Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
11


__ADS_3

"Pada berisik banget sih teriak-teriak sampai ganggu orang tidur." Bumi duduk di tangga dengan muka bantalnya. Gadis itu masih memakai piyama pendek yang selalu mengekspos tubuhnya. Rambutnya dikucir kuda dengan wajah sedikit basah habis mencuci muka.


"Aduuh anak gadis udah siang baru bangun, bukannya langsung mandi!" Mama yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri putrinya setelah tadi mendengar sedikit keributan.


"Aku pikir baru jam 6 lho, Ma. Pantesan perutnya lapar." Bumi cengengesan sendiri.


"Ya udah sana tunggu sama kakak-kakak. Mama goreng sosis dan nugget dulu." Mama mengusap lembut kepala putrinya itu.


Bumi menurut saja dan mulai bergabung dengan teman-teman kakaknya itu.


"Kamu biasa bangun siang kayak gini kalau libur?" tanya Laut tatapannya sudah penuh belati.


"Iya, uti juga gak pernah marah kok. Lagian Aku suka kasian pagi-pagi liat uti beberes rumah." Bumi yang duduk di sofa dekat dengan Ayesha mulai menyenderkan lagi kepalanya pada benda yang didudukinya itu.


"Kalau kasihan ya dibantu dong." Kali ini Ayesha ikut bicara.


"Karena gak tega makanya Aku bangun siang biar gak lihat, Kak." Bumi memang selalu pintar mencari alasan dan pembenaran. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan perkataan Bumi.


Tak lama mama sudah datang membawa sepiring sosis dan nugget goreng lengkap dengan nasi putih yang masih mengepul.


"Ayo siapa yang mau?" Mama meletakkan makanan itu di meja.


"Mama Aku maunya disuapin, tangan akutuh cape seminggu ini dipake merawat pasien yang aneh-aneh tingkahnya." Bumi kembali teringat saat harus melepas dan memakaikan kembali kateter pada pasien.


"Iya, sini Mama suapin!" Mama begitu sabar meladeni Bumi, perasaan bersalah masih bersarang di hatinya.


"Tapi ada syaratnya, Nanti sore ikut Mama ke pengajian ummi!"

__ADS_1


"Uhuk uhuk" Bumi batuk demi mendengar ikut ke pengajian ummi. Makanan yang dikunyah hampir saja keluar. Akash dengan cepat memberikan minumannya pada Bumi.


"Kamu hati-hati dong makannya." ucapan Akash pada Bumi yang terdengar lembut membuat teman-temannya saling melempar pandang. Bumi segera meneguk minumannya dan membuang napas pelan.


"Tapi, Ma. Aku malu deh sama ummi." Bumi merengek lalu kembali membuka mulut menerima suapan mama.


"Mama yang malu ditanyain terus kenapa kamu belum menemui ummi. Kak Zha dan Nadia juga kangen katanya. Masa sama Kak Akash udah sering ketemu sama ummi belum. Mama gak enak."


"Kalau gak enak dikasih kucing aja, Ma!" Bumi bicara setelah selesai menelan makanannya.


"Kamu itu becanda terus ah!" Mama kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut Bumi.


"Udah Kamu datang aja ke rumah, Nadia udah mulai bawel juga nih telpon dan chat terus nanyain Kamu." Akash ikut membujuk Bumi. Akash sendiri penasaran apakah Bumi akan datang ke rumah ummi dengan kiblat fashionnya itu?


"Iya, Bumi. Aku juga kadang suka ikut pengajian ummi. Seru lho. Rasanya damai." Ayesha ikut mempromosikan. Bumi jadi merasa terpojokkan. Sementara Laut hanya diam tidak begitu perduli baginya lebih baik Bumi memang jauh dari keluarga umi.


"Aah Kamu tuh genit banget sih, nih udah suapan terakhir." Mama segera beranjak setelah Bumi menerima suapan terakhirnya.


"Mas Min Ho tuh siapa? ada juga Mas Paijo tuh yang jualan bensin di depan pintu masuk perumahan!" perkataan Laut membuat Bumi, Ayesha dan Lila sebagai fans garis keras aktor drakor yang memiliki lesung pipi itu merasa terhina.


