
Hari berlalu menjemput minggu. Acara resepsi itu sedang berlangsung. Gelak tawa kebahagiaan ramai menjadi saksi dua insan yang tengah berbahagia. Tampak serasi di pelaminan yang bernuansa putih.
Bumi yang ceria berdampingan dengan si batu yang diberi nyawa. Namun jangan salah, batu yang diberi nyawa itu kini kian pandai tersenyum dan pandai menimpali candaan lawan bicaranya. Definisi hadirmu mengubah duniaku yang haqiqi adalah kehadiran Bumi di sisi Akash.
"Kamu capek nggak?" bisik Akash saat melihat Bumi membungkukkan badan untuk mengelus betisnya yang terasa pegal.
"Pegal sedikit," jawabnya lirih. "Duduk aja, ya?" dengan wajah memelas, berharap tamu segera selesai berdatangan.
"Ke dalam aja dulu," usul Akash seraya berjongkok di hadapannya. "Sini aku lihat kakinya," kemudian memijat pelan betis Bumi yang terasa keras.
"Malu, Kak." Protes Bumi mendorong bahu suaminya agar menyingkir dari hadapannya. "Nanti dikira aku istri manja," matanya mendelik. "Kamu nanti dibilang suami takut istri," imbuhnya dengan bibir mengerucut.
Akash hanya tertawa sambil terus memijat betis di balik gaun berwarna putih itu.
"Kenapa, Nak?" Ummi yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya datang menghampiri.
"Kenapa, Bumi?" Ayas ikut penasaran.
"Tuh kan, Kakak...." Bumi merajuk. "Kubilang jangan kayak gini," rengekkan itu dihadiahi kekehan oleh Akash.
Dia menyudahi kegiatannya. Padahal dalam hati Bumi masih ingin dipijat. Betisnya terasa lebih ringan.
"Anak baru Ummi pegal katanya," seloroh Akash membuat Ummi dan Ayas saling melempar pandang kemudian tertawa.
"Ya sudah kamu ke dalam dulu," usul Ummi dan dibenarkan Ayas.
"Aku bilang apa tadi kan?" Akash memperingati, tangannya terangkat mengusap pucuk kepala Bumi.
"Nggak usah deh," tolaknya seraya kembali berdiri. "Itu ada Rere sama orang tuanya," Bumi menunjuk dengan dagu ke arah tamu yang baru datang.
Ayas dan Ummi reflek kembali ke kursi masing-masing.
"Habis ini kita langsung ke dalam ya," Akash memperingati dan diangguki Bumi.
"Selamat ya Ummi Hajah Rosida," ungkap Bu Yona. Keluarga ini kompak memakai batik sarimbit.
"Terima kasih, Bu Yona. Do'akan kedua anak saya, ya." Pinta Ummi dan diangguki Bu Yona.
Rere ikut menyalami Ummi, disusul Anggara yang juga mengatupkan kedua tangan di bawah dadanya.
__ADS_1
Beringsut ke tengah keluarga ini memberi selamat pada kedua mempelai. Tak lupa do'a diucapkan dan diaamiini keduanya. Saat kedua orang tua Rere turun, Rere memilih memisahkan diri untuk bicara dengan Bumi.
"Makasih ya. Bumi buat info soal Guntur."
"Eh iya, gimana, Re?" Bumi penasaran. Apa Rere tidak berhasil menemukan Guntur.
"Aku ketemu sama dia, tapi...."
"Tapi apa?" Bumi semakin penasaran.
"Sayang, lebih baik ngobrolnya di dalam." Akash memperingati demi melihat segerombol tamu yang baru datang.
"Ayok. Re ngobrol di dalam?" tawar Bumi.
"Tapi nanti banyak tamu gimana?" Rere merasa tak enak walau sebenarnya dia memang butuh teman bicara.
"Nggak apa, Re. Sekalian biar istri gue istirahat juga." Akash memberi penjelasan.
"Kalau gitu ayok deh," ujar Rere.
"Ayok jalan sekarang sebelum tamunya datang lagi," Akash segera mengangkat bagian bawah gaun Bumi agar istrinya itu tak kesulitan berjalan.
ke ruang santailah Akash mengantarkan Bumi, Rere mengekori keduanya dari belakang.
"Romantis juga tuh anak," Rere berkomentar setelah kepergian Akash.
