Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
8


__ADS_3

Bumi dan Akash sudah sampai di sebuah mall dan segera menuju counter yang dituju mereka. Keduanya jalan bersisian. Berkali-kali Bumi mendekatkan tangannya pada tangan Akash namun, berkali-kali juga Akash menghindar seolah tahu keinginan Bumi yang ingin menggenggam tangannya.


"Tuh counternya," tunjuk Akash pada sebuah counter besar yang sudah di depan mata mereka.


"Assallamuallaikum"


"Waalaikumsalaam"


Akash bersalaman khas anak muda dengan sang penjaga toko.


"Lama nggak dateng nih, Bos,"" ujar sang penjaga toko.


"Biasa deh lagi ngumpulin receh," jawab Akash merendah.


"Gokil gokil. Jadi apa nih yang bisa dibantu?" Sang penjaga Toko tanpa basa-basi langsung bertanya.


Akash menatap ke arah Bumi yang berdiri di belakangnya. Dia menarik sebuah kursi plastik dan menyuruh Bumi duduk. Seperti tahu maksud Akash, Bumi menyerahkan ponselnya yang perlu perbaikan itu.


"Semalaman saya pakai untuk nonton Bang, sampai daya baterai habis dan saat saya isi kembali baterainya, malah gak bisa dihidupkan." Bumi menjelaskan keadaan ponselnya. Penjaga toko itu melihat keadaan ponsel Bumi lalu berbisik ke telinga Akash.


"Belikan lagi yang baru, deh. Masa pacar Bos ponselnya butut begini. Bilang aja harga servis sama mahalnya dengan beli baru. Lagian lo bohongin Dia ya? sejak kapan gue terima servis?"


"Gue emang niat beliin yang baru, gue sengaja bohong," jawab Akash memelankan suaranya.


"Kenapa bisik-bisik sih?" tanya Bumi penasaran.


"Gini lho, dek. Servis ponselnya mahal dan belum tentu langsung hari ini selesai," jawab penjaga toko.


"Kita beli yang baru aja ya, Bumi!" Akash membujuk Bumi.


"Nggak ada duit Kak," Bumi memelas.


"Gue yang beli, "Akash membujuk.


"Gak enak ah, Kak."


"Nanti li cicil bayarnya." Akash memberikan solusi.


Bumi sejenak berpikir. Dia memang sudah lama ingin membeli ponsel baru sebab ponselnya yang sudah terlalu sering rewel dan diservis.

__ADS_1


"Cicilnya jangan pakai bunga ya!" pinta Bumi.


"Ok, deal. Loe pilih sesuai keinginan Loe!"


"Ok, deal!" Bumi mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Akash.


"Apaan sih, nggak usah salam segala. Sana pilih!" Akas menepis tangan Bumi dengan sikunya.


Bumi mendengus tapi segera melakukan yang diperintahkan Akash.


Sempat berdebat soal harga tapi Akash tidak mau mendengarnya. Setelah berpikir bisa mengembalikan uang Akash dalam waktu beberapa bulan, akhirnya Bumi meyakinkan diri untuk membeli ponsel sesuai yang dia butuhkan.


Adzan ashar berkumandang saat mereka keluar dari mall itu.


"Kita sholat dulu ya, Bumi. Itu di sebrang ada mesjid." Akash menunjuk mesjid di sebrang mall.


"Sholat?" Bumi menautkan kedua alisnya.


"Oh kamu nggak sholat?" Akash bertanya dan langsung diangguki Bumi.


"Ya udah tunggu di parkiran deket mobil, gue sholat bentar." Akash melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari Bumi. Bumi segera pergi ke parkiran namun sebelumnya ia membeli es krim untuk menemani menunggu Akash.


"Bumi, lo lagi haid harusnya jangan makan es krim. Gak bagus tau." Akash segera membuka kunci mobil.


"Aku nggak lagi haid Kak," Bumi menghabiskan suapan terakhir es krimnya.


"Terus kenapa gak sholat?" Akash penasaran.


"Aku gak pernah sholat Kak!"


Deg.


Jawaban Bumi membuat Akash tertegun dan berhenti untuk kembali bertanya. Sepanjang perjalanan pulang mereka tidak melakukan percakapan. Akash sibuk dengan pikirannya dan Bumi tertidur setelah bosan mengajak bicara Akash yang hanya mengangguk saat ditanya.


