Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
29


__ADS_3

Dua hari menjelang pernikahan Laut, kediaman Mama Ayas kedatangan Uti dan para sanak keluarga. Suasana rumah menjadi ramai. Bahkan beberapa orang tidak kebagian tidur di kamar. Mereka menggelar kasur di ruang tengah lantai dua saat tidur. Bumi tampak sibuk bermain dengan gadis kecil bernama Nana yang usianya tiga tahun. Nana adalah anak dari adik sepupu Mama Ayas. Pipi gembul dengan kulitnya yang putih nampak lucu saat berceloteh.


"Nana suka makan permen tidak?" tanya Bumi


"No, no, no. Unda malah talau Nana mam pelmen, Nana anti dicubit Unda. Unda matanah anti meyotot." Nana membulatkan matanya, memperagakan pelototan Sang Bunda saat memarahinya.


"Waah nggak bener ni Tante Rani, Anak segemas ini dipelototin." Bumi sedikit berteriak agar Tantenya yang sedang di dapur menyiapkan makan malam bersama Ayas mendengar.


"Tante melototnya pura-pura, koq." Teriak Rani dari dapur.


"Boong, Unda talau pula-pula masya matanah bulyet dituh." Nana mengadukan kelakuannya pada Bumi.


"Nanti Kakak Bumi cubit ya Undanya?"


"Danan diubit, tatian anti nangis. Nana tayang Unda hwaaa," Nana menangis.


Niat hati ingin menghibur malah anak kecil itu menangis.


"Tanteee, Nananya nangis nih. Aku nggak bisa bikin Dia diam." Bumi berteriak sambil sibuk mengusap-usap punggung Nana agar berhenti menangis.


Ucapan salam dari seseorang yang suaranya sudah tak asing membuat Bumi yang sedang duduk di lantai mendongakkan kepalanya.


Akash dengan senyuman manisnya datang membawa bungkusan plastik putih di tangannya.


"Hwaaa oum Tata Umi dahat, Unda atu au diubit. Hwaaa." Nana meronta minta digendong oleh Akash. Akash yang bingung ada apa gerangan tiba-tiba ada anak kecil menangis di hadapannya panik.


"Udah Kak gendong aja!" Bumi berdiri mengambil kantong plastik dari tangan Akash. Nana ikut berdiri sambil terus meronta-ronta.


"Ini siapa sih?"


"Dendong Oum, mau didendong tatut tata Umi." Nana masih meronta sambil melompat-lompat. Akash kebingungan lalu meraih tubuh gempal gadis berkulit putih itu.


"Ini Dia siapa sih? kenapa nangis?" Akash meminta penjelasan pada Bumi. Bumi hanya tertawa-tawa.


"Tanteeeee, ini anaknya nangis!" Bumi berteriak kembali. Tak lama Rani datang dengan tangan yang masih basah, Dia mengelapkan tangannya pada ujung kaus yang dipakainya.


"Aduuh Bumi, Kamu ini selalu godain Nana. Heran deh Tante!" Rani meraih tubuh Nana dari pangkuan Akash. Seperti sihir, tangis Nana langsung mereda saat digendongan Ibunya.


"Kamu gemesyin syih Nana," Bumi hendak mencubit pipi Nana namun segera ditepis oleh Tantenya.

__ADS_1


"Pelit banget sih Tante, suruh siapa punya anak koq kayak bakpau begitu." Bumi kembali ingin meraih pipi gembul Nana. Nana kembali menangis.


"Bumiiiii," teriak Rani membulatkan matanya.


"Widih serem amat tuh mata, Tan." tawa Bumi pecah. Dia berlari seraya menarik pergelangan tangan Akash menuju teras rumah.


"Aduh gila sih Tante Rani serem banget kalau melotot gitu," Bumi masih tertawa memegangi perutnya.


"Kamu jahil banget, kasihan tuh Tante Kamu. Itu anaknya, semalam koq Aku nggak lihat sih?" Akash duduk di kursi kayu dan diikuti Bumi.


"Semalam Dia udah bobok cuantik." Jawab Bumi segera melihat isi dalam kantong plastik itu.


"Sesuai pesanan nggak?" tanya Akash.


"Emm sesuai banget, makasih yaa!" Bumi langsung melahap burger pesanannya itu. Mulutnya penuh sampai kesusahan saat mengunyah.


"Makasih doang nih?" Akash menaik turunkan alisnya.


"Mau dicium takut dosa," Bumi kembali melahap makanan kesukaannya itu.


"Masih kecil udah cium cium aja!" Akash menoyor kepala Bumi.


Akash menatapnya ngeri, hendak beranjak namun lengannya ditahan Bumi.


"Kakak mau ke mana?"