"Lebih tepatnya bawel," sedikit berbisik Bumi menimpali komentar Rere. " Terus gimana nih kelanjutan yang tadi?" desak Bumi. Kakinya ia selonjorkan di sofa panjang dan Rere duduk di sofa lain. "Maaf nih aku selonjoran," tutur Bumi dan dihadiahi ibu jari tanda ok oleh Rere.
"Di rumahnya ada perempuan yang mengaku calon istrinya." Adu Rere, mulai menceritakan kejadian seminggu yang lalu.
Hari itu Rere berhasil menemukan keberadaan Guntur. Menurut informasi yang dia dapat dari rumah sakit tempat Guntur praktek, Guntur hari itu sedang libur. Dari sana juga Rere mendapat alamat rumah Guntur yang sudah Rere ketahui sebelumnya.
Tanpa ragu Rere langsung mendatangi kediaman Guntur. Letaknua ternyata tidak jauh dari rumah sakit.
Rere turun dari mobil dengan sejuta bahagia dan harapan. Dirinya akan bertemu dengan sosok yang dirindukan selama beberapa waktu ini.
Namun kejutan itu sepertinya telah menanti. Tepat ketukkan kedua di pintu yang dibuka oleh seseorang membuat Rere terperangah dengan kehadiran seorang wanita.
"Cari siapa, Mbak?" tanya wanita itu yang masih berdiri di bibir pintu.
__ADS_1
"Dokter Guntur ada?" Rere dengan benak penuh tanya memandangi wanita yang sepertinya seusia dengannya.
"Sayang, ada yang mencari." Alih-alih menjawab, wanita itu berteriak ke arah dalam.
Teriakkan yang langsung membuat dada Rere rasanya penuh sesak. Rere berusaha mengontrol diri. Dia paksakan tetap berpijak walau lutut rasanya sudah lemas.
Tak lama pria yang dipanggil sayang itu datang. Tampilannya sungguh santai. Hanya memakai celana pendek dan kaos rumahan.
"Siapa, Sayang?" suara itu semakin membuat dada Rere sesak.
Air mata seakan berlomba untuk segera keluar dari peraduannya.
"Rere!" pekik Guntur
"Iya, apa kabar?" tanya Rere senatural mungkin.
"Aku baik, ini calon istriku." Ungkap Guntur seraya melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu.
"Iya, selamat ya." Rere masih berusaha menahan diri untuk tidak memecahkan tangisan. Padahal sesak di dalam dada saling berebut minta dikeluarkan.
"Kenalkan, Mbak. Lissel," wanita itu mengulurkan tangan. Gemetaran Rere menerima uluran tangan itu tanpa menyebutkan namanya.
"Aku permisi, maaf sudah mengganggu." Ungkap Rere segera berbalik membawa langkah yang terasa berat. Namun baru beberapa langkah, sebuah suara kembali membuatnya menghentikan langkah.
"Nanti undangannya kukirim ya, Re." Suara lantang Guntur bagai petir di siang bolong. Rere menganguk tanpa menoleh seraya mengacungkan ibu jari ke udara. Selanjutnya setengah menyeret kaki, Rere kembali melangkah.
Tangisan itu pecah di hadapan Bumi, Rere sudah berupaya menahan diri. Namun, sesak di dada kembali meminta dikeluatkan. Bumi yang iba segera mengubah posisi duduknya. Ia beringsut mendekati Rere, menggenggam jemarinya untuk memberi kekuatan.
"Tenang, Re. Allah pasti kasih yang lebih baik." Hibur Bumi.
"Ajari aku kuat seperti kamu, Bumi." Celoteh Rere di sela isak tangis.
"Aku juga nggak sekuat itu, Re. Hanya berusaha menerima waktu itu." Ungkap Bumi yang mulai terbawa suasana akibat Rere begitu dalam menangisi lukanya.
"Apa ini balasan untuk orang jahat sepertiku?"
"Kamu nggak jahat, Re. Kamu baik." Sanggah Bumi.
Bumi langsung teringat uang 30 juta yang Rere berikan untuk Laut. Dia juga teringat dengan cerita Akash tentang Rere yang gemar bersedekah di panti asuhan. Menjadi donatur tetap di sana. Rere tidak jahat, dia hanya sedikit angkuh. Tapi, kini sepertinya sikap buruknya sudah mulai hilang.
__ADS_1
"Assallamuallaikum"
Sebuah suara mengalihkan perhatian Rere dan Bumi. Tangis Rere makin pecah melihat sosok itu. Seolah ingin memberi tahu bahwa hatinya terluka parah.