
Akash kembali sebelum sempat menuruni tangga. Dia teringat sesuatu dan menghampiri Damar.
"Pinjem mobil, dong!?"
"Ya elah punya duit banyak, ketibang ngajak cewek jalan aja pake pinjem," cibir Damar namun tak ayal tetap menyerahkan kunci mobilnya. "Beli mobil ngapa, Kash!" lanjutnya.
"Belum butuh, nanti kalau Bumi udah hamil anak Gue baru deh beli." Jawabnya seraya mengerlingkan mata dan secepatnya pergi.
"Kunci motor Gue ada di kamar!" teriaknya sebelum benar-benar hilang menuruni tangga.
Sementara itu di depan restoran Bumi sudah menunggu Akash dengan perasaan kesal tapi, hei tunggu. Hatinya berdebar-debar macam anak gadis akan dilamar orang.
"Naik mobil Damar, ya?" Akash datang dengan mengacungkan kunci mobil. Tas Bumi Dia sampirkan di bahunya.
Penampakan keduanya sudah macam suami istri hendak pergi berbelanja bulanan. Akash membukakan pintu mobil untuk Bumi. Bumi masuk tanpa patahan kata. Setelahnya Akash pun masuk ke balik kemudi.
Tas selempang itu masih Akash kenakan. Bumi diam-diam meliriknya. Dia ingin ponselnya untuk mengusir kejenuhan. Akash mulai melajukan mobil tanpa bertanya mau ke mana gerangan sang penumpang hendak pergi.
"Nggak tanya mau pergi ke mana?" tanya Bumi dengan suara datar.
"Mau beli bakso, kan?" Akash balik bertanya. "Kita beli di Supermart aja," usul Akash.
"Di mall bukan?" tanya Bumi.
"Kamu mau sekalian ke mall?"
"Bukan, kenapa sih ditanyain malah balik tanya terus?" Bumi mendengus kesal.
"Maaf, terus maunya gimana?" ups, malah bertanya lagi. Akash reflek menutup mulutnya. "Supermart nggak di dalem mall, koq." Akash melanjutkan bicaranya. Kemudian katanya lagi, "harganya miring, bakso yang sering dibeli Mama juga recomend dari Aku."
"Ya udah ke Supermart aja,"
"Laksanakan tuan putri," Akash tersenyum miring melirik Bumi.
Bumi diam-diam mengulum bibirnya. Badannya tiba-tiba meringan. Nyatanya menghindari Akash tidak semudah merebus air. Dirinya ingin menjauh namun hatinya berkata lain. Diam-diam melirik sebenarnya dosa kan?
Lihatlah wajah tampan super bersih dengan hidung bangir itu. Fokus menyetir dengan gerakan halus membuat si penumpang nyaman.
"Kak, ponsel Aku dong." Bumi memecah keheningan. Setidaknya jika memainkan ponsel rasa canggungnya akan mengurai.
__ADS_1
"Ambil sendiri," ucap Akash membuat Bumi mendengus kesal.
Gimana caranya ngambil kalau tasnya dia pake begitu? Jantung bisa loncat.
Bumi membayangkannya saja tidak berani. Tas selempang itu berada tepat di pangkuan Akash dengan tali yang masih tersampir di bahunya yang lebar. Bahu ternyaman jika dipakai bersandar. Bumi pernah merasakannya. Bolehkah jika ingin kembali bersandar di sana?
Bumi segera menepikan pikiran itu, Dia menggeleng berkali-kali. Berharap isi dalam otaknya itu ikut bersih.
"Kenapa sih?" tanya Akash, "mikirin apa hayoh?" lanjutnya seraya membelokkan setir mobil menuju parkiran sebuah swalayan besar.
Setelah memarkirkan mobil, Akash dan Bumi segera keluar dari mobil. Mulai berjalan bersisian menuju ke dalam swalayan yang sepertinya kumplit itu.
"Beli bakso doang?" tanya Akash. Dirinya sering berbelanja di sini.
"Iya,"
"Kapan berangkat?" tanya Akash. Keduanya kini sudah mulai masuk ke dalam ruangan. Akash segera mengambil troly yang di taruh tepat di dekat pintu.
"Lepas isya," ucap Bumi singkat.
"Ngirit banget ngomongnya."
Mereka akhirnya sampai pada sebuah freezer besar di mana segala macam frozen food tersedia di sana.
"Nuggetnya juga enak, mau coba nggak?" Akash mengangkat bungkusan nugget ayam seberat 500 gram.
