
Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit. -Ali bin Abi Thalib-
***
Saat Paman Samosir yang ditunjuk sebagai pembuka acara mulai mengucap salam, tiba-tiba Ayesha mengangkat tangan. Meminta izin bicara.
"Maaf, apa Akash nggak tanya dulu sama Bumi mau diberikan apa sebagai mahar?"
Sontak membuat semua orang saling berpandangan, meski mahar untuk Bumi sudah disiapkan. Zahra menepuk kening, dialah yang bertanggung jawab atas semua ini.
"Maaf ya, Dek. Kakak lupa tanya," sesal Zahra, lalu kembali berkata, "Bumi ingin apa sebagai mahar?"
"Apa saja aku Insya Allah ikhlas menerima, Kak." Jawaban Bumi membuat semua orang lega.
"Akash hanya mempersiapkan seperangkat alat shalat." Zahra takut jika Bumi menolak.
"Alhamdullillah, aku terima dengan senang hati. Aku sadar hanyalah seorang wanita akhir zaman yang sering menyembunyikan dosa. Justru dengan seperangkat alat sholat mudah-mudahan bisa menjadikanku sebagai hamba yang lebih mendekatkan diri pada Allah." Bumi tersenyum.
"Salatnya nanti lebih semangat ya kalau mukenanya pemberian orang yang dicinta," Paman Samosir ikut bicara, menggoda Bumi yang mukanya jadi merah padam.
Setelah masalah seperangkat alat shalat selesai dibahas, Paman Samosir melanjutkan bicara. Pertama-tama mengucap salam dan shalawat. Kemudian dilanjut membaca ayat suci Al-qur'an oleh Uwa Haji. Dan berkahir dengan khutbah nikah yang dilakukan oleh penghulu.
Tiba pada bagian yang paling menegangkan. Penghulu membimbing Akash dan Bumi saling menjabat tangan.
"Saudara Assyam Al-Akash, saya kawinkan engkau dengan adik saya yang bernama Bumi Hansa Binti Almarhum Pamungkas Ganendra dengan seperangkat alat salat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Bumi Hansa Binti Almarhum Pamungkas Ganendra dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Lantang dalam satu tarikan napas Akash berhasil mengucapkan kalimat yang serta merta membuat Bumi menangis bahagia mendengarnya.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah....,"
"Allhamdullillah."
"Barakallahu laka, wa baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khoiir"
"Mudah-mudahan Allah SWT memberkahimu, baik ketika kamu sedang senang maupun kamu sedang susah. Dan Allah SWT selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.”
"Aamiin"
"Silahkan maju ke sini mempelai wanitanya," titah penghulu.
Bumi yang sedari tadi duduk diapit Mama dan Ummi beranjak. Namun belum juga dia berjalan, Akash sudah lebih dulu menghampirinya. Menarik tubuh yang bergetar itu kedalam pelukannya.
Dia dekap tubuh Bumi dengan erat. Air mata keduanya luruh, sudah lama saling memendam rindu. Keduanya tak peduli lagi dengan berpasang-pasang mata yang menyaksikan keharuan itu.
"Maaf baru datang sekarang," bisik Akash di sela-sela tangisnya dan dihadiahi anggukan oleh Bumi.
"Kali ini tidak ada lagi yang dapat memisahkan kita, kecuali kematian." Masih sebuah bisikkan, Bumi semakin sesenggukan. Tangannya meremas kemeja Akash.
Akash mengurai pelukannya, dipandangi wajah yang telah banjir air mata itu. Dia pegang kedua pipi Bumi. Keempat jemarinya ia letakan di samping kepala Bumi, ibu jarinya mengusap pipi mulus itu. Bertubi-tubi ia kecup kedua mata Bumi bergantian. Mengalirkan rasa hangat ke sanubari Bumi.
"Pastikan ini adalah tangis kebahagiaan," ucap Akash kembali menghujani ciuman, kali ini di kening.
__ADS_1
"Kak, udah dong, malu," protes Bumi dengan bisikkan yang malah dihadiahi Akash dengan kembali memeluknya.
"Maaf, anak muda, saya harus pulang," tegur penghulu, "sedari subuh saya sudah diganggu, dan sekarang malah disuruh menonton drama seperti ini," keluh penghulu, "jiwa jomlo saya meronta-ronta jadinya," adunya diakhiri dengan cebikkan di bibir.
"Tuh, 'kan. Kakak bikin aku malu deh." Bumi mengerucutkan bibirnya. Tangisnya sudah reda, digantikan rasa malu akibat ulah suaminya. Suami?
"Saya itu menyuruh pengantin wanita cium tangan dulu, kalian malah langsung curi start," omel Penghulu.
Dengan perasaan tak enak, Bumi penuh khidmat mencium punggung tangan Akash dibalas Akash dengan mengusap pucuk kepalanya.
"Nah, baru boleh dicium." Paman Samosir menyindir.
Serta merta Akash mencium kembali kening itu. Kali ini lebih lama. Memberikan sensasi yang baru pertama kali Bumi rasakan. Hangat, tenang, dan nyaman.
Setelahnya Penghulu benar-benar pamit pulang, surat belum bisa diterbitkan masih harus diurus administrasinya. Mungkin beberapa hari lagi, begitu janji penghulu.
Keduanya segera dihadiahi ucapan selamat oleh anggota keluarga. Paman Samosir tak henti menggoda keduanya. Sedangkan Uwa Haji hanya tersenyum penuh haru saat memeluk Akash.
"Jaga dia, ingat bagaimana perjuanganmu untuk mendapatkannya."
Bumi berada di pelukan mama kali ini, sedikit berat perasaan mama melepas anak gadisnya itu.
