Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
61


__ADS_3

"Sendirian aja Neng, Abang temenin ya?" suara berat seseorang yang masih asing di telinga Bumi mengagetkan lamunan Bumi. Hampir saja piring berisi buah yang sedari tadi Dia pegang terjatuh.


"Mau ditemenin nggak?" adalah Sandi yang kembali mengulang pertanyaan sekaligus penawaran.


"Duduk tinggal duduk aja, Bang." Jawab Bumi tanpa ekspresi, "nggak ada yang larang," sambungnya seraya menyuapkan irisan melon kesukaannya. Makan melon membuatnya teringat akan kejadian tempo hari saat Akash mengajaknya ke restoran baru yang masih dalam tahap pembangunan itu. Udah buka belum ya? batin Bumi.


"Bengong aja, kemaren ayam tetangga kebanyakan bengong...."


"Mati kan?" sambar Bumi sudah hafal dengan joke receh itu.


"Bukan mati, tapi minta kawin. Cemburu Dia lihat crushnya bermesraan dengan betina lain di hadapannya." Elak Sandi.


Deg


Kenapa justru jadi lebih mirip kisah cintanya dengan Akash. Bumi terpatah-patah mengunyah suapan kedua buah melonnya. Rasanya yang manis tiba-tiba menguap saat melewati tenggorokannya.


"Tuh kan diem lagi, kata Lila Kamu anaknya cerewet." Protes Sandi yang tak mendapat respon Bumi.


"Aku nggak seasyik itu, Bang." Jelas Bumi kembali menusuk buah beraroma khas itu dengan garpu kecil.


"Kamu umur berapa sih?"


"Abang mau gantiin petugas desa buat sensus penduduk?" tanya Bumi dengan mulut masih mengunyab melon, "janganlah Bang, kasihan kan Abang udah punya kerjaan sendiri," lanjut Bumi menelan habis melonnya.


"Koq jadi sensus sih?" Sandi menggaruk tengkuknya dengan wajah meringis.


"Iya kan pegawai desa kalau tanya umur itu buat sensus," Bumi kembali memperjelas kalimatnya seraya menaruh piring kecil yang kini sudah kosong di atas meja.


"Tapi Aku bukan buat sensus, cuma mastiin aja soalnya kalau dari wajah sih Kamu udah cocok untuk dipinang," ucap Sandi terdengar serius tapi masih sempat menaik turunkan alisnya.


Bumi sontak tercekat. Kenal baru kemarin sore sudah berani mengatakan gombalan receh seperti itu. Ditatapnya lekat-lekat pria yang duduk di sebelahnya itu. Wajah tegas penuh kedewasaan, jika diam seperti itu memang sangat berkarisma. Tapi saat sudah bicara, kenapa pesonanya bisa menguap entah kemana.


Berisik dan sangat to the point itulah kesan pertama Bumi untuk Sandi. Semalam Lila bercerita bahwa Paman yang dipanggilnya dengan sebutan Abang itu adalah seorang arsitek. Lihat saja, kulitnya memang tak seputih Akash menandakan Dia lebih sering bekerja di luar ruangan.


Belakangan statusnya yang tetap melajang di usia yang kian matang membuat Siwi dan Shinta gencar menyuruhnya menikah. Bahkan mengancam akan menjodohkannya dengan seseorang jika dirinya tak kunjung menjalin hubungan serius dengan wanita.

__ADS_1


"Setampan itukah Aku sampai Kamu kehilangan kata saat menatapku,"


Nih orang ngomong apa sih? geli banget ngedengernya. Siapapun tolong buat dia pergi dari sini.


"Abang ngomongnya ngaco deh, makan sana Bang. Kelaparan bikin otak kurang efektif dalam menjalankan tugasnya."


Sandi tertawa, membuka kancing jasnya. Tidak tahu saja Bumi kalau dirinya habis makan dua porsi penuh sebelum duduk di sampingnya.


"Aku justru kekenyangan,"


Makanya jangan kekenyangan, jadi be*o.


"Ya udah mending gerak sana, ntar perutnya buncit kaya om om." Usul Bumi seraya menunjuk perut Sandi dengan dagunya.


"Kamu perhatian banget sih, nggak suka ya punya calon suami buncit?"


Amit-amit, mimpi apa nemu orang narsisnya kebangetan.


"Abang makin ngaco, deh. Mending ke mana keq gitu." Bumi memandang ke sekeliling berharap bisa menemukan sesuatu yang dapat membuatnya beralasan untuk pergi.


"Bang, Aku mau bantu Bi Wati dulu ya." Bumi memindahkan ponsel dari atas meja ke dalam tas kecil yang ia sampirkan di bahu, "kasihan tuh kerepotan." Lanjut Bumi menunjuk ke arah Wati.


Sandi mengikuti arah telunjuk tangan Bumi dan Dia langsung bisa menangkap sosok Wati yang memang sedang kerepotan.


