
Kedatangan Lila dan Damar membuat suasana rumah semakin ramai. Damar dengan gayanya yang selalu so' akrab dengan orang baru membuatnya dengan mudah berbaur bersama keluarga Bumi.
"Rame banget nih Bumi, keluarga Kamu ternyata banyak ya?" Lila menghampiri Bumi yang baru selesai mencuci piring.
"Yang dari saudara Papa cuma Paman Yudis dan Uti aja. Itu kebanyakan sepupu Mama. Mereka tinggalnya di luar kota semua. Jadi baru sekarang deh bisa kumpul gini." Bumi menjelaskan siapa saja yang ada di rumahnya tapi enggan mengenalkan satu persatu.
"Seru ya!"
"Ada nggak serunya, Kak." Kata Bumi menarik pergelangan tangan Lila untuk ke meja makan dan duduk di sana.
"Pegal kakiku berdiri terus, duduk kak!"
Lila menduduki kursi di sebelah Bumi.
"Apa yang nggak seru?"
"Cucian piring jadi banyak dan Aku yang bertugas mencucinya. Tangannku sampai keriput gini," Bumi memperlihatkan tangannya yang mengeriput setelah mencuci barusan.
"Kebayang sih orangnya banyak gini," Lila mengedarkan pandangannya dan menghitung dalam hati. Ada sepuluh orang.
"Di atas juga masih asa deh kayaknya," ucap Bumi menunjuk ke arah tangga dengan dagunya.
"Seru banget, nanti Aku bantuin deh cuci piringnya." Lila mengusap-usap punggung tangan Bumi yang terasa dingin.
"Makasih Kak, Kita ke kamar ku yuk? Sebentar lagi juga maghrib," ajakan Bumi mendapat anggukan dari Lila. Mereka berdua melenggang menaiki anaka tangga.
Damar yang melihatnya buru-buru pamit pada saudara Bumi untuk ikut ke atas bersama Bumi dan Lila. Dengan langkah lebar Damar menyusul kedua gadis yang sama-sama memiliki rambut sebahu, bedanya Lila tanpa poni depan.
"Bumi, Akash di mana?" pertanyaan Damar membuat langkah Mereka terhenti dan menoleh pada pria yang senang sekali mendengarkan lagu Slank tersebut.
"Di kamar Kak Laut, Kak Damar langsung ke sana saja. Kak Lila Aku ajak ke kamarku." Jawab Bumi lalu segera kembali melangkah diikuti oleh Lila di sebelahnya yang sempat-sempatnya bermain mata dengan sang kekasih.
Benar kata Bumi, di ruang atas masih ada tujuh orang saudara Bumi. Belum lagi beberapa orang anak kecil. Lila menyapukan pandangannya, menghitung dalam hati jumlah saudara Bumi. Hati kecilnya menyesal telah berjanji membantu Bumi mencuci piring. Pantas tangan Bumi sampai keriput. Susah payah Lila menelan ludahnya demi melihat ada beberapa piring dan gelas kotor di meja pojok ruangan.
"Permisi semuanya, Bumi mau lewat ya." Bumi sedikit membungkukan badannya melewati saudaranya yang sedang duduk dan saling bertukar cerita akibat lama tak berjumpa.
Lila dan Damar yang berjalan di belakang Bumi ikut-ikutan membungkukan badan dengan senyum tipis dan anggukan kecil saat bertemu pandang dengan keluarga Bumi.
"Kak Damar ke kamar Kak Laut, jangan ikut ke kamarku." Kata Bumi saat hendak membuka pintu kamarnya. Khawatir damar yang dari tadi mengekori langkah Mereka malah ikut masuk.
"Iya, yaelah bocah bawel bener dah. Sekali diomongin juga Gue ngarti banget dah," jawab Damar melengos ke kamar Laut yang ada di sebelah kamar Bumi.
Lila dan Bumi hanya tertawa lalu masuk ke kamarnya dan kembali menutup pintu. Didapati Bumi ada Tante Rina dan si gembul Nana sedang berbaring di tempat tidur Bumi.
"Ebuset nyatanya masih ada aja yang nyempil, Aku kira yang di luar doang." Lila kaget saat melihat Rina dan Nana.
