
Sebelumnya makasih buat semuanya yang udah kasih like dan komennya. Yang sudah Vote makasih juga.
******
"Teh manis gula batu, minumlah! kamu sudah terlalu lama menangis."
Hafidz berjongkok di hadapan Bumi, segera Bumi meraih gelas itu dan meneguk isinya hingga tandas.
"Haus banget?" komentar Hafidz, wajahnya selalu tengil dan jahil.
"Kalau nggak ikhlas harusnya jangan deh." Bumi mendelik, gelas kosong ditangannya direbut Hafidz.
"Sana tidur, biar anak-anak saja yang mengaji." Ujar Hafidz kemudian berdiri.
"Mana bisa aku tertidur?" gumam Bumi namun dapat didengar Hafidz.
"Tinggal tutup mata dan berbaring, nggak susah kan?" sahut Hafidz, mengerlingkan matanya tapi Bumi segera membuang pandangannya.
Hafidz benar-benar pergi, namun bukan keluar melainkan mendekati Ayas.
"Bu, tidur saja. Istirahatlah, biar anak-anak yang mengaji." Ujarnya saat sudah berada di dekat Ibu.
"Eh, oh iya ini ada Laut. Kakak...."
Belum sempat Ayas melanjutkan bicara Hafidz sudah memotongnya
"Kakaknya Hansa, kan. Saya Hafidz, saya...." kali ini giliran Laut yang memotong kalimatnya.
"Iya saya tahu," kemudian beralih menatap Ayas, "Mama istirahat aja, bareng Bumi sama Ayesha juga."
Ayas menurut saja, diraihnya pergelangan tangan Ayesha kemudian beranjak bersama. Lalu Bumi yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka ikut berdiri menunggu mereka mendekat. Ketiganya memutuskan beristirahat di kamar Bumi. Bumi sempat kembali melihat ke arah Akash, yang ternyata juga sedang melihat ke arahnya. Kali ini tak gagal, keduanya saling melempar senyum. Namun, hanya sesaat sebab panggilan Ayas terlanjur membuat Bumi meninggalkan tempatnya berdiri.
****
Lepas shubuh jenazah Uti dikebumikan. Laut melarang Ayas, Ayesha dan juga Bumi untuk ikut ke pemakaman.
"Perempuan suka gampang nangis, jadi di rumah saja." Begitu kata Laut.
Jadilah mereka tetap tinggal di rumah. Masih ada beberapa kerabat dan tetangga yang membantu membereskan sisa-sisa barang yang masih berantakan sisa memandikan Uti semalam.
Bumi memilih tetap di kamarnya bersama Ayesha yang kini perutnya sudah terlihat buncit.
"Perut Kakak lucu ih." Komentar Bumi seraya mengelus perut Ayesha.
Keduanya sedang berbaring saling berhadapan dan belum mandi. Bahkan bumi masih mengenakan mukenanya lepas shalat shubuh tadi.
"Kita udah lama ya nggak ketemu," ucap Ayesha seraya menelisik ke wajah Bumi yang terlihat tirus. "Ada dua bulan lebih ya?" tebak Ayesha.
"Hmmm, ada kayaknya?" Bumi tak yakin.
"Hafidz kelihatannya rame ya?" todong Ayesha, penasaran pada sosok Hafidz.
__ADS_1
"Nyebelin, Kak!" seru Bumi. Kemudian mengalirnya cerita tentang Hafidz dari awal pertemuan di halaman belakang rumah Yudis hingga tadi pria itu Memberiny teh manis.
"Sudah ada getaran belum?" tanya Ayesha iseng.
"Getaran apa? getaran di ponselku saat ada panggilan masuk sih iya." Celoteh Bumi membuat Ayesha tertawa sembari menjawil hidung Bumi.
"Akash sama Rere...."
"Aku udah tahu," sahut Bumi cepat. "Dikasih tahu Kak Zha, tempo hari ke sini sama Bang Ilham."
"Minta maaf?" tebak Ayesha dan diangguki Bumi. "Minta kamu balik ke Akash?" todongnya, Bumi kembali mengangguk. "Kamu jawab apa?" kali ini mendesak.
"Nggak bisa karena udah dijodohin sama cowok lain," adu Bumi.
Ayesha bernafas lega, pasalnya setelah kepulangan Zahra dan Ilham, Laut berkata tidak akan membiarkan Bumi kembali pada Akash. Masih terasa sakit hati atas perlakuan mereka.
Ketukan dipintu disusul suara sang Mama memanggil keduanya reflek membuar mereka mendudukan diri. Bumi beranjak membuka pintu.
"Kalian sarapan dulu!" itulah suara Ayas.
"Jam berapa ini?" tanya Bumi, pasalnya perutnya belum lapar.
"Jam setengah sembilan. Kalian keasyikan ngobrol. Yang dari pemakaman juga sudah pada pulang." Beritahu Ayas.
Ayesha ikut beranajak dan berdiri di samping Bumi.
"Oh iya, kata Lauy tolong bawakan baju ke belakang, dia lagi mandi tuh!" kali ini Ayas bicara pada Ayesha, memberitahukan pesan Laut padanya.
Ayas pergi terlebih dahulu kembali ke dapur, Bumi bingung sendiri hendak ke mana.
"Ayok ke luar!" ajak Ayesha saat akan ke luar Bumi masih berdiri di bibir pintu.
"Bingung, Kak. Kalau dua-duanya ada gimana?" keluh Bumi.
