Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
Akhir Kiblat Cinta Bumi


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, Bumi dan Akash sudah mantap akan memberitahukan pada kedua putranya tentang kepindahan mereka. Sebelumnya Bumi sudah menghubungi ummi dan Zahra perihal masalah ini. Keduanya menerima dengan tangan terbuka keputusan Bumi. Bahkan sangat mendukung.


Siang itu, Bumi dan Akash meminta anak-anaknya berkumpul di ruang tamu. Kecuali Atar, anak itu pasti hanya akan mengacaukan keadaan jika ikut diajak bicara.


Suasana menjadi tegang sebab Bumi dan Akash terlihat begitu serius. Akhza dan Aro saling lempar pandang bertanya lewat pandangan, namun sama-sama menggedigan bahu sebagai jawaban, tidak tahu.


Sementara Ara yang duduk memisahkan diri tampak tenang. Malam itu ia tampak cantik mengenakan gamis berwarna lilac dengan hijab instan warna putih. Membuat Akhza sesekali mencuri pandang terhadapnya.


"Sebelumnya Ayah mau tanya, kalian udah punya tujuan mau melanjutkan sekolah ke mana?" tanya Akash.


Aro, Akhza dan Ara bergantian menyebutkan nama sekolah yang ingin mereka tuju. Dan dari ketiganya, hanya Ara dan Akhza yang menjawab sama. Hal itu membuat Aro berdecak kesal. Ia semakin yakin bahwa kakaknya dan adiknya itu benar-benar menjalin hubungan.


Bumi dan Akash saling melempar pandang mendengar jawaban Akhza dan Ara. Keduanya semakin yakin untuk memisahkan mereka.


"Gimana kalau Abang sekolahnya di Jakarta? bisa ikut jidda atau umma Zahra. Gimana?" Tanya Akash membuat Akhza mengerutkan kening dalam. Dia tak pernah tertarik tinggal bersama jidda ataupun umma Zahra.


"Ah iya, cocok lo, Bang. Biar nggak pacaran mulu lo." Aro menyenggol bahu Kakaknya itu.


"Bukan cuma Abang, tapi, Mas Ar juga. Bisa pilih mau sama jidda atau umma Zha?" tanya Bumi membuat Aro segera menggeleng cepat.


"Nggak, aku nggak mau. Yang ada juga dia tuh yang harus pergi." Aro menunjuk ke arah Ara dengan dagunya.


Sementara Akhza tak menjawab apa-apa. Dia yang lebih peka, mengerti betul mengapa orang tuanya membuat keputusan seperti ini.


"Kamu harus mau, Ara tetap tinggal di sini," jelas Bumi semakin membuat Aro geram. Dia memandang Ara penuh kebencian. Sementara Ara balas menatap dengan mata berkaca-kaca.


"Abang gimana, Bang?" Akash bertanya pada Akhza yang lebih tenang.


Akhza menghela nafas, dia menegakkan duduknya. Memiliki tubuh tinggi, membuat orang tak menyangka jika keduanya masih berusia 15 tahun. Apalagi Aro, profesinya menuntut dirinya berakting lebih tua dari usianya. Ia terkadang akting menjadi anak kuliahan.


"Aku nurut apa kata Ayah dan Bunda," jawaban Akhza membuat Akash dan Bumi lega. Kini pertanyaan mengarah pada Aro.


"Mas, gimana?" tanya Akash.


"Aku nggak mau, Ayah. Suruh aja anak pungut itu balik ke keluarganya. Kenapa harus aku yang pindah?"


"Jaga bicara kamu, Mas!" tegas Bumi. Dirinya langsung berpindah tempat duduk ke samping Ara.


"Jangan dengerin, Mas, ya," hibur Bumi seraya merangkul pundak Ara. Ara mengangguk menahan tangis. Dadanya sudah sesak, gejolak dalam dada memaksa meminta dikeluarkan. Namun, Ara berusaha menahannya.


"Mas, keputusan Ayah sama Bunda sudah bulat. Lagipula 'kan kerjaan kamu lebih banyak dilakukan di sana?" bujuk Akash membuat Aro sejenak berfikir.


Bukan itu masalahnya, Aro hanya tak senang karena pada akhirnya dirinya yang harus meninggalkan rumah, bukan Ara. Bukankah itu artinya ia yang kalah?


