Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
76


__ADS_3

Kakak reader sayang makasih buat yang udah like dan komen meski beberapa itu buat saya berarti banget. lope lope sekebon stoberi pokoknya. Saling sapa di ig yu, follow anisa_harir. Jangan lupa like, komen dan vote bila berkenan.


******


Seminggu yang disepakati Bumi dengan sengajanya dia ubah menjadi tiga hari. Tiga hari waktu mereka bersama menghabiskan hari mengukir kenangan. Mau gagal atau tidak pernikahan itu, bagi Bumi tetap saja sama. Dirinya akan sulit bersanding dengan Akash.


"Kan tadi janjinya seminggu," protes Akash.


"Tiga hari atau nggak jadi sekalian." Jawab Bumi yang sedang menalikan sneaker putihnya.


"Iya, tiga hari. Deal!" Akas mengulurkan tangannya.


"Apaan sih, dilarang bersentuhan!" seru Bumi menolak uluran tangan Akash.


Keduanya beranjak, petualangan di mulai. Bumi menyampirkan tas ransel berisi mukena dan juga jilbab ganti.


Akash menyerahkan helm yang biasa dipakai Bumi, namun Bumi menolaknya.


"Kita nain angkutan umum aja,"


"Apa? naik angkutan umum?" Akash kaget.


"Iya, sekarang kita naik angkot ke stasiun Palmerah." Ucap Bumi, matanya menatap layar ponsel membaca sesuatu. Kemudian katanya lagi, "dari Palmerah kita ke Tanah Abang transit," Bumi menjeda kalimatnya. "Lalu naik lagi jurusan Bogor. Sampai deh,"


"Apa-apaan, nggak bisa." Tolak Akash.


"Kalau ada yang praktis kenapa harus ribet gitu sih?"


"Ya udah kalau keberatan, mending gak usah jalan-jalannya." Ancam Bumi, kembali membalikan badan dan mulai melangkah.


"Eeh tunggu dulu!" seru Akash seraya menarik hijab bagian belakangnya.


"Iya, kita naik angkot. Puas?!"


Bumi bertepuk tangan riang. Bukan tanpa alasan dirinya melakukan itu. Hanya saja dirinya takut jika hanya pergi berduaan saja akan banyak menimbulkan fitnah. Ummi selalu bilang, perempuan dan laki-laki tidak baik jika hanya pergi berduaan.


"Ayok jalan duluan!" titah Bumi.


"Ladies first, please."


"Gak mau, nanti punggung Aku diliatin. Kan aurat," ucap Bumi tak mau bergerak jalan rerlebih dahulu.


"Ok, ribet banget!".


Akash mulai berjalan, menapaki paving blok perumahan sederhana itu. Bumi mulai mengikutinya dari belakang, tentu dengan jarak.


Akash sesekali menengok, memastikan Bumi berjalan di belakangnya. Bumi pura-pura tidak melihat tiap Akash menoleh ke arahnya. Akash menggeleng melihat tingkah gadis itu.


Setelah mendapatkan angkot keduanya langsung masuk. Tentu saja dengan Akash yang naik terlebih dalu. Akash duduk di sebelah wanita hamil tua dan di sebelahnya lagi bapa-bapak yang sedang terlelap.

__ADS_1


Bumi sendiri memilih duduk terpisah dari Akash, bibirnya menahan tawa melihat Akash yang terlihat risih naik angkot.


Sekitar kurang lebih 15 menit mereka sampai di stasiun palmerah. Keduanya segera turun. Menyebrangi jalan, melewati beberapa pedagang dan tibalah pada jembatan penyebrangan menuju stasiun.


"Dek, aku pusing nih." Keluh Akash memegangi keningnya.


"Payah nih, gimana nanti naik keretanya?"


"Duduk bentar deh," pinta Akash segera duduk pada salah satu anak tangga yang sedang mereka tapaki.


"Pakai minyak angin nih," Bumi menyodorkan minyak angin roll on dengan aroma lotus pada Akash.


"Nggak mau, gak biasa pakai begituan." Tolak Akash.


Bumi mendengus sebal, niat hati ingin berpetualang menaiki commuter line malah harus repot dengan drama Akash.


"Tunggu bentar," ucap Bumi seraya beranjak menuju tukang kopi.


Bumi memesan teh panas setelah sebelumnya menyerahkan gelas tapelwel pada sang penjual. Akash tidak akan mau minum dengan gelas plastik biasa. Setelah menyerahkan uang lima ribu dan diberi delapan buah permen kopi sebagai kembalian, Bumi segera berlalu dari hadapan tukang kopi itu.


