Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
106


__ADS_3

Kakak, boleh ikutan masuk grup baca yuk! Aku tunggu ya kak,


********


Bumi mengerjapkan mata saat sesuatu yang hangat terasa menghujani wajahnya. Kepalanya masih terasa berat, alhasil mata itu kembali memilih terpejam.


"Kok tidur lagi sih?" gerutu Akash. Dia berkali-kali menghujani wajah istrinya dengan kecupan, namun tetap saja wanita yang masih mengenakan mukena itu tertidur.


"Bangun dong," Akash kali ini mengusap-usap pucuk kepala istrinya. "Dek, bangun," tangannya jahil mencubit gemas pipi itu. "Astagfirullah, segitu capeknya kamu?" Akash semakin gemas dan terus saja bermonolog.


Ketukan di pintu membuatnya terpaksa beranjak dari tempat tidur. Laut dan Ayesha pelakunya. Keduanya sudah nampak rapi mengenakan pakaian pergi.


"Bumi masih tidur?" tebak Laut dan dihadiahi anggukan oleh Akash. "Lo ngapain adek gue sih sampe jadi kayak gitu?" todong Laut tanpa permisi masuk begitu saja dan langsung duduk di tepi ranjang.


"Dek, bangun." Laut mengguncang bahu Bumi.


"Pelan-pelan bege," Akash memperingati. "Gue aja nggak berani kayak gitu," imbuhnya segera menepis tangan Lauy yang akan kembali mengguncang bahu Bumi.


"Lebay banget. lo." Sungut Laut.


"Abang. emangnya kamu nggak lebay juga?" sindir Ayesha, ikut duduk di sampingnya.


Mendengar suara-suara yang menggangu, Bumi perlahan membuka mata. Sosok Akash sedang tersenyum yang pertama ia lihat.


"Kak, aku kira semalam mimpi." Rengeknya langsung bergelayut di lengan suaminya. Akash menghadiahi elusan di pucuk kepalanya.


"Eh Bumi, kamu tahu nggak ini jam berapa?" Laut bertanya seraya memukul bahu Bumi. pelan.


"Masih shubuh ya?" Bumi bertanya seraya mendongakan kepala, meminta jawaban pada kiblat cintanya.


"Udah siang, Dek. Hampir dhuhur," jelas Akash, hidupnya kini tak lengkap jika tak mengecup wajah istrinya.


"Astagfirullah," pekiknya seraya memegangi kepala.

__ADS_1


"Kenapa, dek?" panik Akash, langsung menangkup kedua pipinya.


Laut dan Ayesha hanya saling pandang melihat interaksi keduanya. Mereka juga pernah jadi pengantin baru, namun tak selebay itu. Perhatian Akash pada Bumi benar-benar berlebihan, begitu pikir mereka.


"Aku pusing," keluh Bumi seraya meringis.


"Kok bisa? maaf ya, pasti gara-gara semalam?" tebak Akash, tangannya beralih memberikan pijatan halus di kepala Bumi.


"Eh lo ngapain adek gue sampai dia sakit gitu?" todong Laut. tangannya serta-merta mendorong kepala belakang Akash. "Dek, kamu diapain sama dia?" Bumi tak luput mendapat todongan.


"Di apa-apain banget, Kak." Beritahu Bumi seraya melirik nakal Akash, matanya mengrling. Dibalas Akash dengan melakukan hal yang sama.


"Ampun. gue juga pernah jadi pengantin baru tapi nggak gini-gini amat dah." Pekik Laut memutar bola mata jengah.


"Kalian lebih lebay dari kita, deh." Ayesha ikut berkomentar seraya mengusap perutnya yang mulai buncit. Sudah menginjak 4 bulan lebih usia kandungannya.


"Udahlah, nggak bener kalau ngomong sama orang yang lagi mabuk cinta," gerutu Laut. "Kita berangkat aja. harusnya nggak usah pamit juga." Seraya menarik pergelangan tangan Ayesha dan pergi.


"Kamu pusing kenapa?" Akash masih khawatir.


"Lapar, tahu!" sahut Bumi seraya membuka mukenanya. Rambutnya berantakan dan lepek. Perpaduan antara belum disisir dan setengah basah.


Akash tersenyum sekilas melihat bekas kelakuannya masih terlihat merah di leher istrinya. Jika tak kasihan melihat istrinya yang sudah lapar, dia ingin mengulanginya lagi.