"Ayah sama Bunda kenapa pilih kasih banget?" protesan Aro membuat Bumi tersulut emosi. Dikatai pilih kasih oleh anak sendiri rasanya sungguh menyakitkan.


"Mas, berani kamu ngatain Bunda pilih kasih? coba jelaskan, bagian mana Bunda pilih kasih sama kalian? jelaskan!" Bumi sampai berdiri karena kesal dengan Aro.Kedua tangannya mengepal kuat.


"Buktinya, Bunda lebih pertahanin dia daripada aku sama Abang. Yang anak Bunda itu, aku. Bukan dia." Aro mengarahkan telunjuknya pada Ara.


Ara sudah tak kuasa rasanya selalu dibenci oleh Aro, desakan dalam hatinya akhirnya keluar. Tangisnya luruh bersamaan dengan Aro yang menunjuk wajahnya.


Bumi kembali duduk di samping Akash yang mulai emosi juga. Tangannya mengepal kuat dengan rahang yang mengeras. Bumi langsung memeluk lengan Akash, tak ingin suaminya itu marah pada Aro.


"Yah, tahan emosinya," bisik Bumi, dan mampu membuat Akash menetralkan kembali amarahnya.


"Mas, kamu tuh bisa nggak sih nggak usah kasar sama Ara?" giliran Akhza ikut bicara. Alih-alih menurut, Aro malah semakin kesal.


"Kalian semua terus aja belain dia, bikin dia makin besar kepala," ujar Aro, kembali menatap Ara yang tengah menangis tanpa suara.


"Jaga bicara kamu! kamu itu dibesarkan penuh kasih sayang, tapi kenapa begitu kasar terhadap adik sendiri?" todong Akash yang sudah tak bisa lagi menahan amarahnya.


"Dia bukan adikku, cuma anak haram yang beruntung Ayah dan Bunda pungut. Memalukan!" umpat Aro dan membuat Bumi kembali tersulut emosi.


"Sana! pergi sana kemasi pakaianmu. Bicaramu sudah kelewatan!" tegas Bumi, tega tidak tega dia harus keras pada Aro.


"Ooh jadi Bunda benar-benar mau buang aku demi dia?" tuduh Aro, semua bergeming tak ada yang bicara. Termasuk Bumi.


"Jawab, Bunda ...," desak Aro dengan suara lirih menahan tangis.


Akash segera mendekati putranya itu. Ia sadar bicara pada batu yang diberi nyawa itu tidak akan berhasil jika dengan percikan emosi.


"Ayok, Ayah temani berkemas." Akash melembutkan suaranya, merangkul bahu putranya.


"Ayok, Nak. Ingat, murkanya Allah adalah murka Ibumu. Istighfar," bisik Akash dan berhasil memadamkan emosi pada diri Aro. Anak itu mengusap wajah dan istighfar berkali-kali dalam hati. Setelah merasa lebih baik, dirinya bergegas meninggalkan ruangan itu. Tanpa pamit.


Akash berbalik mendekati Bumi. Berjongkok di hadapan wanita yang amat ia cintai itu.


"Semarah apapun kamu terhadapnya, jangan pernah mengucapkan hal tidak baik. Mungkin ini adalah ujian bagi kita. Memiliki anak dengan watak keras, tugasmu adalah mendo'akannya. Hanya Allah yang dapat membolak-balikkan hati manusia. Dan, do'a seorang ibu adalah yang paling mujarab," ucapan Akash yang disertai senyuman paling manis itu meluruhkan kesedihan Bumi.


Dalam isaknya, wanita berjilbab hitam itu tersenyum. Bersyukur memiliki suami yang selalu bisa menenangkannya. Kedua tangannya menangkup wajah Akash. Ibu jemarinya lembut mengusap kedua pipi itu.


"Terima kasih selalu buat aku tenang," ujarnya dilanjut sebuah kecupan hangat di seluruh wajah. Jika bukan sedang berada di antara anak-anaknya, mungkin kegiatan itu akan berlanjut pada ... sudahlah.


Akash beranjak setelah Bumi melepaskan tangkupan pada pipinya. Dia pamit untuk menemani Aro. Dengan isyarat mata meminta Bumi untuk menenangkan Akhza. Jika saat bayik Aro harus selalu Bumi yang menenangkan, kini rupanya terbalik. Watak keras Aro, nyatanya membuat Bumi cepat tersulut emosi.