Sampai di rumah, mereka masih saling mendiamkan satu sama lain. Bumi segera masuk dan menemui Ayas yang sedang di kamarnya. Sedangkan Akash segera kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke restoran setelah sebelumnya mengirimkan pesan untuk seseorang


[Ambil mobil Loe ke restoran, Gue tunggu]


***

__ADS_1


Akash menunggu kedatangan Laut di ruang pribadinya. Satu jam menunggu dan Laut pun sampai di sana.


"Nggak modal lo, ngajak pergi anak orang mobil dapat pinjam." itu suara Laut yang baru datang.


"Gue lagi pengen ngobrol serius," ucap Akash penuh penekanan.


"Apa? Lo udah mutusin buat menikahi Rere?" tebak Laut.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama Bumi saat di kampung? Kehidupan seperti apa yang Bumi dapatkan di sana?" Lagi-lagi Akash menekan setiap katanya.


"Apa sih nggak jelas banget. Nggak penting!" Laut mengelak.


"Jawab!" Akash geram.


"Nggak ada urusannya sama lo!" Laut masih berusaha mengelak.


"Bumi nggak pernah solat! kehidupan macam apa yang lo kasih buat adik lo?" Akash mencengkram kerah kemeja Laut.


"Semakin lo bersikap seperti ini, justru akan semakin membuat Bumi sakit hati. Kenyataannya udah ada Rere di hidup lo!" Laut menjauhkan tangan Akash yang mencengkeramnya.


"Gue nggak cinta sama Rere." Akash berteriak.


"Emang lo cinta sama Bumi?" Laut balas berteriak.


"Gue lagi cari tahu!"


"Dan keluarga lo nggak akan kasih izin. Mundur Kash, sebelum Bumi semakin sulit lepas dari bayang-bayang lo. Jalani saja apa yang sudah keluarga lo pilihkan."


Laut mengambil kunci mobilnya dan segera meninggalkan ruangan itu.


Akash frustasi. Dia berkali-kali menolak perjodohan dengan Rere namun sang Kakak dan Kakak iparnya memaksa Dia menerima perjodohan ini. Zahra selalu mencari pembenaran atas keputusannya menjodohkan Akash dengan Rere. Rere adalah putri dari rekan kerja suaminya. Orang tua Rere merupakan salah satu donatur tetap di pesantren yang dimiliki orang tua abah Akash. Mereka sudah sangat mendapat banyak bantuan dari keluarga Rere.


Semenjak keputusannya berhenti mondok, Zahra selalu menyudutkan Akash yang gagal menjadi sosok yang bisa menggantikan Abah. Terlebih setelah lulus kuliah ternyata Akash memilih jalannya sendiri dengan membuka usaha kuliner daripada bekerja sama dengan suami Zahra yang memiliki perusahaan property. Tak hanya itu, dengan sangat sombongnya Akash menolak saat lakak iparnya itu akan memberinya bantuan modal. Akasb hanya tidak ingin semakin dibuat berhutang budi pada iparnya itu.


Alih-alih agar Akash sedikit menjadi anak yang berbakti pada orang tua, maka enam bulan yang lalu perjodohan itupun terjadi. Akash awalnya menolak namun saat itu Ummi sendiri lah yang meminta Akash menerima perjodohan itu. Akash hanya bisa pasrah.


Dari awal pindahnya Bumi, Laut memang seperti sengaja menjauhkannya dengan Akash. Setiap Akash bertanya kabar Bumi, maka Laut akan mengalihkan pembicaraan. Bahkan saat Akash meminta untuk ikut mengunjungi Bumi dengan terang-terangan Laut menolaknya.


Hal serupa dialami Bumi, Laut selalu memangkas pembicaraan saat Bumi mulai bertanya keadaan Akash. Mereka berdua sengaja dipisahkan oleh Laut sebab Laut tak ingin membuat keduanya terlalu mendalami perasaan masing-masing dan justru akan berakhir saling menyakiti.

__ADS_1


Akas mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar. Matanya memerah menahan amarah. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal. Kecewa dan marah bercampur menjadi satu. Akash hanyalah Akash. Menyandang status sebagai anak seorang Kiai tidak lantas menjadikannya sebagai seseorang yang alim. Tidak seperti Zahra dan Nadia. Akash tumbuh sendiri dengan jalannya, meski tanpa melupakan Sang pencipta.


__ADS_2