Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
150


__ADS_3

"Jam 12, Bun. Ketiduran deh di kamar Abang," sahutnya kembali melirik Ara memastikan gadis itu semakin merasa resah.


Ara tetap menunduk, tangannya berkeringat. Ia berkali-kali menggigit bibir atas dan bibir bawahnya bergantian membuang rasa gugup dalam dirinya.


"Kenapa sih, Sayang?" tanya Bumi yang menyadari perubahan sikap Ara.


"Kenapa, Pil?" Aro dengan sengaja berjongkok di hadapan Ara. Dia menaikkan tubuhnya agar bibirnya dapat dengan leluasa membisik pada telinga Ara yang terbungkus hijab biru muda.


"Gue pasti bahagia kalau lo beneran pergi dari sini." Bisikan yang pelan, halus namun menusuk ke dalam sanubari.


Aro menyeringai jahil, ia kembali berdiri dan sempat-sempatnya mengusap pucuk kepala Ara. Akash, Bumi dan Akhza saling pandang. Mereka khawatir jika Aro sedang melakukan sesuatu yang membuat Ara ketakutan.


"Kok pada bengong?" tanya Aro keheranan.


"Udah, bubar ... bubar ...." Akash segera merangkul pundak Akhza untuk meninggalkan dapur. Memangkas ketegangan yang ada. Bumi melakukan hal yang sama, ia sibuk membuka kulkas untuk mencari inspirasi akan membuat sarapan apa pagi ini?


Sementara itu Ara masih termenung di tempat duduknya. Bersama dengan Aro yang masih berdiri di sampingnya. Aro merasa Ara sudah mengkhianati kepercayaan bundanya dengan lancang menaruh perasaan pada abangnya sendiri.


"Jadi kapan lo mau pergi?" Aro bertanya seraya menarik salah satu kursi untuknya duduk.


"Setelah UN, Mas," janji Ara membuat Aro tersenyum bahagia.


"Gue pegang janji lo, kalau lo bohong, tanggung akibatnya!" ancam Aro membuat Ara bergidig. Kemudian Aro beranjak, tangannya jahil menepuk-nepuk pipi Ara yang sudah tak tahan lagi menyimpan sesak di dadanya.


Tanpa pamit pada Bumi, gadis itu berlari menuju kamarnya. Ia lepas hijabnya dengan gerakan kasar lalu menjatuhkan diri ke atas kasur yang seprainya saja belum ia bereskan. Di sana Ara menangis sejadi-jadinya. Membiarkan sesak di dadanya berdesakan keluar karena tertahan sedari tadi.


Ara tak kan tega bilang pada bundanya. Meskipun, dia tahu betul betapa selama ini bunda sangat menyayanginya. Tapi, demi hubungan Akhza dan Aro kembali membaik, Ara akan melakukannya. Dengan begitu mungkin Aro bisa berubah menjadi baik terhadapnya. Jika rindu pada bunda, dirinya bisa datang berkunjung. Begitu pikir Ara.


***

__ADS_1


Kemarin hujan begitu deras, Ara lupa tak mengangkat sepatunya dan sepatu Aro yang dijemur di halaman belakang. Beruntung hari ini masih hari Minggu, jadi masih ada kesempatan untuk menjemur sepatu itu.


Di halaman belakang itu, Ara duduk bersama Vanya, sang mami yang baru beberapa jam lalu datang. Vanya datang membawa beberapa potong gamis terbaik beserta hijabnya. Ia juga banyak membelikan makanan ringan untuk Ara.


"Kamu mau lanjut sekolah ke mana?" tanya Vanya saat keduanya sedang menikmati waktu bersama.


"Belum tahu, Mi, belum kepikiran," sahut Ara menepuk punggung tangannya yang baru saja dihinggapi nyamuk.


"Emang di sini banyak nyamuk?" Vanya pun mendapat serangan dari makhluk kecil dengan suara tidak menyenangkan itu.


"Kadang-kadang. Mami belum mandi, ya?" seloroh Ara pada maminya yang langsung dihadiahi gelitikan di perutnya oleh Vanya.


"Udah, Mi, udah ...." Ara memohon minta dilepaskan.


"Pokoknya nanti kalau kamu udah tahu mau masuk SMA mana kabarin Mami," pinta Vanya sambil mengelus pipi mungil putrinya itu.