"Itu Tante Rina, anaknya namanya Nana. Pipinya lucu banget kayak squishy."
Penasaran dengan ucapan Bumi, Lila melangkah pelan-pelan dan mengintip. Benar, gadis kecil yang sepertinya baru selesai mandi sebab sudah memakai piyama dan aroma minyak telon sangat dominan di kamar Bumi ternyata memiliki pipi gembul.
"Lucu banget sih, pengen gigit jadinya. Apalagi itu bedaknya cemong begitu. Seperti donat yang dikasih gula tepung saja." Celoteh Lila yang membuat Rina bangun dan mendudukan dirinya.
"Tante tidur? kirain rebahan doang?" tanya Bumi melihat Rina yang mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Ketiduran sebentar, jam berapa sih?" Rina balij bertanya dan dengan pelan turun dari tempat tidur agar tak membangunkan Nana.
Baru akan menjawab suara adzan magrib berkumandang. Ketiganya kompak mengucap hamdalah.
"Ya sudah, ayok gantian wudhu. Shalat magrib itu sedikit waktunya." Rina memberi komando pada Lila dan Bumi. Bumi segera melangkah untuk mengambil wudhu terlebih dahulu. Secara bergantian mereka ke kamar mandi. Beruntung Lila dan Rina membawa mukena masing-masing jadi Mereka bisa melaksanakan shalat magrib berjama'ah dengan Rina sebagai imam.
Selesai shalat Lila dan Bumi yang enggan melepas mukenanya mendatangi kamar Laut. Saat tiba di sana ternyata mereka sedang melakukan video call dengan Aldric yang tidak dapat hadir saat itu.
__ADS_1
Wooy itu siapa bidadari di belakang kalian yang pakai mukena? kayaknya Gue nggak asing?
Ketiga pria yang masih mengenakan sarung sontak menoleh ke arah Bumi dan Lila. Tentu saja yang Aldric maksud itu adalah Bumi.
"Adek Gue tuh, gila aja Loe berani godain." Ujar Laut mengepalkan tangannya ke arah layar ponsel. Aldric hanya tertawa dan kembali berkata
Bumi, nasib kita sama-sama ngenes. Gimana kalau Gue ngelamar Lo? Kita kan sama-sama patah hati dari Akash dan juga Rere. Cocok tuh.
Bumi mengerutkan kening, tak suka.
"Enggak mau, Aku mending mengejar cinta Lee Min Ho aja. Biar udah om om tapi masih enak dipandang."
Jawaban Bumi membuat Aldric mendapatkan sorakkan dari teman-temannya. Kecuali Akash, Dia malah menikmati salah satu keindahan Allah yang tercipta dalam bentuk manusia bernama Bumi Hansa.
Nggak asyik Lo, eh ya udah deh. Gue mau balik dulu ke apartemen ya. Apartemen bro!
Aldric melambaikan tangan lalu mematikan sambungan panggilan videonya.
"Kak Aldric memangnya lagi di mana sih?" Bumi bertanya pada siapa yang mau menjawab.
"Duduk dulu dah, pegel Gue lihat kalian berdua diri kayak gitu." Damar menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Mereka duduk di atas karpet tebal dengan motif macan.
"Aku duduk di kursi saja, nanti batal." Bumi malah mengambil kursi dari depan meja rias.
Posisi mereka jadi seperti jamaah dan pemimpin pengajian.
"Lo kaya Mamah Dudeh dah jadinya kalau kayak gitu," ujar Damar.
"Mamah Dedeh!" ketiga temannya kompak berteriak di kuping Damar. Damar mengusap-usap kedua kupingnya yang terasa sakit.
"Iih jadi gimana sih cerita Kak Aldric itu?" Bumi mengulangi pertanyaannya.
"Si Al tuh ditolak sama Rere, terus dikirim dah tuh bocah ke Sukabumi jadi kepala pabrik di sana. Katanya sih enak Dia di sana nggak jadi jongos lagi."
"Iiih Kak Damar kasar banget bicaranya," protes Bumi dengan kata jongos yang terlontar dari bibir Damar.
"Lah Lo mah protes mulu dah bisanya, heran dah Gue bisa nyambung gitu kalau ngobrol sama si Akash yang diemnya kebangetan."
