
Adzan magrib sudah berkumandang beberapa menit yang lalu, Bumi menunggu Nadia shalat dengan memeriksa ponselnya dan menghapus beberapa poto aktor Korea juga menghapus beberapa drama korea yang sudah sering Dia putar.
Nadia tak lekas melepas mukena setelah shalat. Dia segera menghampiri Bumi yang masih memainkan ponsel.
"Chat sama siapa sih Kak?"
"Ini, Kak Laut. Dia tanya Aku ke mana, pulang dari tadi tapi belum sampe rumah." Tanpa menoleh dan masih mengetikan balasan pada Laut.
/Di rumah Ummi, sebentar lagi pulang/
Tak lama balasan dari Laut masuk.
/Nanti Aku jemput setelah menjemput Ayesha. Jangan naik motor, hujan/
Bumi membaca tanpa membalas pesan Laut. Dia menaruh sembarangan ponselnya di atas kasur yang didudukinya.
"Kamu mau cerita apa? Abqari lagi?" tebak Bumi yang langsung diangguki Nadia.
"Kenapa lagi?"
Nadia tidak segera menjawab, Dia mengulum bibirnya menahan senyum.
"Iih kenapa sih, pake nahan-nahan senyum gitu?"
"Gimana ya Kak, kalau Kak Zha nggak ngizinin Aku mau kenal lebih jauh sama Abqari?"
"Bilang baik-baik aja," saran Bumi.
"Nanti deh kalau Kak Akash udah nikah. Kak Zha sekarang sensitif. Sedikit-sedikit marah alasannya, Aku tuh cape dek ngurusin nikahan Akash." Nadia mempraktekan gaya bicara Zahra yang langsung membuat tawa Bumi pecah.
"Aku bilangin ah ke Kak Zha ini lagi dighibahin adeknya," Bumi pura-pura meraih ponsel dan hendak melakukan panggilan.
"Jangan dong, nanti Kak Bumi malah ikutan kena omel."
Bumi kembali tertawa. Mana berani Dia menelpon Zahra. Nomornya saja tidak punya.
"Nggak tahu ya Nad, Aku juga kalau urusan cinta payah. Aku sendiri masih bingung, belajar ikhlas aja."
"Dan sabar,"
__ADS_1
"Kamu tahu nggak yang paling mudah dari sabar itu apa?"
Nadia menggedikan bahu tanda tak tahu.
"Mengucapkannya, sabar. Prakteknya...."
"Su-sah." Keduanya kembali tertawa. Bumi dengan gaya khasnya, tertawa sambil memukul lengan Nadia. Sedangkan Nadia tertawa seraya menutup mulutnya. Terkadang untuk hal sekecil ini saja Bumi merasa tidak sebanding jika bersanding dengan Akash. Dia yang dangkal ilmu agama, terlalu payah untuk keluarga Akash yang sempurna.
*****
Pagi itu Bumi bangun lebih awal meski sedang tidak melaksanakan shalat. Ya Dia harus membantu Ayas berkemas karena akan pergi ke kampung untuk mengurusi pernikahan Paman Yudis.
"Mama nggak apa-apa naik travel?" tanya Laut yang ikut berkumpul walau hanya duduk saja.
"Nggak apa-apa. Lagipula kalian juga sibuk. Travelnya juga nanti jemput Mama ke sini."
"Bumi nanti di rumah sensdirian nggak, nih?" adalah Bumi yang bicara sekaligus menyindir Kakaknya.
"Nggak dong, nanti Aku sama Laut tinggal di sini," jawab Ayesha yang sedang mulai menutup resleting koper Mama mertuanya.
"Jadi nyamuk, deh." Gerutu Bumi, memasang wajah sendu.
"Sakit dong sayang, Kamu KDRR nih." Ucapnya mengusap bekas pukulan Ayesha.
"Habisnya, bukan dibujuk malah digodain." Ayesha mencebikkan bibirnya.
"Sudah, ayok Laut bawakan koper ke luar. Kita sarapan sama-sama. Nanti mama dijemputnya jam 6. Sekarang sudah setengah 6." Ayash segera merangkul pundak Bumi menggiringnya keluar.
"Sayang, cium dulu biar semangat angkat kopernya." Laut mendekatkan pipinya ke wajah Ayesha. Ayesha menurut saja dikecupnya kedua pipi suaminya itu. Laut membalasnya dengan mengecup sekilas bibir Ayesha. Ayesha hanya menggeleng lalu mengekori suaminya yang melangkah terlebih dahulu.
