Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
148


__ADS_3

Meski tak kekurangan harta, Bumi tetap mendisiplinkan anak-anaknya agar mau berjuang sebelum mendapatkan sesuatu. Kecuali Aro, berkat keartisannya, anak itu dapat membeli apa saja yang diinginkannya.


Aro memang tumbuh menjadi anak yang tak hanya rupawan saat dipandang, tapi juga menyenangkan saat diajak bicara. Sifatnya yang mudah bergaul itu mengantarkannya memiliki nama besar di dunia hiburan meski masih menyandang status sebagai pelajar kelas 9.


Awalnya anak itu sering dijadikan model oleh Zahra untuk koleksi model-model pakaian yang ia jual di butiknya. Akash sempat marah saat foto Aro menyebar luas di laman media sosial Zahra. Tapi, justru Aro senang bisa dikenal banyak orang. Hingga banyak yang menawarinya menjadi bintang iklan.


Aro nyatanya konsisten di dunia hiburan. Apalagi beranjak remaja, parasnya semakin mempesona. Kepiawaiannya dalam berakting membuatnya kebanjiran job. Meski begitu, Bumi tetap membatasinya.


Bumi tak mengizinkan jika Aro melakukan adegan yang menyimpang. Dia tak ingin putranya lebih jauh salah melangkah. Apalagi Aro sangat keras, seperti batu yang diberi nyawa saja. Jika diingatkan dia akan menjawab 'aku sudah besar, tahu mana yang baik dan mana yang salah'


Atar saat ini sedang meminta dibelikan ponsel, maka dia rajin sekali membantu ayah bundanya mengurusi kafe. Bahkan ia tak segan membantu mencuci piring di dapur saat libur sekolah.


Soal tanggung jawab, Bumi juga sangat mendisiplinkan anak-anaknya. Dia mewajibkan agar mereka mencuci pakaiannya masing-masing. Setidaknya pakaian dalam jika memang berat mencuci pakaian yang lain.


Begitu pun dengan mencuci sepatu, anak-anaknya harus mencucinya sendiri. Jika tidak, maka jangan harap memakai sepatu bersih. Biasanya Ara yang sering Aro kerjai untuk mencuci sepatunya. Dia mengancam jika Ara mengadu pada Bumi bahwa dirinya tak pernah mencuci sepatu selama ini, Aro akan melakukan sesuatu yang membuat Ara menyesal.


***


"Bun, aku siang berangkat kerja ya, ke Ouncak loh Bun." Beritahu Aro pada Bumi yang sedang memasak. Aroma tempe goreng yang menjadi kesukaan anak-anaknya menyeruak memenuhi ruangan dapur.


"Bunda ikut boleh nggak?" pinta bunda.


Aro diam, terakhir bunda menemaninya syuting semuanya berjalan kacau. Saat itu Aro akan beradegan sedikit mesra dengan lawan mainnya. Hanya pegangan tangan, tapi, Bumi terus mengganggunya.


"Nanti aja deh Bunda ikutnya, kita liburan bareng." Aro memberikan penawaran.


"Kamu mau beradegan apa sampai Bunda nggak boleh ikut?" todong Bumi, serius, bahkan sampai mematikan kompor. Padahal tempe yang ia goreng belum sepenuhnya matang.

__ADS_1


"Cuma adegan naik motor, balapan ceritanya," jelas Aro, sedikit berbohong.


"Sama temen main kamu itu? siapa namanya?" bunda berusaha mengingat nama lawan main Aro. Gadis yang selalu berpakaian minim.


"Bella, Bun. Iya, dia kan pemeran perempuannya," ungkap Aro, mengambil sepotong tempe goreng yang sedari tadi menggodanya.


Bunda mendengus, kesal jika Aro sudah melakukan adegan yang mengharuskannya kontak fisik dengan perempuan. Dia selalu mewanti-wanti agar anak-anaknya tidak melewati batas dalam bergaul.


"Sana cuci sepatu dulu!" bunda memukul tangan Aro yang akan kembali mengambil tempe.


"Iya, Bunda Sayang."


Aro segera beranjak, dia mengambil sepatu kotornya yang masih terletak di depan pintu masuk. Beruntung Bumi tak melihatnya, dia aman dari omelan. Baginya yang memiliki sepatu lebih banyak dari saudara-saudaranya, mencuci sepatu bukanlah hal penting, tapi, demi selamat dari amukan Bunda. Ia akan pura-pura mencuci padahal yang mengerjakannya adalah Ara.