__ADS_1


Bumi beranjak dari duduknya, mendekati Akhza yang sedari tadi hanya diam. Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan anak itu. Bisa jadi takut akan berpisah dengan gadis pujaannya? mungkin.


"Ayok, Bang! Bunda temani berkemas." Bumi menyentuh pucuk kepala putranya. Tingginya bahkan sudah jauh melebihi Bumi. Anak itu tersenyum mengangguk. Definisi anak sholeh yang sesungguhnya. Rajin salat, rajin ngaji, tak pernah membantah dan selalu mengalah pada adik-adiknya. Jika diketahui ibu-ibu komplek, mungkin sudah sedari sekarang Akhza ditandai sebagai calon mantu idaman. Hanya mungkin.


Akhza beranjak, sudut matanya melirik pada Ara yang sepertinya masih menangis. Bahu gadis pujaannya itu masih naik turun dengan ritme lambat. Seolah tahu kekhawatiran putranya, Bumi berbisik, "Ara anak yang kuat, dia pintar menyembuhkan lukanya sendiri."


Setelah bisikkannya diangguki Akhza, Bumi berkata pada Ara tanpa menoleh, "Neng, Bunda minta tolong gorengkan ayam, ya. Biar nanti Mas sama Abang bisa makan sebelum berangkat."


"Iya, Bunda," jawab Ara cepat dengan suara bergetar


Bumi segera merangkul bahu putranya. Berjalan bersisian menuju kamar Akhza di lantai atas. Ara memandangi punggung bunda dan kakaknya dengan hati yang masih berantakan. Kakak?


Ara segera beranjak, dia harus segera melakukan apa yang diminta bundanya. Melangkah menuju dapur dan segera membuka kulkas untuk mengambil ayam yang sudah dibumbui dan siap digoreng.


Sementara itu di kamar Aro, Akash membantu anak itu memasukan beberapa potong kaos yang didominasi warna hitam dan putih. Bibir Akash mengulas senyum, Aro nyatanya memiliki selera warna yang persis dengannya.


"Sudah selesai?" tanya Akash saat Aro menutup resleting kopernya.


"Sudah, mau berangkat sekarang?" Aro balik bertanya.


"Bisa kita bicara sebentar? boleh saya meminta waktunya sebentar, Mas Aro?" tanya Akash seraya mengambil remot televisi mendekatkan ke bibirnya saat bicara, berlaku layaknya seorang wartawan pemburu berita.


"Ayah, apa-apaan sih." Aro tersenyum malu. Ayahnya tidak pantas jadi wartawan.


"Sini, duduk!" Akash menepuk tempat kosong di pinggirnya, pada tepian tempat tidur. Aro menurut, dia duduk di samping ayahnya.


"Kamu tahu nggak? bunda itu sayaaaaang banget sama kamu," ucap Akash dan diangguki oleh Aro. Dia bisa merasakan hal itu tanpa Akash beritahu.


"Waktu kecil, bunda selalu mengutamakan kamu dalam hal. Kamu itu sudah tak mau kalah sejak dini," tutur Akash seraya menonjok pelan bahu putranya. Aro terkekeh, mengusap bahunya yang ditonjok.


"Jadi, salah besar bila kamu bilang bunda pilih kasih. Justru kamu yang paling banyak mendapat curahan kasih sayang dan waktu dari bunda."


Perkataan Akash membuat Aro merasa sangat bersalah telah berkata kasar pada bundanya.


"Bunda, maafkan aku," gumam Aro.


"Kami punya alasan mengapa harus memindahkan kalian ke Jakarta. Bukan membuang seperti yang kamu tuduhkan." Lagi-lagi ucapan Akash membuat Aro merutuki kesalahannya.


"Aku minta maaf, Yah."


"Selalu ada maaf untuk anak Ayah, tapi kamu harus tahu apa alasan Ayah dan bunda melakukan hal ini."


"Ara itu anak yang spesial, bagi bunda dan Ayah. Seorang anak yang terlahir dari sebuah kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya. Saat itu, bunda bahagia sekali bisa memiliki Ara di tengah-tengah kalian."


Aro masih tak menanggapi. Entah mengapa selalu tak suka bila membahas Ara. Seolah membaca ketidaksukaan putranya, Akash segera melanjutkan kalimatnya.


