Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
56


__ADS_3

Malam hari Bumi kembali dihantui ketakutan dalam dirinya. Sesiang tadi berkali-kali Laut dan Ayesha bergantian menghubunginya. Meminta Bumi untuk menyusul pergi ke puncak bersama Aksash. Namun, Bumi menolaknya mentah-mentah.


Dari cerita Laut pun Bumi tahu bahwa Rere tidak ikut ke puncak. Rere dan Guntur sedang melakukan liburannya sendiri di villa Guntur yang berada di Bogor. Di bawah kaki gunung salak kota yang terkenal dengan asinan dan talasnya itu berada.


Belakangan Bumi juga baru mengetahui bahwa tempo hari saat Akash mengajaknya ke resroran yang masih dalam tahap pembangunanya itu adalah daerah bernama Bogor. Daerah yang memiliki cuaca dingin dengan curah hujan tinggi pada bulan-bulan tertentu. Bahkan seringkali Bogor di salahkan oleh orang-orang Jakarta sebagai penyebab datangnya banjir.


Bicara soal cuaca dingin, Bumi kembali teringat ucapan Akash padanya sebelum pulang tadi. Cukup cuaca aja yang dingin, sikapmu jangan. Hatiku repot mengatasinya.


Lamunan Bumi terhenti akibat deringan panggilan masuk dari ponselnya dan Laut adalag pelakunya.


"Buka pintu, Dek. Kakak udah di bawah nih!"


Bumi membulatkan matanya, baru mulutnya akan berucap Laut sudah terlebih dahulu mematikan panggilannya. Dia segera beranjak dan menuruti titah Laut. Selama perjalanan dari kamar sampai ruang tamu jiwanya masih diliputi ketakutan. Apa benar suara tadi suara Laut? bagaimana jika saat membuka pintu justru hantu kepala buntung yang ada.


Dengan tangan bergetar Bumi memutar tuas kunci. Matanya terpejam saat membuka handle pintu namun suara salam dari beberapa orang membuat jiwanya lega. Setidaknya hantu kepala buntung tidak akan bisa mengucap salam kan?


"Koq kalian udah pulang?" tanya Bumi menatap satu persatu Ayesha, Laut, Damar dan Lila.


"Nggak ada Lo jadi bikin kacau semuanya, Gue pikir liburannya bakal happy." Damar yang pertama menjawab, tanpa menunggu yang lain langkahnya sudah lebih dulu Dia bawa ke dalam ruang tamu dan langsung merebahkan diri di sofa panjang.


"Aku takut kenapa-kenapa sama Kamu. Seminggu bukan waktu yang sebentar. Apalagi kata Abang Kamu penakut." Ayesha menjelaskan kepulangan mendadak mereka malam itu.


Sesiang tadi saat di puncak Ayesha terus saja memikirkan keadaan Bumi. Dia yang juga memiliki jiwa penakut bisa merasakan bagaimana gelisahnya saat akan tidur tapi pikiran malah dihantui oleh bayang-bayang hantu.


Jika Bumi menganggap hantu kepala buntung adalah makhluk horor yang selalu melintas di kepalanya saat sendirian. Maka, Ayesha memiliki hantu versi lain dalam jiwa ketakutannya. Suster ngesot. Ini akibat dia diam-diam saat itu menonton film horor yang berjudul jailangkung.


Mereka semua akhirnya masuk ke dalam rumah dan sama-sama mendudukan diri di sofa kecil yang tersisa akibat Damar yang menyabotase sofa panjang yang harusnya muat jika diduduki bertiga.


"Gue nginep semalam di sini ya?" Damar dengan mata terpejam bicara dengan nada tidak jelas.


"Jangan tidur di sofa kak, nanti ngiler susah bersihinnya!" seru Bumi lalu melempari Damar dengan bantal.

__ADS_1


Damar reflek mendudukan dirinya seraya mengucek matanya yang tadi terkena hujaman ujung bantal. Sakit, perih dan kesal Dia rasakan.


"Sakit mata Gue ah.... "


"Udah deh Yang, Kamu uring-uringan terus dari tadi." protes Lila.


Pasalnya Damar seharian ini memang terus saja emosi dan sensitif sekali. Gampang tersinggung dan tidak bisa diajak bercanda. Lila tadi sampai sempat menangis saat Damar membentaknya perihal kopi yang tumpah mengenai laptopnya. Padahal biasanya Damar tidak pernah seperti itu. Lila bahkan pernah tidak sengaja menjatuhkan ponsel Damar ke dalam kolam renang tapi kala itu Damad santai saja dan dengan mudahnya berkata nggak apa-apa Yang, kalau rusak tinggal diperbaiki.


