Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
108


__ADS_3

Acara syukuran yang langsung dipimpin Ummi dan dihadiri para jamaah berjalan lancar sesuai rencana. Lagi-lagi Akash mengundang anak yatim, jumlahnya lebih banyak dari acara syukuran pertama.


Nampak hadir di sana Rere dan juga kedua orangtuanya. Anggara dan Yona secara khusus mengucapkan selamat dan juga meminta maaf pada Bumi. "Yang lalu biar saja berlalu, Pak, Bu, Bumi nggak pernah menyalahkan Bapak dan Ibu. Semua yang terjadi adalah kehendak Allah." Seperti itu jawaban Bumi pada Anggara, membuat Akash semakin kagum padanya.


"Selamat ya, Kash, banyak pelajaran yang bisa gue ambil dari kejadian kemaren. Salah satunya gue nggak bisa terus-terusan maksain kemauan gue," curhat Rere, sedih.


"Maksud lo?" selidik Akash, tangannya tak lepas menggenggam tangan istrinya.


"Gue kehilangan jejak Guntur," adunya.


Guntur memang seperti hilang ditelan Bumi, tak diketahui keberadaannya.


"Udah lo cari ke mana aja?" Akash penasaran, bagaimanapun Rere tetap mantan istrinya. Rere berhak bahagia sama sepertinya yang kini bahagia bersama Bumi.


"Gue udah datangi rumahnya yang di Cisarua, tapi nihil." Keluh Rere. Sudah semua tempat ia datangi tak ada satupun yang memberinya petunjuk keberadaan Guntur.


"Udah cari tahu di rumah sakit, Re?" Bumi ikut penasaran, kasihan pada Rere. Dia tahu bagaimana rasanya dijauhkan dari orang yang sangat dicintai.


"Nggak ada yang mau kasih tahu," adu Rere. Pihak rumah sakit hanya mengatakan bahwa Guntur pindah tugas. Tak jelas pindah ke mana.


Bumi dan Akash saling berpandangan, seperti tahu pikiran masing-masing keduanya mengangguk.


"InsyaAllah gue bantu, Re." Janji Akash membuat Rere memiliki harapan baru


"Kamu banyakin do'a aja, Re. Allah pasti kasih jalan." Bumi ikut menyahuti perkataan suaminya.


Rere hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Setelahnya ia dan kedua orangtuanya pamit pulang. Sedikit menaruh harapan pada perkataan Akash, semoga segera dapat bertemu dengan Guntur.


"Kasihan ya, Kak." Bumi mengiba menatap kepergian Rere. "Aku tahu rasanya kayak gimana, hidup tapi rasanya mati. Sakit." Ucapnya mengenang akan dirinya yang juga pernah terluka.


"Aku pastikan mulai saat ini kamu akan selalu bahagia," ujar Akash, bibirnya tak afdol jika tak mendaratkan kecupan di dahi istrinya itu.


"Woy woy woy, penganten baru berasa aja ya dunia milik berdua yang lain cuma tamu!" itulah suara Damar yang datang sendiri sebab Lila sedang bed rest akibat keguguran minggu lalu dengan usia kehamilan baru lima minggu.


"Yang lain cuma numpang lewat," sahut Akash, menimpali candaan Damar.


"Kapan nih pestanya?" tanya Damar, sebelumnya dia sudah menghabiskan sepiring nasi dan lauk pauk dalam porsi besar. Akibatnya tangannya tak henti mengusap perutnya yang begah.


"InsyaAllah dua minggu lagi," ujar Bumi.

__ADS_1


"Oke lah, nanti aja ya gue ngadonya. Lagian kalian nikah kayak tahu bulat yang dijual abang-abang pake mobil bak dah. Dadakan banget." Seloroh Damar dihadiahi kekehan dari Bumi dan Akash.


"Gue pamit, deh. Kasihan bini sendirian di rumah." Ujar Damar menyalami Akas dan Bumi. Setelah menikah Damar dan Lila memutuskan menyicil KPR tak jauh dari kediaman orangtua Lila.


"Makasih, Kak udah dateng, salam buat Kak Lila." Ucap Bumi dan diangguki oleh Damar seraya mengucap salam.


Di halaman belakang, seluruh keluarga sudah berkumpul untuk membicarakan resepsi pernikahan Akash dan Bumi. Setelah memastikan Damar benar-benar pergi, Akash dan Bumi ikut bergabung ke halaman belakang.


"Ini pengantin baru, nempel terus. Bisa cepet nih proses dapat cucu barunya, Kak." Ujar Paman Samosir melirik pada Ummi.


"Aamiin, do'akan saja." Jawab Ummi, do'a yang baik 'kan harus segera diaamiinkan.


"Gimana Kash rasanya tidur ada yang nemenin?" goda saudaranya yang lain.


"Nggak bisa tidur cepet-cepet deh pokoknya," jawab Akash disambut gelak tawa. Hanya pria dewasa yang mengerti perkataannya. Dan mereka semua pria dewasa.


"Kak, kamu parah deh. Aku geli ngedengernya," protes Bumi setengah berbisik.


"Nggak apa, Dek. Kita kan udah nikah," elak Akash, menarik pergelangan tangan istrinya agar ikut duduk di atas karpet yang tergelar di atas rumput gajah itu.


