Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
7


__ADS_3

Hari kedua bekerja Bumi sedikit kesiangan, bahkan dia lupa mengisi daya baterai ponselnya. Semalaman dia memutar drama kesukaannya sampai akhirnya justru dia lah yang menjadi tontonan drama yang diputar.


Dengan tergesa-gesa ia memasuki rumah sakit menuju ruangannya.


"Nggak telat, 'kan?" Bumi dengan napas terengah-engah mendudukkan diri di kursi.


"Hampir, Bumi. Ayo siap-siap. Kita periksa pasien." Ayesha memberi semangat pada rekan kerjanya.


Bumi mengambil ponsel dari ranselnya dan mengutuk kebodohannya sendiri sampai melupakan mengisi daya. Kekesalannya bertambah manakala charger yang dicarinya tidak dia temukan.


"Pinjem charger dong? siapa aja deh!" Bumi menatap satu-persatu rekannya.


"Nih, punya gue, Bumi. Ponsel Kita kayaknya sama deh," Lundra menyerahkan charger pada Bumi. Seperti mendapat angin surga Bumi langsung merekahkan senyum.


"Nggak bakal Aku kubur kamu sebelum meninggal, aku inget nih jasa kamu hari ini." Bumi segera saja mengisi baterai ponselnya dan menyiapkan diri untuk mulai bertugas.


***


Bumi dan Ayesha menyelesaikan shift-nya dengan perasaan yang lega. Bagaimana tidak, saat bertugas ada pasien seorang nenek yang terus merengek ingin diperiksa oleh dokter Guntur, Dokter muda yang tampan. Beliau tidak ingin tensinya dicek dan tidak ingin meminum obatnya.


"Memang Dokter Guntur itu setampan apa sih, Kak?" Bumi hingga penasaran dengan sosok Dokter Guntur itu.


Mereka kini sedang berjalan beriringan hendak menemui Laut di restoran.


"Emm kalau kubilang seperti Lee Seung Gi, kamu percaya?"


Bumi membulatkan matanya. Benarkah Dokter Guntur mirip aktor Korea yang berlesung pipi dan juga pintar menyanyi itu?


"What? Aku juga mau lah diperiksa sama dia kalau gitu," ujar Bumi.


"Dasar, ayo ah cepet. Laut udah nunggu di restoran depan nih." Ayesha dan Bumi mempercepat langkahnya.


Berjalan beriringan sambil mengobrol ringan. Saling melempar canda bahkan tak sungkan berbagi pukulan pada bahu. Hingga tak terasa keduanya tiba di depan restoran dengan Bumi yang sedikit terperangah.


"Kak ...." Bumi menghentikan langkah dan memegang lengan Ayesha. "Seketika jiwa miskin ku meronta-ronta lihat restoran mewah gini," ucapnya berlebihan.


Ayesha tertawa lalu menangkup kedua pipi Bumi.


"Tenang aja! Kita makan gratis di sini. Ini restoran milik Akash. Ayo cepetan, nanti kakakmu marah."

__ADS_1


Ayesha segera menarik tangan Bumi agar melanjutkan langkah mereka. Bumi belum pernah masuk ke restoran semewah ini. Restoran dengan seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan kaca ini memiliki tiga lantai dengan desain retro.


"Kita ke atap gedung ya, Bumi. Laut sama Akash udah nunggu." Ayesha bicara tanpa menghentikan langkahnya. Beberapa orang pegawai yang sudah mengenali Ayesha memberikan senyum dan sedikit membungkukkan badan mereka.


"Kak, nggak ada Rere lampir kan?" Bumi takut kejadian tempo hari terulang.


"Nggak tahu, mudah-mudahan nggak ada," kawab Ayesha tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


Mereka berdua semakin mempercepat langkah karena lagi-lagi Laut mengirimi pesan pada Ayesha untuk segera datang sebab dirinya akan kembali ke kantor.


"Duuh lama banget sih Sha, kamu juga, kakak telpon nggak aktif!" Laut meneriaki dua gadis cantik yang baru datang.


"Iih Sayang, baru dateng udah diteriakin aja." Ayesha menatap kesal Laut.


"Udah cepet duduk, ayo makan!" Akash menyuruh kedua tamunya yang baru datang untuk segera duduk. Mata Bumi berbinar melihat hidangan di meja yang menggugah selera.


"Gratis nih, Kak?" Bumi menatap Akash yang duduk melipat kedua tangannya di atas meja. Akash hanya mengangguk dengan senyum tipis.


Ingin rasanya memiliki.


"Woy, Dek. Ayo makan malah melamun!" Laut yang duduk bersebelahan dengan Bumi menyikut lengan adiknya itu.


"Iya, mari makan!" Bumi memukul-mukul piring di hadapannya dengan sendok.