"Jadi bawa-bawa Gue sih?" Akash menyenggol bahu Damar.
"Udah deh, Aku udah paham sekarang. Tapi yang jadi pertanyaan memangnya di Sukabumi ada apartemen?" tanya Bumi membuat keempat orang di hadapannya baru sadar kalimat terakhir Aldric saat di video call tadi.
"Paling juga kontrakan, Si Al kan kalau bicara suka hiperbolisme." Lila menjawab pertanyaan Bumi. Sebab jika Damar yang menjawab pasti akan lebih tidak masuk di akal lagi. Dulu saja saat Bumi bertanga kenapa sayur asem di restoran Akash mahal dengan santainya Damar menjawab sebab asemnya didatangkan langsung dari Italy dan dengan polosnya Bumi malah percaya.
"Kasihan banget ya Kak Al ditolak, lagian nembak cewe yang udah mau dinikahin orang. Siapa suruh?" Bumi tertawa kecil. Sebenarnya meratapi nasibnya sendiri.
"Lo nggak nyadar kalau nasib Lo sama si Al juga sama?" tanya Damar dan langsung mendapat cubitan keras di pingganggnya oleh Lila.
"Beda lah, Aku mah cowoknya yang ngejar-ngejar dan malah berniat menggagalkan pernikahannya. Setidaknya Aku lebih beruntung walaupun berakhir cuma jadi tamu undangan." Jawaban Bumi mendapat acungan jempol dari Lila.
Akash sendiri malah merasa sakit hati mendengarnya. Laut menatap Bumi dengan tatapan iba, dalam hatinya yang berdarah-darah Bumi masih bisa tersenyum.
"Bisa aja Lo ngejawabnya Markonah." Damar segera beranjak.
"Mau ke mana Lo?" tanya Laut
"Ke apamat beli rokok!" Damar menjawab tanpa menoleh. Lila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lihat kan Kalian, gimana Aku bisa yakin kalau Dia cuek terus gitu. Bertahun-tahun pacaran kayak gini terus. Laut dan Ayesha aja udah mau nikah. Damar malah santai terus. Aku nggak enak ditanyain terus sama Mama Papa kapan Damar siap nikahnya." Lila menatap sedih kepergian Sang Kekasih.
"Kak Lila sabar deh, nanti Aku sama Kak Akash bantu bicarain. Iya kan Kak?" Bumi menatap Akash meminta persetujuan. Lila mengangguk, berharap usaha Bumi berhasil. Lila sudah terlanjur nyaman dengan Damar. Dia tak rela jika harus begitu saja berpisah.
__ADS_1
Adzan isya berkumandang membuat Bumi mengajak Lila untuk kembali ke kamarnya.
Selesai shalat Bumi yang enggan melepas mukenanya berniat kembali ke kamar Laut.
"Kak Lila nggak usah ikut, Aku mau bicara sama Kak Damar. Kak Lila kalau mau bisa temuin Mama di bawah sekalian kenalan sama Uti Aku." Bumi menyapukan lipbalm pada bibirnya. Sedikit menyemprotkan parfum pada pergelangan tangannya.
"Aku di sini saja deh, semoga kali ini Damar bisa mendengar perkataan kalian." Lila sedikit berharap. Pasalnya teman-temannya sudah sering mengingatkan tapi jawaban Damar selalu sama yaitu belum siap. Padahal belum siap dari mananya? Sudah memilikk lekerjaan tetap, sudah diberi jatah rumah oleh orangtua, usia cukup matang. Tinggal menjalankan saja.
"Ya sudah Aku ke kamar Kak Laut dulu," ujar Bumi.
"Eh Bumi, pake lipbalm segala sih?" tanya Lila dengan nada meledek.
"Siapa tahu nanti dapet ciuman perpisahan dari Kak Akash." Bumi mengerlingkan matanya dan segera berlalu tak lupa menutup kembali pintu kamarnya.
Bumi memasuki kamar Laut saat ketiga pria itu sedang melaksanakan tahiyat akhir shalat isya. Dengan gerakan cepat Bumi memotret kegiatan itu dengan hasil yang bagus. Ponsel yang dibelikan oleh Akash memang memiliki kualitas foto yang bagus. Sesuai dengan Bumi yang hobby sekali berfoto. Kabar baiknya ternyata ponsel itu tidak perlu Bumi bayar pada Akash. Akash memberikannya sebagai bayaran karena Bumi telah mengelap lantai basah yang diakibatkan oleh Akash tempi hari itu.
