
Dibantu oleh Bumi, Ara kembali merapikan kamarnya. Ia sedikit kecewa karena ada sebagian sampul novelnya yang sobek. Bumi menawarkan untuk kembali membeli yang baru. Namun, ia menolak. Yang penting masih bisa dibaca, begitu kata Ara.
Selesai merapikan kamar, Bumi pamit meninggalkan Ara. Bumi berpesan, bila Ara tak ingin keluar kamar, nanti dirinya yang akan mengantarkan makan malam. Ara hanya mengangguk.
***
Malamnya saat hendak tidur, Bumi menceritakan kejadian itu pada Akash dengan menggebu-gebu. Dia tak habis pikir bagaimana bisa Aro sejahat itu pada Ara.
"Yah, kita harus pisahkan mereka." Usulan Bumi tak mendapat respon dari Akash.
"Abang sama mas Ar biar sekolah di Jakarta aja. Bisa tinggal di rumah Jida mereka." Bumi kembali memberi usul.
Akash tak lantas mengangguk. Ia hanya sedang membayangkan bagaimana hari-harinya kesepian ditinggal oleh kedua anaknya.
"Ayah pikirkan, kalau harus Ara yang pergi, anak itu siapa yang akan mengarahkan?" Bumi menjelaskan alasannya mengapa harus Aro dan Akhza yang pergi.
Akash masih diam, dia beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju jendela dan menyingkap tirai putih itu. Melihat ke arah luar yang menyuguhkan pemandangan halaman belakang rumahnya.
Ingatannya terbawa pada masa-masa kecil kedua putranya. Di mana mereka sering bermain bersama di halaman belakang itu. Keputusan mengangkat Ara menjadi anak bagi Akash memang sangat berat saat itu. Dan, sekaranglah puncaknya.
Harus diakui, Ara memang tumbuh jadi gadis yang mempesona dan begitu lembut. Seperti halnya Bumi, Akash pun bukan tak tahu tentang Akhza yang menaruh hati pada anak angkatnya itu. Keduanya memilih diam, namun tetap waspada.
"Yah, kasihan Ara kalau harus tinggal sama Vanya. Keluarga mereka non muslim. Pasti berat buat Ara masuk di lingkungan seperti itu," bujuk Bumi agar suaminya dapat menyetujui keinginannya.
"Aro pasti marah dan tambah kesal pada Ara," sahut Akash, masih tak rela bila kedua putranya yang harus pergi.
"Anak kita laki-laki, mereka pasti kuat. Lagipula nanti ada ummi ada kak Zha juga yang bantu memantau mereka." Bumi masih berusaha meyakinkan Akash.
"Tapi gimana dengan makan mereka?" Akash masih saja mencari alasan.
"Kok mikirin makan mereka gimana?" Bumi balik bertanya.
"Kamu kan tahu anak kita makannya selama ini terjaga dalam pengawasan kamu, gimana kalau mereka makan sembarangan di sana?"
Bumi terkekeh, bagaimana bisa suaminya itu khawatir hanya soal makanan saja?
"Bukankah nanti di sana juga ada asisten rumah tangga ummi? lagipula bila memang ingin makan yang lain bisa pesan ke restoran?"
Kali ini Akash tak dapat mengelak lagi. Memang tak ada lagi alasan yang dapat menguatkan kedua putranya itu untuk tetap tinggal bersama mereka.
"Gimana?" tanya Bumi.
"Gimana kalau kamu hamil lagi? biar aku nggak kesepian." Perkataan Akash membuat Bumi berdecak kesal.
__ADS_1
"Ingat umur, Yah. Aku udah nggak sekuat dulu."
"Hmmm, tapi, kalau cuma bikin kuat dong?" goda Akash seraya merangkul pinggang Bumi.
Akash tetaplah Akash yang selalu bisa membuat istrinya itu masuk, luluh, dan turut saat satu sentuhan saja mengenainya. Biarlah, kali ini Bumi sedikit lebih menyenangkan hati suaminya itu, berharap setelah ini Akash akan menyetujui keinginannya.
Dengan nafas yang masih terengah meski kegiatan sudah berakhir sejak beberapa menit lalu, bahkan keduanya sudah kembali mengenakan pakaian. Bumi kembali membahas hal yang sama. Dia harus segera mendapat kepastian dari Akash.
"Gimana Yah?" tanya Bumi mengeratkan pelukannya pada tubuh Akash.
"Iya, besok kita bahas. Tapi ...."
"Iya, aku ngerti, Yah. Nggak usah diminta. Udah sekarang tidur!" tegas Bumi.
Dan Akash pun tertawa riang. Bahagia karena bisa memanfaatkan situasi seperti ini untuk mengendalikan istrinya itu.
***
Attar berangkat sekolah sendiri menggunakan angkot sebab pagi-pagi sekali Akash harus pergi mengantar katering pada temannya yang sedang mengadakan acara syukuran rumah baru.
"Memang harus ayah yang langsung nganterinnya, Bun?" protes Attar, tak terima jika harus naik angkot. Dirinya sedang menunggu angkot ditemani oleh sang bunda.
"Yang pesan kan temen deket ayah, nggak enak kalau bukan ayah yang antar." Bumi berusaha menjelaskan pada putra bungsunya yang sedang mengulum kesal itu.
"Mereka punya tugas masing-masing, nggak boleh seperti itu. Kamu harus belajar menghargai orang lain, jangan mentang-mentang mereka kerja sama kita jadi bikin kita seenaknya sama mereka. Bunda nggak suka anak Bunda cengeng kayak gini."
Perkataan Bumi telak tak lagi membuat Atar menjawab. Bundanya itu memang lembut, tapi tegas. Tak pernah memanjakan berlebihan meski sangat hangat dan penuh kasih sayang.
