Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
120


__ADS_3

Bumi benar-benar melakukan ide yang menurut suaminya adalah ide gila. Dia memesan sebuah banner dengan ukuran besar. Pada banner tersebut dengan jelas tertulis 'Dilarang pacaran jika memasuki kafe ini'


Akash tak lagi dapat melarang niatan istrinya itu. Dengan perasaan marah dan kesal siang itu Akash pergi tanpa pamit. Senyum bahagia Bumi karena berhasil memasang banner itu menguap begitu saja. Ia tak menyangka jika suaminya akan semarah itu.


Sampai malam Akash masih saja belum kembali. Bahkan hingga Teh Lina dan beberapa pegawai lain yang mengisi mess yang disediakan akan masuk ke dalam ruangannya masing-masing, Akash masih belum kunjung kembali.


"Teh Lina temenin aku di rumah mau nggak?" Bumi mengajak Lina untuk bermalam di rumah.


"Nggak berani Neng, nanti Bang Akash pulang saya nggak enak." Lina menolak halus permintaan Bumi.


"Ini udah jam sebelas, Teh. Kakak kayaknya nggak pulang." Keluh Bumi, tak pernah ia merasakan sedih seperti ini sebelumnya.


Namun, baru saja Bumi akan kembali berucap seseorang terdengar membuka pintu.


"Tadi pintunya udah dikunci, kan?" tanya Bumi pada Lina.


"Sudah, Neng. Atau jangan-jangan itu Bang Akash." Tebak Lina dan ternyata memang benar.


Akash kembali tanpa sapa dan senyum hangat. Dia hanya menatap sekilas istrinya lalu menuruni undakan tangga untuk segera menuju rumahnya yang berada di belakang kafe.


"Ya sudah, Neng. Sana atuh baikan sama suaminya. Saya jadi tidak nyaman kerjanya." Lina merasa kikuk dengan perang dingin yang terjadi antara bos dan istrinya itu.


"Ya udah, Teh Lina juga isturahat. Jangan lupa diperiksa lagi ya teh." Pinta Bumi seraya menuruni tangga. Pelan sekali dia berjalan sambil memegangi perut yang mulai membuncit.


Didapatinya Akash sudah berbaring miring di tempat tidur. Bumi hanya dapat melihat punggung lebar yang dibalut kaos putih itu.


Dengan gerakan perlahan Bumi merangkak ke tengah tempat tidur dan langsung memeluk tubuh suami yang membelakanginya itu.


"Ayah udah bobok?"


Namun tak ada jawaban dari suaminya. Bumi mengeratkan pelukkannya. Akash bahkan bisa merasakan perut Buncit yang menyentuh bagian punggunggnya. Terasa hangat.


Ingin sekali ia berbalik dan memegang perut itu. Namun, rasa kesalnya pada Bumi ternyata lebih besar. Dia diam saja dan lebih memilih memejamkan mata daripada harus menjawab celotehan istrinya.


"Yaa, Ayahnya udah bobok, De. Dede jangan sedih yaa, besok aja minta cium ayahnya."


Bumi melerai pelukannya dan memilih tidur telentang. Dia sadar suaminya sedang kecewa terhadapnya. Namun, apa yang Bumi lakukan semata-mata hanya untuk memerangi kebathilan yang nampak di depan matanya.


Bukankah merupakan ciri orang munafik bila melihat kebathilan di hadapan mata , namun tak dapat memeranginya, padahal kita mampu? Jika kita mampu melakukannya dengan tindakan, mengapa harus diam saja? itu yang menjadi landasan Bumi dalam membuat keputusan seperti sekarang.


Akhirnya Bumi terlelap juga setelah begitu keras menenangkan dirinya sendiri. Sejujurnya dia tidak dapat tidur jika tidak dalam pelukkan suaminya. Namun, kali ini dia harus sedikit bersabar. InsyaAllah dia yakin apa yang dilakukannya tidak akan mengubah apapun. Termasuk rezekinya.

__ADS_1


Akash yang sedari tadi hanya pura-pura tidur, memberanikan diri membalikkan badan. Hatinya sedikit terenyuh melihat istrinya tidur terlentang dengan posisi telapak tangan di atas perutnya. Dia meneliti wajah manis istrinya yang sudah lelap. Bibirnya sedikit terbuka.


Akash beralih meneliti perut istrinya. Tangannya terangkat untuk mengusapnya. Dia usap dengan gerakkan perlahan agar tak mengganggu tidur istrinya.


"Maaf ya, Sayang. Bobok yang nyenyak. Jadi anak baik, jangan bikin bunda sakit." Kemudian menciumi perut itu lama dan dalam.


Pandangannya teralih kembali ke wajah Bumi, dia menyentuhkan telunjuknya pada pipi yang mulai berisi itu. Badan Bumi sekarang lebih berisi, mungkin karena efek kehamilannya. Dia selalu makan dalam porsi yang banyak.


***


Pagi menyapa di antara gunung salak dan pangrango itu. Cicit burung bersahutan menambah suasana pagi yang cerah itu menjadi lebih riang. Bumi sedang berkutat di dapur kecilnya. Menyiapkan nasi goreng dan teh manis gula batu untuknya dan Akash.


Akash masih enggan bicara banyak. Selama sarapan berlangsung hanya bunyi dari sendok dan piring yang terdengar. Bumi sendiri tak berniat membuka percakapan, dia enggan saat melihat wajah datar suaminya yang dingin.


