
Pagi sekali saat keributan di rumah besar Anggara terjadi. Penyebabnya adalah Rere yang tak mendapati kucing oren kesayangannya di dalam kandang.
"Papi lihat nggak sih?" sekali lagi Rere bertanya pada Anggara.
"Enggak, Papi sudah bilang nggak lihat." Sahut Anggara yang tengah duduk di teras menikmati secangkir kopi.
"Jangan bohong dong," tuding Rere yang masih mengenakan piyama tidur. "Malam kan Papi yang rerkahir masuk kamar." Desak Rere.
"Kamu marahin Papi karena kucing itu?" tanya Anggara tak terima.
"Jangan panggil Didot kucing, Pi." Protes Rere kembali celingukan mencari kucingnya.
Anggara menggeleng dengan tingkah putrinya. Dirinya dan juga Yona merasa bahagia karena saat ini begitu dekat dengan putri mereka. Diperlakukannya Rere itu seperti gadis yang masih berusia tujuh tahun saja.
Yona bahkan menyuapi Rere saat makan, mwnyisir rambutnya setelah selesai mandi. Bahkan tidur bersamanya setiap malam dengan membacakan cerita terlebih dahulu.
Terdengar berlebihan memang, terlambat menyadari memang lebih baik daripada tidak memperbaiki segala yang telah dirusak dengan sengaja selama ini. Rere menemukan apa yang ia impikan selama ini. Dicintai sepenuh hati oleh sanga Mami dan Papi.
Bahkan saat mencari keberadaan Guntur di rumah sakit namun tidak ditemukannya, dirinya tetap tersenyum karena di sampingnya kedua orangtuanya kini berada. Sejak pertemuannya dengan Guntur terakhir kali, memang Rere sulit menghubungi kembali pria itu.
Menurut informasi yang ia dapat, Guntur meminta tugasnya dipindahkan tanpa boleh ada yang mengetahuinya kecuali pasiennya. Mungkin lebih tepatnya, Guntur menyembunyikan diri dari Rere dan keluarganya.
Segurat rasa sesal kembali menggores hati Anggara, perasaan bersalah menghantui dirinya. Berkali-kali meminta maaf pada Rere, namun, Rere berdalih, "keberadaan Papi dan Mami yang selalu menemaniku adalah hal yang paling membahagiakan saat ini."
Anggara bisa saja melacak keberadaan Guntur, tapi, Rere tak mengijinkan. "Jika memang berjodoh, pasti ada jalannya untuk bertemu."
Akhirnya setelah ke sana ke mari Dodit, si kucing Oren ditemukan berada di dalam ruang kerja Anggara. Sedang tidur di atas sofa yang biasa digunakan Anggara untuk membaca.
Rere serta merta merengkuh tubuh gembul kucing malas itu. Membawanya keluar dari ruangan menuju ke teras rumah untuk menodong Anggara.
__ADS_1
"Papi sengaja ya sembunyikan Dodit?"
Rere menimang-nimang kucingnya yang malah asyik tertidur bukannya berontak. Bulu halus serta jabriknya terasa hangat di lengan Rere.
"Habisnya kucing itu mengambil perhatian kamu dari Papi," keluh Anggara. Membuka kacamata baca yang ia gunakan lalu ia letakan di atas meja bundar di hadapannya.
"Papi, koq ngomongnya gitu. Papi dan Dodit sama-sama penting dalam hidup Rere." Hibur Rere, bersandar di bahu Anggara.
"Tapi kamu lebih perhatian sama Dodit." Protes Anggara.
"Ya udah sekarang Rere lebih perhatian ke Papi." Janji Rere.
Senyum Anggara mengembang bak kerupuk yang digoreng dalam minyak panas. Dipeluknya leher putrinya, mengelus kepalanya lembut.
Allah selalu selipkan hikmah di balik setiap kejadian. Inilah hikmah yang dipetik oleh Anggara. Bukan harta ataupun tahta yang membuatnya bahagia. Melainkan kebersamaan dengan putrinya lah yang membuat dunianya kini terasa sempurna. Tak lagi memikirkan mengejar target pencapaian dalam perusahaan, Rerenya harus ia jaga.