Sampai di halaman belakang, ada Ara yang sedang mencuci sepatunya. Gadis itu tak lepas bershalawat saat menyikat ujung-ujung sepatunya yang kotor.


"Mas Ar, bisa sedikit lebih halus nggak sih?" Ara berdecak kesal. Ia sampai harus menghentikan gerakan menyikatnya untuk mengelap wajahnya yang basah.


"Salah sendiri kenapa jelek? gue halusnya cuma sama cewek cantik dan seksi doang." Jawaban Aro semakin membuat Ara kesal. Ia bersungut-sungut, entah apa, yang jelas Aro tak peduli.


Aro ikut berjongkok di samping Ara. Dia berjaga-jaga jika tiba-tiba Bumi datang, dirinya bisa pura-pura mencuci sepatu.


"Lo bau banget sih!" ejek Aro seraya mendengus.


"Enak aja! aku udah mandi, udah wangi juga." Ara bahkan mengendus ketiaknya memastikan dirinya tidak bau.


"Oh iya, gue lupa. Lo kan upil, jadi bau terus." Lagi-lagi sebuah ejekan untuk Ara.

__ADS_1


"Aku bilangin loh sama Bunda, Mas Ar selama ini nggak pernah cuci sepatu," ancam Ara seraya mengangkat sepatunya yang sudah bersih tepat ke hadapan wajah Aro.


"Gue bilangin juga lo sama abang pacaran kan?" Aro mengancam balik Ara seraya menyeringai jahat.


Ara gelagapan, dia tak dapat menyembunyikan kekagetannya. Tanpa menjawab apa-apa, Ara berdiri dan melangkah ke tempat yang lebih panas untuk menjemur sepatunya. Tak lama ia kembali dan mulai mencuci sepatu Aro.


"Lo kaget ya gue tahu?" bisik Aro seraya menyikut perut Ara.


"Kita nggak pacaran, Mas," elak Ara, tangannya mulai membubuhkan sabun pada sepatu Aro.


"Aelah bohong, lo. Gue baca surat Abang buat lo." Aro lagi-lagi berbisik membuat Ara takut. Ia sampai terus menengok ke arah samping takut jika bunda tiba-tiba datang.


"Tenang, gue bisa jaga rahasia. Asal lo mau nurutin apapun yang gue suruh." Aro menarik dagu adik angkatnya itu. Sejenak keduanya saling berpandangan, membuat jantung Ara rasanya terlepas dari tempatnya. Ia lemas seketika hingga sepatu dan sikat jatuh dari pegangannya.


"Gimana?" tegur Aro menyadarkan alam bawah sadar Ara.


"Tapi aku sama Abang nggak pacaran." Ara kembali mengelak. Membuat Aro dengan kasar melepaskan dagu Ara.


Aro menjauhkan diri dari Ara. Dia semakin membenci gadis itu saat menemukan sebuah surat cinta dari Akhza untuk Ara. Aro tak menyangka, kakaknya yang alim itu diam-diam meminta Ara untuk menjadi kekasihnya.


Tepatnya seminggu yang lalu, saat Aro ke kamar Akhza untuk meminjam laptop. Tak sengaja ia menemukan secarik kertas yang berisi surat tulisan tangan Akhza sendiri.


Isinya menjelaskan bagaimana perasaan Akhza, betapa Kakaknya itu memuja sosok Ara. Dan bahagia saat tahu bahwa Ara bukanlah adik kandungnya. Meski tak tahu pasti apakah surat itu sudah sampai pada Ara atau belum. Yang pasti, Aro semakin merasa tak suka dengan Ara.


Gadis mana yang tak akan suka dengan Akhza, sudah tampan dan selalu baik pada semua orang. Aro meyakini bahwa Akhza dan Ara sekarang berpacaran. Sebab, keduanya sering kali menghabiskan waktu bersama. Akhza bahkan lebih perhatian pada Ara.


Sempat ingin ia adukan hal ini pada orang tuanya, namun urung karena belum memiliki bukti yang kuat. Apalagi Akhza dan Ara bisanya hanya mengelak saat ditanya apa keduanya berpacaran?

__ADS_1


__ADS_2