Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
46


__ADS_3

Bumi menepuk-nepuk sendiri jidatnya merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa Dia merasa cemburu melihat kebersamaan Akash dan Rere siang tadi. Akash terlihat cuek terhadap dirinya. Membiarkan Bumi mengmabil sendiri charger ponselnya sementara Akash pergi dengan Rere tanpa memeberitahu kemana mereka akan pergi.


"I'm stupid," gumamnya bersamaan dengan kedatangan Ayesha.


"Ayok, Dek. Laut udah nunggu di depan!"


Bumi hanya mengangguk dan beranjak berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit. Demi menjaga perasaan Bumi atau memang Ayesha berhati baik, Dia memilih duduk di belakang bersama Bumi.


"Aku berasa jadi supir nih kalau kayak gini." sindir Laut melirik kedua wanita yang duduk di kursi belakang lewat spion. Ayesha dan Bumi hanya saling berpandangan dan saling melempar pandang.


"Kamu kenapa deh Bumi, diem terus?" tanya Akash kembali melirik Bumi.


Ayesha lewat pandangan matanya juga seolah bertanya hal yang sama pada Bumi. Bumi jadi blingsatan ditodong pertanyaan seperti itu.


"Kenapa sih? Akash?" tebak Laut yang diangguki Bumi.


"Udahlah Dek, dari awal kan Kakak udah larang."


"Aku cemburu lihat Dia tadi siang jalan sama Rere."


"Nggak ada hak buat Kamu cemburu. Mereka calon suami istri." Laut sedikit meninggikan suaranya.


"Bang, nggak usah gitu bicaranya. Kamu malah memperkeruh suasana kalau kayak gitu caranya." Ayesha mengingatkan Laut yang mulai emosi. Bumi tak lagi bicara. Dia lebih memilih memalingkan pandangan ke luar melihat kelap-kelip lampu kendaraan. Suasana malam yang ramai. Aroma dari jajanan yang biasanya selalu ingin Bumi cicipi mendadak tidak menarik lagi. Isi pikirannya berputar pada pertanyaan kemana perginya Akash dan Rere tadi siang.


Mobil berhenti di lampu merah. Sedang pilu memikirkan Akash, tiba-tiba matanya menangkap sosok Akash yang sedang membonceng Rere. Keduanya terlihat akrab. Rere yang duduk di belakang melingkarkan tangannya di pinggang Akash seraya sedikit mendekatkan wajahnya ke depan. Mereka berdua terlihat mengobrol dan tertawa bersama. Secepat itukah Akash melupakan Bumi. Tak ada yang sadar dengan keberadaan Rere dan Akash. Ayesha tertidur sementara Laut fokus menatap lurus ke depan.


Bumi ingin marah, ingin rasanya saat itu juga turun dan menghampiri Akash. Tapi, benar kata Laut. Mereka berdua calon suami istri dan memang seharusnya dekat seperti itu.


Lalu lintas kembali berjalan. Akash segera tancap gas meninggalkan mobil yang Bumi tumpangi tertinggal di belakang. Bumi kira air mata yang mengering tidak akan kembali jatuh. Tapi, bola-bola kristal itu kembali bergulir membanjiri pipinya. Bumi sengaja menggigit bibirnya agar suara tangisnya tak pecah.


berkali-kali Dia menepuk dadanya yang sesak. Mobil semakin melaju cepat setelah jalanan memasuki arah komplek perumahan mulai lengang. Tanpa bicara apa-apa Bumi segera keluar dari mobil dan berlari meninggalkan Laut.


Laut memandang sedih punggung Bumi, Dia sengaja tak segera menyusul saat Bumi berkali-kali kesusahan membuka kunci pintu. Dia tahu adiknya sedang tidak baik-baik saja. Namun, Bumi biasanya bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Laut turun dari balik kemudi. Melihat istrinya yang lelap sekali tertidur akhirnya Dia memutuskan untuk menggendongnya saja.

__ADS_1


Karena tidak kuat menggendongnya sampai atas, Laut memutuskan membawa Ayesha ke dalam kamar Ayas yang kini kosong. Sudah sejak dhuhur tadi Ayas sampai ke kampung. Lewat sambungan telepon Laut mengetahui kabar itu.