Tanpa menunggu Sandi mengiyakan atau sekedar mengangguk Bumi mengangkat bokongnya dari kursi dan mulai pergi meninggalkan Sandi. Ingin menyusul, namun perutnya malah mengajaknya untuk melakukan panggilan alam. Dia memilih bergegas ke toilet untuk melegakan perut yang terasa penuh itu.


Bumi menghampiri Wati yang kerepotan membawa keranjang besar untuk wadah perabotan kotornya.


"Kak Laut diem aja sih bukannya dibantuin," ucap Bumi segera ikut memegangi keranjang di tangan Wati.


"Nggak apa-apa, Neng. Bibi yang menolaknya." Jawab Wati, tangannya menggeser keranjang itu ke tengah meja. Wati mengibaskan tangannya dan memberinya waktu agar tenaganya kembali terkumpul.


"Disuruh siapa emang diberesin?" tanya Bumi. Tangannya mengusap bahu Wati, "maaf ya, Bi. Bukan Bumi nggak sopan. Tapi, sebaiknya kalau masih ada tamu piring kotornya jangan dulu diberesin." Bumi menjeda kalimatnya, membiarkan tenggorokan menelan salivanya lalu katanya lagi, "kesannya jadi seolah mengusir."


"Disuruh Neneknya Neng Lila, tuh!" seru Wati seraya menunjuk seorang Nenek yang sedang berdiri di bibir pintu.

__ADS_1


"Katanya biar kelihatan bersih, malu sama besan." Tambah Wati, wajahnya terlihat lelah.


"Neneknya Lila memang cerewet, nggak usah terlalu didengar." Kali ini Ayesha ikut bicara.


"Di mana-mana nenek-nenek itu pasti cerewet," adalah suara Rere yang duduk di samping Akash ikut bicara. "Nenekku juga," lanjut Rere yang nampak cantik mengenakan dress selutut berwarna broken white.


"Iya kan wajar, seseorang yang usianya lanjut itu memang cenderung lebih sensitif." Kata Bumi, Terpaksa harus bersitatap dengan Rere. "Mereka merasa kehilangan perhatian dari anaknya," tambah Bumi.


"Paham bener sola begituan," timpal Rere. Nada bicaranya seolah menandakan keduanya teman akrab.


"Bayangkan saja, sembilan bulan mengandung anaknya. Melewati banyak kejadian bersama buah hati. Suka duka, mengorbankan segala-galanya termasuk nyawanya bila perlu hanya demi buah hati...." Bumi menjeda kalimatnya, tak ada yang berani menyela. Menunggu kelanjutan kalimat Bumi.


"Setelah dewasa mereka menikah, punya pasangan punya anak dan mungkin sedikit mengabaikan sang Ibu yang telah melahirkannya." Kelanjutan kalimat Bumi membuat semua yang mendengar tiba-tiba merindukan sosok Ibu masing-masing.


"Hati Ibu mana yang tak cemburu? walaupun setiap orang berbeda-beda," Bumi masih melanjutkan kalimatnya. Tangannya kini merangkul bahu Wati yang malah terisak. Entah apa yang dipikirkannya.


"Nenek Kak Lila mungkin merasa terabaikan, makanya jadi cerewer dan mencari perhatian." Kalimat Bumi dibarengi dengan tatapan tajam pada Rere. Membuat Rere mengiyakan dalam hati perkataan Bumi.


Karina adalah contoh nyata seorang Ibu sekaligus Nenek yang kesepian. Karina juga cerewet, beruntungnya Rere sekarang sudah mulai kembali dekat dan lebih sering menemani Karina. Guntur lah yang menyuruhnya lebib perhatian lagi terhadap Karina.


"Orangtua itu jangan dibiarkan kesepian, nanti cepat pikun. Kasihan," Bumi mengusap bahu Wati, lagi.


"Bi Wati koq malah nangis?" tanya Ayesha.


"Bibi jadi inget emak di kampung, kalo gitu Bibi habis ini mau pulang dulu ke kampung." Adu Wati, mengusap air matanya.


"Kamu sih, jadi Bi Wati sedih." Laut menyalahkan adiknya.


"Nggak apa-apa, justru Bibi terimakasih sama Neng Bumi sudah mengingatkan. Makasih Neng," ucap Wati seraya tersenyum pada Bumi dan dibalas dengan pelukan oleh Bumi.


Si Bumi emang spesial, benar kata Akash. Pantas aja Akash cinta mati sama Dia.


Batin Rere seraya melirik Akash yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari Bumi.


Lo bikin Gue makin jatuh cinta, Bumi. Akash bicara dalam hatinya. Namun, hatinya kembali mengingat kejadian seminggu yang lalu saat Bumi mengatakan hal yang membuatnya sesak.

__ADS_1


__ADS_2