Bumi berfikir sejenak. Persediaan frozen food di kulkas memang sudah habis. Tadi pagi saja terpaksa beli telur di warung depan jalan raya untuk sarapan.
Bumi memilih sendiri nugget yang akan dibelinya tanpa mengambil nugget yang disodorkan Akash. Akash tersenyum getir seraya mengembalikan makanan bercita rasa gurih itu ke tempatnya.
Setelah troly terisi sepuluh bungkus bakso berlogo kepala sapi dengan tulisan Bakso Sapi Super yang dicetak dengan warna hijau dengan berat 1 kilogram perbungkusnya. Serta nugget, sosis dan kentang siap goreng masing-masing dua bungkus dengan berat 500 gram tiap bungkusnya. Bumi mendorong trolynya yang kemudian direbut Akash.
"Aku aja yang bawa," ucapnya.
"Mau beli tepung bumbu dulu, Kak." Ujar Bumi menuju tempat penyediaan bermacam-macam tepung yang sudah lengkap dengan bumbu.
Bumi membaca satu persatu tulisan pada bungkusnya. Pilihannya jatuh pada tepung pisang goreng, tepung bakwan goreng dan tepung ayam goreng.
"Itu beda-beda fungsinya?" tanya Akash, sebab dalam penglihatannya terlihat sama saja.
__ADS_1
"Hmmm"
"Oh hmmmm"
Setelah memasukkannya ke dalam troly mata Bumi menangkap kotak bertuliskan tepung brownies. Diletakkan di bagian atas rak dan tak mungkin tangannya dapat menggapai.
Sedikit berjinjit Dia berusaha menggapai tepung brownies itu. Bumi sering melihat iklannya di tv, benarkah semudah itu membuat brownies. Dia ingin membuktikannya.
Berjinjit terus namun masih tak dapat menggapai, hingga akhirnya Akash berdiri tepat di belakangnya dan dengan mudah menggapai kotak itu dan membawanya tepat ke hadapan wajah Bumi. Menengok sedikit saja sudah dipastikan wajahnya akan mengenai dada Akash.
Bumi mengambil kotak itu dengan terbata mengucap, "Terima kasih."
Akash malah menggodanya dengan meletakan dagu di atas bahunya.
"Banyakin berenang sama main basket makanya," selorohnya kemudian mendapat sikutan keras di perutnya dari Bumi.
Akash mengaduh, sikutan tiba-tiba itu terasa menusuk ke ulu hati. Akash mundur perlahan dengan memegangi perut sambil terus mengaduh. Bumi segera melempar kotak ke dalam troly dan panik menenangkan Akash.
"Seriusan nih sakitnya?" tanya Bumi reflek menyentuh punggung si jangkung yang membungkuk seraya memegangi perutnya.
"Tadi pelan koq nyikutnya," Bumi menyesali perbuatannya. Lalu katanya lagi, "Kak, jangan bikin khawatir dong."
Akash mengulas senyum di bibirnya. Dia menegakkan badan tanpa memindahkan posisi tangan di perutnya.
"Khawatir kan?" ucap Akash, "pura-pura benci itu nggak semudah log in google pake jaringan wifi, Dek." Seloroh Akash serta merta mengusap kepala Bumi kemudian membawa troly menuju kasir.
Bumi tertinggal dalam kebisuan. Menyentuh kepala yang barusan diusap. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Pertahanan hatinya yang menolak permintaan Akash untuk menunggunya apakah akan roboh?
Benteng pemisah yang beberapa waktu lalu Dia bangun apakah akan kembali Dia hancurkan. Bukankah itu terlihat seperti menjilat ludah sendiri?
Sadar dari lamunan bahwa Akash sudah sedari tadi pergi membuat Bumi berlari menyusul pria yang senang mengenakan pakaian hitam itu.
Dilihatnya Akash sudah di depan kasir, membayar belanjaan dengan menyerahkan sebuah kartu pada kasir dan memasukan kode pin pada mesin EDC (Electronic Data Capture).
"Kak, uangnya ada di dompet."
"Kamu lama, nanti saja urusannya." Jawab Akash, acuh.
Setelah kasir menyerahkan belanjaan yang dikemas dalam sebuah kardus dengan memisahkan nugget, sosis, kentang, tepung bumbu dan tepung brownies pada kantong yang lain. Akash dan Bumi melenggang meninggalkan swalayan itu.
__ADS_1
Bumi berjalan di belakang Akash dengan jinjingan berisi sosis dan teman-temannya. Dadanya masih bergemuruh. Jantungnya tak mau berhenti melompat.