Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
112


__ADS_3

Ruang tamu rumah Uti malam ini menjadi saksi perbincangan Akash dan Laut. Pemuda yang akan menjadi adik iparnya itu datang tepat waktu setelah tadi sore diberi tahu oleh Nadia lewat pesan singkat. Nadia memintanya datang karena Akash akan membicarakan beberapa hal.


Nadia duduk diapit Akash dan Bumi. Hafidz yang malam itu mengenakan sarung berwarna maroon dengan koko putih nampak berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Tidak ada sapa ramah pada diri Akash saat bersalaman tadi. Si batu yang diberi nyawa itu bahkan tidak membalas senyum hangat dari Hafidz.


"Lo mau gue to the point atau basa-basi?" tawar Akash dengan tampang seram, seperti kakak kelas yang sedang mengospek juniornya.


"Langsung saja...." Hafidz menggantung kalimatnya sebab bingung akan memanggil Akash dengan sebutan apa.


"Panggil Kakak aja, Mas." Cicit Bumi sekenanya, lupa jika suaminya itu melarang dirinya memanggil Hafidz dengan embel-embel Mas.


Akash menjulurkan tangannya ke arah punggung Bumi, bahkan dari punggungnya Nadia yang duduk di antara kedua pengantin baru itu dapat merasakan lengan kokoh Akash. Di punggung Bumi Akash mendaratkan cubitan kecil, Bumi meringis. Bukan malu melainkan merasa lucu akan tingkah si tukang sosor itu.


"Dek. tuker deh tempat duduknya." Bisik Bumi pada Nadia, Nadia mengangguk dan menurut.


Kini Bumi sudah duduk tepat di samping suaminya, dia sadar akan kesalahannya. Si bayi besar itu perlu dibujuk agar tak lagi merajuk.


Bumi memberikan senyuman paling hangat pada Akash saat pandangan keduanya bertubrukan. Dan hal itu nyatanya tidak bisa membuat amarah dalam diri Akash bertahan lebih lama. Usapan di kepala Bumi membuktikan bahwa amarahnya sudah musnah. Sesederhana itu cinta keduanya. Kamu merajuk aku membujuk.


Akash kembali menatap Hafidz, tatapannya berubah garang lagi.


"Gue minta kalian nikah setelah Nadia lulus kuliah. Gimana?" tanya Akash, benar-benar to the point.


Hafidz tak langsung menjawab. Entah apa yang ada dalam pikirannya, gamang sudah pasti.


"Bisa saling tukar kabar lewat pesan, seperlunya." Ujar Akash.


"Jika bertemu?" tukas Hafidz


"Lo harusnya ngerti deh hukumnya gimana kalau ketemuan, apalagi cuma berduaan." Sahut Akash, tak sadar diri kelakuannya seperti apa dulu jika mendekati Bumi.


"Kak Akash seenaknya, nggak bisa gitu dong Kak." Sanggah Nadia yang merasa ditindas.

__ADS_1


"Kalau dia serius pasti bisa berkomitmen, Dek." Lagi-lagi kalimat itu harusnya ditujukan untuk dirinya sendiri, bagaimana dia dulu sempat meninggalkan Bumi.


"Kakak itu kayak nggak pernah muda aja," protes Nadia suaranya meninggi.


"Justru karena Kakak pernah buat salah makanya Kakak nggak mau kalian sama seperti Kakak." Akash membela diri, dia menyadari kesalahannya yang lalu.


"Gini loh Hafidz...." Bumi menjeda kalimatnya. Dirinya sejurus menatap suaminya dan berkata, "boleh aku yang jelasin, kasihan jantung Hafidz bisa-bisa melorot ke mata kakiknya kalau kamu yang bicara."


Akash mengangguk, dia sadar tak bisa menahan emosinya jika berurusan dengan Hafidz. Mungkin karena Hafidz pernah dekat dengan Bumi dia masih cemburu.


"Gini ya, Nadia kan masih harus selesaikan kuliah. Dia nggak mungkin kan tinggal di sini sedangkan kuliahnya masih di Jakarta. Dan, kamu juga nggak mungkin dong ninggalin kerjaan kamu di sini. Jadi, suamiku cuma pengen yang terbaik buat kalian berdua." Dengan seksama Bumi menjelaskan maksud dari perkataan Akash sebelumnya.


"Kalian bisa saling berbalas pesan, kalian sudah sama-sama dewasa dan mengerti agama jadi bisa tahu sendiri apa saja yang harus dihindari agar tak terjadi fitnah." Lanjut Bumi memandang Nadia dan Hafidz bergantian.


Lama hening menyapa keempat orang tersebut. Saling menyelami pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Hafidz buka suara.


