
"Katakan Kamu juga mencintaiku, katakan Aku harus bisa kembali melawan takdir."
Bumi membalikkan badannya, Dia mendongakan kepala agar dapat mencari mata yang sedang menangis itu.
"Aku mencintaimu, terimakasih sudah mencintaiku juga. Jangan lawan takdirmu kali ini. Aku cukup bahagia mendengar pengakuanmu, setidaknya Aku tahu hatimu milik siapa. Aku akan berusaha ikhlas melepasmu."
Akash menggeleng, si batu yang diberi nyawa ini kembali ingin melawan. Dia mengangkat tangannya hendak mengusap air mata Bumi namu Bumi malah meraih tangan itu, menggenggamnya erat.
"Kali ini belajarlah untuk tidak egois, wahai batu yang diberi nyawa." Bumi tertawa dan tawa itu menular. Hari itu keduanya sepakat melepaskan perasaan masing-masing. Saling merelakan agar tidak saling menyulitkan. Walau belum tahu akan ada hal apa yang terjadi selanjutnya keduanya sepakat untuk mengakhiri semuanya. Cukup dengan kata Aku mencintaimu dan Aku juga mencintaimu keduanya mengakhiri pertemuan hari itu. Bumi membawa luka di hati dan di tangannya dengan memeluknha erat. Akash hanya dapat memandangi punggung gadis yang menolak diantar itu dari jauh. Bahkan wangi aroma tubuhnya masih ia dekap saat gadis itu mulai hilang dari pandangannya.
*****
Tiga hari berlalu dari kejadian itu. Sesuai dengan yang telah direncanakan pengantin baru yang telah membuat jadwal berbulan madu ke puncak dan mengajak teman-temannya itu terlaksana juga. Bumi awalnya menolak dengan berbagai alasan, bagaimana tidak Dia harus berada dekat di antara Akash dan Rere untuk beberapa hari. Keadaan itu pasti merepotkan hatinya. Menjadi nyamuk di antara tiga pasang bukankah lebih baik bekerja saja. Liburan macam apa itu?
"Ini Aku udah beliin Kamu syal buat di sana, pokoknya Kamu harus ikut. Siapa tahu nanti di sana ketemu jodoh nyasar," ucap Ayesha seraya memakaikan syal berwarna mocca kesukaan Bumi pada leher Bumi.
"Kakak enteng banget bilang dapet jodonya, tak semudah itu Rosalinda." Jawab Bumi membuat kakak iparnya tertawa.
"Iya siapa tahu di sana nanti ada Ferguso atau bahkan Lee Min Ho tau Ji Cang Wook,"
"Kakak, emang Aku anak PAUD yang iya-iya aja saat orang tuanya bilang jangan beli kinder joy nanti berubah jadi hulk badannya,"
"Eh emang ada orangtua yang kayak gitu? tega banget!"
"Ada Kak, Aku pernah lihat pas di supermarket. Jadi anaknya tuh nangis pengen beli kinder joy sepuluh. Nah sama Ibunya dibilang jangan makan kinder joy nanti badannya berubah jadi hulk. Anaknya malah nggak jadi beli kinder joynya dan percaya aja sama Ibunya. Parah banget sih," Bumi tertawa mengingat kejadian beberapa hari lalu itu.
"Anak penurut itu namanya, nanti gede dikit pas anaknya minta gadget tinggal bilang jangan main gadet nanti bola matanya keluar," kali ini Ayesha yang mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Emang ada yang kayak gitu?"
"Ada, pas di rumah sakit Aku lihat Ibu dan anak yang mulai ABG gitu debat soal anaknya yang minta ponsel."
"Terus anaknya percaya pas dibilang jangan main ponsel nanti bola matanya keluar?" Bumi mulai antusia.
"Ya enggaklah, anaknya malah bilang Mama juga setiap hari main ponsel koq matanya baik-baik aja."
Keduanya kembali tertawa, Bumi sampai mengeluarkan air mata karena menurutnya si Ibu yang di skak mat oleh anaknya itu sangat lucu sekali. Sejenak melupakan penolakannga ikut berlibur dan tanpa sadar pakaiannya sudah rapi dipacking oleh Ayesha.
"Nah, selesai. Baju Kamu udah dipacking, pokoknya harus ikut. Lila aja ikut,"
"Tapi Kak...."