Aro ingat betul, patahan demi patahan kata kasar yang sering ia lontarkan pada Ara. Dia mulai gusar, saat Allah saja begitu mencintai hamba-Nya bagaimana mungkin dirinya yang juga seorang hamba begitu lancang menghina hamba Allah yang lainnya.


"Cobalah untuk berdamai dengan hatimu, Ara gadis yang baik. Dia tumbuh menjadi anak yang diimpikan bunda. Sederhana namun penuh cinta," ucap Akash merangkul bahu putranya itu.


Aro mengangguk, mungkin harus meminta maaf pada Ara. Iya mungkin, hanya mungkin.


"Ayah dan bunda percaya, Mas Ar dan abang dapat menjadi anak sholeh walau sedikit berjauhan dengan kami. Sedangkan Ara? apa jadinya bila dia tinggal di rumah maminya yang seorang non muslim?" tanya Akash, minta pendapat Aro.


"Maafkan aku, Yah. Sejujurnya aku nggak keberatan tinggal di rumah jidda, pekerjaanku memang banyak di sana dan keren juga bisa sekolah di kota besar," jawab Aro, seulas senyum di bibirnya pertanda hatinya mulai baik-baik saja.


"Ayah bangga padamu, Ayah tahu Mas Ar adalah anak pemberani dan bisa bertanggung jawab pada diri sendiri," puji Akash membuat Aro mengembangkan senyum.


"Aku nanti minta maaf ke bunda," ujar Aro.


"Ke Ara juga," sahut Akash, "kalau bisa ...," ralatnya saat melihat perubahan pada wajah Aro.


Di kamar lain pada rumah yang sama, Bumi membantu putra sulungnya mengemasi pakaian dan barang-barang yang akan dibawa. Berbeda dengan Aro, Akhza memiliki koleksi kaos yang berwarna-warni meski masih lebih banyak warna putih.


"Beres semua, Bun. Makasih udah dibantuin," ucap Akhza seraya menggeser kopernya ke dekat pintu.


"Sama-sama, Sayang. Sini duduk dulu!" Bumi melambaikan tangan pada Akhza. Akhza menurut, dia duduk di samping bundanya pada sebuah sofa panjang yang terletak di dekat jendela kamarnya.


"Maaf, Bunda harus melakukan hal ini," sesal Bumi seraya menyusuri helai lembut rambut putranya. Aroma maskulin menguar, anaknya rupanya sudah besar.


"Aku ngerti kok, Bun," sahut Akhza, mengusap punggung tangan Bumi.


"Bunda tahu, Abang suka 'kan sama Ara?" tebak Bumi membuat Akhza gelagapan.


"Bunda adalah orang yang melahirkan Abang, Bunda bisa baca sorot mata Abang," papar Bumi semakin membuat Akhza resah.


"Bunda, maafkan aku. Tapi, aku sama Ara nggak ada hubungan apa-apa. Kita cuma sebatas adik dan kakak saja." Akhza berusaha menyembunyikan kegugupannya. Namun, tetap terbaca oleh Bumi.


"Bunda hargai perasaan kamu, makanya Bunda dan ayah melakukan hal ini. Perbaiki diri kamu, InsyaAllah bila berjodoh Allah akan mudahkan. Dan, kamu sudah tahu pada siapa harus meminta Ara?"


"Bunda, aku nggak seperti itu." Akhza malu bukan kepalang mendengar ucapan bundanya. Sikapnya itu membuat Bumi tertawa, gemas dengan respon putranya itu.


"Aku masih terlalu dini buat mikirin jodoh, aku hanya menyayangi Ara dan ingin selalu melindunginya."


"Bunda paham, tapi, urusan melindungi serahkan pada Allah yang lebih menyayangi hambanya. Bunda mohon, jangan dulu pikirkan Ara. Belajarlah yang rajin, jangan memupuk perasaan yang hanya akan mengganggu pikiranmu. Jangan biarkan setan merasuki hatimu. Ara tidak kemana-mana, dia ada di sini bersama Bunda."

__ADS_1


Kalimat panjang itu membuat hati Akhza mencelos. Selama ini, dirinya sering mendamba Ara dalam diamnya. Memikirkan Ara bahkan sampai membuatnya tidak konsen belajar. Apa itu cara kerja setan yang merasuki pikirannya? Akhza menghela nafas dalam. Ia beristighfar dalam hati. Merutuki kebodohannya karena sempat mengajak Ara berpacaran.


