
"Mam, kaki aku kok pada bengkak ya?" Pagi itu Bumi menunjukan kedua kakinya yang bengkak pada Ayas yang sedang membuat sarapan di dapur.
"Kamu harus udah mulai kurangin yodium, tuh." Sahut Ayas seraya meniriskan tempe yang baru diangkat dari wajan.
"Berat jadinya kalau mau jalan," keluh Bumi.
"Jangan ngeluh, Sayang." Akash menyahuti ucapan istrinya seraya mencium pipinya sekilas. Lalu mengambil tempe yang baru diletakkan di piring oleh Mama mertuanya. "InsyaAllah pahalanya besar, kalau butuh apa-apa bilang sama aku." Kemudian menggigit tempe, mengunyah dengan penuh penghayatan. Menikmati rasa asin dan gurih yang pas di mulutnya.
"Tempenya enak, makasih mam." Ujarnya kemudian membuka lemari tempat Bumi menyimpan susu hamilnya.
"Di gelas kecil aja, Kak." Ujar Bumi saat melihat suaminya yang akan membuatkannya susu. Akash hanya mengangguk seraya menuangkan dua sendok susu rasa vanila ke dalam gelas berukuran 240 mili.
"Airnya jangan terlalu penuh, aku udah bosen minum susu terus." Keluh Bumi membuat Akash segera membawa susu yang sengaja ia buat dengan air hangat kuku agar Bumi segera meminumnya.
"Ayok minum, kamu suka bohong kalau aku tinggal."
"Kakak, jangan bilang gitu. Nanti dedek sedih Bundanya dijelek-jelekin." Sungut Bumi seraya menyesap susunya. Rasanya sudah kelu lidahnya setiap hari meminum susu itu.
Jika tidak diminum, Akash akan menyeramahinya habis-habisan. Setelah tandas susu itu dan meninggalkan gelas kosong saja, baru Akash dengan tenang meninggalkan Bumi untuk mengecek persiapan kafenya.
"Aku di atasnya agak lama, jangan lupa ngaji, ya." Ujar Akash dan diangguki Bumi.
"Tapi kalau butuh aku langaung telpon."
"Memang Kakak mau ngapain lama-lama di atas?" Bumi seperti tak ingin ditinggalkan suaminya.
"Mau lihat anak-anak kerja dong, sekalian ada menu baru yang mau dikasih lihat sama Mas Jafar."
"Udah nggak apa-apa kan ada Mama," sahut Ayas yang menilai putrinya terlalu manja pada Akash.
"Aku maunya sama Kakak," gumam Bumi. "Bukan aku tapi ini dedeknya yang mau," ralatnya seraya mengusap perut buncitnya. Bahkan Bumi harus menanggalkan pakaian lamanya sebab sudah tak muat di badannya.
Akash menggeleng dengan perkataan istrinya. Dia kemudian berjongkok di hadapan perut buncit itu. Dielusnya berkali-kali perut besar itu.
"Asallamuallaikum, Sayang. Ayahnya kerja dulu, ya. Dedeknya sama Eyang Uti dulu. Ayah nggak lama kok." Kemudian Akash melantunkan surah al-fatihah, sekonyong-kongong perut buncit itu terlihat bergerak. Akash reflek memegangi perut istrinya.
Merasakan tendangan dari calon buah hatinya dengan perasaan haru campur bahagia. Bumi ikut tersenyum memegangi perutnya, walau rasanya berat menjalani kehamilan anak kembar tapi dia selalu bersyukur karena selalu didampingi oleh suami yang sabar.
"Itu artinya Ayah boleh kerja dulu, 'kan?" lagi Akash menciumi perut Buncit itu. Merasakan jabang bayi kembali menendang. Bumi tertawa geli dibuatnya.
Ayash yang sudah selesai membuat sarapan ikut berjongkok di hadapan perut buncit putrinya.
"Mana sini lihat cucu Uti yang sholeh," Ayas memegang perut Bumi, Akash sedikit menyingkir memberikan ruang untuk Ibu mertuanya itu.
Ayas melantunkan do'a tepat pada perut Bumi, respon yang baik dari jabang bayi. Kembali menendang dan bergerak membuat Ayas ikut girang.