"Kamu takut cemburu lihat Akash dan Rere?"
"Bukan, Aku justru takut Rere yang cemburu lihat Aku sama kak Akash."
Sementara Rere dan Akash yang memang sedang menghabiskan malam itu di rooftop tampak asyik menghabiskan malam berdua.
"Koq Gue justru ngerasa nggak ada tantangan banget ya kalau Lo baik gini sama Gue," ucap Rere.
"Maunya Lo Gue kaya kemarin lagi dan Gue diancam sama orangtua Lo?"
"Nikah sama Gue hatinya Buat cewek lain, apa-apan itu?" Rere mendengus kesal.
"Doain aja biar pelan-pelan Gue bisa cinta sama Lo," ucapan Akash membuat Rere yang sedang minum terbatuk dan hampir menyemburkan kembali minumannya jika tangannya tak sigap menutup mulutnya.
__ADS_1
"Gitu aja baper," sindir Akash. Rere tak menjawab Dia hanya memutar bola mata.
"Gue kira Lo bakal terus menggagalkan pernikahan Kita. Padahal Gue berharapnya usaha Lo berhasil."
"Maksud Lo?"
Rere menghela nafas. Hati kecilnya memang sempat memuja Akash namun ia tahu pada siapa hatinya berlabuh. Guntur, si dokter berkacamata yang diam-diam masih sering ia temui.
"Gue sebenarnya udah balikan sama Guntur, tapi kenapa tiba-tiba Lo datang dan baik-baikin Gue. Lo nggak harus pura-pura gini Kash." Rere menatap lekat lelaki bermata bulat dihadapannya.
Akash menggeleng, jika awalnya Dia memang pura-pura namun saat menemukan sosok lain pada diri Rere hatinya mulai menerima bahwa benar kata Ummi, Kita hanya perlu melihat sedikit saja kebaikan pada diri seseorang maka itu akan memudahkan kita menerima kehadirannya.
Ingatan Akash kembali merekam kejadian beberapa hari lalu saat untuk pertama kalinya Dia mengajak Rere pergi bersama. Hari itu setelah membuat Bumi sakit hati, Akash pergi bersama Rere ke sebuah panti asuhan yang sering ia datangi setiap minggu. Akash membawa banyak box makanan untuk penghuni panti. Bahkan beberapa papper bag berisi buku-buku juga novel remaja pesanan anak-anak kurang beruntung itu.
Awalnya Akash memang risih harus berduaan dengan Rere. Namun, anggapan Akash tentang Rere yang arogan dan sombong meluap begitu saja saat mereka sampai di panti dan ternyata para penghuni panti mengenal dengan baik sosok calon istrinya itu.
"Kak Rere itu baik, Bang. Dia yang belikan Aku kaos bergambar Rapunzel ini," ucap seorang gadis seraya memamerkan kaos yang dipakainya. Rere hanya tersenyum menanggapinya.
Rere juga sangat dekat dengan para pengurus panti. Dari situ Akash mulai melihat sosok lain dari Rere. Sampai pada akhirnya obrolan Mereka mengalir hangat. Akash tak canggung tertawa bersama Rere. Walau masih ada rekaman wajah Bumi di pikirannya.
Hari itu tak berakhir di panti, keduanya bahkan menghadiri resepsi pernikahan kolega bisnis Rere. Ajakan Rere nyatanya disambut hangat oleh Akash. Bahkan saat Akash bertemu teman lamanya dalam resepsi pernikahan itu, Dia mengenalkan Rere sebagai calon istrinya.
"Kenalin, Ga. Rere, calon istri Gue."
"Ragga, dan ini istri saya Rain. Itu putra Kami, Sakaf." Ragga mengatupkan kedua tangannya di bawah dagu sementara Rain justru menyambut hangat perkenalan Mereka dengan pelukan kecil.
"Kapan nih undangannya?" adalah Ragga sang teman lama yang bertanya.
__ADS_1
"Pasti Gue kirim, tenang aja. Yang jelas sebentar lagi." Jawab Akash yang disambut tawa oleh semuanya.
"Jadi bisa kan Kita bikin rencana, Gue nggak bisa Kash ngejalanin rumah tangga kayak gini. Lo dan Gue nggak saling cinta. Gimana bisa Kita bahagia?"