Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
54


__ADS_3

"Terus pantesnya gimana? Kamu juga kalau bicara suka nggak pantas. Bikin melayang hati orang sembarangan. Emang kayak gitu pantas?"


Akash kaget, refleknya mendengar perkataan Bumi hampir membuat badannya terjengkang.


"Apa yang Aku bilang itu selalu dari hati, bukan sembarangan."


Bumi berdecak kesal, disibaknya rambut yang mengenai matanya karena tertiup angin lembut. Sang penjual bubur memberikan pesanan dua insan itu. Bumi tampak lahap menikmati bubur dengan kaldu yang sangat gurih itu. Keduanya menikmati sarapan itu dengan hening.


Menikmati tiap suapan dari beras yang dimasak hingga hancur dan lembek itu. Istimewanya, bubur di sini ditaburi cakue yang sudah dipotong-potong. Dan, jangan tanyakan soal rasa, jelas enak. Terbukti dari mangkuk keduanya yang bersih tanpa menyisakan apa-apa walau hanya sebatas irisan daun seledri misalnya.


Setelah meminum teh hangat yang disodorkan oleh sang penjual, Bumi baru menyadari sesuatu. Dia tidak memakai jaket dan itu artinya dompetnya tidak dibawa.


"Bawa duit nggak, Kak?" niat hati ingin mendiamkan Akash tiba-tiba dikesampingkan dulu.


"Enggak," ucap Akash semakin membuat Bumi kesal. Cowok macam apa mau jajan nggak bawa duit.


"Dompet Aku ketinggalan di rumah," perkataan Bumi membuat Akash yang sedang minum tersedak.


"Ya udah tinggal ambil dulu dompet balik lagi ke sini," ucap Akash memberi solusi.


"Dan bayarin punya Kamu juga?"


"Iya lah, Aku nggak bawa uang. Sumpah. Nanti Aku ganti," janji Akash kembali menyesap teh hangat itu.


"Ya udah bilang dulu ke abangnya," ucap Bumi.


Keduanya beranjak, sama-sama berdiri menghampiri sang penjual.


"Bang, inget siapa Aku kan?" Bumi memasang tampang imut, melipat bibir dan mengedip-ngedipkan kedua matanya.


Abang penjual menoleh ke arah suara seraya mendengus, "huh, pembeli yang banyak mau kan?"


Akash ingin tertawa mendengar pwrkataan sang penjual yang terlihat sedang kesal karena pembeli semakin banyak sebanyak mangkuk yang kotor sementara tangannya hanya dua dan kewalahan.


"Bang cepetan dong buburnya!" teriak salah satu pembeli.

__ADS_1


"Sabar, Bu. tangan saya cuma dua." Jawab sang penjual.


Bumi dan Akash saling berpandangan. "Kamu yang pulang ambil uang!" bisik Bumi.


"Kamu aja, Aku di sini. Nggak usah bilang-bilang...." belum sempat Akash melanjutkan kalimat sang penjual sudah terlebih dahulu memtong.


"Hei, Neng. cepat kalau mau bayar!"


Bumi membulatkan matanya sementara Akash terlihat lebih santai dan tenang seraya beranjak lebih mendekatkan diri pada sang penjual.


"Jadi gini Bang, Kita lupa bawa dompet. Pacar Saya mau pulang dulu ambil dompet. Saya di sini sebagai jaminan."


"Oh no!" reflek sang penjual sangat bagus. Dia mengacungkan centong besar yang biasa digunakan menyendok bubur dari dalam panci ke dalam mangkuk.


"Sudah, kalian bantu saya saja. Yang cewek banyak mau itu bantu berikan bubur pada pembeli.... " Sang penjual melirik para pembeli yang sedang duduk menunggu pesanan datang.


"Yang cowok cuci mangkuk!"


Kali ini sang penjual memandang Akash lalu menunjuk pada mangkuk kotor di pojokan. Bukan hanya satu dua tapi satu ember penuh. Akash menelan salivanya, bagaimana cara mencuci mangkuk kotor dengan air yang hanya satu ember itu? haruskah buka go*gle, dan katakan ok go*ogle bagaimana cara efektif mencuci satu ember mangkuk kotor dengan air yang hanya satu ember?


Sementara dari kursi penunggu, sang pembeli kembali berteriak, "Bang cepetan!"


"Tuh ayo sana kerjakan tugas kalian, cepet bawa buburnya ke cowok yang barusan teriak!" Sang penjual menyerahkan nampan dengan tiga mangkuk bubur komplit di atasnya.


"Kamu sana cuci mangkuknya!" Giliran Akash yang ditunjuk.


