
Esoknya ba'da ashar ke lima gadis yang mana bernama, Celin, Andrea, Aisya, Maula, dan Jamil datang kembali. Bumi tentu menyambutnya dengan antusias.
Bahkan beberapa saat setelah kedatangan Celin dan kawan-kawan. Menyusul pula beberapa gadis sebaya mereka. Memakai gamis dan hijab yang menutupi dada hingga perut. Bumi dibuat takjub dengan tamunya sore itu.
Lina sampai berkali-kali mengucap hamdallah sebab pesanan kembali banyak setelah dua hari kemarin kafe begitu sepi.
"Teh Lina lihat kan? rezeki tidak tertukar teh." Ujar Bumi menghampiri Lina yang sedang sibuk memberi arahan pada pegawai lain.
"Aku ke bawah dulu ya, Teh." Bumi hendak menemui suaminya yang sedang duduk di ruang tengah.
Akash nampak sibuk dengan laptopnya tak menghiraukan kedatangan Bumi yang duduk disampingnya dan bergelayut di lengannya.
"Kak, lihat ke atas yuk. Aku punya kejutan buat Kakak." Ajak Bumi seraya menarik-narik lengan suaminya. Macam anak kecil minta dibelikan mainan.
"Lihat apa sih? lihat kafe yang sepi?" sindir Akash tanpa menoleh ke arah istrinya.
Bumi tak menyerah dia segera menyentuhkan wajahnya ke wajah suaminya. Di luar dugaan, Akash diam saja tak merespon. Membuat Bumi jadi merasa malu sendiri.
"Ya udah, deh. Ayo, dek kita ke atas lagi ya. Ayahnya lagi cibuk." Bumi bicara seperti anak kecil, seraya mengelus perutnya. Kembali membawa langkahnya ke luar rumah kemudian sampai di kafe yang semakin ramai.
Terlihat Celin melambaikan tangan pada Bumi. Bumi menunjuk dirinya sendiri memastikan bahwa yang dipanggil adalah dirinya. Celin nampak mengangguk dan kembali melambaikan tangannya.
Bumi berjalan menuju kursi yang Celin duduki bersama empat temannya yang lain.
"Ada apa?" tanya Bumi begitu sampai di hadapan Celin.
"Di bawah ada tempat yang bisa digelar pakai karpet nggak Kak?"
"Ada, bisa kok. Ada gazebo juga."
"Boleh pindah ke sana nggak, Kak?"
"Boleh, dong."
"Iya, soalnya kita ini pengen duduknya tuh deketan biar ngobrolnya santai."
"Ya udah langsung aja, ayok turun. Nanti biar aku kasih tahu pesanan kalian dibawa ke bawah."
Celin segera mengomando teman-temannya agar bisa pindah tempat. Di bawah ada gazebo luas yang sebenarnya hanya untuk keluarga. Namun, hari itu Bumi membuat pengecualian.
Akash sedikit kaget melihat banyak sekali orang yang memenuhi gazebonya. Dia langsung bertanya pada Bumi yang kebetulanberjalan melintasinya.
"Dek, mereka siapa?"
"Tamu kafe dong, banyak kan?"
"Tapi kenapa bisa sebanyak itu?"
"Mungkin rezeki dedek dari Allah, dedeknya gak mau makan rezeki haram dari orang yang suka berbuat mesum di kafe kita." Ucap Bumi seraya berlalu ke kamar. Akash mengekori langkahnya.
"Sayang, aku minta maaf." Akash segera menarik tangan Bumi yang sedang memasukkan pakaian ke dalam lemari.
__ADS_1
"Maaf, kemarin udah marah dan meragukanmu."
"Udah ah, sana pergi. Akunya sekarang yang kesal. Kamu pergi-pergi terus nggak bilang mau ke mana." Keluh Bumi. Kegiatannya terhenti sebab Akash menggenggam kedua tangannya dan menciumi punggung tangan itu.
"Maaf, Sayang. Aku salah, aku yang nggak percaya sama kamu. Harusnya aku dukung kamu." Sesal Akash seraya menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkan.
"Aku sakit hati kemarin dicuekin."
"Aku nggak suka digituin."
"Kaka jahat sama aku, sama dedek."
Dalam pelukkan itu berkali-kali Bumi meronta minta dilepaskan. Dia masih saja merasa kesal dengan kelakuan suaminya.
"Iya, aku jahat. Aku minta maaf."
Akash tak melepaskan pelukkannya.
"Aku nggak sayang sama Kakak, kita berdua nggak sayang Ayah."
"Iya, nggak apa-apa. Biar Ayah saja yang sayang sama Dedek dan Bunda."
Bumi terus merajuk sementara Akash terus membujuknya. Merayunya dengan berbagai cara agar istrinya itu dapat kembali tertawa.
***
Hari-hari berlalu, kafe kembali ramai. Bukan hanya remaja putri saja yang sering melakukan pertemuan. Ternyata remaja lelakipun banyak yang datang.
Tentu saja Bumi tak menceritakan perihal Akash yang pernah menikah sebelumnua. Dia tak mau para gadis itu larut dengan kesedihannya.
