Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
119


__ADS_3

Sepasang suami istri itu masih enggan meninggalkan tempat yang menurut keduanya banyak menorehkan sejarah bagi perjalanan cinta keduanya. Di atap gedung ini, beberapa bulan ke belakang keduanya sempat saling melepaskan dan sama-sama menyerah dengan cinta yang tak kunjung mendapatkan jalannya bersatu.


"Tempat ini banyak merekam kenangan kita berdua," ujar Akash.


Kini keduanya berbaring saling memeluk pada kursi bambu yang sering keduanya duduki dulu. Dulu tak berani walau hanya berpegangan tangan.


"Menjadi saksi lika-liku cinta kita," celoteh Bumi. Matanya terpejam menghirup aroma maskulin dari leher suaminya.


"Kamu mau kan menuruti permintaan umi?"


Hening, Bumi tak menjawab seolah tak mendengar perkataan suaminya.


"Ini demi kebaikan kamu, aku janji nggak sering-sering ninggalin kamu." Akash mengeratkan pelukkannya.


Dia tahu betul istrinya itu hanya sedang merajuk karena membayangkan dirinya yang akan sering ditinggal untuk urusan pekerjaannya.


Biasanya Bumi akan selalu ikut, tapi kali ini bisa dipastikan Akash akan melarangnya.


"Kamu lihat Ayesha, Lila dan Kak Zha." Akash menelan salivanya sebelum melanjutkan bicara. "Mereka nggak seberuntung kamu yang selalu bisa menghabiskan waktu dengan suaminya." Tuturnya mengusap lembut pipi yang sudah dibasahi air mata itu.


"Aku serahkan semua kepercayaan kafe di Bogor sama teh Lina, dan buat di sini aku serahkan sama Bang Roni. Aku juga hanya seminggu sekali ke Kebun Jeruk dan ke Slipi. Jadi sisanya waktu aku banyak buat kamu. Gimana?" Akash memberikan penawaran yang membuat Bumi mendongakan kepalannya menatap wajah suaminya.


"Kamu nggak ngerti, Kak. Bukan seperti itu yang aku mau." Ungkap Bumi, dia beranjak mendudukkan dirinya.


Akash ikut duduk dan kembali mengeratkan selimut ke badan istrinya.


"Aku hanya ingin punya kehidupan sendiri, rumah tangga sendiri, dapur sendiri. Kamu ngerti kan?" rintihnya nyaris tanpa suara.


"Aku nggak enak tinggal di rumah Ummi yang segala sesuatunya sudah disiapkan sama Bibi. Bukannya aku nggak bersyukur, tapi aku ingin menikmati rumah tangga yang sesungguhnya." Ujarnya kali ini lebih mengeraskan suaranya.


"Kamu fikir aku nggak berat melepas begitu saja dunia kerja aku?" Bumi mendongakkan kepalanya dan membuka mata lebar-lebar agar tak kembali menangis.

__ADS_1


"Aku melakukannya demi rumah tangga kita. Aku tidak ingin banyak kehilangan waktu berharga kita, kak. Sebab aku tahu, kita hanyalah hamba penuh dosa yang belum tentu bisa kembali bersama di surga."


Akash merengkuh tubuh itu ke dalam pelukkannya. Dia tak menyangka jika istri kecilnya itu berfikir begitu jauh hingga menanggalkan pekerjaannya demi menjadi istri yang seutuhnya.


"Kamu kenapa sejauh itu berfikirnya?" lirih Akash di sela-sela mengatur nafasnya yang terharu dengan perkataan istrinya.


"Aku hanya ingin menikmati banyak waktu denganmu, karena belum tentu di akhirat nanti kita bisa bersama lagi."


Selanjutnya hanya keheningan yang kembali tercipta. Bagi Bumi, melepas apa yang sudah dia perjuangkan dan memilih untuk menjalani hari-hari hanya sebagai seorang istri dari Assyam Al-Akash tidak akan membuatnya menyesal.


Ilmunya bisa ia terapkan untuk orang-orang tercinta di sekitarnya. Ia hanya ingin membuat kenangan indah bersama suaminya, mungkin besok bersama anak-anaknya. Sesederhana itu keinginannya.


***


Walau berat, Akash mampu meyakinkan Umminya bahwa Bumi akan baik-baik saja setelah pindah. Malam setelah keduanya berbincang dari hati ke hati, paginya Akash dan Bumi langsung mengunjungi Ummi.


Walau berat hati Ummi merelakan anak dan menantunya pindah. Jauh dari jangkauan matanya, namun akan tetap selalu dekat dalam hati dan do'anya.