"Jadilah seperti Bumi pada biasanya, hadapi bukan dihindari." Saran Ayesha menerbitkan senyum di wajah penuj kebingingan itu.
"Tungguin ya, aku rapi-rapi dulu." Ucap Bumi seraya melepas mukena kemudian memakai gamis dan hijab instannya.
"Cie yang mau jadi mantu Bu Haji, gamis terus pakaiannya." Goda Ayesha.
"Kakak, aku nggak jadi keluar nih!" ancam Bumi.
"Iya ih, canda Sayang." Ujar Ayesha menggandeng tangan adik iparnya itu keluar dari kamar.
Saat tiba di dapur Bumi langsung duduk di kursi yang menghadap meja bundar yang sudah penuh dengan makanan. Lili tampak sedang menyendokkan nasi uduk ke dalam kertas nasi sedang Ayas bertugas memasukkannya ke dalam bok besar.
"Buat siapa, Bi?" tanya Bumi.
"Buat anak-anak santri, suka pada malu-malu kalau disuruh ambil sendiri. Biar praktis pakai kertas nasi saja." Jawab Lili menjelaskan panjang lebar.
Bumi manggut-manggut tanda mengerti. Baru akan mengambil sepotong tempe goreng tepung kesukaannya suara seseorang disertai dengan kepalanya yang terasa dipukul oleh sesuatu menghentikan gerakan tangannya.
__ADS_1
"Mandi dulu, baru makan!" adalah suara Hafidz, tangannya yang jahil yang memukulkan sendok pada kepala Bumi.
"Iih kamu tuh, nggak boleh lihat aku tentram pasti aja ganggu!" teriak Bumi mengusap kepalanya, padahal tidak sakit.
"Mas, kamu tuh jahil terus." Protes Lili yang kini tengah selesai membungkuskan nasi.
"Ini bawa ke depan ya, Mas. Dikasih untuk anak-anak." Ucap Ayas menyerahkan bok itu lengkap dengan tempe goreng dan sambal kacang. Tak lupa sendok plastik disertakan.
Hafidz menerima bok itu dengan kedua tangannya. Sendok yang ia bawa tadi diletakkan begitu saja di meja.
"Mandi dulu, baru makan!" lagi-lagi Hafidz menggoda Bumi. "Tuh iler masib nempel di pipi," selorohnya membuat tangan Bumi reflek memegangi pipi, panik.
"Tapi bohong," ujar Hafidz seraya pergi membawa bok itu.
Bumi semakin kesal dibuatnya, dia reflek berdiri dan berteriak.
"Awas ya, Mas!" ancam Bumi, tak sadar bahwa Laut, Ayesha dan Akash sudah bergabung bersama mereka.
"Awas, Bumi Hansa galak!" teriak Hafidz, suranya terbawa angin namun masih dapat didengar olehnya, juga oleh orang-orang di sekitarnya.
"Sudah, sudah!" Ayas memangkas pertengkaran itu, menyuruh Bumi kembali duduk karena dirinya sedang menyendokkan nasi untuknya makan.
Bumi baru sadar jika kini sudah ada Akash di hadapannya. Wajahnya nampak segar dengan rambut yang masih basah. Kedua mata mereka bertubrukan kembali namun segera berakhir saat Ayas menyodorkan piring ks wajah Bumi.
"Ayok, makan dulu mumpung masih hangat!" saran Ayas. Sementara Lili setelah menyendokan nasi uduk malah membawanya ke halaman belakang untuk dimakan bersama suaminya di sana.
Tak ada percakapan di meja itu, suasana mendadak canggung. Bumi yang baru saja menyendokan nasi harus rela menahan suapannya sebab Lili kembali lagi serta mengambil beberapa potong tempe goreng. Mata Lili menangkap sendok yang begitu saja tersimpan di meja. Dia ingat itu sendok Hafidz yang tertinggal.
"Bumi, tolong antarkan sendok itu ke Mas Hafidz!" tangan Lili menunjuk sendok yang tergeletak di meja.
"Bi, udahlah biar dia pakai yang ada saja." Tolak Bumi.
"Mas mu itu nggak biasa makan pakai sendok plastik," beritahu Lili.
"Malas, Bi!" rengek Bumi.
"Ayolah Bumi, kamu kan calon istrinya. Belajar melayani suami." Ucap Lili seraya mengerling.
"Uuhuuk" Akash terbatuk demi mendengar ucapan terakhir Lili, hampir saja makanan yang sudah ada di tenggorokan keluar kembali.
Tangan Bumi reflek menyodorkan minuman bekasnya pada Akash. Akash menerimanya tanpa menoleh pada wajah Bumi.
Lili sudah kembali lagi ke halaman belakang, Bumi jadi salah tingkah. Termasuk Ayas, Ayesha dan Laut. Tapi mau tidak mau Bumi akhirnya mengantarkan juga sendok itu pada Hafidz. Beruntung saat baru sampai di bibir pintu Bumi melihat salah satu anak santri. Langsung saja dia titipkan sendok itu untuk Hafidz. Dirinya kembali ke dapur.
"Koq cepat?" tanya Ayas.
"Tadi dititil ke anak santri saja sendoknya hehehe." Sahut Bumi.
"Ayo makan lagi!" Ucapnya, menetralisir rasa canggung.
Suasana hening kembali tercipta. Akash melanjutkan kembali makannya walau sudah sangat kepayahan menelan hasil kunyahannya. Bumi juga, selera makannya menguap tiba-tiba. Sulit sekali berada di posisi seperti ini.
__ADS_1