Bahkan, Bumi mendisiplinkan anak-anaknya untuk mencuci piring sendiri selepas makan. Tak ada yang boleh manja apalagi seenaknya meminta tolong pada Eli. Pun pada Ara, gadis itu bahkan sudah bisa memasak beberapa menu sederhana. Walau memang lain dengan Aro, anak itu tidak pernah melakukan apa yang Bumi katakan. Selama ini, Aro menyuruh Ara yang mengerjakan tugas rumah yang diperintahkan oleh Bumi terhadapnya.
Bumi segera menyetop angkot berwarna hijau yang melintas itu. Setelah bersalaman pada Bumi, Atar segera masuk ke dalam angkot. Bumi tak lantas pergi hingga angkot itu kembali melaju sampai hilang di jangkauannya.
Sebelum kembali ke bawah, Bumi sempatkan dirinya menyapa para pegawai yang sangat disiplin itu. Akash memang membebaskan cara kerja para karyawannya yang penting tertib dan tidak merugikan.
Setelah berbincang sebentar, Bumi memutuskan untuk kembali ke rumah utama. Semalam saat mengantar makanan untuk Ara, Bumi mendapati gadis itu sudah tertidur. Saat sarapan pun sama, Ara belum keluar dari kamarnya.
Di ruang tamu, Bumi melihat kedua putranya sedang duduk bersama meski tak ada kata dalam kebersamaan tersebut. Aro sibuk dengan ponselnya, memainkan game kesukaannya. Sementara, Akhza terlihat memegang al-Qur'an. Pasti sedang menghafal lagi, begitu pikir Bumi.
"Duuh ganteng-ganteng Bunda, lagi pada sibuk ya?" Bumi duduk di samping Aro. Aro segera mengakhiri permainannya meski belum selesai. Dia tak ingin membuat bundanya murka.
"Kamu hari ini syuting, nggak?" tanya Bumi pada Aro seraya merapikan rambut Aro yang sebenarnya tak berantakan. Aro hanya mengangguk.
"Abang, sini duduk deket Bunda." Bumi melambai pada Akhza yang baru saja mengakhiri hafalannya. Akhza Segera duduk di tempat yang sebelumnya Bumi tepuk-tepuk.
__ADS_1
"Kalian sayang 'kan sama Bunda?" tanya Bumi merangkul kedua putranya.
"Sayang, dong, Bunda." Aro segera memeluk bundanya dengan perasaan sedih karena tiba-tiba bundanya berkata seperti itu.
"Aku juga sayang sama Bunda." Akhza menatap dalam pada mata bundanya. Kemudian langsung memeluknya setelah Aro melepaskan pelukan pada Bumi.
"Bunda juga sayaaaaang sekali sama Abang, sama Mas." Bumi bergantian menatap putranya.
"Ingat pesan Bunda, di manapun kalian berpijak, salat tak boleh lewat!" tegas Bumi, mengacungkan telunjuknya.
"Apalagi Mas Ar, sesibuk apapun syuting, salat tetap utama. Apalagi bila sampai bisa mengajak teman yang lain untuk melaksanakan salat juga," pesan Bumi seraya menyentuh cuping hidung Aro.
"InsyaAllah, Bunda. Aku selalu ingat pesan Bunda. Aku pasti teringat wajah Bunda kalau mau bolos salat. Ya, meski agak-agak telat tapi aku selalu salat," aku Aro membuat Bumi menghadiahinya dengan kecupan di pipi.
"Kalau Abang gimana?" kini perhatian Bumi teralih pada Akhza.
"Aku kan kebanyakan di rumah terus. Jadi, Bunda bisa lihat aku kayak gimana," jawab Akhza membuat Bumi mengangguk dan juga menghadiahinya dengan kecupan.
"Kalian harus selalu saling akur, saling menjaga, saling menyayangi." Kalimat Bumi mendapat jawaban iya yang kompak dari kedua putranya.
"Ya audah, Bunda mau lihat Ara dulu. Dia belum makan dari semalam." Bumi melepaskan rangkulan pada putranya.
Akhza awalnya ingin bertanya lebih detail, tapi urung sebab takut jika Bumi curiga dengan sikap berlebihannya. Sementara Aro cuek saja. Dia tak peduli dengan Ara.
Bumi beranjak segera ke dapur. Membuat susu coklat untuk Ara dan beberapa helai roti dengan selai nutela kesukaan putrinya. Dia segera membawa roti dan susu itu untuk Ara. Langkahnya hati-hati saat menaiki undakan tangga.
Sampai di depan kamar Ara, Bumi mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban. Ia berusaha membuka kenop pintu dan beruntung tidak dikunci.
"Sayang, kamu belum bangun?" tanya Bumi saat melihat putrinya yang masih berbaring miring.
"Bun, perutku sakit banget. Dan ...."
"Dan apa sayang?" Bumi khawatir, ia lekas duduk di samping Ara.
"Di sini banyak sekali darah sedari malam. Aku nggak bisa bangun, Bun" Rengek Ara membuat Bumi tersenyum mengerti tentang keadaan putrinya.
"Neng tahu nggak itu artinya apa?"
Ara mengangguk patah-patah merasa malu menceritakan hal ini pada Bumi.
"Sekarang makan dulu, abis itu mandi nanti Bunda bawakan pembalut." Bumi menyerahkan gelas berisi susu. Ara mengangguk dan segera mengambil gelas dari tangan Bundanya.
Bumi terus memandangi Ara saat gadis itu dengan lahap memakan rotinya. Perasaannya berkecamuk antara sedih dan juga senang. Bayi malang yang ia rawat kini menjelma jadi gadis cantik dan lembut hatinya.
__ADS_1
Semoga kelak kamu dicintai oleh lelaki sebaik ayah, nak.