"Sehat-sehat ya, jagoan Uti." Ucapnya seraya kembali mengusap perut itu kemudian kembali berdiri.
"Mending sarapan dulu, Kash. Mumpung masih hangat,"
"Aku bikin sayur bening dulu buat Bumi," ujarnya seraya ikut berdiri. Akash hampir melupakan memasak sayur untuk istrinya.
__ADS_1
"Loh kenapa nggak bilang, biar Mama yang buatkan." Tawar Ayas seraya mengekori langkah Akash.
"Nggak apa, Mam. Dia nggak mau makan kalau bukan aku yang buat," sahut Akash seraya mulai mengambil katuk dari dalam kulkas yang sudah ia siangi sebelumnya.
"Bukan aku, Kak. Tapi dedek yang mau." Teriak Bumi membuat Ayas dan Akash tertawa.
"iya, Dedek yang mau. Ayah buatkan dulu ya." Akash membalas teriakan istrinya. "Mama lihat sendiri betapa menggemaskannya istriku itu," bisik Akash pada mertuanya.
"Dan Bumi beruntung punya suami seperti kamu," sahut Ayas seraya mengusap punggung menantunya yang sedang mengupas bawang merah. "Terima kasih, ya, Kash." Ujar Ayas dengan mata berkaca-kaca.
"Itu sudah kewajibanku, Mam. Aku yang terima kasih sama Mama karena sudah merelakan putrinya untukku." Akash menoleh pada Ayas, sejenak menanggalkan kegiatannya.
"Uti sama Ayah jangan ghibahin Bunda deh," teriak Bumi, merasa sedang dibicarakan oleh Mama dan suaminya.
"Tuh dengar, Mama temani dia dulu." Pamit Ayas dan diangguki oleh Akash.
Akash kembali melanjutkan memotong bawang merah dan bawang putih. Sedikit sayur bening yang akan dibuatnya, hanya untuk sekali makan. Sebab Bumi cepat bosan jika makan dengan menu yang sama.
Semenjak masuk di bulan ke-7 Bumi semakin manja dan tak mau makan jika tidak disuapi. Akash mulai melarangnya untuk ke dapur, dia yang mengambil alih seluruh pekerjaan.
Beruntung rumah mereka tidak terlalu besar, Akash dapat mengatasinya sendiri. Bumi tidak ia biarkan untuk mengerjakan apapun, hanya diperbolehkan jalan-jalan di sekitaran kebun dan taman.
Sayur bening telah matang dalam sekejap. Hanya satu porsi ketika Akash menuangkannya ke dalam mangkuk putih bergambar ayam jago.
"Sayurnya sudah matang, Bunda sama dedek mamam dulu." Ujar Akash dengan suara riang gembira.
"Mama aja yang suapin, kasihan suami kamu biar sarapan." Tawar Ayas. Bumi tak menjawab, menatap suaminya dengan raut kesedihan.
"Sedikit dulu, ya. Nanti kalau masih lapar makan buah saja." Ujarnya dan diangguki oleh Bumi.
Akash membiarkan sayur itu agar sedikit hangat. Uap yang mengepul menyeruakkan aroma daun salam yang Akash tambahkan pada sayur itu.
Dia mulai duduk menghadap istrinya seraya mengunyah kembali goreng tempe. Sejujurnya perutnya pun sudah lapar, tapi dia ingin istrinya dulu yang makan.
"Sambil tunggu sayurnya hangat, aku suapin Kakak ya." Usul Bumi seraya mengambil piring, namun kesulitan begitu akan menyendokkan nasi. Ayas mengambil alih piring yang Bumi pegang, dia menyendokkan nasi ke atas piring itu.
"Pakai sup saja Mam," beritahu Bumi dan diangguki Ayas.
"Nah, makan dulu. Nanti gantian baru aku yang kamu suapi." Ujarnya seraya menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke dalam mulut suaminya.
Selesai dirinya yang disuapi oleh Bumi, kini giliran Bumi yang disuapi olehnya. Dengan sedikit drama yang dilakukan oleh Bumi. Dia protes kuahnya kebanyakanlah. Protes nasinya tak terasa lah. Tapi, suaminya hanya tersenyum. Membuat Ayas menggeleng melihat interaksi suami istri itu.