Bulan ketiga kepindahan mereka, tepat dengan bulan keempat lebih satu minggu kehamilannya. Keduanya hanya menggelar acara syukuran sederhana bahkan tanpa melibatkan sanak keluarga.


Mengingat Ayesha dan Zahra yang sudah semakin besar perutnya. Jika tidak ada aral melintang, Zahra akan melahirkan satu bulan lagi. Begitupun dengan Ayesha.


Akash sendiri masih sering pulang pergi ke Jakarta untuk memantau usahanya. Namun dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama istrinya.


Di samping rumahnya, Bumi membuat sebuah kebun yang ia tanami dengan cabai dan tomat serta sayuran yang mudah cara perawatannya. Ia juga menanam banyak jenis bunga dalam pot dan membuat spot khusus untuk itu.


Tak jarang para pengunjung melihat-lihat kebun dan taman kecil yang ia buat sendiri. Banyak yang betah berlama-lama di sana sebab sang pemilik begitu ramah menyambut tamunya.


Siapa sangka ternyata cara seperti itu dapat menarik pengunjung kafe lebih banyak lagi. Namun, akhir-akhir ini Bumi dibuat risih dengan kedatangan beberapa pasangan muda-mudi yang sepertinya sepasang kekasih.


Dia melayangkan protes pada suaminya agar tak menerima tamu sepasang kekasih, apalagi jika datangnya hanya berdua.

__ADS_1


"Nggak bisa gitu dong. Sayang." Begitu jawaban Akash saat Bumi memintanya membuat pengumuman berisi sepasang kekasih dilarang datang ke kafe mereka.


"Kamu mau usaha kita bangkrut?" todong Akash. "Nggak usah aneh-aneh, toh mereka yang pacaran bukan kita."


"Tapi tanpa sadar kita ikut dosa karena sudah memfasilitasi maksiat mereka," tak mau kalah Bumi memberikan argumennya.


"Terus kamu mau kafe kita sepi?" tuduh Akash kali ini tak mengerti lagi dengan jalan fikir istrinya itu.


Setelah bulan lalu dia membuat space khusus untuk para pengunjung yang ingin menuliskan unek-uneknya dengan judul 'tinggalkan jejakmu'. Kali ini ia meminta suaminya membuat peraturan agar tidak menerima tamu sepasang kekasih.


"Kalau gitu ganti kata-katanya, dilarang pacaran di sini." Usul Bumi sembari menampakan senyum terhangatnya.


"Itu hak mereka, Sayang. Kita tidak bisa seperti itu." Akash mengelak berusaha mematahkan ide konyol istrinya.


"Percaya, Kak. Kafe tidak akan sepi. Aku tuh kesal karena melihat ada yang mau ciuman di kafe kita. Mereka mau melakukan hal menjijikan di tempat usaha kita, Kak." Kali ini Bumi bicara dengan nada tinggi.


Kejadiaannya seminggu yang lalu. Sepasang muda-mudi itu memesan tempat di lantai bawah, tepat di dekat rumah mereka. Sepertinya keduanya sengaja memilih kursi di pojokkan agar dapat leluasa melakukan hal mesum tanpa dilihat oleh pengunjung lain.


Bumi yang saat itu sedang menikmati sore dengan memandangi taman dan kebunnya tak sengaja menangkap basah perbuatan keduanya yang hampir melakukan tindakan kotor di kafenya.


Tentu saja Bumi segera menghampiri kedua muda-mudi itu dan menegurnya halus. Namun, sepertinya sang pria tidak terima. Keduanya pergi tanpa menghabiskan makanan yang mereka pesan.


"Kamu jangan seperti itu, jangan gegabah. Nanti kalau anak itu dendam bagaimana?" Akash khawatir tindakan istrinya akan menimbulkan dendam di hati pengunjung itu.


"Tapi kan buktinya enggak, dia nggak datang lagi sampai sekarang. Dan, itu bagus dong." Bumi tetap membela dirinya sendiri.


"Kalau Kakak nggak bisa, biar aku yang buat pengumuman itu. Bila perlu pakai nama aku kalau takut didemo pelanggan."


Setelahnya Bumi pergi meninggalkan suaminya. Julukan si batu yang diberi nyawa mestinya kini pindah untuk Bumi. Akash mengacak rambutnya frustasi. Baru kali ini ada sebuah kafe yang membuat larangan sepertu itu. Dan itu akan terjadi dengan kafenya.


Bagaimana bila ide gila Bumi itu akan berdampak pada menurunnya jumlah tamu. Akash sudah banyak mengeluarkan biaya untuk membangun kafe ini. Dia tidak ingin hancur begitu saja hanya dengan sebuah ide konyol istrinya.

__ADS_1


__ADS_2