potret itu. Berusaha tenang, nanti bisa ditanyakan langsung pada Hafidz. Begitu pikirnya. Tangannya kini terangkat mengambil ponsel Hafidz yang saat disentuh langsung menyala dan kembali membuat Bumi kaget demi melihat wallpapper berupa ukiran nama yang indah ditulis dalam huruf hijaiyah.
Tubuh Bumi semakin bergetar, namun sebisa mungkin ia tutupi keadannya. Tak ingin menimbulkan tanya di benak Bu Haji. Biar nanti ditanyakan langsung pada Hafidz apa maksud dari semua ini? kenpa Hafidz menerima perjodohan jika dia saja menyimpan nama lain di hatinya.
*****
Sementara di tempat lain nampak Akash sedang bermain-main bersama Alisha. Gadis kecil itu sedang duduk di atas perut Akash yang sedang berbaring di sofa ruang tamu.
"Oom beli es klim," pintanya, sekarang bicaranya semakin mudah dimengerti.
Akash yang hari itu baru pulang dari Bogor, mendapati gadis kecil itu sudah ada di rumah Ummi.
"Ama Oom ajah, ayok Oom." Alisha menarik-narik tangan Akash.
"Oomnya capek, Sayang. Sama onty Natnat ya?" tawar Akash.
"Ndak mau, Onti Natnat jahil." Adu Alisha seraya melipat kedua tangan di dada.
"Bikin susu aja, ya?" Akash kembali membuat penawaran.
"Mahunyaj es klimmm, huaaaa" dan tangis itu pecah bersamaan dengan dirinya yang kocar kacir berlari mencari sesuatu.
"Eeh jangan lari-lari!" terpaksa Akash yang sedang lelah beranjak mengejar keponakannya yang berlari ke arah dapur.
Didapatinya Alisha sedang berdiri di depan kulkas.
"Onti Natnat puna es klimdi sinih." Ucapnya seraya menunjuk-nunjuk kulkas.
"Ada koq, ambil aja!" suara Nadia yang baru datang dengan sebuah piring kecil di tangannya membuat senyum Alisha mengembang.
"Ambil Oom, ayok!" Alisha menarik tangan Akash lagi.
Pria itu akhirnya membuka kulkas dan benar saja berbagai varian es krim terdapat di dalam bagian freezer kulkas itu.
"Ini punya kamu semua, Dek?" tanya Akash.
"Iya, lumayan buat bikin hati yang lagi galau biar adem." Jawab Nadia,
__ADS_1
"Galau kenapa kamu?" selidik Akash, membukakan bungkus es krim dan diserahkan untuk Nadia.
"Kak Zha marah loh anaknya dikasih yang begituan." Protes Nadia.
Alisha sudah kembali lari ke tengah rumah.
"Biar aja, yang penting anteng." Jawab Akash, membela diri. "Lagian mana berani dia marah sama aku sekarang."
"Kak, baikan lah sama Kak Zha. Kasihan loh Ummi sampe kepikiran." Adu Nadia, pasalnya kesehatan Ummi memang sedang menurun.
"Iya, ini juga aku sengaja ke sini buat nemuin Kak Zha." Ucap Akash seraya memeluk leher adiknya dengan lengan.
"Galau kenapa?" tanyanya sekali lagi.
"Nggak apa, udah sana urusin Alisha. Aku mau berangkat kajian."
Nadia melepas diri dari Akash dan mendorong bahunya untuk menemui Alisha, anak itu harus ditemani saat makan es krim bisa berantakan jadinya.
Namun, saat kembali ke ruang tamu sudah nampak Zahra dan Ilham di sana. Awalnya suasana canggung, namun entah mengapa tiba-tiba saja Zahra berhamburan ke pelukan Akash dengan tangis yang pecah. Berkali-kali meminta maaf dan semakin erat melingkarkan tangannya di pinggang adiknya yang jauh lebih tinggi darinya.
"Udah dong, Kak. Aku nggak enak ih sama Alisha. Tuh lihat dia ikutan sedih mukanya."
"Maafin Kakak, maaf Kash."
"Udah Kak, udah nggak usah dibahas lagi." Akash kali ini mengusap pucuk kepala Zahra.
"Kash, Abang juga minya maaf." Ilham mendekat, menepuk bahu belakang Akash.
"Iya, Bang. Say juga minta maaf kalau ada salah." Ujar Akash, membawa tubuh Kakaknya untuk duduk.
"Umma janan nangis, nanti dedek itut sedih dalam pelut." Ucap Alisha, es krimnya sudah mengotori jilbab bagian depannya.
"Iya, Kak. Udah, kalau Ummi lihat nanti dianggapnya enggak-enggak." Akash kembali menenangkan.
"Iya, Sayang. Lagian kan Akash udah maafin kita." Bujuk Ilham.
Zahra menurut, dilepasnya pelukkannya dari tubuh Akash. Mengelap pipinya dengan hijab yang ia kenakan.
"Bumi udah nerima cowok lain, Kash." Beritahu Zahra.
"Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa ditikung Kak." Ucap Akash yakin.
"Bahkan sebelum bendera kuning berkibar masih bisa dikejar," Ilham ikut menyemangati.
"Hus, kamu ada-ada aja Bang! ngajarin nggak bener." Ucap Nadia, mencebikkan bibirnya.
"Kalau butuh bantuan buat menikung dan mengejar, Abang siap bantu, Kash." Katanya hangat.
Akash hanya mengangguk. Perasaan hangat dalam hati menyelimuti diri. Pasalnya baru kali ini dirinya dapat mengobrol sedekat ini dengan Ilham.
Baru kali ini Ilham menunjukan sikap sebagai Kakak ipar yang baik. Satu lagi hikmah yang Allah selipkan untuk Ilham, dengan kejadian kemarin dirinya tak bisa memaksakan segala kehendaknya. Bahkan rasa sesal itu terasa berdenyit di hatinya tiap dia mengingatnya. Ilham menjadi orang yang bisa lebih menghargai sesamanya.
.
.
Like dan komennha kakak
__ADS_1