"Susah lah ngomong sama cowok yang sentuhannya cuma sebatas kening doang." Bumi merasa sudah harus segera mengecek ponsel dan membuka Instagramnya. Siapa tahu ada story atau new feed dari Lee Min Ho. Dia beranjak meninggalkan orang-orang yang tidak mengerti dengan ucapannya.


Namun, baru hendak ingin menaiki tangga, langkahnya tertahan kemudian berbalik menuju Ayesha.


"Ajak kenalan tuh pacarnya sama Lee Min Ho. Sekalian nonton bareng episode 16 The King Ether**** Of Mo****. Biar belajar dia menyentuh yang lain." Bumi langsung kabur sambil tertawa membuat Ayesha merasa malu sementara yang lain hanya bingung. Lila yang duduk di sebelah Ayesha ikut tertawa setelah mengerti ucapan Bumi barusan.


"Maksud Bumi apa sih ngomong gitu? Gue disuruh kenalan sama siapa tadi?" Laut berusaha mengingat nama aktor yang tadi Bumi sebut.

__ADS_1


"Udah jangan didengerin ah, kecuali mau nonton bareng drakornya," jawab Ayesha mengalihkan perhatian Laut.


"Boleh deh, mau tahu kaya gimana sih tuh tampangnya." Laut malah menantang ingin ikut bersama.


"Aah udah lah cowok mana paham, ayo La kita samperin Bumi aja," Ayesha menarik pergelangan tangan Lila untuk menyusul Bumi ke kamarnya.


"Udahlah, isi tontonan drakor itu bucin. Gue udah sering temenin Lila nonton dan hasilnya tetep dia nggak mau diajak praktek. Dia nyuruh Gue biar bisa se so sweet cowok-cowok itu tapi pas Gue ajak praktekin malah marah." Damar berusaha menenangkan Laut yang berpikir keras tentang siapa nama aktor tadi.


"Lagian lo berdua kan masih polos banget. Mata kalian kan belum pernah lihat percikan-percikan api neraka kaya gitu. Jadi, udah jangan sampai kalian menodai mata polos kalian. Gue tahu perempuan mah biar dikata napsunya sembilan tapi pintar mengendalikan gak kaya laki-laki." Damar berupaya agar Laut tidak berniat menonton judul drama yang disebutkan Bumi tadi.


Akash yang sudah mulai mengerti apa yang tadi Bumi bicarakan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Bisa-bisanya Bumi hapal dengan hal seperti itu.


***


Setelah bujukan maut dari sang mama, akhirnya sore itu Bumi bersedia ikut pengajian. Dengan segala keraguan dalam diri, Bumi kembali mematut diri di depan cermin. Gamis serta hijab syar'i membalut tubuhnya. Padahal sangat terlihat cantik namun Bumi sangat merasa sedang memakai topeng.


"Gila, ini sih bukan Aku banget." Bumi memutar-mutar tubuhnya sendiri di depan cermin kamar mama.


"Ayo berangkat, kakak udah tunggu dari tadi di mobil." Mama menarik tangan Bumi.


"Bumi gak percaya diri banget, Ma. Ini bajunya gak ada yang lain?" Bumi mencari alasan. Mama tidak menjawab, terus menarik tangan Bumi agar segera masuk ke mobil. Laut hanya senyum-senyum melihat penampilan adiknya. Padahal Bumi terlihat sangat cantik, kalau baru pertama bertemu pasti berpikir Bumi adalah anak gadis yang sedang libur mondok.


Sampai di rumah ummi sudah banyak jamaah yang datang. Mama merasa sedikit kecewa karena biasanya selalu datang lebih dulu, ini tadi gara-gara Bumi yang terus beralasan saat memilih pakaian.


Mama terus menuntun langkah Bumi agar segera bergabung dengan jamaah yang lain. Ummi sudah terlihat duduk di tengah-tengah, diapit Zahra dan Nadia. Tahlil ternyata sudah dilakukan beberapa menit yang lalu. Mama yang biasanya duduk paling depan kini harus berada sedikit jauh dari jangkauan ummi.


Bumi mengedarkan pandangan, suara para jamaah yang sedang melantunkan surat Al-fatihah menggema di ruangan itu. Tanpa sadar bibir Bumi ikut merapalkan. Bumi harus sering-sering diajak ke pengajian seperti ini. Itu yang ada di pikiran mama.

__ADS_1


__ADS_2