Laut mengusap pipi istrinya yang tirus itu. Perlahan Dia membuka peniti pada hijab istrinya dan dengan sangat hati-hati melepaskannya dari kepala Ayesha. Merasa ada pergerakan, Ayesha mengerjapkan matanya. Dia tersenyum saat membuka mata dilihatnya wajah Laut yang juga sedang tersenyum.


"Aduh Aku ketiduran ya?" tanyanya seraya duduk lalu melepas inner dan mengurai rambut panjangnya. Sedikit pening Dia rasakan di kepalanya.


"Udah makan belum?"


"Udah tadi sama Bumi," jawab Ayesha seraya mengusap pipi suaminya dan katanya lagi, "Bang, Kamu jangan terlalu keras gitu sama Bumi. Kasihan, Dia baru aja ditinggal Mama."


"Aku cuma nggak mau Dia terus larut dengan perasaannya. Akash dan Rere sebentar lagi menikah. Itu kenyataan yang harus Dia hadapi."


"Iya, tapi Kamu bicaranya jangan terlalu keras. Biar nanti Aku yang bicara."


"Atau kalau Kita carikan Bumi pacar gimana?" tanya Akash memberi saran.


"Itu ide buruk sih, udah biarin aja Bumi menyembuhkan lukanya sendiri. Kita nggak usah segitunya juga, nanti Bumi tersinggung."


Laut tidak menjawab, Dia meraih dagu lancip instrinya. Mendaratkan ciuman di bibir tipis itu. Ayesha sudah mulai terbiasa dengan gerakan tiba-tiba suaminya itu. Dia sudah mulai bisa membalasnya.


"Kenapa malah dicubit sih?"


"Bawel, kan Aku bilang tujuh hari. ini baru juga empat hari." Ayesha menyapukan telapak tangannya ke wajah Laut.


"Iya, ya udah sana bersih-bersih. Badan kamu bau obat,"


"Tadi aja dicium, diendus-endus." Sindir Ayesha seraya berdiri hendak ke kamar mandi. Namun, saat menyadari sesuatu langkahnya kembali berbalik.


"Ini kan kamar Mama, Aku koq baru ngeh ya?"


Laut hanya tertawa dan segera berdiri. Merangkul bahu istrinya.


"Nggak kuat angkat sampai atas jadinya Aku bawa aja ke kamar Mama."

__ADS_1


"Iiih Kamu mau ngatain Aku berat?"


"Aku nggak bilang gitu lho?"


"Aah udah ah, Abang nyebelin." Ayesha segera pergi setelah menyambar hijab dan innernya di kasur. Laut segera mengekorinya dari belakang sambil sesekali dengan sengaja menarik-narik rambut istrinya agar menoleh. Alih-alih menoleh Ayesha malah semakin mempercepat langkahnya. Saat tiba di depan pintu kamar Laut segera menghadangnya.


"Iih Abang tuh jahil, cepetan Aku mau mandi nanti keburu malem."


"Cium dulu dong, baru dibuka."


"Iih nggak mau, tadi kan udah."


"Ya udah nggak mau bukain." Laut menepuk-nepuk saku celananya dan terdengar bunyi gemerincing. Kunci kamar sengaja Dia kantongi.


"Ya Allah Bang, tega banget."


"Cium doang Sayang,"


Ayesha mengalah. dengan sangat singkat Dia mengecup bibir Laut sekilas.


"Apaan itu mah namanya kecupan, bukan ciuman."


"Apa bedanya sih?"


"Bedalah, kalau ciuman tuh kaya gini...."


Laut menarik tengkuk Ayesha, baru akan mendaratkan ciuman Bumi keluar dari kamar dan melihat adegan itu.


"Astagfirullah Kak, bisa di kamar aja nggak sih? ini ada anak di bawah umur." Teriak Bumi. Sepertinya keadaannya sudah membaik, terbukti dari teriakannya yang sudah melengking.


"Kamu harusnya pura-pura nggak lihat Dek, gagal kan jadinya." Laut berdecak.


"Lagian Kakak, kasihan istrinya baru pulang udah minta aneh-aneh. Aku bilangin sama Mama lho."

__ADS_1


Ayesha yang sudah sangat malu tidak bisa berkata apa-apa. Dia dengan paksa merogoh kunci dari kantong celana Laut dan segera membuka pintu kamarnya. Masuk meninggalkan Laut yang masih meneruskan perdebatannya dengan Bumi.


__ADS_2