"Maafkan, aku Bunda. Aku khilaf," aku Akhza dan diangguki Bumi.


"Ya sudah, kita ke bawah sekarang. Siapa tahu Mas Ar sama ayah sudah selesai," usul Bumi dan tentu diangguki oleh Akhza.


Di ruang makan dengan meja lonjong dan delapan pasang kursi, Ara sudah menyiapkan hidangan yang siap disantap. Atar sudah duduk di salah satu kursi. Anak itu baru kembali dari kafe. Bercerita pada Ara bahwa sangat lelah habis membantu mencuci gelas dan piring kotor.


Akhza, Aro, Bumi dan Akash turun bersamaan. Segera mengambil posisi masing-masing. Habis meluapkan emosi, perut rasanya menjadi lapar. Dengan cekatan Ara menyendokkan nasi pada tiap-tiap piring.


Tiba giliran piring Aro, Ara sedikit ragu. Ia takut Aro masih marah dan tak bersedia diambilkan nasi.


"Punya gue jangan banyak-banyak, Ra!" seru Aro, membuat seluruh anggota keluarga saling berpandangan. "Sedeng aja, artis nggak boleh gemuk."


Ara segera mengambil piring Aro dan menaruh nasi sesuai permintaan Aro. Tangannya gemetar saat akan menyerahkan piring pada Aro. Baru kali ini Aro menyebut namanya. Hanya Ra, tapi terdengar sangat indah oleh telinga Ara. Ini adalah kalimat terindah Aro yang pernah Ara dengar.


"Makasih, Ra." Bahkan seulas senyum tipis menghiasi bibir pemuda itu dan tentu membuat jantung Ara tak karuan. Mungkin jantungnya sudah melorot ke mata kaki. Ara meremas dadanya, kembali duduk dan cepat menengguk air putih di hadapannya.


Selanjutnya, tak ada lagi yang bicara. Mereka larut menikmati makanan dengan pikirannya masing-masing. Hanya ada suara sendok dan piring yang beradu. Ara masih dengan jantungnya yang berdetak tak karuan. Oh, jantungnya tidak melorot ternyata. Masih ada di tempatnya, hanya berpacu lebih cepat saja. Susah payah ia menelan makanannya, tenggorokkannya terasa sulit mengerjakan tugasnya.


Selesai makan, Ara segera merapikan piring-piring kotor dibantu Atar. Hanya sebentar, karena piring kotor tidak terlalu banyak.Ara kemudian segera bergabung dengan yang lain di teras rumah yang sedang bersiap melepas keberangkatan Aro dan Akhza.


"Ayah sudah telepon jidda, kamar kalian sudah disiapkan." Beritahu Akash pada kedua putranya yang akan diantar oleh supir.


"Iya, Yah," jawab Aro dan Akhza bersamaan, kemudian keduanya tertawa.


Bumi memeluk putranya bergantian. Nasihatnya selalu sama, dimanapun berada, jangan pernah tinggalkan salat dan mengaji.


Akash melakukan hal yang sama, memeluk putranya bergantian. Hanya saja ia tak berkata apa-apa. Tapi, kedua sudut matanya mengeluarkan air.


Giliran Atar yan memeluk kedua kakaknya. Sebelumnya sudah mendapat info dari Ara bahwa kedua kakaknya akan pindah ke Jakarta.


"Jatah jajan aku dari Mas Ar hilang dong?" selorohnya disambut gelak tawa. Selama ini dirinya sering diberi uang oleh Aro. Lebih tepatnya upeti karena sering disuruh-suruh oleh Aro.


"Aku serius, Mas," rengeknya dan dihadiahi tinjuan pada bahu depannya oleh Aro.


"Jangan nakal, jagain bunda!" seru Aro dan Atar hanya mencebikkan bibirnya.


Giliran pada Ara keduanya berpamitan. Akhza terlebih dulu mengucapkan salam perpisahan. Ara melepasnya dengan sebuah do'a dan ulasan senyum.


Giliran Aro, semua seolah sudah bersiap menjadi pendengar yang baik. Ingin dengar seperti apa jadinya bila si batu yang diberi nyawa versi muda itu bicara pada Ara.


"Gue titip ayah sama bunda, dan, sorry selama ini banyak nyakitin lo. Belajar yang rajin, jangan baca novel mulu," ucap Aro, sebuah kalimat indah yang baru kali ini Ara dengar selama hidupnya.