"Nanti aku bilang dulu ke bunda, baru aku kabarin Mami," ucap Ara membuat raut wajah Vanya tiba-tiba berubah sendu. Nyatanya putrinya lebih mementingkan Bumi. Tapi, Vanya segera sadar, bagaimanapun dulu dia sempat membuang Ara. Kini, wajar bila Ara lebih mengutamakan Bumi.


Vanya mengangguk, "Iya, Mami juga ngerti kok. Bunda pantas mendapatkan kasih sayang dari kamu," imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.


"Mami, jangan sedih. Aku juga sayang banget sama Mami." Ara memeluk bahu maminya dari samping.


Bumi memang dengan penuh kasih sayang merawat dan membesarkan Ara. Salasika Arabella, tumbuh menjadi gadis tangguh dan penuh cinta. Selalu lembut pada semua hal termasuk binatang. Hanya satu orang di dunia ini yang tak suka padanya, yaitu Aro.


Bumi ternyata memperhatikan interaksi Vanya dan Ara. Ada perasaan takut pada diri Bumi. Ia takut bila Ara diajak oleh Vanya tinggal bersamanya. Sudah pasti bila semua itu terjadi, dirinya akan sangat terpukul.


Baru dibayangkan saja rasanya sudah sangat sakit. Bumi meremas gamis bagian dadanya. Kelakuan Bumi juga tak luput dari pantauan Akash.


"Kenapa, Sayang?" Akash datang mendekatinya seraya memeluknya dari belakang. Rasanya baru kemarin keduanya pindah ke rumah ini. Kini anak-anak sudah beranjak remaja. Rumah rasanya sepi bila salah satu diantara keempat buah hatinya tak ada di rumah.

__ADS_1


"Kamu cemburu lihat Ara sama Vanya?" tebak Akash membaca kesedihan pada raut wajah istrinya.


Bumi mengangguk. Dirinya memang sedang cemburu pada Vanya. Bumi melangkah dari tempatnya berdiri agar tak lagi melihat adegan mesra Vanya dan Ara. Menyembuhkan luka dari rasa sakit adalah dengan menjauhi sumbernya.


Bumi diikuti Akash berjalan menuju ruang televisi. Tapi bukan untuk menonton, hanya duduk di sana menyandarkan punggung yang rasanya sudah sangat berat bagaikan baru memanggul sekarung beras.


"Jangan terlalu memikirkan hal yang belum tentu kebenaranya." Akas berbisik di telinga istrinya yang tertutup hijab berwarna hijau floral.


"Kakak, bicaranya jangan bisik-bisik juga," protes Bumi seraya mengusap-usap kupingnya. "Nggak enak sama tuh," imbuh Bumi seraya menunjuk dengan dagu pada Akhza dan Atar yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Bun, tante Vanya masih ada?" tanya Akhza.


"Masih, Bang. Emang kenapa?" Bumi balik bertanya membuat Akhza menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Abang tuh sama teteh sebenarnya .... " Reflek tangan Akhza membekap mulut Atar yang hampir saja mengatakan Bahwa Ara dan Akhza berpacaran.


Beruntung hal tersebut tak membuat Bumi dan Akash memperpanjang masalah. Keduanya Pun hanya menganggap candaan. Tak lama, Vanya dan Ara masuk dan ikut bergabung walau sebentar karena harus segera pulang.


Akhza ditemani Ara mengantarkan Vanya menuju parkiran. Setelah dipastikan mobil Vanya hilang dari jangkauan mereka, Akhza mengajak Ara mengobrol sebentar.


"Ra, kenapa kamu nggak jawab surat aku sih?" protes Akhza membuat Ara kembali mengingat kebodohannya karena mengira Aro adalah Akhza.


"Aku sebenarnya, Bang, aku takut sama ayah dan bunda." Ara memberikan alasan. Sejujurnya ia tak ingin menyakiti hati abangnya ini.


"Lagipula kita masih kecil, Bang. Masih kelas 9." Jelas Ara membuat Akhza mengulum kesal.


"Jadi kamu nolak?" todong Akhza.


"Maaf, Bang. Tapi, kita akan menyakiti ayah dan bunda kalau sampai menyalahi aturan yang udah mereka buat," tegas Ara, suaranya meninggi.

__ADS_1


"Ok, tapi, aku mau kamu nunggu aku," sahut Akhza membuat Ara enggan menjawab.


Perkara apa yang akan terjadi esok, kita tak dapat mengetahuinya. Hanya menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya yang dapat kita lakukan. Segala yang kita inginkan, jika bukan garis takdir kita maka tidak akan datang menghampiri sekuat apa pun kita mengusahakannya


__ADS_2