
Zahra kembali bersama suaminya, juga Alisha yang dengan muka bantalnya menggeliat di pangkuan Sang Abi.
"Nah, ini suami saya, Pak." Zahra memperkenalkan Ilham pada Pak Haji seraya mengambil alih menggendong tubuh putrinya.
Saling sapa dan salam terjadi di antara mereka. Meskipun hati Bumi sedikit kecewa yang muncul nyatanya bukan orang yang dia harapkan kehadirannya.
"Saya Ma'sum, dan ini istri saya, Endah. Kami datang untuk memperkenalkan diri sebagai ...." Pak Haji menjeda kalimatnya, memilih kosakata yang tepat untuk menggambarkan posisi putranya.
"Ehm putra saya dan Nak Nadia mungkin sudah saling mengenal, jadi alangkah baiknya jika sebagai orang tua kita juga saling mengenal." Pak Haji seperti kehilangan kata, gugup bukan main ditambah pandangan semua yang ada di ruangan itu tertuju padanya.
"Intinya mungkin ada ketertarikan antara Hafidz dan Nak Nadia, sebagai orang tua saya hanya ingin meluruskan agar apa yang mereka rasakan tidak serta merta menjerumuskan mereka ke dalam hubungan yang salah." Pak Haji kembali diam, sedikit banyak kalimatnya sudah mulai dipahami oleh Ummi dan Ilham.
"Jadi pada intinya Pak Haji ini ingin melamar Nadia?" tebak Ilham, dirinya melihat kebingungan dalam wajah Pak Haji.
"Iya seperti itu, namun anak saya sekarang sedang ada kegiatan di tempatnya bekerja jadi kami hanya ingin memastikan apakah Nak Nadia bersedia menunggu atau sudah memiliki calon yang lain?" Pak Haji melirik Nadia yang sedari tadi menunduk, jari-jarinya meremas gamis yang dipakainya seolah mencari kekuatan di sana.
"Gimana, Nad?" Ilham bantu bertanya.
"Mau dijawab sekarang atau nanti?" bisik Ummi, seperti tahu kegelisahan putrinya.
"Mau dipikirin dulu?" Bumi ikut bertanya, tangannya memeluk bahu Nadia dari samping.
"Bissmillahirahmanirrahiim," gumam Nadia kemudian mengangkat wajahnya, "saya bersedia menunggu."
"Allhamdullillah," serempak semua yang ada di sana mengucap syukur. Terutama Hafidz, dirinya sampai berkali-kali mengusap wajah seraya melirik tipis ke arah Khumairanya.
Setelah dirasa beramah tamah cukup, keluarga Pak Haji pamit pulang saat sore menjelang. Bumi dan Ayas tidak turut serta sebab mereka memutuskan untuk beberapa hari menginap di rumah lamanya.
"Kak, dunia sempit banget, ya?" Nadia dengan binar kebahagiaan berkata sambil mengusap cincin yang tersemat di jari manisnya.
Cincin pemberian Bu Haji, sebagai tanda pengikat dirinya. Senang bukan main saat Bu Haji menyematkan cincin itu di jarinya. Bagai mendapat jawaban setelah sekian senja ia lewatkan tanpa kepastian.
"Aku juga hampir nikah sama dia, qadarullah, segalanya terbuka sebelum semuanya terjadi." Bumi ikut mengusap jemari Nadia.
"Itu artinya masih ada kesempatan buat Kak Akash kembali sama Kakak?" Nadia bertanya dengan wajah penuh harap.
"Aku nggak tahu, nggak mau menerka-nerka. Biar saja Allah yang mengaturnya." Terselip sendu pada kalimat Bumi.
Alisha datang dengan satu cup kecil es krim di tangannya, gadis itu langsung berhamburan ke pangkuan Bumi. Beruntung reflek Bumi bagus, jika tidak bokong kecil Nadia bisa-bisa salah mendarat.
"Onti Buni mau ndak?" satu sendok kecil Alisha layangkan es krim itu ke hadapan wajah Bumi. Meleleh begitu saja mengenai gamis Bumi. Reflek Bumi melahapnya. Rasa strawbery vanilla bersatu di mulutnya.
"Ndak enak, ya, soalnya sedikit," seloroh Bumi seraya hidungnya dia satukan dengan hidung Alisha.
"Aunty Natnat dicuekin nih ceritanya?" Nadia pura-pura merajuk, kepalanya ia sandarkan di bahu Bumi.
__ADS_1
Alisha menghela napas, tangannya menyendokkan secuil es krim yang tinggal tersisa sedikit. Lalu disuapkannya pada Nadia.
"Eem iya nggak enak, sedikit sih," komentar Nadia, merebut cup es krim itu dan menandaskan isinya. Membuat gadis yang sedang berada di pangkuan Bumi itu histeris. Menangis meraung-raung seraya memukul-mukul Nadia.