"Mas Ar juga, jangan syuting terus. Jaga kesehatan, jangan makan mie instan terus, main gamenya dikurangin. Salam buat jidda," sahut Ara dan mendapat anggukan dari Aro.


Keduanya berjalan membawa koper masing-masing, melambai tangan dan seulas senyuman. Anak lelaki hatinya harus tegar, anak lelaki pijakannya harus kuat, anak lelaki langkahnya harus mantap.


Setelah punggung keduanya hilang dari pandangan, pecahlah tangis Bumi disertai tubuhnya yang luruh ke atas lantai. Segerombolan sesak dalam hatinya berbondong-bondong keluar lewat air mata.


Ara ikut luruh, ia memeluk bahu bundanya. Tangisnya kembali pecah. Atar yang belum terlalu mengerti banyak hal memilih pergi.


"Sudah, Sayang. Jangan menangis di sini," bujuk Akash pada istri dan anaknya. "Nggak enak dilihat orang," imbuhnya seraya meraih bahu Ara untuk berdiri, kemudian bahu istrinya.


"Kamu istirahat, Ayah bawa Bunda ke kamar!" Titah Akash dan diangguki oleh Ara.


Sempoyongan Bumi melangkah dipapah Akash menuju kamar mereka yang kini berada di lantai dasar. Bumi tak henti menangis saat sampai di kamar.


"Mau duduk di mana?" tanya Akash, Bumi menunjuk pada kursi di samping jendela. Akash menuntunnya agar segera duduk.


"Sudah dong nangisnya," bujuk Akash.


"Mereka sudah besar, dan lihat sendiri tadi Mas Ar sudah mau bicara baik pada Ara."


Bumi mengangguk, meski tak tahu apa yang telah dibicarakan suaminya itu pada Aro hingga membuatnya bisa merubah sikap dalam waktu sekejap. Walaupun hanya sedikit ucapan yang dilontarkan Aro pada Ara.


Akash yang awalnya berjongkok, ikut duduk di samping Bumi. Ia menarik kepala istrinya agar bersandar di dadanya.


"Nggak kerasa, ya, kita sudah melewati begitu banyak hal. Kisah cinta kita yang awalnya rumit seperti benang kusut yang tidak diketahui di mana ujungnya. Pernah saling terluka. Namun. pada akhirnya Allah memberi jalan yang begitu indah untuk kita."


"Bumi, terima kasih telah menjadi wanita terindah dalam hidupku. Terima kasih telah menjadi ibu terbaik bagi anak-anakku. Terima kasih sudah menjadi pendamping hidup yang selalu melengkapi kekuranganku."


"Aku mencintaimu bukan hanya kemarin, tapi hari ini juga hari esok. Aku memaksa pada Allah perihal cintaku padamu. Aku tak ingin lagi terpisah, hanya ingin seperti ini selamanya. Selama hidup di dunia ini. Hanya ingin melihatmu ada di sampingku setiap pagi aku membuka mata dan setiap malam saat aku akan terpejam."


"Aku mencintaimu, selalu, dan selalu."


Bumi tak lagi dapat berkata-kata. Dia hanya memeluk erat tubuh suaminya. Menenggelamkan wajah pada dada bidang itu. Kedua tangannya meremas punggung suaminya saat tangis itu sulit dihentikan.


Hatinya terus mengucap syukur, Allah selalu baik padanya. Memberikannya jodoh sebaik bahkan nyaris sempurna seperti Akash. Kiblat cintanya tak salah mengarah. Assyam Al-Akash, kiblat cinta Bumi.


END


Huaaaaaaa. Akhirnyaaaaa


Terimakasih pada semua kakak-kakak yang setia menemani Bumi menuju kiblat cintanya. Sampai bertemu dalam kisah selanjutnya. Jangan dulu unfav sebab nanti aku kasih tahu kapan kisah Ara, Aro dan Akhza dimulai.

__ADS_1


Terimakasih sebesar-besarnya. Bumi bukan apa-apa tanpa kalian para pembaca tersayang. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah. Maafkan aku yang masih miskin ilmu dalam bercerita. Aku sayang kalian. Terimakasih untuk yang menyapaku di ig, yang belum aku tunggu yaa di Anisa_Harir.


kasih like dan komentar yang banyak dooong. Peluuk semuanya. Love you


__ADS_2