
"Kash, berapa lama lo nggak cukuran? sejak kapan mulai begadang?"
"Kenapa memangnya?"
"Lo jelek banget, Kash. Kayak napi baru keluar dari penjara." Jawab Laut.
Sendu yang dirasakan Akash tiba-tiba menguap dengan candaan Laut. Dirinya mendorong bahu depan Laut, masuk tanpa permisi dan duduk di ruang tamu.
Laut menyusulnya dengan tawa cekikikan melihat keadaan Akash yang berantakan. Akash mendengus kesal, menendang lutut Lalu dengan telapak kakinya.
"Rese, lo!" kesal dan membuka jaket lalu melemparnya ke muka Laut.
"Jaket lo wangi banget kayak anak perawan," ucap Laut menyengaja mengelapkan jaket pada hidungnya, seolah-olah sedang mengelap sesuatu di sana.
"Jorok, jaket gue ternodai." Akash mengambil kembali jaketnya namun tangan Laut menahannya.
Jadilah keduanya melakukan adegan tarik menarik jaket dengan tenaga yang sama kuat serta umpatan yang saling menjatuhkan. Sampai akhirnya Ayesha datang dan memangkas kerusuhan itu.
"Kalian kayak anak kecil, deh!"
Sontak pegangan tangan Laut dari jaket itu terlepas, membuat tubuh Akash terjengkang, punggungnya membentur sandaran sofa.
"Kalian ngapain, sih?"
"Becanda, Sayang." Setengah merajuk Laut menyundul-nyundulkan kepalanya ke lengan Ayesha.
"Manja-manjaan jangan depan jomblo dong." Protes Akash.
"Jomblo?"
"Gue abis cerai, barusan banget." Beritahu Akash. Membuat Ayesha dan Laut saling berpandangan.
"Koq bisa?"
Akash mulai menceritakan seluruh kejadian yang dia alami bersama Rere selama ini. Kadang tertawa, murung, tertawa lagi sampai akhirnya dia bergumam.
"Gue kangen sama Bumi." Lalu terisak di akhir kalimatnya.
"Kash, tapi Bumi...."
"Gue nggak mau maksa dia nerima gue lagi, gue pernah jadi pecundang. Nggak pantes dapetin dia lagi." Luruh air mata itu membasahi wajah yang kini dihalangi oleh kedua telapak tangannya.
Menangis lagi tanpa suara. Namun, dengan tubuhnya yang bergetar hebat Laut tahu seberapa dalam rasa sakit yang Akash alami.
Laut dan Ayesha hanya setia menonton, cara apa yang dapat dilakukan untuk menghibur laki-laki dewasa saat menangis? memberinya lolipop tidak mungkin. Mengajaknya membeli mainan juga bukan solusi. Jadi lebih baik didiamkan sampai tangisnya reda sendiri.
Setelah dapat menguasai diri, Akash mulai menampakan lagi wajahnya. Hidungnya merah dengan pipi yang terasa lengket bekas air mata. Andai bukan karena Bumi, sudah ingin sekali Laut menertawakan kelakuannya.
Akash beranjak dari duduknya, menuju dapur dan membasuh wajahnya dari kran wastafle. Dirasanya lebih segar, lagi-lagi kepalanya memutar rekaman saat Bumi memasak mie instan tempo hari.
Kenapa rumah ini isinya jadi muka dia semua sih?
*****
Seperti biasa setiap hari ba'da ashar Bumi selalu datang ke rumah Bu Haji Endah untuk mengaji. Sudah banyak kemajuan rupanya, dan hal itu tentu membuat Sang Mama bahagia. Sore itu seperti biasa Bumi diantar tukang ojeg langganannya. Untuk pulang Haji Endah selalu meminta Hafidz yang mengantarkannya.
Bumi membawa tiga kotak besar donat yang masih hangat untuk diberikan pada Haji Endah dan juga Lili.
"Fresh from penggorengan, Bi." Ucap Bumi saat Lili mengatakan masih hangat dan enak.
__ADS_1
Sebagian Lili simpan ke atas piring, sebagian lagi untuk santri. Setelah itu keduanya pergi menuju kediaman Bu Haji Endah, langsung bertemu dengan Hafidz yang sedang duduk di teras fokus pada laptopnya. Sampai tak menoleh saat Bumi dan Lili mengucap salam, hanya menjawab dengan mata tetap fokus pada layar laptop yang memperlihatkan nilai-nilai siswanya.
Bumi dan Lili langsung saja masuk ke dalam. Segera menyerahkan donat fresh from penggorengan itu. Hangat dan enak itulah komentar Bu Haji Endah. Satu orang lagi berkata sama, patut diberi gelas atau payung.