Selesai dengan mengurus istrinya yang manja Akash merapikan kembali piring kotor bekas mereka makan. Walau Ayas sempat melarangnya, tapi hal itu tetap dilakukannya. Dia mencuci piring dan gelas kotor dengan cepat kemudian kembali pada istrinya untuk berpamitan.
Setelah berpamitan dan kembali mencium sekilas pipi istrinya, Akash pergi meninggalkan Bumi berdua dengan Ayas.
"Dia setiap hari seperti itu?" selidik Ayas.
"Iya, dia bawel dan berlebihan, Mam." Tutur Bumi membuat Ayas tersenyum. Bukannya dirinya yang berlebihan?
"Kamu harus bersyukur punya suami seperti itu," Ayas mengingatkan.
__ADS_1
"Bersyukur dong, Mam. Aku bahagia kok." Papar Bumi dengan wajah riang. "Wanita mana yang nggak bahagia kalau punya suami sesabar Kakak, Mam." Lanjut Bumi, dia tak menceritakan kejadian beberapa waktu lalu saat Akash marah padanya.
"Dan kamu jangan galak-galak sama dia," ujar Ayas mengingatkan.
"Nah kalau untuk itu nggak janji, Kakaknya juga sering jahilin aku." Sahut Bumi, dia jadi teringat kejadian-kejadian manis sekaligus menjengkelkan dengan suaminya.
"Ingat, sudah mau punya anak. Harus bisa jadi tauladan dan mencontohkan yang baik-baik." Papar Ayas membuat Bumi mengangguk dan tersenyum. Mengerti akan nasihat Ibunya.
***
Ayas dibuat takjub oleh hasil karya tangan Bumi yang berhasil menata kebun dan taman kecil serta menjadikannya sedap dipandang.
"Ini namanya ibu hamil yang produktif," ujar Ayas seraya memetik tomat yang memerah. "Kamu belajar dari mana berkebun seperti ini?" tanya Ayas penasaran. Tomat merah selanjutnya menjadi sasarannya. Dia kumpulkan pada wadah kecil yang dipegangnya.
"Lihat di internet, Mam. Kan zaman sekarang tekhnologi semakin canggih." Sahut Bumi yang memilih duduk saja menyaksikan antusias Mamanya yang memetik tomat dan cabai.
"Ini juga bisa subur gini sih, Nak?" Ayas menunjuk pada salada bokor yang Bumi tanam di dalam pot. Awalnya hanya keisengan semata, tapi nyatanya tumbuh subur bahkan jika hendak membuat burger, makanan kesukaannya, ia menggunakan salada hasil tanamannya sendiri. Namun, sayang setelah kandungan semakin besar. Akash sudah tak mengizinkan memakan makanan seperti itu.
Apa yang dimakannya tak pernah lepas dari pantauan suaminya itu. Akash selalu memastikan jika Bumi hanya mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.
Celin dan kawan-kawannya seperti biasa selalu ramai duduk di gazebo jika sore hari. Komunitas yang dibuat Celin banyak mendapat respon positif dan anggotanya selalu bertambah.
Nampak dari kejauhan Celin melambaikan tangan pada Bumi. Dengan senyuman Bumi membalas lambaian tangan itu.
Akash yang baru saja pulang dari masjid melaksanakan shalat ashar langsung menghampiri istrinya. Seperti biasa akan mengucap salam sebelum mengajak jabang bayinya bicara.
Bumi melepaskan peci yang dipakai suaminya, lalu mengusap lembut rambut suaminya yang sedang berbisik-bisik di depan perutnya.
"Kak, kok lama sih ke masjidnya?" protes Bumi.
"Maaf, ya. Tadi diajak ngobrol dulu sama Pak RT." Jawab Akash tanpa memalingkan wajah dari hadapan perut istrinya.
"Ngobrol apa, Kak?"
"Minta sedikit sumbangan buat acara isra' mi'raj di masjid." Jawab Akash seraya berdiri dan duduk di samping istrinya.
Sementara Ayas masih sibuk dengan memetik sayurannya.
"Udah ngasih?"
"Belum, kan nggak bawa uang. Nanti malam aku ke rumahnya."
"Jangaaaan,"
(●´з`)♡(●´з`)♡
Jangan apa yaaa....
Jangan lupa sarapan
tekan like dan komennya
__ADS_1