Kafe kembali ramai didatangi pengunjung. Komunitas yang dibangun Celin dan kawan-kawannya juga semakin bertambah anggotanya. Mereka hampir setiap hari berkunjung dengan orang yang berbeda-beda.
Sore itu Bumi duduk menonton acara berita di tv Bersama Akash yang berbaring dalam pangkuannya.
"Dedek lagi apa di dalam?" Akash menghadapkan wajahnya ke perut buncit istrinya. Sekarang janin dalam kandungannya itu sudah aktif merespon. Jika disentuh maka akan menendang.
Akash lebih sering melantunkan ayat suci Al-qur'an seraya mengusap perut istrinya. Sebagai respon sang jabang bayi akan bergerak, menendang. Membuat perut sang Bunda bergetar seperti jelly.
"Kalau Dedek nendang sakit nggak, Sayang?" tanpa memalingkan wajah dari perut buncit itu Akash bertanya pada istrinya.
"Enggak dong, cuma rasanya seperti ketarik gitu. Geli gitu, Kak." Tutur Bumi seraya membelai lembut rambut suaminya.
"Lucu ya anak Kak Zha sama Kak Ayesha bisa barengan gitu lahirnya. Kamu kemaren sempet nengokin ke sana Ngga?"
Ayesha dan Zahra melahirkan di hari yang sama hanya berbeda jam saja. Zahra dan Ayesha sama-sama melahirkan anak laki-laki satu bulan yang lalu.
"Aku nggak sempat, cuma ke restoran doang." Ungkap Akash seraya menciumi perut buncit itu.
"Kamu nggak mau belanja kebutuhan Dedek?"
"Nanti aja kalau sudah lewat tujuh bulan, pamali kata Mama. Dedek masih enam bulan, Kak." Bumi mengganti chanel televisi namun tak ada yang menarik perhatiannya. Hingga akhirnya ia memilih mematikan televisinya.
__ADS_1
Dari luar sayup-sayup terdengar suara Lina memanggil nama keduanya. Bumi beranjak untuk mendekati arah suara. Lina datang bersama seorang gadis belia yang tempo hari pernah Bumi tegur karena akan berbuat mesum bersama kekasihnya.
"Loh, kamu ngapain ke sini?"
Bumi menatap Lina dan meminta jawaban mengapa gadis itu datang ke rumahnya. Lina menggeleng seraya menggedigan bahunya.
"Suruh duduk dulu, biar ngobrolnyqa enak." Tutur Akash mengingatkan istrinya.
Bumi mengajak gadis itu untuk duduk di ruang tamu.
"Ada apa datang kemari?"
"Aku mau minta maaf atas perbuatan aku tempo hari, Kak" Ungkap gadis itu.
"Minta maaf sama Allah aja, Dek." Jawab Bumi. meski masih kesal dengan kelakuannya.
"Aku juga mau bilang terima kasih karena Kakak sudah menegur kami waktu itu." Tutur gadis itu seraya terisak.
"Eeh kenapa malah nangis?" Bumi panik, sementara Akash menyodorkan tisu pada gadis itu untuk mengusap air matanya.
"Dia ternyata pacarnya banyak, Kak. Malah ada yang sedang hamil." Pekik gadis itu, seraya kembali menangis.
Bumi dan Akash saling berpandangan. Keduanya kaget mendengar penuturan gadis itu.
"Aku rasanya perlu berterimakasih karena kalau hari itu kakak nggak negur kami, bisa jadi aku yang jadi sasaran dia."
Bumi iba mendengar keluh kesah gadis itu. Tapi lega juga karena perbuatannya, gadis itu dapat lepas dari jerat pacarnya yang memang playboy itu.
"Alhamdullillah kalau kamu bisa terhindar. Kamu lebih baik memperbaiki diri hingga nanti bertemu dengan lelaki baik." Hibur Bumi membuat gadis itu menubrukkan badannya ke pelukkan Bumi.
Sontak Akash panik, dia takut anaknya kenapa-napa.
"Eeh jangan terlalu kencang, istri saya lagi hamil."
Gadis itu melerai pelukkannya, dan langsung meminta maaf. Seraya kembali duduk. Mengusap kembali air matanya.
"Nama kamu siapa?"
"Nazhia, Kak."
"Nazhia, kamu ikutan aja komunitas anti pacaran yang ketuanya bernama Celin. Mereka sering kemari. Kalau nngak salah dia sekolahnya di MAN dua deh.' Beritahu Bumi pada Nazhia.
"Ooh Celin, iya Kak komunitas mereka memang lagi ramai diobrolin."
"Kamu kalau mau gabung, bisa ke sini lagi besok ba'da ashar."
"Ya udah, Kak. Aku pamit dulu. Makasih ya, Kak."
Nazhia undur diri dan kembali memeluk Bumi dengan erat sebelum benar-benar pergi.
"Sayang, aku jadi menyesal karena sempat kesal sama kamu. Ternyata kamu udah berhasil mencegah Nazhia dinodai oleh pacarnya sendiri."
__ADS_1
"Yang menolong Nazhia itu Allah, aku hanya perantara."