Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
133


__ADS_3

Saat Akash selesai mengadzani kedua buah hatinya, Ummi beserta Nadia datang. Keduanya langsung berhamburan dan menatap haru pada bayi yang kini diambil alih oleh perawat untuk dipakaikan baju setelah melakukan IMD tadi.


"Selamat ya, Sayang." Ujar Ummi seraya menciumi pipi menantunya yang sedang berusaha menutup kembali kancing bajunya.


"Selamat ya, Kak." Nadia ikut memeluk tubuh kakak iparnya itu.


"Aku nggak dikasih selamat?" seloroh Akash.


"Emang kakak ikut andil apa? paling cuma teriak-teriak sambil panik nggak jelas." Cibir Nadia, tebakannya tepat.


"Eh sembarangan ini kalau bicara, aku andil banyak dalam proses pembuatan si kembar." Akash memukul lengan adiknya itu.


"Tapi kan yang melahirkan Kak Bumi," elak Nadia mendelikkan matanya. Entahlah, setelah Akash mengundur waktu pernikahannya dirinya rasanya selalu ingin marah pada Akash.


"Kakak, udah ih malu sama anak-anak masih nggak mau kalah sama adik sendiri." Omel Bumi.


"Iya, kalian ini. Malu sama Bu Ayas, Nad...." Ummi mendelikkan mata ke arah Nadia dan membuat Nadia cengengesan.


Ummi dan Nadia diajak duduk oleh Ayas selama menunggu perawat mengurus cucu kembar mereka.


Akash menatap haru istrinya, ia kembali duduk di sampingnya.


"Sekarang benar-benar jadi Bunda, Bunda yang tak hanya cantik tapi juga hebat dan kuat." Ujarnya seraya mencium kening istrinya.


"Terima kasih sudah melahirkan mereka, tanpa mengeluh dan tetap tenang. Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini." Ciuman bertubi-tubi kembali di kening istrinya.


"Terima kasih juga selalu mencintaiku dan menjagaku selama ini, Ayah." Bumi tertawa tanpa suara saat menyebut kata Ayah. Keduanya kini telah menjadi orang tua. Ayah dan Bunda.


***


Keadaan yang sehat membuat Bumi dan bayinya diizinkan pulang keesokan harinya. Begitu sampai di rumah Akash langsung disibukkan dengan mencuci kain bekas istrinya melahirkan. Akash lumayan lama berkutat membersihkan kain yang darahnya sudah mengering itu. Ia bahkan menghabiskan banyak detergen untuk menghilangkan noda dan juga bau pada kain.

__ADS_1


Sedangkan Bumi langsung membawa kedua putranya ke dalam kamar yang telah disiapkan. Keduanya nampak lelap tertidur tak terganggu padahal tubuh mungilnya berkali-kali berpindah tempat.


"Mereka lucu banget ya, persis Akash dua-duanya." Ujar Ayas seraya menyentuhkan telunjuk pada pipi mungil itu.


"Iya, Bundanya kayaknya benci ya sama Ayahnya pas hamil." Sahut Nadia menimpali perkataan Ayas.


"Loh, kok gitu?" protes Bumi.


"Kan kata orang-orang kalau lagi hamil nggak boleh terlalu benci sama seseorang nanti anaknya jadi mirip sama orang yang dibenci." Papar Nadia membuat mereka yang ada di sana tertawa.


"Nggak gitu, Ammah..." sahut Bumi, "masa Bunda benci sama Ayah, ya dek." Bumi mengusap kepala putranya yang berambut lebat.


Kedua bayi itu nampak masih tidur pulas, tak peduli dengan suara di sekitarnya. Nadia terus saja mengambil gambar kedua keponakan barunya dan ia kirim pada Zahra dan juga Hafidz.


"Jangan diposting di sosmed, Nad!" seru Akash yang baru saja datang.


"Enggak, kak." Elak Nadia, "aku cuma kirim ke kak Zha kok."


Akash mendelik pada Nadia, dia tak ingin poto anaknya tersebar di dunia maya. Pandangannya beralih pada buah hatinya yang tertidur pulas. Lelahnya setelah mencuci kain bekas melahirkan istrinya luruh begitu saja saat memandangi kedua bayi menggemaskan itu.


"Iya kamu mandi dulu, biar Mama dan Ummi yang jaga mereka."


Bumi mengangguk seraya beranjak dari tempatnya berdiri memandangi kedua putranya.