"Udah sana tidur di kamar Mama, biar Lila tidur di kamar Bumi!" Seru Laut. Tanpa menjawab Damar segera beranjak dan masuk ke dalam kamar Mama. Keinginannya saat ini hanya tidur.


"Kenapa sih Dia?" Bumi bertanya namun ketiga orang di hadapannya tidak ada yang menjawab. Bahkan Bumi melihat raut sedih di wajah Lila.


"Kenapa sih, apa Aku nggak boleh tahu?" Bumu kembali pertanyaannya.


"Bumi lebih baik Kamu ajak Lila ke kamar Kamu. Kalian istirahat. Kita juga mau ke kamar."


Ayesha memangkas rasa penasaran Bumi. Pasalnya meski baru mengenal Damar, tapi Damar bukan orang yang seperti itu biasanya. Damar selalu ceria dan tidak menutup diri. Akhirnya Bumi mematikan api penasarannya dan lebih memilih mengajak Lila ke kamarnya.


Bagaimana bisa Aku senang-senang saat Bumi dan Lila justru tidak dalam kondisi hati yang baik. Begitu kata Ayesha saat Laut protes atas keinginannya mengakhiri liburan mereka.


Laut dan Ayesha sudah sama-sama membersihkan diri dan berbaring di atas tempat tidur dengan selimut menghangatkan tubuh mereka.


"Apa Aku perlu membuat kamar lagi Sayang?" adalah suara Laut yang memecah keheningan.


"Buat apa Bang?"


"Buat anak-anak Kita nantinya," jawab Laut.


"Itu masih lama Bang, anak-anak biasanya berani tidur sendiri saat sudah memasuki usia sekolah."


"Ya nggak apa-apa di planning dari sekarang," usul Laut.

__ADS_1


"Nggak sabar deh Aku punya bayi yang lucu menggemaskan."


Bicara soal anak pikiran Ayesha langsung tertuju pada bayi mungil dengan pipi merah yang gembul. Celoteh bayi yang khas juga harum dari mulutnya saat bangun tidur pasti akan sangat membuat hari-hari semakin indah.


"Kita harus lebih giat membuatnya.... " kata Laut tangannya mulai masuk ke balik piyama Ayesha dan mengusap perut Ayesha.


"Bang, tadi siang udah kan?" Ayesha kembali mengingatkan kejadian tadi siang di villa.


"Tapi kan malam ini belum," ucap Laut memandang penuh harap pada Ayesha.


Ayesha hanya tersenyum pasrah, tidak bisa lagi melawan keinginan suaminya. Dan adegan hanya dilakukan oleh ahlinya tanpa bisa diceritakan oleh sang author receh ini.


Sementara di kamar Bumi, Lila masih enggan mejamkan mata. Berkali-kali Dia merubah posisi tidurnya membuat Bumi semakin yakin bahwa keadaan Lila memang sedang tidak baik-baik saja.


"Kak Lila sebenarnha kenapa?" Bumi mendudukan dirinya.


Lila yang ditanyai seperti itu segera ikut mendudukan dirinya. Disandarkan tubuhnya itu pada headboard tempat tidur.


"Sebenarnya Damar lagi ada masalah, Ibunya nggak setuju Damar nikah sama Aku. Ternyata Mamaku dan Babenya Damar adalah sepasang mantan kekasih saat SMA dulu," ucap Lila.


Bumi kaget mendengarnya. Bisa serumit ini kisah cinta Damar dan Lila.


Minggu lalu Damar dan kedua orangtuanya memang mengunjungi kediaman Lila. Bukan melamar secara resmi, masih dalam tahap mengenal sebab lamaran yang asli akan diadakan dua minggu lagi sesuai dengan waktu luang yang dimiliki seluruh keluarga besar Damar.


Namun, hal tidak diinginkan nyatanya terjadi. Pertemuan dua keluarga itu membuat luka lama dalam diri Siwi, Mama Lila kembali menganga. Menurut penuturannya, Dulu saat SMA Seto, Papa Lila sempat berpacaran dengan Nuri, Ibu dari Damar.


Masalahnya adalah, Nuri dan Seto berpacaran di balik hubungan yang pula terjalin antara Seto dan Siwi. Siwi menganggap Nuri adalah perusak hubungan keduanya. Walaupun pada akhirnya yang dipilih dan dinikahi Seto adalah Siwi. Tetap saja perbuatan Nuri menorehkan luka di hati Siwi.


"Berat juga ya Kak kasus kalian." Bumi ikut prihatin.


"Aku bingung, Aku sayang banget sama Damar. Padahal keluarga Damar juga nggak mempermasalahkan semua ini. Itu kan hanya masa lalu. Dan tante Nuri juga orangnya baik." Lila mulai terisak. Mengingat bagaimana cara Mamanya itu mengusir keluarga Damar.

__ADS_1


__ADS_2