Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
40


__ADS_3

Akhirnya Bumi keukeuh tidak ingin diantar. Bukan sedang menghindar tapi, tidak ingin Akash tambah sakit. Jawaban dari Bumi sedikit meluluhkan kekerasan Akash. Dia hanya dapat mengantar sampai depan restoran dan melihat punggung gadis tercintanya hilang dibonceng Rini, salah satu karyawannya.


Meski sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, tapi sakit di perutnya masih terasa. Bahkan melilit, mulas. Seperti orang yang habis meminum obat pencahar, malam itu Akash terpaksa harus bolak balik ke toilet karena sesuatu dalam perutnya meronta minta dikeluarkan.


Terhitung sampai pukul 03:00 dini hari sudah 20 kali Dia keluar masuk toilet. Meski rasa kantuk menyerang, faktanya sakit di perutnya lebih tak bisa Dia tahan. Akash kembali merasakan lemas di tubuhnya. Keringat sebiji jagung mulai keluar daei dahinya. Pandangannya mulai kabur. Dia merangkak berjalan menuju pintu. Namun, baru berhasil membukanya tubuhnya limbung tak kuat menahan pusing. Beruntung Nina dan Rino, sepasang suami istri yang bekerja sebagai karyawan dan memang tinggal di mess yang disediakan menangkap sosok jangkung itu saat jatuh lemas tak berdaya. Keduanya panik, Rino sigap membawa bosnya kembali ke tempat tidur.


Entah dari mana datangnya ide itu yang jelas Nina menyuruh suaminya untuk cepat menjemput Bumi. Akash pasti lebih baik jika dirawat oleh Bumi. Tanpa berpikir panjang, setelah menanggalkan sarung dan berganti celana panjang Rino tancap gas menuju rumah Bumi.


*****


Setelah kembali dari restoran, Bumi tidak banyak mengobrol dengan Mamanya. Dia memilih tidur bahkan melupakan makan malam. Pukul 03:00 dini hari Bumi terbangun. Matanya menyapu ke seluruh ruangan, Dia baru ingat kalau semalaman tidur di kamar Sang Mama. Suara gemericik dari kamar mandi menandakan sepertinya Ayas sedang berwudhu. Bumi menyingkap selimutnya lalu beranjak dari tidur. Merenggangkan tubuh diteruskan melakukan gerakan memutar-mutar kepala dan mematah-matahkan pinggang. Tubuhnya terasa lebih segar setelah tidur nyaman semalaman.


"Kamu udah bangun?" Tanya Ayas yang menanggalkan hijabnya saat keluar dari kamar mandi.


"Hehehe Aku lapar," ucap Bumi seraya mengusap-usap perutnya.


"Tahajud dulu!" titah Ayas seraya membentangkan sajadah ke arah kiblat.


"Lagi haid, Mam." Bumi sedikit merengek lalu keluar dari kamar Ayas menuju dapur. Awalnya ingin memasak mie. Namun, sepertinya bukan ide bagus. Bumi beralih melihat magicom dan tersenyum saat melihat ternyata masih ada nasi di dalamnya. Akhirnya Dia memutuskan membuat dadar telur saja. Nasi putih, dadar telur, kecap manis dan kerupuk udang. Cocok bukan?. Setelah selesai mengisi perut dan membersihkan kembali alat makan, Bumi berniat kembali ke kamar. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ketukan dari pintu dan seseorang memanggil namanya.


"Siapa yanh datang jam segini?" Bumi bermonolog seraya pelan-pelan menuju pintu. Sebelum dibuka, Bumi mengintip dahulu dari balik gorden yang Dia singkap. "Bang Rino?" tanyanya dalam hati.


Bumi membuka pintu dan langsung disuguhkan dengan raut wajah Rino yang khawatir. Nafasnya tersengal, kedua ujung matanya masih menyimpan secui belek.


"Ada apa Bang?"

__ADS_1


"Bang Akash pingsan lagi, Mbak?"


Hah, Bumi melongo. Bukan menjawab atau bergerak Dia malah mematung memegangi kedua pipinya.


"Malah bengong sih, Mbak? Ayok Mbak ikut Saya!" Rino menarik pergelangan tangan Bumi. Namun, Bumi segera menepisnya.


"Aku pamit dulu sama Mama," ucap Bumi seraya kembali ke kamar Mamanya. Berpamitan dan langsung menyambar cardigan yang Dia simpan di gantungan pintu.


Setelah Bumi berada di posisi aman, Rino tancap gas. Bumi terpaksa sekali harus memegangi jaket sang karyawan restoran yang dini hari itu mencoba menjadi Rossi. Sengaja sekali mengebut dan meliuk-liukkan motornya. Dipikir ini sirkuit. Jika tidak terpaksa Bumi ingin sekali turun saat itu juga dan memilih berjalan kaki saja daripada naik motor dengan pengendara yang ugal-ugalan.