Setelah sarapan, Akash kembali pergi tanpa pamit. Hanya pada Lina ia berbicara. Itupun tak banyak, hanya seputar persediaan bahan makanan. Menyuruh Lina mencatat apa yang dibutuhkan dan seperti biasa akan menunjuk Mas Budi sebagai orang yang dipercayainya untuk belanja.


Biasanya Mas Budi ditugaskan belanja saat shubuh. Namun, karena semalam dia pulang terlalu larut membuatnya tak sempat berbincang dengan Lina dan Budi.


"Kakak bilang nggak mau pergi ke mana?" selidik Bumi begitu melihat mobil suaminya sudah tak nampak di depan kafe.


"Nggak bilang, cuma nitip pesan." Beritahu Lina.


"Pesan apa?" desak Bumi penasaran.


"Surah Maryam?" tebak Bumi dan dihadiahi anggukkan oleh lina.


Bumi mengulum senyum. Nyatanya dalam kondisi marah sekalipun suaminya tetap mengkhawatirkan keadaannya.


"Sampai kapan kamu kuat mendiamkan aku?" gumam Bumi seraya pamit pada Lina untuk kembali ke rumah.


***


Sementara itu di rooftop restorannya Akash duduk termenung memandangi wajah istrinya dalam layar ponsel.


"Kamu kenapa sih keras kepala banget?"


"Kamu nggak tahu apa dampak yang akan ditimbulkan dari perbuatan kamu ini?"


Akash hingga melempar ponselnya ke tengah meja di hadapannya karena merasa kesal dengan kelakuan istrinya.


Hingga ponsel itu bergetar dan menampilkan nama istrinya pada layar. Ia enggan mengangkatnya. Setelah cukup lama bergetar suaranya beralih menjadi notifikasi pesan. Akash membaca sekilas pesan yang terdapat dalam layar ponsel tanpa berniat membukanya.

__ADS_1


Jangan lupa makan, Sayang.


Ingin sekali Akash membalasnya, namun kali ini dia sedang sedikit keras melawan Bumi. Dalam pikirannya, dia ingin agar Bumi dapat sedikit membuang egonya.


Sementara di rumahnya, Bumi hanya menanatp nanar pada layar ponsel yang tak kunjung mendapat notifikasi.


Ditambah dengan keadaan kafe yang tiba-tiba sepi padahal sudah lewat dhuhur


"Neng, apa mau dilepas saja bannernya?" Lina memberi usul namun segera mendapat gelengan dari Bumi.


"Tadi ada beberapa anak muda yang lebih memilih putar balik daripa mampir, Neng." Terdengar nada kecewa pada suara Lina.


"Teh Lina tenang aja, besok lusa kafe pasti ramai lagi. Percaya sama aku." Jawab Bumi penuh keyakinan meskipun dirinya sedang tak baik-baik saja.


Hingga sore tak begitu banyak yang berkunjung. Seperti kata Lina tadi siang. Banyak pasangn muda-mudi yang memutar balikkan kendaraannya setelah membaca banner yang Bumi pasang tepat di depan kafe.


Hingga akhirnya saat senja menyapa, ada segerombolan remaja putri yang masih mengenakan seragam putih abu datang berkunjung.


Tanpa basa-basi ke lima anak gadis itu bertanya pada Lina ingin bertemu dengan pemilik kafe. Berhubung Akash tidak ada, jadilah Bumi yang mereka temui.


"Kak, kenalin kita dari ikatan remaja masjid di sekolah." Begitu tutur salah seorang di antara ke lima siswa itu.


"Kita tertarik banget sama banner yang dipajang di depan restoran." Imbuh yang lain.


Bumi masih enggan menjawab, dia membiarkan gadis-gadis ini kembali bicara.


"Boleh dipoto lalu kami sebarkan di sosmed? jarang ada kafe yang mengusung tema seperti ini kak. Kami berlima di sekolah juga tergabung dalam komunitas menolak pacaran."


Bumi mulai tertarik dengan obrolan itu. Dia memasang telinga untuk kembali mendengarkan penuturan ke limanya secara bergantian.


"Kami mau minta izin buat menjadikan kafe ini tempat untuk sharing dengan beberapa teman akibat putus cinta atau dengan sengaja memutuskan pacarnya karena ingin hijrah."


Senyum Bumi mengembang seperti payung di musim hujan. Dia akhirnya menemukan secercah harapan dari ide gilanya yang sempat membuat suaminya kesal.


"Aku senenng banget kalau kalian mau melakukan hal positif seperti itu," tutur Bumi dengan suara riang.


"Anggota kami banyak dari sekolah-sekolah lain. Banyak kok muda mudi yang ingin terbebas dari jerat pacaran."


"Makanuy, kami tertarik sekali dengan tulisan di depan, Kak."


"Iya silahkan, Aku pasti menyambut kalina dengan tangan terbuka." Tutur Bumi menerbitkan senyum pada bibir ke lima gadis itu.

__ADS_1


"Tenang, Kak. Nanti kita jajan kok, kita hanya merasa menemukan tempat yang tepat aja buat wadah komunitas kami. InsyaAllah kami datang setiap hari untuk sharing kak." Tutur salah satu di antara mereka yang sepertinya adalah ketua mereka. Sebab paling banyak bicara dan dominan di antara kelimanya.


Bumi dengan penuh kebahagiaan melepas kepergian ke lima gadis itu setelah saling bertukar nomor ponsel dan sempat berkenalan pula. Semoga dengan berita ini. Akash tak lagi mendiamkannya.


__ADS_2