Selesai mengucap salam ketiga pria itu masih enggan beranjak dan seperti dikomando ketiga kompak menengadahkan tangan, berdo'a kepada sang pencipta. Bicara mengenai do'a, Bumi diam-diam selalu berdo'a meminta diberikan kemudahan agar hubungannya dengan Akash bisa bersatu. Apapun nantinya ketentuan Allah, Bumi akan terima.
"Woy, bengong aja Lo di situ. Lila mana?" tanya Damar melipat sajadah dan melemparkannya sembarangan ke atas tempat tidur.
"Kak Lilanya malas bertemu Kak Damar. Sini Aku mau bicara serius sama Kak Damar." Bumi duduk terlebih dulu di atas karpet. Lalu diikuti Akash, Laut dan Damar.
"Wiih wangi bener Lo kayak anak perawan baru gede," ucap Damar yang baru saja menghirup aroma parfum dari tubuh Bumi.
"Apaan sih, gak jelas." Bumi membulatkan matanya.
"Lo pasti cuma pakai tanktop sama hotpans ya makanya males buka mukena?" Damar menaik-naikan kedua alisnya. Akash yang duduk di sebelahnya reflek memukul tengkuk pria berkulit hitam manis itu.
"Gak penting banget sih Kak, Aku di sini mau ngasih tahu berita penting soal Kak Lila." Bumi memasang mimik serius.
"Apaan dah?" Damar mulai penasaran.
"Kak Lila mau dijodohin sama orangtuanya, kalau Kak Damar terus menerus nggak lamar Kak Lila, kak Lila bakal terima perjodohan ini." Ujar Bumi penub keyakinan untuk menutupi kebohongannya. Biar saja berbohong sedikit agar Damar bisa terbuka pikirannya.
"Serius? Aduh Gue harus gimana ini? Gue nggak mau nasib Gue kayak Lo. Ditinggal nikah itu pasti berasa kiamat kan?" Damar panik, kalang kabut mengusap-usapkan tangan dikedua pahanya yang ikut bergerak.
"Makanya cepetan lamar, Kakak harus tegas."
"Iya, kasihan Lila. Lo sayang kan sama Dia? apa sih yang bikin ragu?" Akash ikut bertanya sekaligus meyakinkan.
"Gue bingung ngomongnya, sebenarnya Gue udah siapin cincin." Damar mengeluarkan kotak kecil dari dalam tas ransel yang sedari tadi tergeletak di atas karpet.
"Ya udah nanti Aku bantu bikin konsepnya, sederhana saja tapi Aku yakin akan bikin Kak Lila bahagia." Bumi menawarkan bantuan. Tentu saja Damar mengangguk bahagia. Dia tak jadi panik.
Suara pintu dibuka membuat keempatnya reflek menoleh.
"Kalian makan dulu, sudah malam lho." Suara Rina di bibir pintu membuat mereka tahu siapa yang datang.
"Masih kenyang Tan, Aku tadi makan burger." Bumi menjawab ajakan Tantenya seraya mengelus perut.
"Tante nggak ngajak kamu, khusus buat Kamu kalimatnya Tante ganti jadi cuci piring dulu Bumi, sudah malam lho!" Rian berlalu membawa tawa meledek keponakannya itu.
"Tuh Kak Laut, Aku dari kemarin disuruh cuci piring terus sampai tanganku keriput." Bumi mengadukan perbuatan Tantenya.
"Ya udah ayok Aku bantu cuci piringnya," ucap Akash berdiri dari duduknya.
"Demi cinta gunung kan kudaki lautan kusebrangi, apalagi cuma cuci piring." Damar meledek dan segera berlari menghindari pukulan Bumi yang sudah siap mengangkat tangannya.
Laut dan Akash ikut menyusul meninggalkan kamar sang calon pengantin.
LIKE, KOMEN dan VOTE nya Kakak. Makasih. Ini sampai 2033 loh Aku ngetiknya.
__ADS_1