****


Swmentara di tempat lain. Setelah berhasil membawa Rere pulang, Guntur segera kembali tanpa berniat mampir dan bertemu dengan orangtua Rere. Rere awalnga merengek minta ditemani tapi Guntur berkilah dengan alasan banyak pasien yang menunggu. Itu benar-benar kenyataan bukan hanya sekedar alasan.


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Rere. Pelakunya adalah Anggara, Sang Papi. Rere hanya bisa menunduk seraya memegangi bekas tamparan Anggara yang terasa perih.


"Kamu ke mana saja?" Tak puas menampar, Anggara berteriak.


"Papi, cukup!" Yona, Sang Mami segera mendekati putrinya dan membawanya ke dalam dekapan.


"Jangan dibela, Mi. Dia sudah salah. Kenapa tidak masuk kantor dan mematikan ponsel. Membuat calon suaminya lebih dekat dengan gadis lain. Baru jadi calon sudah tidak bisa menjaganya, apalagi setelah jadi istri!" Anggara kembali berteriak. Rere tak mau menjawab. Dia hanya mampu menangis di pelukan Yona. Yona dengan sabar mengusap punggung putrinya.


"Lebih baik Kamu istirahat, Pi. Kita bicarakan besok pagi. Mami temani Rere tidur malam ini." Yona mengurai dekapannya lalu beranjak menggandeng putrinya menuju lantai atas.


"Jangan keterlaluan Anggara, kasihan anakmu. Dia sudah menjadi anak penurut selama ini. Kendalikan emosimu!" Nenek Karian yang sejak tadi melihat kejadian itu menghampiri putranya. Tanpa ampun memukul lengan Anggara dengan tasbih yang dipegangnya. Tasbih? iya, Nenek Karian diam-diam sering berbalas chat dengan Bumi. Bumi tak lagi meracuninya dengan drakor. Melainkan dengan video-video tausyiah Mama Dedeh dan Ummah Okky Setiana Dewi.

__ADS_1


Anggara mengusap wajahnya seraya mengucap istighfar. Dia menjongkokkan tubuhnya di hadapan sang Ibunda.


"Mama baik-baik saja, kan?"


"Aku selalu baik-baik saja, anakmu yang tidak baik-baik" Jawab Nenek Karina mengelus pundak putranya.


"Nanti Angga minta maaf, Rere mungkin sedih karena melihat calon suaminya lebih dekat dengan gadis lain."


Karina mengerutkan kening, tambah berkerut saja. Rupanya Anggara belum paham tentang keadaan sebenarnya. Rere memang awalnya mencintai Akash. Tentu saja, siapa yang tidak bisa tidak jatuh cinta melihat Akash? Tapi, sepertinya Rere sudah mengikis habis perasaannya itu. Ingin Karina mengutarakan. Namun, kenyataan bahwa dulu pun Anggara dan Yona menikah karena dijodohkan demi kepentingan bisnis membuat Karina lebih baik bungkam. Dia hanya berharap pernikahan cucunya dapat menggetarkan cinta.


"Mama masih rutin berobat, kan?" Anggara menatap lekat Karina dengan matanya yang merah.


"Aku hanya sedang menunggu waktu," ucap Karina menatap kosong ke arah lain.


"Jangan menyembunyikan sakitmu, Ma. Angga pasti melakukan yang terbaik." Kali ini Angga menggenggam tangan keriput itu.


"Yang selalu Kau berikan selalu yang terbaik, kecuali waktu. Uangmu yang banyak itu bahkan tidak bisa membelinya." Karina tersenyum tipis. Dia menggerakkan kursi rodanya lalu meninggalkan Anggara dalam kebisuan.


Di kamarnya Rere sudah mulai meredakan tangisan. Kini Dia duduk bersandar di bahu Yona.


"Aku mencintainya, tolong jangan pisahkan Kami!" Rere bicara cinta tanpa jelas menyebut siapa laki-laki itu. Tentu Akash, begitu pikir Yona.


"Jangan dipikirkan, sebulan lagi Kamu akan menikah. Suka tidak suka itu akan terjadi. Mami tahu Kamu sebenarnya hanya ragu soal harus memakai hijab kan?" Yona berkata lembut seraya menggenggam tangan putriny.


Rere tak menjawab, Sudahlah sekuat apapun Dia mencari alasan untuk membatalkan pernikahan ini hasilnya akan sia-sia. Keluarganya sudah turun temurun menikah karena perjodohan. Semuanya hidup rukun. Membangun rumah tangga bagi mereka tidak harus bermodal cinta yang penting sudah cukup usia dan karir bagus. Bagu mereka cinta bisa menyusul. Tapi, tidak bagi Rere dan Akash. Mereka hanya akan saling menyakiti.

__ADS_1


__ADS_2