Bumi beranjak turun dari tempat tidur seraya meloloskan rok mukena dan berjalan ke arah keranjang pakaian kotor. Dirinya keheranan saat mendapati sprei sudah tak ada lagi di keranjang.


"Kak, lihat sprei nggak?" tanyanya tanpa menoleh ke arah Akash. Tidak tahu saja Bumi, bahkan spreinya sekarang sudah kembali kering akibat cuaca yang terik hari ini.


"Sudah kucuci, sudah kering juga." Jawab Akash, berjalan ke arah istrinya dan memeluknya dari belakang. "Kamu tidurnya kelamaan," bisik Akash, membuat Bumi memukul lengannya. "Sampai tertinggal waktu dhuha," masih bisikkan dan kali ini dihadiahi cubitan di tangan yang melingkar pada perutnya.


"Kakak tuh mesum banget sih," gerutunya, berusaha melepaskan diri namun pelukkan Akash semakin kencang. "Lepasin, Kak. Aku nantu mati kelaparan," masih berusaha melepaskan tangan Akash.


Hanya kekehan yang Akash berikan, namun tak tega juga dengan istrinya yang terus meronta.

__ADS_1


"Sekarang dilepasin, habis makan dilanjut ya." Bisiknya seraya dengan cepat mencium pipi Bumi dari samping.


Bumi hanya menggeleng, memijat pelipis lalu segera mengambil hijab instan di balik pintu. Setelahnya keluar tak lupa diekori Akash yang langsung memeluk lehernya.


"Kak, jalan sendiri-sendiri aja deh." protes Bumi merasa kesusahan berjalan dengan leher yang dipeluk suaminya.


"Kita sudah terlalu lama berjalan sendiri-sendiri, hasilnya saling menyakiti. Sekarang, kita harus selalu sedekat ini. Jangan menjauh walau hanya satu senti," bisik Akash, kegiatan terbaru yang menyenangkannya adalah berbisik di telinga Bumi dan istrinya itu akan tampak salah tingkah dengan muka merah.


Bumi tak ingin lagi bicara, percuma saja Akash hanya akan melakukan apa yang jadi keinginannya. Daripada lelah melawannya, lebih baik diterima saja. Seperti semalam, 'kan? Ingatlah, Akash hanya batu yang diberi nyawa.


*****


Sore hari keduanya sudah rapi karena akan menghadiri acara pengajian empat bulanan Ayesha. Keduanya baru mengetahui saat makan siang tadi setelah menemukan secarik note di pintu kulkas.


Sang Mama sudah berangkat bersama Laut dan Ayesha tadi siang. Tinggalah mereka berdua yang tertinggal.


"Kak, cepet ih." Teriak Bumi dari samping motor saat Akash masih sibuk menalikan sneakernya di teras rumah.


"Sabar, dong. Marah-marah terus nih," goda Akash menjawil jahil cuping hidung Bumi dan dihadiahi dengusan oleh Bumi.


Bagaimana Bumi tidak kesal, Akash terus saja mengulur-ulur waktu saat hendak bersiap-siap. Minta dipotongkan kuku, dibuatkan teh manis gula batu, dipijati kepala seperti semalam.


Sesampainua di rumah orangtua Ayesha, pengajian sedang berlangsung. Keduanya masuk lewat pintu belakang dan langsung dihadiahi omelan dari Laut.


Oran tua Ayesha menyambut kedua pengantin baru itu dengan ramah. Memberikan selamat dan mengucap do'a yang diaminkan oleh keduanya.


Bumi turut hanyut dalam bacaan surah Yasin, dirinya khidmat melafalkan ayat demi ayat. Akash memperhatikannya dengan tatapan penuh cinta. Tak sedetikpun Bumi luput dari pandangannya.


*Ya Rabb, kini hamba tahu mengapa begitu banyak rintangan untuk kami bersama? Sebab Engkau persiapkan begitu indah sosok yang kini menjadi istriku. Kumohonkan ampunan untuknya atas segala lalainya selama ini. Jadikanlah dia istri sholehah. Ridhai hamba yang mencintainya. Semoga cinta ini menjadikan ibadah yang Engkau terima.


(●´з`)♡(●´з`)♡*


Akashnya lebay banget ya, Kak. Like, komen dan vote. makasih

__ADS_1


__ADS_2