Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
52


__ADS_3

Sementara di sebuah rumah berdindingkan kayu di pinggiran kota itu, Rere sedang menikmati pemandangan sore dengan secangkir teh hangat di hadapannya. Di sampingnya duduk pria berkacamata yang berprofesi sebagai Dokter, siapa lagi kalau bukan Guntur.


"Kamu mau kan bantu Aku?"


Lagi-lagi Guntur tidak dapat menjawab jika Rere sudah bicara seperti itu. Guntur tahu betul, Anggara bukanlah sosok yang mudah ditaklukan.


"Aku yakin koq pasti bisa hidup bahagia sama Kamu, Aku di rumah nunggu Kamu pulang itu pasti menyenangkan." Kata Rere seraya meraih tangan Guntur memberinya kekuatan dan berharap Guntur akan mengiyakan rencananya.


"Jadi pernikahannya diundur?"


"Iya, orangtua itu lagi-lagi sibuk dengan bisnisnya. Obsesinya untuk memiliki menantu seorang keturunan kiayi bahkan dikalahkan dengan urusan bisnisnya." Rere terlihat sendu.


Guntur yang melihat perubahan pada wajah Rere segera meraih dagu lancip gadis itu. Gadia yang menjadi cinta pertamanya. Pemilik mata indah, sendu namun meneduhkan.


"Jangan bicara buruk tentang orangtuamu," ucap Guntur menatapnya dalam seraya tersenyum. Rere mengangguk dan menyambut senyuman itu. Guntur memang menyayangkan sikap Anggara dan istrinya tapi tidak serta merta membuat rasa hormatnya pada orangtua dari gadis pemilik hatinya itu berkurang.


"Jadi Kamu mau bantu?"


Alih-alih menjawab Guntur malah membawa gadis itu ke dalam pelukannya, mengusap pucuk kepalanya berkali-kali. Jujur saja Dia ingin, tapi apakah akan berhasil.


"Atau Kamu mau Kita benar-benar melakukannya? Aku siap koq," Rere mendongakkan kepala dahinya langsung mendapat sentilan dari Guntur.


"Aku akan melakukannya, tapi nanti setelah Kita menikah."


Rere menarik diri dari dekapan Guntur, bukan tidak senang tapi apakah Guntur menolak menjalankan rencananya itu.


"Kamu takut dengan gunjingan orang-orang?" Tebak Rere karena sampai saat ini Guntur tidak mengiyakan permintaannya.


Guntur menghela nafasnya dalam-dalam. Rere memintanya datang saat ijab kabul nanti untuk bilang bahwa Rere sedang mengandung anaknya. Biarkan saja sedikit malu asal pernikahannya itu tidak benar-benar terjadi.


"Kita kan hanya sandiwara, pasti keluarga Akash akan membatalkan pernikahannya. Biar saja mereka membenciku. Yang penting Kita menikah, setelahnya Aku pasti bahagia tinggal di rumah ini." Rere kembali memasang wajah sendu.

__ADS_1


"Kamu jangan memasang tampang seperti itu, Aku lemah kalau melihatmu memohon dengan wajah seperti itu."


"Berarti deal ya?"


"Aku bicarakan dulu pada orangtuaku, jangan sampai membuat Mereka jantungan mendengar anak satu-satunya menghamili anak gadis orang," jawab Guntur tak berani menatap Rere.


"Aku yakin mereka pasti setuju, Aku pasti berusaha menjadi menantu yang baik."


Guntur hanya tertawa kecil, Dia kembali menarik kepala gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Sore itu ditemani senja Rere sudah bisa bernafas lega karena Guntur mau terlibat dalam dramanya. Biar saja dibenci atau bahkan dibuang dari daftar pewaris keluarga yang penting Dia akan menikah dengan orang yang mencintai dan juga mencintainya. Menjadi istri seorang dokter tidak buruk bukan?


******


Sementara di villa sana Damar dan Laut sedang berdebat perihal siapa yang akan sekamar dengan siapa. Lila tidak ingin tidur sendiri dan Ayesha pun khawatir jika Lila tidur sendiri Damar akan mendatangi kamarnya malam-malam.


"Ya ampun, Sha. Tega banget pikiran Lo. Gue nggak semesum itu Sha buat masuk kamar cewek." Protes Damar saat Ayesha bilang Lila akan sekamar dengannya.


"Sayang, Kamu khawatir sama Lila tapi nggak khawatir sama Aku?" Laut ikut protes dan merengek seperti anak kecil.


"Bang, kalau Lila di apa-apain sama Damar Kita ikut kena dosa lho," ucap Ayesha memberi peringatan.