"Kamu kasih ke Mas Hafidz, ya!" Haji Endah menyodorkan piring yang sudah diisi donat pada Bumi. "Dia paling suka dengan donat ditaburi gula tepung begini." Imbuhnya seraya tersenyum.
Sebenarnya malas sekali berinteraksi dengan Hafidz, tapi kalau berjauhan terus kapan dapat chemistry? Akhirnya Bumi mau juga mengantarkan donat untuk Hafidz.
"Kalau Bumi makanan kesukaannya apa?" tanya Haji Endah.
"Burger, Bu." Jawab Bumi cepat dan riang.
Mengingat burger membuat kepalanya merekam sosok Akash yang tadi malam kembali hadir di mimpi Bumi.
"Nanti Ibu beritahu Hafidz," ucap Bu Haji Endah mengerlingkan mata sama persis dengan yang sering dilakukan Hafidz.
Tiba di teras Bumi menjumpai Hafidz yang sudah menutup laptopnya, sedang menerima telpon dari seseorang.
"Ok makasih, bilang saja saya sudah ada calon." Kemudian menutup sambungan telpon. Bumi dapat menangkap kalimat itu dengan pendengarannya.
"Waah apa, nih?" tanya Hafidz, tentu dia tahu hanya sedang basa-basi.
"Basa-basi banget, sih!?" cibir Bumi beda sama Kak Akash yang selalu to the point.
"Orang nanya dibilang basa-basi." Akash membela diri.
"Kamu pikir apa?" tanya Bumi mendelik.
"Aku pikirin nanti, kalau udah ketebak aku kasih tahu." Jawab Hafidz langsung mengambil satu donat itu. Matanya berbinar saat suapan pertama merasakan sensai lembut, dan manis bercampur jadi satu.
"Kamu kalau bicara suka nggak jelas," protes Bumi.
"Sayakan nggak cadel, nggak jelasnya di mana?" tanya Hafidz, tangannya siap mengambil donat kedua.
"Iya saya aku pikirin." Hafidz kemudian tersenyum jahil dan kembali berkata, "mau tahu masa kecilku nggak?"
"Nggak mau!"
Namun, Hafidz tetap bicara.
"Saya waktu kecil kalau disuruh sholat pasti asal, wudhu juga a'la kadarnya." Hafidz mulai cerita. Sama sekali Bumi tak merespon.
"Kamu tanya dong kenapa saya kayak gitu!" protes Hafidz saat Bumo diam saja.
"Iya, kenapa?" malas-malasan Bumi menjawab.
"Abis lama kalau whudu dan sholat sambil baca-baca. Sedangkan saya saat itu ditunggu teman-teman buat main kelereng.
"Biarin, ntar kamu matinya keselek kelereng," ujar Bumi menimpali.
"Ya biarin nanti paling kamu yang disalahkan. Gimana sih jadi istri koq suami makan kelereng dibiarin.Kan jadinya mati. Mana masih muda, ganteng lagi hahahah".
"Huh percaya diri kamu tuh ngalahin tingginya monas tahu nggak," uvap Bumi seraya mengibaskan tangannya ke wajah Hafidz. Hafidz tertawa sedangkan Bumi masih memberengutkan wajah.
"Susah banget sih bikin kamu ketawa," ucap Hafidz. "Minimal senyum, keq." Tambahnya memasang wajah muram.
Bumi tak berniat mengabulkan permintaan Hafidz. Menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja. Lebih asyik memperhatikan sekumpulan anak-anak perempuan yang sedang menaiki pohon kersen karena audah ada beberapa yang matang.
"Hansa" panggil Hafidz. Selain karena menurutnya Hansa itu nama yang unik tapi juga memiliki inisial sama dengan dirinya. H, untuk Hansa san Hafidz.
__ADS_1
"Hmmm"
"Kamu sebenarnya serius nggak sih menerima perjodohan ini?"
Bumi menoleh pada Hafidz, sulit bagi Bumi menerima kebaikan Hafidz. Semua candaan Hafidz yang harusnya bisa dinikmati dengan tawa tak pernah terasa lucu bagi Bumi.
"Apasih suka nanya aneh gitu?"
"Saya cuma memastikan," jawab Hafidz lebih serius. "Menikah tanpa cinta itu pasti sulit dijalani." Hafidz menjeda kalimatnya, "kalau dari awal tidak serius dan hanya dijadikan pelarian, selamanya saya pasti nggak bisa berdampingan dengan kamu."