"Aku mau nemuin Laut," jawab Akash kembali berdiri.


"Temenin Aku dulu, lagian Kak Laut lagi tidur."


"Tapi Kamu jangan genit ya, Aku takut khilaf." Ujar Akash kembali duduk.


"Memangnya Aku setan?" Bumi mendelik kesal.


"Udah abisin dulu makanannya!"


Keduanya diam, Bumi asyik mengunyah burgernya. Sesekali Akash meliriknya, gemas sekali pipi itu saat mengunyah. Mengembung dengan gerakan lembut kemudian kembali kempis. Tak rela rasanya melepas begitu saja rasa cinta yang sudah tumbuh dalam hati.


Sebulan lagi pernikahannya dengan Rere telah ditentukan. Meskipun Rere sendiri sudah bersikap tak acuh dan Zahra sudah tidak pernah berkomentar tentang kedekatannya bersama Bumi. Tetap saja pernikahan itu akan berlangsung.

__ADS_1


Kalau Aku bisa, Aku juga ingin pernikahan ini tidak terjadi. Kami fikir bakalan asyik berumah tangga sama orang yang tidak mencintai Kita?


Satu kalimat dari Rere beberapa hari lalu saat Akash kembali meminta Rere membujuk orangtuanya untuk membatalkan pernikahan ini. Kalimat itu cukup menjelaskan bahwa Rere sendiri tidak menginginkan pernikahan ini.


"Bumiii, sini bantu Tante!" Teriakan Rina dari arah dalam membuat burger yang sedang dikunyah Bumi hampir saja menyembur kembali. Bumi mengusap-usap tenggorokannya.


"Aku ke kamar Laut ya, nggak enak juga yang lain sibuk Kita malah berdua-duaan gini."


Akash segera pergi setelah mendapat anggukan dari Bumi. Dengan menghentak-hentakkan kakinya Bumi berjalan mendekati sumber suara.


"Bantu apalagi sih Tan?" Bumi menghampiri tantenya yang sedang menata makanan di meja makan.


"Cuci piring sana!" titah Rina tanpa menoleh dan mengelap pinggiran meja dengan tisu.


"Cuci piring lagi?" Bumi tak terima dengan tugasnya.


"Kamu kan bisanya cuma cuci piring, disuruh ajak main Nana malah dibikin nangis terus. Diminta menghias parcel buat seserahan nggak bisa. Udah cuci piring aja yang paling gampang." Rina berlalu meninggalkan Bumi menuju dapur yang tak jauh dari ruang makan.


"Bumiiiii!" Rina kembali berteriak karena Bumi malah mencicipi setiap masakan yang terhidang di meja.


"Ya Allah Tanteee, besok-besok Nana suruh periksa jantung deh punyak emak modelnya begini banget." Bumi segera menuju wastafel dan mencuci satu persatu piring serta peralatan memasak.


Dia sebenarnya senang dapat berkumpul dengan saudara-saudara jauhnya yang jarang sekali bertemu. Hal terburuknya hanya satu, cucian piring selalu menumpuk. Baru saja selesai, sudah ada lagi seseorang yang menaruh piring kotor.


"Iiih anak siapa sih barusan?" Bumi bertanya pada Rina yang sedang memasak nasi tim untuk Nana.


"Anaknya Om Haikal. Keponakanku," jawab Rina menambahkan sedikit garam pada masakannya.


"Kasih micin sekalian Tan!"


"Kalau dikasih micin nanti Nana gedenya kaya Kamu, nggak mau Tante." Ujar Rina menyendokan nasi tim Nana ke dalam mangkuk dengan merk ternama.


"Tante mau bilang Aku stupid gitu?" Bumi menerka isi pikiran tantenya.


"Eeh Uti Kamu masaknya pakai micin ya?" Rina malah bertanya balik. Bumi mengingat sejenak kejadian beberapa tahun lalu.


"Iya, enak tahu Tan." Jawab Bumi setelah mengingat sering disuruh ke warung untuk membeli bumbu penyedap rasa bernama micin yang sering dituduh sebagai penyebab kebobrokan akhlak anak. Apa hubungannya?


"Pantes Kamu gedenya jadinya gini, heran bisa-bisanya Akash yang tampan itu jatuh cinta sama Kamu." Rina menyenggol bahu Bumi seraya tertawa meledek dan berlalu meninggalkan Bumi yang melongo.

__ADS_1


"Tante Rinaaaaaa awas ya, Aku uwel-uwel itu pipi anaknya!" Teriak Bumi segera mematikan air dan mengelap sisa-sisa busa sabun di pinggiran wastafel. Rina tentu saja tidak menggubris teriakkan Bumi.


__ADS_2