Saat kembali Akash sedang berdiri, memijat-mijat keningnya. Dengan sesekali meringis.


"Minum dulu nih," Bumi menyodorkan tapelwel berisi teh panas dan langasung disesap Akash.


Kepulan uap sedikit memberikan rasa rilek pada tubuhnya. Sekali lagi menyesap dan pusing itu berangsur hilang.


"Maaf, mbak, mas, jangan berdiri di sini. Mengganggu pejalan lainnya." Tegur salah seorang petugas yang memakai seragan berwarna navy.


"Iya, silahkan Mbak." Ucap petugas itu tersebut penuh hormat.


Akash masih menyesap tehnya saat Bumi menyuruhnya berjalan terlebih dahulu. Setelah Akash menaiki tiga anak tangga, barulah Bumi menyusul langkahnya.


Tak lama keduanya sampai di loket karcis, karena belum pernah melakukan perjalanan menggunakan kereta listrik Bumi memutuskan bertanya pada petugas itu.


"Beli tiketnya yang multi trip saja mbak," saran petugas loket memperlihatkan kartu berwarna hitam dengan garis-garis kecil berwarna kuning dan merah.


"Harganya 30.000, sudah ada saldo 10.000 di dalamnya." Sang petugas memperjelas spesifikasi kartu bernama multi trip tersebut.


"Bisa diisi ulang tanpa takut kadaluarsa, mbak." Tambah sang petugas, berharap Bumi mwngiyakan.


"Ok mbak, aku ambil dua ya." Ucap Bumi seraya mengeluarkan uang pas dari dalam dompetnya.


Sementara itu Akash berdiri tak jauh dari loket, teh panasnya sudah tandas. Badannya sudah merasa lebih baik.


"Ayok jalan, udah beli nih tiketnya." Bumi menyerahkan satu Kartu Multi Trip dan langsung diterima Akash.


"Sana duluan!" Titah Bumi saat Akash masih tak beranjak.


Akash tak membantah, setelah menyerahkan tapelwel kosong pada Bumi dirinya berjalan menuju Gate Tap In, karena ini untuk pertama kalinya mereka menggunakan Kereta Rel Listrik tersebut, keduanya nampak kebingungan.

__ADS_1


Beruntung petugas dengan sigap membantu keduanya untuk mentap kartu pada mesin dan dengan mudahnya dapat melewati Gate tap in tersebut.


"Ribet, dek." keluh Akash.


"Kamu ngeluh terus dari tadi," protes Bumi. "Kalau nggak suka silahkan pulang lagi."


"Kamu judes banget sih, ikhlas nggak ngajak aku jalan?" tuding Akash.


"Yang mau ikut kan kamu, aku nggak maksa ngajak." Bumi berkilah.


"Lagian kenapa mesti naik Kereta?"


"Meminimalisir waktu berdua-duaan," jawab Bumi penuh penekanan.


"Kan emang itu tujuannya,"


"Inget dosa Kak, kita sebenarnya dari awal udah salah karena terlalu sering jalan berdua." Suara Bumi melemah.


"Kamu makin bikin aku jatuh cinta dek," ucap Akash. "Kamu kalau jadi istri bentukannya pasti sholehah banget," pujinya pada Bumi.


"Apaan sih, nggak jelas." Bumi memutar bola matanya.


"Kamu dalam waktu sekejap berubahnya bisa drastis gini,"


"Takut aja di saat meninggal masih berada di kubangan dosa," ucap Bumi. "Makanya harus gerak cepat, Sang Pemilik kehidupan nggak ngasih tahu kapan usia kita akan tiba pada ajal bukan?"


"Belajar dari mana sih?"


"Dari banyak sumber lah, salah satunya dari Ummi." Jawab Bumi, bibirnya mengulas senyum saat menyebut nama Ummi.


"Mau belajar bersamaku?"


"Ilmu nggak dapet dosa aja nambah kalau belajar sama kamu," tolak Bumi.


"Ya Allah, Dek segitunya sama aku."


"Kita sekarang aja sedang mengukir dosa loh, kak."


"Ya udah, kita balik aja. Aku nggak mau jadi penghalang kamu buat berproses."


"Serius balik?" tanya Bumi meyakinkan keputusan Akash.


"Iya, maaf ya. Aku terlalu egois tanpa mikirin apa yang sedang kamu perjuangkan." Ucap Akash penuh penyesalan.


"Kak, kita akhiri hari ini ya?!"


.


.

__ADS_1


Komen like dan vote kak.


Jangan dihujat please, Akash dan Bumi harus banyak berjuang demi bisa bersatu menjadi kekasih halal.


__ADS_2