Godaan terus saja bersahutan dilontarkan seluruh keluarga bagi kedua pengantin baru itu. Membuat Bumi hanya bisa mengulum senyum bahkan terkadang memukul Akash saat suaminya malah menanggapi candaan keluarga besarnya.


Terbukti dengan antusiasnya membicarakan masalah resepsi. Semua akan turut menjadi panitia agar resepsi berjalan lancar. Mereka akan mengusung tema outdor dengan seminimalis mungkin dekoran. Rencananya resepsi akan diadakan di halam rumah saja mengingat persiapan yang mepet. Lagipula halaman rumah Ummi sangat luas, apalagi jika disambung sampai halaman belakang.


Bahkan saat kecil Akash dan Laut juga teman-teman yang lain sering bermain sepak bola di halaman rumah. Ummi dan Abi tidak pernah melarangnya. Mungkin sikap lembut keduanya lah yang kini menurun pada Akash, dia sangat lembut memperlakukan istrinya.


Setelah sepakat dengan waktu dan tempat, undanganpun akan dibuat secara digital tanpa dicetak. Hal inipun dikarenakan keterbatasan waktu. Undangan akan dikirim lewat pesan dan sebagian dari mulut ke mulut saja.


"Pernikahan terfenomenal tahun ini, judulnya nikah dadakan." Kelakar salah satu anggota keluarga yang akhirnya membuat suasana kembali riuh. Pengantin menjadi sasaran utama untuk dijadikan bahan candaan. Wajah Bumi sangat merah padam saat Paman Samosir membahas soal sprei, dia ingin menghilang saja saat itu juga.


"Udah dong Paman, kasihan Kak Bumi jangan diledek terus." Protes Nadia yang sedari tadi sibuk berbalas pesan dengan Hafidz. Nadia tak lagi memanggil Abqari, sebab itu hanya nama pena. Meski ada rindu yang kian menggebu, keduanya sepakat hanya menumpahkan lewat pesan tanpa bertemu.


"Iya, kalian ini bikin mantuku salah tingkah saja," Ummi ikut menimpali protesnya Nadia. Meski dalam hati Ummi sangat memuji kesungguhan Akash dalam mencintai istrinya.


Terlihat sedari tadi Akash tak segan mengambilkan Bumi makanan, menyuapinya bahkan tak lepas memandangnya saat Bumi ikut larut dalam pembacaan surah Yasin tadi.


"Kita hanya becanda, Kak. Jangan dimasukkan ke dalam hati ya, Bumi." Ujar Paman Samosir dan diangguki Bumi.


"Huh Paman Samosir emang ahlinya kalau godain orang," cibir Nadia.

__ADS_1


"Selanjutnya kamu yang jadi bahan godaan kami," ledek Paman Samosir.


"Iya, nih bungsunya Ummi kapan nikahnya?" tanya yang lain.


"Denger-denger calonnya guru ngaji ya?" timpal yang lain.


"InsyaAllah empat bulan lagi," sahut Ummi. "Benarkan, Dek?"


Belum sempat Nadia menjawab, Akash sudah memangkas terlebih dahulu. "Apa-apaan, nggak ada. Siapa yang menentukan, Mi? Nadia masih kuliah."


Bumi mulai panik, suaminya jika sudah bertindak tidak bisa dibantah. Ingat 'kan, Akash hanya batu yang diberi nyawa.


"Dek, selesaikan dulu kuliahmu. Susah jika sudah menikah sambil kuliah," Akash menasihati Nadia. Nadia sudah menangis saja di tempat duduknya.


"Kak, jangan terlalu keras bicaranya. Nadia ketakutan tuh," protes Bumi setengah berbisik.


"Aku duluan ke kamar, Semuanya saya permisi duluan." Ujar Akash, sempat melirik dengan ujung mata ke arah Nadia yang sedang menunduk.


"Tenang ya, Dek. Nanti aku bantu ngomong ke dia." Hibur Bumi dan diangguki Nadia. Setelahnya Bumi pun beranjak setelah pamit kepada seluruh anggota keluarga.


Didapati Bumi Akash sedang berada di balkon depan kamarnya. Bumi tahu sikap Akash begitu karena peduli dan sayang pada Nadia.


"Kak....," panggil Bumi.


"Aku sayang sama Nadia, aku ingin yang terbaik buat dia." Ujar Akash, Bumi memutuskan untuk mendengarkan saja. "Dia bahkan nggak bisa masak mi instan, dia juga nggak bisa tidur tanpa AC, dia nggak akan bisa menyalakan kompor."


"Aku hanya memintanya mengulur waktu hingga dirinya lulus," ucap Akash.


"Nanti dibicarakan baik-baik ya," bujuk Bumi melingkarkan tangannya ke pinggang Akash. "Minta maaf juga sama Ummi dan Nadia."


"Iya, Sayang." Ucap Akash yang membuat hati Bumi mencelos, hangat. "Makasih, Kamu udah ingetin aku." Imbuh Akash seraya balas memeluk pinggang istrinya.


*******


Like dan komen, Kak.


Bikin sedikit konflik buat Nadia dan Hafidz ya.


Guntur dan Rere bagaimana akhirnya?

__ADS_1


__ADS_2