Nadia kewalahan menerima serangan dari Alisha.
"Lagian kamu jahil banget deh, seneng banget bikin dia marah," omel Bumi.
"Ampun, ampun. Eeh eh Lica, telpon om yuk, minta dibeliin lagi sama om." Nadia membujuk Alisha, dia menggunakan senjatanya dengan menyebut nama om. Sebab anak itu menurut sekali pada omnya.
"Ayok tepon, om tepon!" Benar saja Alisha langsung diam, menunggu Nadia menelpon Akash.
Nadia segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku gamisnya, dicarinya kontak Akash yang dia beri nama Kakak ke dua.
"Mau video call, atau telpon biasa?" tawar Nadia.
"Vidio call...."
Nadia melakukan panggilan video pada Kakakknya. Satu kali dering belum dijawab, dua kali masih sama, sampai tiga kali juga tetap sama.
"Yaah nggak dijawab!" raut kecewa Nadia pasang saat bicara pada Alisha.
"Tepon pate hape onti Buni!" seru Alisha seolah mendapat ide cemerlang. Tangannya langsung meraba-raba Bumi.
"Ayo tepon!"
Ragu-ragu Bumi membuka mode blokir kontak Akash. Tak lama setelah itu, justru ponselnya mendapat panggilan dari Akash. Tak ia jawab, sebab kaget dibuatnya.
Akash sepertinya memutus panggilan. Digantikan dengan pesan bertubi-tubi.
/Kamu udah buka blokirannya?/
/Kamu di mana?/
/Aku di rumah Uti tapi nggak ada siapa-siapa/
Bumi terhenyak membaca pesan-pesan itu. Terselip kesedihan dan rasa bersalah pada dirinya.
Ponselnya kembali berdering, Akash kembali menelpon. Perlahan dia menjawab namun diberikannya pada Alisha.
"Alow Om, Om di manah?"
"Lica? kamu koq, kamu di mana?"
"Lica di lumah jida, ada onti Buni cinih."
__ADS_1
"Om mau bicara sama Aunty Bumi."
Alisha menyerahkan ponsel pada Bumi, belum sempat dia dekatkan ponsel pada telinganya suara Akash sudah kembali terdengar.
"Kamu di sana? tunggu ya, aku pulang sekarang."
Tanpa menunggu jawaban dari Bumi Akash mematikan panggilannya.
"Lica sama Aunty Nadia dulu ya, Aunty mau pip dulu." Bumi beranjak mendudukan gadis kecil itu di pinggir Nadia.
Nadia melihat wajah Bumi yang murung, matanya berkaca-kaca dengan dada yang naik turun mengatur napas. Ingin bertanya namun Bumi sudah berlari meninggalkan tempat itu.
Sedari tadi ternyata interaksi ketiganya tak luput dari pandangan Ummi dan mama. Saat Bumi berlari ke arah belakang Ummi dan mama segera mengikutinya.
Tangan Bumi ditahan oleh Ummi saat hendak membuka pintu kamar mandi. Refleks gadis itu menoleh dengan air mata yang sudah berjatuhan.
"Ummi," lirih Bumi.
"Kita bicara di teras belakang?" tawar Ummi yang diangguki Bumi. Mama ikut serta bersama keduanya.
Bumi sudah sesenggukan di dalam pelukan Ummi, entah untuk apa dia menangis. Hatinya terasa sakit saja saat mendengar suara Akash di telpon tadi. Jarak dari rumah Uti bisa sampai kurang lebih 5 jam. Saat ini sudah lewat isya, jam berapa Akash akan sampai.
"Kamu kenapa?" Ummi mulai bertanya saat Bumi sedikit mengurangi sedu sedannya.
"Kenapa aku gini banget sih? kenapa sih susah banget buat aku sama Kakak bisa bersama?" keluh Bumi, emosi dalam dirinya meluap-luap.
"Aku seperti orang yang memang nggak ditakdirkan bisa sama dia."
"Aku di sini kenapa dia mencari ku ke sana?"
"Kenapa kita bagai dua arah yang berlawanan?"
"Apa itu artinya kita memang nggak bisa bersama?"
"Aku menunggu dia di sini, mencari hingga mataku lelah saat kudapati dia malah mencariku di sana."
Bumi melerai pelukannya, pipinya sudah banjir air mata kanan kiri.
"Kak Akash di rumah Uti, aku di sini. Bukannya ini seperti kita memang susah sekali buat bertemu?"
Bumi mengeluarkan segala luapan emosinya. Sakit yang tertahan selama beberapa bulan ini. Tangisan yang ia sembunyikan selama beberapa waktu ini.
(●´з`)♡(●´з`)♡
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana menyesap kopi dalam cawanku. Namun, kenapa sulit sekali bagi kita? padahal hanya tinggal aku berbalik dan kamu berbalik.
__ADS_1