"Iya saya pikir ada baiknya kita menunda dulu, sebab saya juga disibukkan dengan berbagai kegiatan mengajar. Gimana, Ay?" Hafidz meminta pendapat Nadia. Panggilan Ay untuk Nadia terasa membelai di indera pendengaran Gadis cantik bermata indah itu. Dirinya luluh hanya karena sebuah sapa saja.


"Allhamdullillah," ucap Bumi menyapukan kedua tangan ke wajahnya. Lalu melirik suaminya yang mematung. "lihat. bicara baik-baik bikin mereka ngerti kan?"


Akash menghela nafas, sejurus kemudian menatap Hafidz yang ternyata sedang memandang ke arahnya pula. Jadilah mata keduanya saling bertubrukan dengan Hafidz yang lebih dulu membuang pandangan.


"Tolong jaga kepercayaan gue, sedikit lo nyakitin dia ga akan gue kasih kesempatan lagi." Ucap Akash lagi-lagi membuat nyali Hafidz menciut. Bisanya hanya mengancam Akash ini.


Nadia kesal sendiri melihat tingkah Kakaknya, tapi dia sadar itu bentuk kasih sayang Akash untuk dirinya. Kakaknya itu memang sulit bersikap baik dengan orang yang baru dikenalnya. Apalagi ini berurusan dengan masa depan Nadia.


"Iya, saya mengerti." Angguk Hafidz, dirinya yang biasa banyak bicara dibuat bungkam oleh perlakuan Akash.


"Nggak usah takut gitu, suamiku itu baik kalau udah kenal. Malah jadi sayang kalau udah kenal," seloroh Bumi. Hafidz seperti diingatkan pada ucapannya sendiri terhadap Bumi saat bertemu di rumah Yudis. Bibirnya mengulas senyum. Jika tahu akan seperti ini, tak usah dulu berusaha mendekati Bumi.


"Iya, saya harap begitu." Timpal Hafidz seraya melirik Akash yang diam tanpa ekspresi.


"Jangan lupa bilang ke Bu Haji dan Pak Haji, bukan dibatalkan hanya diundur." Bumi memperingati Hafidz dan langsung diangguki pria yang sebetulnya jahil itu.

__ADS_1


Setelahnya Hafidz pamit. Meski tatapannya tak segarang saat Hafidz datang. Tetap saja senyum Akash belum mengembang untuk Hafidz.


"Bibirnya mesti dikasih ragi biar senyumnya mengembang," sindir Bumi pada Akash saat Hafidz dengan motornya telah meninggalkan pekarangan rumah Uti. Nadia tampak sedih melepas kepergian kekasih hatinya itu.


"Dikasih ciuman deh, raginya kan nggak ada." Akash memberi penawaran.


"Banyak di dapur Mama, mau aku ambilkan?" tawar Bumi.


"Boleh sih, tapi tempelinnya pake ini." Ucapnya seraya menyentuh bibir Bumi.


"Nggak ada, aku lagi kesel sama Kakak. Jadi orang kejam amat," sergah Bumi menepis tangan suaminya.


Nadia yang sudah merasa cukup melepas kepergian Hafidz turut masuk ke dalam rumah. Raut wajahnya nampak sendu.


"Dek, maafin Kakak ya. Kamu tahu kan apa tujuan Kakak melakukan ini?" tanya Akash saat Nadia melintas di hadapannya.


"Iya, Kak. Tapi. bisa nggak Kakak jangan keras gitu sama Mas Hafidz?" pinta Nadia dengan tatapan penuh harap.


"Kakak usahakan ya, Dek." Jawab Akash. Mendekati tubuhn adiknya seraya memeluknya.


"Kakak sayang kamu. semoga kamu tahu itu." Akash menepuk kepala Nadia. Membuat Nadia terharu dan meneteskan air mata dalam dekapan tubuh kekar Kakaknya.


"Aku juga sayang Kakak, makasih Kak." Selanjutnya gadis itu melerai pelukkan kakaknya. Ditatapnya lekat mata sendu milik sang Kakak.


"Jangan galak-galak sama Mas Hafidz, aku sayang sama dia." Ucap Nadia di sela isaknya.


Akash terkekeh mendengarnya, adik kecilnya kini telah tumbuh dewasa bahkan bisa mengakui perasaan suka terhadap lawan jenisnya.


"Kalau dia nggak mau berubah, aku yang kasih dia pelajaran, Dek." Ujar Bumi seraya berlalu. Membuat Akash kalang kabut. Dia tak mau dijauhi Bumi.


"Dek, jangan kayak gitu dong. Aku janji merubah sikap pada Hafidz," Akash serta merta mengekori langkah kakinya.


Nadia menggeleng melihat tingkah pengantin baru itu, "Kakak....Kakak, takut amat sama Kak Bumi." Gumamnya seraya berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan Ayas untuknya berisirahat.

__ADS_1


__ADS_2