"Selamat ya, sekarang udah jadi istri," ucap mama dengan derai air mata bahagia. "Harus nurut, belajar masak biar suami betah di rumah," lanjut mama meraih tubuh putrinya.
Kini surga Bumi tak lagi berada di telapak kakinya. Bumi sudah memiliki yang lain sebagai prioritasnya. Tapi, mengingat sudah berapa lama keduanya menantikan hari ini. Semoga putrinya selalu bahagia. Sesederhana itu keinginannya.
Kini Bumi beralih ke pelukan Laut. "Bahagia ya, Dek!" dengan suara parau Laut berucap. Tangannya mengusap pucuk kepala Bumi pelan.
"Do'akan ya, Kak. Makasih," Bumi mengurai pelukannya saling bertatapan dengan Laut kemudian melempar tawa bersama.
"Jadi nanti malam syukurannya?" tanya Uwa Haji, membuat Akash dan Bumi yang sedang saling pandang refleks salah tingkah.
"Ba'da ashar saja ya, Mam?" Akash meminta persetujuan Mama mertuanya.
"Mama terserah saja," jawab mama bijaksana.
"Terlalu mepet loh, Kash, kalau ba'da ashar. 'Kan harus siapin makanan juga," protes Zahra.
"Iya, Kash. Lagipula belum diundang kan tetangganya." Ayesha ikut menambahi.
"Kalau masalah mengundang bapak-bapak, biar kami saja, mbak," saran Pak Rt yang juga diangguki Pak Rw.
"Lagipula malam ini ada jadwal rapat, Mbak. Sepertinya ba'da ashar lebih baik." Pak Rw ikut memberi saran.
"Tuh, 'kan udahlah ba'da ashar aja,' cicit Akash merasa di atas angin.
"Terus buat catering gimana?" todong Zahra, "kamu seenaknya deh," imbuhnya dengan tatapan sinis.
"Aku udah urus, kakak lupa usahaku apa?" Akash membuat Zahra ingat siapa dirinya.
"Sombong kamu," cibir Zahra.
"Kalau begitu, kami permisi ya, Bapak-bapak dan Ibu-ibu." Pamit Pak Rt.
__ADS_1
"Ba'da ashar, ya Bu?" Pak Rw bertanya pada mama untuk memastikan.
"Iya, Pak. Tolong ya, pak," jawab mama dengan santun dan diangguki keduanya seraya beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Ummi, mau makan atau mau istirahat?" tawar mama.
"Sebaiknya saya pulang, lagipula nanti acaranya kan untuk Bapak-bapak," tolak Ummi, "besok lusa baru syukuran di rumah Ummi, sekalian bahas soal resepsi."
Setelahnya Ummi dan yang lain pamit pulang. Tinggallah Akash seorang.
"Kash, awas lo hamilin adik gue," seloroh Laut saat keduanya kembali mengantar Ummi dan yang lain ke depan gerbang.
"Kakak ipar durhaka, gue nikahin dia emang itu tujuannya," sahut Akash, "lo kalau ngomong seenaknya aja," kali ini dengan pukulan di belakang kepala membuat Laut tak segan membalas, Dia tendang bokong Akash yang berjalan di sampingnya.
"Ya jangan malam ini juga, kasihan adek gue."
"Iya, enggak," sahut Akash, "tapi siang ini, sebelum dhuhur," kelakarnya membuat Laut geram dan segera memiting lehernya.
Bumi dan Ayesha yang sedang memasak sesuatu di dapur dibuat risih dengan tingkah keduanya.
"Suami kakak tuh, gangguin suami aku terus," keluh Bumi.
"Dek, suami kamu tuh nggak ada manis-manisnya sama kakak ipar juga," ralat Ayesha.
Dari arah ruang santai terdengar Akash meronta-ronta memanggil nama Bumi.
"Tuh, Dek. Belum apa-apa bayi besar kamu udah rese," cibir Ayesha.
"Iih, Kakak," keluh Bumi.
Dari arah yang sama kembali Akash memanggil nama istrinya. "Ya udah, Kak. Aku ke sana dulu, titip ini goreng tempenya." Lalu beranjak setelah mendapat anggukan dari Bumi.
Terlihat di ruang santai Akash berhasil dilumpuhkan oleh Laut. Tubuhnya dibuat tengkurap dengan kedua tangan disilangkan di belakang pinggang. Nampak Laut menduduki tubuh jangkung itu.
"Ngaku dulu nggak kalo lo kalah dari gue!" seru Laut.
"Nggak ada, sampai titik darah penghabisan gue nggak mau kalah dari lo!"
"Kak Laut, iih lepasin suami aku," pekik Bumi memukul bahu Kakaknya.
"Tuh, Dek. Masak aku disiksa gini sih?" adu Akash.
"Dasar tukang ngadu," Laut akhirnya melepaskan kunciannya pada tubuh Akash. Dia berdiri seraya berlalu, namun kembali menoleh mengepalkan tangan ke udara dan bicara penuh ancaman pada Akash.
"Awas lo, Kash merawanin adek gue!"
Akash tak menjawab, dibantu Bumi dia berdiri. Pergelangan tangannya terlihat memerah, rupanya Laut terlalu kencang menyerangnya.
"Tangannya merah, kak," keluh Bumi.
"Nggak sakit kok," Akash memangkas kekhawatiran Bumi.
"Makan dulu, yuk. Aku laper, nih!" ucap Bumi yang disahuti anggukan oleh Akash. Setelah memanggil mama di dalam kamar, kelimanya pun makan bersama. Sarapan yang menjelang makan siang. Diselingi dengan Akash dan Laut yang saling umpat.
__ADS_1
Mama bahagia memandangi satu persatu anak dan menantunya. Juga calon cucunya yang sedang dikandung Ayesha.
Akhirnya mereka berdua bahagia, Mas.