Mau tidak mau keduanya harus menjalankan perintah sang penjual. Bumi dengan hati-hati membawa nampan itu dan memberikannya lada tiga pria yang sedang menunggu. Pasti sedang kelaparan, karena begitu bubur berada di tangan masing-masing ketiganya langsung menelan salivanya.


"Neng, ambilin minumnya juga dong!" kata salah satu di antara mereka saat Bumi hendak berbalik.


"Ya!" Bumi menjawabnya singkat. Sesingkat nasib yang yang tega membuatnya jadi pelayan tukang bubur.


Tukang bubur naik haji sih kalau gini ceritanya, yang beli banyak banget.


"Minta air minumnya, Bang!" seru Bumi menepuk bahu sang penjual yang sedang menuang bubur ke dalam mangkok.

__ADS_1


"Atulah Neng, itu tinggal ambil sendiri. Gelasnya yang bekas aja, tinggal ditambah air yang dalam teko."


Bumi mengerenyitkan dahi. Jadi selama Aku makan bubur di sini, gelas buat minumnya itu bekas bahkan airnya sisa orang lain? nyesel udah memuji kelezatan dari buburnya. Tukang dagangnya lebih jorok dari Aku.


Bumi menurut saja, ada sekitar lima gelas di samping gerobak. Sesuai titah sang penjual, Bumi mengisi kembali gelas bekas yang masih berisi setengah air teh di dalamnya. Setelah memastikan gelasnya terisi penuh, Bumi segera mengantarkannya pada tiga pria tadi.


Sementara di tempatnya mencuci mangkok Akash masih saja diam tak melakukan apapun. Bagaimana cara mencuci mangkuk tanpa wastafel dan tanpa air mengalir?


"Woy cowok, cepat bawa kemari mangkuk yang sudah bersih!" teriak sang penjual.


Akash gelagapan, pasalnya keadaan mangkuk masih kotor seperti semula. Bumi yang melihat kebingungan Akash segera menghampirinya dan berdehem agar Akash menyadari keberadaanya.


"Bingung cara cucinya gimana?"


Akash meringis seraya menggaruk tengkuknya. Bumi hanya menggeleng lalu menendang bokong Akas yang sedang berjongkok.


"Minggir!" usirnya ketus. Akash segera berdiri dan memberikan ruang pada Bumi. Bumi mengambil alih mencuci mangkuk. Pertama-tama Bumi mengguyurkan segayung air pada tumpukan mangkuk kotor. Dan, mulai menyabuninya satu persatu. Akash masih memperhatikan bahu Bumi yang naik turun.


"Sana pergi, bantuin melayani pembeli!" teriak Bumi seraya sedikit melempar mangkuk ke dalam keranjang yang baru dicucinya sehingga menimbulkan sura prang. Akash yang sedikit kaget reflek membalikan badan dan meninggalkan Bumi. Formasi yang diumumkan sang penjual gagal, keadaan kini terbalik. Si cowok mengantarkan pesanan bubur sedangkan si cewek banyak mau mencuci mangkuk. Entah mengapa mangkuk kotornya terus bertambah.


Kegiatan tersebut berlangsung setengah jam. Habisnya bubur menandakan penderitan Akash dan Bumi juga usai. Bumi kembali duduk di kursi plastik yang bolong tengahnya dengan meluruskan kedua kaki. Dipukul-pukul lututnya yang terasa pegal itu. Tangannya sampai keriput. Baru kali ini Dia mencuci mangkuk sambil harus berfikir bagaimana caranya agar air satu ember harus cukup mencuci banyak mangkuk.


Mengingat kegiatannya mencuci mangkuk membuatnya merasa harus ribuan kali berfikir jika ingin makan bubur di tempat ini lagi. Kalaupun ingi, sebaiknya bawa mangkuk dan gelas dari rumah. Membayangkan minun dari gelas bekas digunakan orang lain membuat Bumi berfikir secara tidak langsung sudah berciuman dengan banyak orang.


Memikirkan hal itu tangan Bumi reflek menyentuh bibirnya seraya mengusap-usapnya lalu bergidig ngeri. Akash dan sang penjual bernama Bang Ohim yang baru menghampirinya itu sampai saling pandang karena keheranan melihat tingkah Bumi.


"Kamu lihat hantu sampai bergidig seperti itu?" tebak Akash.


"Iya.... "


"Mana hantunya?" Akash celingukan. Menengok ke kanan dan kiri sampai pohon lengkeng yang berada tak jauh dari gerobakpun ia pandangi. Siapa tahu ada nyonya kunkun di sana.


"Cowok yang pake kaos, sarung dan jam tangan hitam."


"What?" pekik Akash.

__ADS_1


Maksud Lo, hantu itu Gue?


__ADS_2