
Flash back on
"Pengajuan untuk meminangmu," jawab Sandi. Suaranya berat dan parau saat mengucapkan hal itu.
Bumi membulatkan mata saat mendengar pernyataan itu.
"Gimana?" Sandi kembali bertanya.
"Kenapa tiba-tiba banget sih, Bang?"
"Tanya Allah kenapa menggetarkan hatiku secepat ini." Jawab Sandi.
"Aku nggak bisa, Bang."
"Kenapa?"
"Aku belum siap," bohong Bumi.
Hatinya memang masib belum siap. Luka di hati masih menganga. Ukiran nama Akash yang terlalu dalam pahat sulit dihilangkan. Bumi tidak yakin sekalipun dirawat dengan baik apa lukanya bisa sembuh?
"Kamu menolak?" tanya Sandi dengan suara bergetar.
Dirinya yang langsung merasa tertarik saat melihat bagaimana cara Bumi menenangkan kedua keponakan kembarnya. Bumi yang sederhana namun sangat mempesona di matanya membuat simpulan dalam hatinya ia beri nama cinta.
"Maaf, Bang." Hanya itu yang dapat Bumi ucapkan sebagai penawar patah hati Sandi.
"Baiklah, kalau Kamu bisa menolak," katanya dengan menjeda kalimatnya. Lalu, "Aku juga bisa berjuang."
Bumi lagi-lagi membulatkan matanya. Jawaban Sandi kenapa rasanya horor di telinga. Apa maksudnya berjuang? Oh Sandi sekelumit rasa bersama Akash saja masih belum tuntas, sekarang ditambah dengan rasa yang bawa oleh Sandi menambah beban dirinya.
"Tapi, Bang. Aku bener-bener nggak bisa," tolak Bumi.
Penolakan dari awal lebih baik daripada memberikan harapan palsu. Bumi sejatinya tidak tahu akan melakukan apa sefelah Akash menikah dengan Rere nanti, namun untuk kembali mencintai pria lain rasanya akan sulit.
"Nanti kubuat bisa," ujar Sandi seraya pergi meninggalkan Bumi. Untuk pertama kalinya Dia ditolak. Ditolak saat ingin mulai serius itu mang perih, Bang.
Bumi melongo menatap punggung Sandi yang berlalu dari hadapannya. Pikirannya semakin kacau. Sedikitpun tidak ada rasa bangga karena dicintai sekaligus diminati oleh dua pria dalam waktu bersamaan. Justru hal itu membuatnya merasa bimbang.
****
Flash back off
Akash menghela nafas panjang mendengar penuturan Bumi. Hatinya lega manakala tahu Bumi menolak pria itu. Namun gusar juga karena kini Dia memiliki saingan.
"Kamu jangan tergoda sama Dia ya!" ancam Akash.
"Tergantung," jawab Bumi.
"Jangan dong, pokoknya jangan mau terima pemberian dari Dia dalam bentuk apapun!" Akash kembali memberi peringatan.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ada hati yang harus kamu jaga, Dek!" seru Akash.
"Hati siapa?"
"Hati Aku lah," jawab Akash dengan nada kesal. Kemudian katanya lagi, "Aku cemburu kemarin lihat Kamu makan puding dari Dia, senyum buat Dia."
"Hatiku juga sama kalau lihat Kakak sama Rere," ujar Bumi jujur.
"Berarti Kamu cinta sama Aku!" lagi-lagi Akash berseru, hampir memeluk Bumi namun Bumi menepisnya.
Keduanya tertawa bersama, saling bersandar pada kursi. Mengingay kejadian beberapa hari kemarin. Bumi tersenyum mengingat kejadian saat makan bubur juga saat di swalayan tadi.
"Kak, total belanjaan tadi berapa?" tanya Bumi, mengingat swalayan membuat Bumi ingat belanjaannya dibayar oleh Akash.
"Sebagai gantinya, boleh Aku ikut ke kampung?" pertanyaan yang membuat Bumi senang. Pertanyaan yang tak perlu mendapat jawaban. Tapi, sekaligus membuat hatinya menciut sebab Akash tetap calon suami dari wanita lain.
*****
Pagi menyapa dengan matahari yang bersinar. Kokokan ayam nyatanya tak berhasil membuat Bumi membuka matanya. Pukul 12 malam tadi dirinya bersama Laut, Akash dan Ayesha tiba di kampung.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Hidangan nasi uduk kuning lengkap dengan tempe goreng hangat dengan irisan daun bawang yang banyak sangat menggiurkan. Belum lagi aroma sambal kacang yang khas, akan menambah sempurna cita rasa saat ditaburkan ke atas nasi uduk disantap bersama goreng tempe.
"Bumi mana Kash?" tanya Ayas, pasalnya tadi shubuh keduanya terlihat mengobrol setelah shalat berjamaah.
"Tadi abis ngobrol Bumi masuk ke kamar lagi, Mam." Jawab Akash.