Tepat waktu. Pukul 6 travel datang menjemput Ayas. Setelah berpamitan dan memeluk anak-anaknya, Ayas segera menaiki travel. Koper ditaruh dibagasi oleh sang supir.
"Jadi Mama bener mau pindah ke kampung, Bang?" tanya Ayesha pada Laut. Setelah menikah Ayesha memanggil Laut dengan sebutan Abang. Sesuai perintah orangtuanya. Hari pertama sarapan di rumah Ayesha, Laut masih dipanggil dengan sebutab nama. Sontak saja hal itu mendapat protes keras dari orangtua Ayesha. Jadilah Dia membubuhkan kata Abang saat memanggil Laut.
"Iya, kasihan Uti sendiri. Paman Yudis kan pindah ke kampung istrinya. Beliau melihara bebek di sana." Akash memberikan penjelasan kenapa Ayas memutuskan tinggal di kampung.
"Tuh kan Kak, bukan gara-gara Kak Ayesha mau pindah ke rumah ini. Jadi, secepatnya lah Kakak pindag ke sini."
Ayesha hanya tersenyum mengangguk. Obrolan ketiganya terhenti dengan kegiatan masing-masing. Bumi kembali ke kamarnya hendak melanjutkan tidur. Mengumpulkan energi untuk bekerja siang nanti. Sementara Ayesha dan Laut juga kembali ke kamarnya.
__ADS_1
*****
Berkali-kali Akash menatap ponselnya. Sedari tadi Dia keluar masuk aplikasi Whatsapp untuk mengirimi Rere pesan. Sepertinya Dia mulai ingin memperbaiki hubungan dengan Rere. Langkah pertama yang Dia ambil adalah meminta maaf. Baru saja kembali mencari nama Rere, ponselnya berdering menerima panggilan masuk. Dan, itu dari Rere.
"Ada apa Re?" tanya Akash setelah menjawab salam Rere.
"Bisa ketemu siang ini?"
"Bisa sih, asal Lo mau ikut Gue ke suatu tempat. Soalnya Gue udah ada janji tapi Lo bisa ikut. Acara santai koq."
Dari seberang sana Rere tak langsung menjawab. Mungkin sedang berfikir.
"Hallo, gimana Re?"
"Iya deh, ntar pake mobil Gue aja. Janjian di restoran aja."
Sambungan telepon segera Rere matikan sebelum Akash menjawab salamnya.
Apa bisa Gue menjalani pernikahan dengan Rere?
Setelah berpikir semalaman dan mencerna semua kata-kata Ummi, Akash memilih untuk memulai semuanya dari awal bersama Rere. Bukan karena itu saja, Dia juga memikirkan kata-kata Anggara. Lebih baik Dia menurut saja daripada melihat Laut hancur.
Akash beranjak dari duduknya menuju dapur. Para karyawn mulai sibuk berbenah. Nina dan Rino pasangan suami isteri terlihat sedang mengelap beberapa alat makan di dapur.
"Mbak Nina, buat nanti siang jangan lupa ya! 50 bok nasi dan snak. Dipacking pakai kardus. Ingat, ayamnya yang besar-besar." Ucap Akash mengingatkan Nina.
"Beres Bos!" Nina memberikan sikap hormat dengan meletakan telapak tangannya di dahi.
"Emangnya Gue bendera, ada-ada aja." Akash mengibaskan tangannya dan mulai memeriksa keadaan keseluruhan restoran.
Pandangannya terhenti saat melihat rumah kecil yang Dia bangun di samping restoran. Bangunan dengan dua kamar itu masih kosong tanpa perabot. Padahal saat membangunnya Dia bercita-cita akan mengisinya bersama Bumi. Bangunan sederhana itu adalah rumah impian Bumi. Kecil namun nyaman.
Maaf Bumi, Aku nggak bisa mewujudkan impian Kita.
Pandangannya kini teralih pada ponselnya yang bergetar menandakan pesan masuk.
/Kak, siang Aku mampir ke restoran. Chargerku ketinggalan di kamar Kakak/
Adalah Bumi yang mengirimnya pesan, Akash sengaja tidak membalasnya. Dia harus mulai membiasakan diri perlahan mengabaikan keberadaan Bumi. Semakin hubungannya erat maka semakin sulit saat melepasnya nanti.
__ADS_1
Sementara di seberang sana Bumi hanya menatap ponselnya penuh harap dan tanya. Tidak ada balasan, hingga ponsel yang dayanya tinggal 1 persen itu mati. Bumi hanya menghela. Ponsel itu mati sebelum balasan pesan Akash masuk. Seperti hatinya juga yang harus mematikan perasaannya pada Akash sebelum pria itu benar-benar masuk ke dalam kehidupannya.