Tubuhnya masih sangat sakit semua, terutama di daerah intinya. Di sana masih terasa perih, membuatnya harus menyeret langkah saat berjalan. Sesekali wajahnya meringis menahan sakit. Beruntung Akash tidak melihat, bila dia tahu dipastikan akan bersikap berlebihan.


Di dalam kamar mandi Akash sudah menyiapkan air hangat untuk Bumi. Dalam sebuah ember besar dengan aroma jeruk yang menguar. Saat Bumi tanya air apa, Akash menjawab itu adalah air rebusan daun jeruk purut. Teh Lina yang menyarankannya, katanya agar badan terasa lebih segar.


Benar saja, setelah mandi tubuhnya lebih terasa segar dan ringan. Sambil mengeringkan rambut, Akash menyuapinya makan. Mulai saat ini harus pintar-pintar membagi waktu, jika dua jagoan tidur maka Bumi harus cepat melakukan aktifitas lain.


Benar saja, selesai makan dan selesai mengeringkan rambur. Nadia memanggilnya karena dua jagoan sudah bangun dan menangis. Masih dengan langkah perlahan, Bumi pergi ke kamar bayinya. Dia merasa repot juga karena memiliki kamar terpusah dengan bayinya.

__ADS_1


"Uluh uluh, ganteng Bunda mau nen ya?' ucapnya seraya mengambil salah satu bayi mungil yang sedang digendong Ayas. Setelah itu Ayas pamit ke dapur meninggalkan kamar.


Bumi membawanya duduk di sofa dekat jendela, mulai mengeluarkan sumber makanan sang buah hati. Meski ASI belum keluar, tapi menurut dokter tetap harus diberikan agar merangsang kesuburan ASI.


Suara decapan dari sang buah hati membuat mereka tertawa.


"Aduuh ASInya belum keluar ya, Nak. Sabar ya, usaha terus dedeknya biar cepat keluar ASInya." Ujar Ummi yang tengah menggendong satu bayi lagi.


"Namanya siapa sih, Kak?" tanya Nadia penasaran.


"Ini yang lagi nen, namanya Mas Aro." Ujar Bumi dengan senyum sumringah. "Kalau yang digendong Jidda namanya Bang Akhza."


"Masih bayik udah dipanggil Mas, Bang. Nggak salah Kak?"


"Kan nanti biar adiknya terbiasa, dek." Celetuk Akash yang baru datang membawa segelas besar teh manis gula batu. Sontak perkataanya membuat Bumi berdecak sebal.


"Aduuh ganteng Ayah, lagi nen ya?" sapanya Pada Aro seraya mwnywntuhkan telunjuk pada pipi Aro yang menghisap rakus sumber kehidupannya.


"Bang Za kok bobo lagi, sayang?" kali inu menciumu kepala Akhza yang digendong Ummi.


"Jangan dicium, Kak. Nanti bangun. Ini Mas Ar masih nen, aku susah kalau minta nen dua-duanya." Omel Bumi membuat Nadia menertawakan kakaknya itu.


"Jadi nama panjangnya siapa, Kash?" kali ini Ummi bertanya. Penasaran dengan nama kedua cucunya ini.


"Assyam Mahija Aro dan Assyam Mahija Akhza." Jawab Akash mantap


"Namanya kok sama kayak kakak sih? awas aja nanti keras kepala juga." Cibir Nadia.


"Soal keras kepala, ada ahlinya dalam mendidik." Ujar Akash melirik pada istrinya yang langsung mencebikan bibir.


"Yang penting keduanya menjadi anak sholeh, ahli ibadah dan berbakti pada kedua orangtua." Papar Ummi dan diaamiini oleh semuanya.

__ADS_1


Babby Aro nampak selesai dengan kegiatannya. Ia kembali terlelap dan melepaskan mulutnya dari ****** Bundanya. Dengan hati-hati Akash menhhendong Aro dan menimangnuya. Kemudian selanjutnya giliran Akhza yang Bumi bawa dalam gendongannya. Akhza bahkan harus Bumi bangunkan dulu baru menghisap putingnya. Bumi sedikit meringis saat Akhza mulai mendesap bagian tubuhnya itu.


Berbeda dengan Aro, Akhza lebih santai dan sabar dalam menghisap meski ASI belum melimpah. Bumi menatap penuh sayang ke arah bayi mungil itu. Masih tak menyangka jika bayi yang tadinya dalam perut kini sudah bisa ia gendong dengan erat.


__ADS_2