"Anak itu, masih saja sulit bangun pagi." Gumam Ayas
"Tadi pagi ngeluh pusing, Mam." Tambah Laut.
"Aduuh kasihan cucuku, masuk angin mungkin." Uti ikut bicara dengan wajah khawatir.
"Aku nggak apa-apa, Koq." Adalah suara Bumi dengan handuk masih melilit di kepala datang dengan mengenakan pakaian olahraga bekas SMA nya dulu.
"Kamu kenapa pakai baju itu?" tanya Uti.
"Kangen jadi anak sekolah," selorohnya seraya memeluk diri sendiri sambil duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
"Masih pusing, Dek?" tanya Akash menyelidik ke wajah Bumi.
"Enggak, tapi laper." Jawab Bumi seraya mengambil satu buah tempe goreng tepung dan menyuapkan ke dalan mulut.
"Kamu masih cocok pake seragam itu," ujar Ayesha. Tangannya mulai menyendokkan nasi ke dalam piring kosong lalu menyerahkan terlebih dahulu pada Uti, kemudian Laut lalu Ayas.
"Aku ambil sendiri aja, Kak." Ujar Bumi saat Ayesha kembali menyendok nasi. Ayesha meletakan kembali piring.
"Kenapa nggak jadi?" tanya Laut yang duduk di sebelahnya.
"Perutku nggak enak, mual banget."
"Kamu nggak suka masakannya?" tanya Uti.
__ADS_1
"Bukan Uti, cuma nggak tahu kenapa tiba-tiba.... " belum sempat melanjutkan kalimatnya Ayesha sudah menutup mulutnya kemudian berlari meninggalkan ruang makan.
Tujuannya adalah kamar mandi, Ayesha mengalami mual hebat sehingga membuatnya memuntahkan cairan dalam perut sebab belum ada sedikitpun makanan yang dikonsumsinya.
"Aku susul Ayesha, kalian makan aja dulu." Pamit Laut.
Ibu dan Uti saling melempar pandang seraya tersenyum tipis. Jika benar, Ayas akan memiliki cucu dan Uti akan memiliki cicit.
Bumi melihat interaksi keduanya dengan kerutan di kening. Tangannya menyendok nasi ke dalam piring lalu memberikannya pada Akash.
"Makan yang banyak, berjuang itu butuh tenaga." Ucapnya dengan tatapan penub arti.
Akash tidak serta merta menerimanya, dia berkata "ambilin dong lauknya."
"Huh, dikasih hati minta jantung," dengus Bumi namun tak ayal tetap menaruh lauk pauk ke atas piring.
"Kalian ini dari kecil sampa sekarang masih seperti itu," ujar Ayas dengan sendok di tangannya.
"Mereka seperti Kakak beradik sungguhan," Uti ikut menimpali.
"Nggak kelihatan kayak suami istri ya, Uti?" tanya Akash dan langsung mendapat geraman dari Bumi.
"Kamu kan sudah punya jodoh sendiri," jawab Uti kembali menyendokan nasi ke dalam mulut. "Buat Bumi Uti punya jodoh sendiri." Lanjutan kalimat Uti seperti petir di siang bolong di telinga Akash.
Patah-patah Dia menelan kunyahan nasi uduk yang seharusnya lezat itu. Bumi yang melihat reaksi Akash segera menyodorkan segelas teh yang dipastikan dicampur gula batu itu ke hadapan Akash.
"Minum dulu, Kak."
Akash segera meneguk minumannya. Rasa manis dengan aroma khas gula batu sedikit melegakan tenggorokannya.
"Nggak usah dengerin kata Uti," Ayas yang duduk bersebelahan dengan Akash mengusap punggung pria yang sudah dianggapnya seperti anaknya.
Sementara di kamar mandi, Ayesha masih terus merasakan gejolak hebat dari dalam perutnya. Masih mual tapi tak ada yang bisa dikeluarkan. Laut menenangkannya dengan cara memijat tengkuk Ayesha.
"Pahit, Bang." Ayesha meringis merasai salivanya sendiri.
"Kamu bulan ini udah haid?" tanya Laut, memastikan pikirannya benar.
"Harusnya udah, tapi ini belum. Atau jangan-jangan.... " Ayesha menutup mulutnya sendiri.
"Nanti Aku belikan tespack." Usul Laut yang diangguki Ayesha. Perutnya sudah kembali normal. Laut menggiringnya untuk kembali ke ruang makan.
Langkah Ayesha tertahan sebelum beberapa langkah lagi sampai.
"Aku nggak kuat kalo cium aroma masakan," keluhnya.
"Ya udah Kamu ke kamar aja, nanti Aku bawakan air hangat."
Ayesha mengangguk tanpa patahan kata dan berjalan menuju kamar yang semalam Dia tempati bersama Laut. Kamar itu milik paman Yudis yang pagi tadi sudah pergi ke pasar membeli sayuran untuk dibawa ke rumah calon istrinya.
"Mam, Ayesha hamil." Beritahu Laut pada Ayas.
__ADS_1