"Berisik, Kak. bicara terus kapan makannya nih Aku?" Bumi mengerucutkan bibirnya.


Mereka makan dengan ditemani semilir angin. Sesekali mereka mengomentari hidangan yang terasa sangat memanjakan lidah. Terutama Bumi, baginya ini pertama kalinya dia merasakan hidangan selezat ini. Selesai makan pegawai langsung membersihkan kembali meja mereka karena sepertinya para sahabat Bos nya ini enggan untuk segera meninggalkan meja. Masih ingin melanjutkan perbincangan.


Bumi tiba-tiba teringat sesuatu. Dia merogoh ke dalam tasnya lalu memeriksa ponselnya.


"Aduuh kenapa nggak mau nyala?" gumam Bumi saat ponselnya yang tadi sudah 100 persen terisi baterai tapi tidak bisa dinyalakan.


"Ponsel kamu kenapa?" tanya Laut. Ayesha dan Akash ikut penasaran.


"Ponselku nggak mau nyala Kak, aduuh gimana ini? Nanti malem nggak bisa ngedate ini sama Kapten kesayangan," ceracau Bumi memukul-mukul ponselnya ke atas meja.


"Kamu belikan lagi deh ponsel buat Bumi," Ayesha membisik di telingan Laut.


"Uangku habis buat beli mobil," Laut tidak setuju.

__ADS_1


"Sini Gue lihat!" Akash merebut ponsel dari sang pemiliknya. "Bawa ke counter langganan gue aja, gue anter kalau mau."


"Mau, mau banget. Ayo sekarang!" Bumi segera beranjak dari duduknya.


"Bumi, masyaallah. Kamu tuh punya harga diri sedikit kek. Bisa kan ditolak dulu biar Akash membujuk kamu. Baru Kamu iya kan," protes Laut, begitu geram dengan tingkah adiknya.


"Aku orangnya nggak suka basa-basi Kak, dan Kak Akash juga bukan seseorang yang menyukai hal-hal rumit. Ya kan, Kak?" Bumi menatap Akas yang sepertinya sedang menahan tawa.


"Ternyata adik lo lebih mengerti gimana gue deh," ujar Akash disertai kekehan.


Bumi mendekatkan dirinya pada Laut, ia mencondongkan badannya tepat ke hadapan Laut


"Aku nggak pernah sedikitpun lupa siapa kak Akash meski kakak selalu menjauhkannya dari aku," bisik Bumi tepat di telinga Laut dan membuat Laut semakin geram.


"Udah sana pergi deh kalian berdua," usir Laut dengan intonasi tinggi.


"Ayo Kak, ada yang mau pacaran tuh sok sok an ngusir. Padahal pengen berduaan," Bumi segera menegakkan badan dan memakai ranselnya yang masih tersimpan di meja.


"Lo duluan turun, gue ambil tas dulu," suruh Akash. Bumi mengangguk mengiyakan dan mulai melangkah ringan.


"Kash, ingat Rere. Gue nggak mau Bumi kecewa Kash," Laut memperingatkan.


"Gue cuma mau memastikan sesuatu. Cukup tiga belas tahun lo menjauhkan Bumi dari Gue!" Akash menepuk bahu sahabatnya dan segera pergi.


Namun, Akash segera kembali lagi dan mengambil kunci mobil Laut.


"Adik lo pakai rok mini, bahaya kalau naik motor. Gue sewa mobil lo." Akash segera pergi sebelum Laut benar-benar menghajarnya.


"Wooyyy sahabat durhaka!" umpat Laut, namun sia-sia karena Akash tetap berlari bahkan menutup kedua telinganya.


Bumi sudah berdiri di pintu masuk restoran saat Akash sampai di bawah.


"Kita pergi pakai mobilnya Laut." Akash memperlihatkan kunci mobil Laut pada Bumi.


"Kenapa?" Bumi mengerenyitkan dahinya.


"Lihat rok lo, mau disantap buaya?" Akash berlalu keluar tanpa menunggu jawaban dari Bumi. Bumi hanya tersenyum malu merasa sangat diperhatikan.


Keduanya langsung menaiki mobil, tentu saja dengan Akash yang duduk di balik kemudi. Jangan harap ada adegan sang Akash membukakan pintu mobil untuk Bumi. Dia tidak tahu caranya memperlakukan wanita.

__ADS_1


"Ayo jalan!" protes Bumi saat Akash masih tetap diam dan seperti memikirkan sesuatu. Akash membuka kembali sabuk pengamannya dan melepas jaketnya lalu melemparnya ke arah Bumi hingga menutupi bagian paha Bumi.


"Risih lihatnya." Hanya itu yang ia ucapkan lalu segera melajukan mobilnya. Sekali lagi Bumi tersenyum malu.


__ADS_2