******
Matanya mengerjap saat merasakan sentuhan lembut di pipinya. Tangan itu milik Ayesha, yang sudah rapi dan wangi.
"Kakak jadi pulang hari ini?" tanyanya, seraya duduk dan melepas mukena. Menggantinya dengan hijab instan.
"Iya, ayok ke depan!" ajak Ayesha, tangannya mengangkat tas berisi pakaian.
"Aku saja yang bawa," ujar Bumi seraya merebut tas itu dari tangan Ayesha.
Tiba di depan ternyata Laut dan Akash sudah bersiap. Sedang menunggu di teras mengobrol ringan dengan Yudis. Akash yang memang selalu kaku, hanya menanggapi dengan tawa saat Yudis dan Laut saling melempar canda. Dirinya tak berbakat melawak seperti Damar.
"Ayok, Bang. Aku sudah siap." Beritahu Ayesha, memakai baju sedikit pas membuat perut buncit itu semakin terlihat.
__ADS_1
"Eeh tunggu," cegah Ayas. "Ini bawa buat oleh-oleh." Sebuah papper bag berisi dua kotak ayam yang sudah diungkap isinya.
"Kasihkan satu kotak untuk Ummi," ujar Ayas. Lalu mendekati Akash, menepuk punggungnya pelan.
"Semoga kamu selalu bahagia, Mama akan tetap jadi orangtuamu." Ucap Ayas membuat hati Akash terasa ngilu saja.
"Iya, Mam. Terima kasih, Mama juga sehat-sehat ya." Jawab Akash, dengan suara parau.
Bumi rasanya terharu sekaligus senang melihat interaksi Ayas dan Akash. Meski Ayas melakukannya hanya untuk menguatkan Akash sebab Bumi sudah memilih laki-laki lain.
Bergantian Laut, Akash dan Ayesha menyalami Ayas dan Yudis. Pelukan hangat Ayesha berikan untuk Ayas dan Bumi. Tak lupa keduanya bergantian mengelus perut buncit tersebut. Bahkan Bumi sempat-sempatnya mencium dan berbisik di perut itu, "hati-hati ya, Sayang. Jangan rewel," ucapnya membuat Ayesha terharu dan kembali memeluknya.
Berbeda dengan Ayas yang hanya menatap dari teras kepergian mereka, Bumi ikut serta memapah Ayesha masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi Akash yang menyetir.
"Ah gila kalau supirnya setampan gue, bayarannya mesti berapa ini?" sindirnya pada Laut yang sudah lebih dulu masuk ke kursi penumpang.
"Berisik lo, duda!" umpat Laut, membuat Akash merasa geli sendiri dengan kata duda itu. Terasa aneh.
Bumi hanya mengulas senyum kecil mendengar keduanya saling menyindir. Matanya sempat melirik wajah tampan yanh masih belum masuk ke kursi kemudi padahal pintu sudah ia buka. Seperti sengaja ingin mengatakan sesuatu karena kini Bumi juga masih berdiri di samping mobil setelah membantu Ayesha masuk ke dalam mobil.
"Kak, hati-hati." Ucap Bumi, tidak baik rasanya jika mengakhiri pertemuan ini tanpa kata.
"Iya, makasih. Kamu juga, jaga diri." Akash memang tak pintar memilih kosakata. Apa ucapannya yang seperti itu sudah benar?
"Ya udah, sana masuk!" titah Bumi, melihat Akash yang sama sekali tak ada tanda-tanda masuk ke dalam mobil.
"Bumi, tidak bisakah kita kembali?" sebuah tanya yang harusnya bisa Bumi jawab dengan kata, tidak. Namun bibirnya seolah terkunci rapat.
"Kamu boleh tidak menjawab, tapi aku tetap akan menjemputmu." Ucapnya seraya masuk dan menutup pintu mobil tanpa membiarkan Bumi menjawab kalimatnya.
__ADS_1
Biarkan kali ini aku menjadi orang yang jahat. Penjahat yang akan mencuri calon istri pria lain.