Reflek Bumi menoleh pada sosok yang sedang memakai sarung dan kaos putih lengan pendek itu. Tidak ada kerlingan mata di sana, tidak ada wajah usil di sana. Wajah itu serius, mengguratkan kedewasaan yang selama ini tertutup oleh sikapnya yang suka berseloroh.
"Pokoknya aku terima perjodohan ini," jawab Bumi tak ingin bertele-tele. "Jangan bikin tambah pusing deh!" kemudian beranjak, "permisi!"
Lalu pergi meninggalkan Hafidz yang terus memandanginya, hingga tubuh yang dibalut gamis hitam itu menghilang di balik pintu rumah Kakak sepupunya.
Melupakan seseorang dari masa lalu itu sulit, Hansa. Apalagi kamu sepertinya sangat mencintai laki-laki itu.
******
Nadia dan Ilham kali ini merasa jadi seorang terdakwa yang membunuh manusia. Akash yang keras kepala itu bahkan menolak mentah-mentah permintaan maaf keduanya.
"Kalian tahu Akash gimana kan?" hibur Ummi, bijak. "Dia itu keras, jangan dilawan sama keras."
"Zahra sama Abang harus gimana lagi, Ummi?" Zahra putus asa, telapak tangannya mengelus perut yang tengah buncit namun karena selalu memakai hijab besar jadi tak terlihat.
"Biarkan saja dulu, lama-lama dia luluh." Jawab Ummi, tangannya ikut mengelus perut Zahra. "Berapa bulan cucu Ummi ini?" tersenyum mengalihkan perhatian Zahra.
"Insya Allah masuk 4 bulan, Mi." Zahra ikut tersenyum.
"Waah harus syukuran dong," mata Ummi berbinar menatap Zahra. "Di sini ya, syukurannya." Pinta Ummi kemudian.
"Iya, Ummi. Syukuran kecil-kecilan saja ngundang jemaah dan anak yatim." Ilham menimpali.
Sudah Tiga hari ini Akash tidak ke rumah Umminya, di restoran pun tidak ada. Menurut informasi dari Nadia Akash sedang sibuk mengurus restoran barunya.
"Ummi, Zahra sama Abang mau menemui Bumi. Gimana menurut Ummi?" tanya Zahra.
"Terserah kalian, saran Ummi jangan paksa Bumi buat kembali menerima Akash ya!"
"Kenapa, Mi?" Zahra heran, "aku bisa seumur hidup dihantui penyesalan kalau mereka nggak bersama."
"Ummi malu pada Bu Ayas dan Bumi, keluarga kita sudah menorehkan luka di hati Bumi. Apa pantas Akash diterima kembali oleh Bumi?" pertanyaan Ummi semakin membuat Zahra merasakan denyitan nyeri di hatinya.
"Setidaknya kita ingin meminta maaf langsung, Mi." Ujar Ilham. Orang yang paling egois dalam hal ini. Tidak ingatkah dia pernah memarahi Bumi? di mana nuraninya saat itu.
"Dengan keadaan Zahra yang sedang mengandung, Ilham nggak mau membuat Zahra terus larut dalam penyesalan ini." Ilham berkata penuh penyesalan, "Ilham takut berdampak bagi kandungannya."
"Terserah kalian, tapi Ummi tidak tahu alamat mereka."
"Nanti Ilham cari tahu, bisa tanya Laut sekalian juga minta maaf."
"Semoga kalian bisa mengambil hikmah dari perbuatan kalian," harap Ummi. "Saat kita berdosa pada Allah kita bisa sholat taubat dan mohon ampunan, tapi saat kita menyakiti hati manusia itu sulit sekali meminta maafnya. Sebab hati manusia itu rapuh, kedalamannya tidak dapat kita selami. Tapi, Ummi yakin Bumi dan Bu Ayas adalah dua orang yang memiliki hati lembut." Panjang lebar Ummi berkata membuat Nadia dan Ilham semakin dirundung penyesalan.
Keduanya sepakat saat itu juga menemui Laut. Meminta maaf dan mencari tahu alamat rumah Ayas di kampung. Semua tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kalimat panjang Akash lewat pesan yang dikirimnya sebagai balasan untuk Nadia sungguh menohok hatinya.
/Kakak tahu apa yang benar-benar membuatku sakit hati? adalah sakit hati Bumi yang nggak pernah dia ceritakan padaku karena omongan Kakak dan Abang. Sakit hatiku saat tidak bisa membela orang yang kucinta, Kak. Aku hanya diam saat dia kalian sakiti, apa namanya kalau bukan pecundang?/
.
__ADS_1
.
. Like, komen masih ditunggu