"Udahlah Sha, Gue nggak bakal masuk kamar Lila. Kasian suami Lo, seminggu Dia nunggu lampu merah beralih ke lampu ijo buat nerobos jalan tapi pas udah ijo malah mogok kan nggak lucu Sha,"


"Ngomong apaan sih, nggak ngerti Gue." Ayesha mengibaskan tangannya, perkataan Damar membuat pendengarannya geli.


"Nggak apa-apa Sha, Aku tidur sendiri aja. Kamu bisa kunciin kamar Aku dari luar dan kuncinya Kamu pegang deh." Lila memberi usulan.


"Nah gitu cocok, udahlah Sayang setuju aja." Laut kembali membuat permohonan. Ayesha berfikir sejenak, Dia menimang apa cara itu bisa membuat Damar tidak masuk ke dalam kamar Lila.


"Ya udah deh, Aku setuju. Tapi, nggak apa-apa kan La?"


"Nggak apa-apa, tapi nanti jangan keras-keras ya Sha teriaknya pas kesakitan, Gue takut pengen." Kata Lila dengan wajah malu-malu.

__ADS_1


"Nah pemikiran Lo aja udah kebaca kan La, gimana Gue nggak khawatir ngebiarin Lo di kamar sendirian sementara ada cowok Lo di sini." Ayesha melirik tajam Lila dan Damar bergantian.


"Sayang, udah dong. Terserah Mereka mau ngapain juga udah sama-sama dewasa kan?" Laut menenangkan Ayesha yang mulai bertanduk.


"Ya udah deh, mending Lo masuk kamar sekarang." Ayesha melirik jam pada ponselnya. Pukul 21:00 waktu yang pas untuk beranjak tidur.


"Iya dah iya, Lo lebih ribet dari nyokap Gue tahu nggak?" Lila segera beranjaj, Ayesha mengekorinya dari belakang hanya cekikikan melihat tampang Lila yang cemberut.


Setelah mengunci kamar Lila, Ayesha mengajak Laut untuk ke kamar mereka juga. Meninggalkan Damar sendirian di rumang tamu itu.


"Ah gila, lagian ngapain Gue mau aja diajak liburan sama orang baru nikah. Cuma jadi satpam deh," Damar bermonolog serayamengacak rambutnya, Dia meraih ponsel dan mulai membuka aplikasi game onlinenya.


Lauy segers mengunci pintu kamarnya setelah keduanya masuk. Ada perasaan canggung pada diri Ayesha. Biar bagaimanapun ini akan menjadi pengalaman pertama baginya. Melayani suami memang sudah seharusnya menjadi kewajibannya.


"Sholat dulu ya Sayang?" pertanyaan Laut yang lebih tepat seperti ajakan itu tidak mendapat jawaban dari sang istri.


"Sayang.... "


"Eh iya, tapi kan udah sholat isya."


"Bukan sholat isya, masak Kamu nggak ngerti. Sholat dulu sebelum itu...." Laut sengaja menggantung kalimatnya membuat Ayesha berpikir sejenak dan mulai paham maksud Laut.


Keduanya melaksanakna sholat dua rakaat itu. Ayesha merasakan hawa panas tiba-tiba menyerang tubuhnya. Dia belum pernah segugup ini saat berduaan dengan Laut. Ayesha sering melihat adegan romantis saat menonton drama-drama kesayangannya. Tapi, apa Dia sendiri sudah siap.


Setelah melipat peralatan shokat dirinya dan Laut Ayesha segera beranjak berbaring bersama Laut yang sudah beranjak terlebih dahulu. Hatinya semakin berdesir hebat. Apa tadi kata Lila? Jangan teriak? memang rasanya akan sakit.


"Bang, apa rasanya sakit?" pertanyaan ambigu Ayesha membuat Laut tertawa. Dia tidak menjawab. ditariknya kepala Ayesha untuk berbaring di sampingnya. Laut mulai menyentuh rambut istrinya itu. Menyisirnya dengan jari-jarinya. Aroma vanilla dari rambut istrinya memberikan ketenangan.


"Rambut Kamu wangi banget, sengaja ya?"


"Abang suka? ini shamponya varian vanilla. Aku setiap hari nanti keramas pakai ini kalau Abang suka."

__ADS_1


"Boleh sekarang kan, Sayang?"


Ayesha dengan dada bergemuruh mengangguk terpatah. Dia tidak boleh menolak, meski awalnya merinding mendapat sentuhan lembut dari suaminya Dia berusaha rileks dan detik berikutnya Dia sudah mulai menikmati. Malam itu menjadi malam panjang bagi keduanya. Ayesha benar-benar membungkam mulutnya saat mulai merasa kesakitan. Dia tidak ingin dijadikan bulan-bulanan oleh Lila. Dia bahagia.


__ADS_2