
Lagi dan lagi kejutan itu datang, harus bahagia atau bermuram durja?
*******
Dua hari kemudian Rere sudah lebih sehat. Kehadiran Anggara dan Yona 24 jam membuatnya benar-benar merasa memiliki orangtua. Untuk pertama kalinya Anggara menyuapi Rere makan.
Rasa takut kehilangan atas diri anaknya membuat Anggara yang angkuh menjadi luluh. Sesalnya meluap-luap saat melihat Rere Dibaw ke ruang UGD. Melihat Rere kembali sadar rasanya lebih membahagiakan dari mendapatkan proyek pekerjaan manapun.
Diam-diam saat Rere berada di UGD, Anggara menyesali segala yang pernah dirinya paksakan terhadap Rere. Nyatanya putrinya itu tidak bahagia menikah dengan pria pilihannya.
Anggara sadar telah berbuat salah dan menyakiti banyak pihak. Anggara tiba-tiba saja ingat pada Bumi saat sore itu Laut, Ayesha, Damar dan Lila datang menjenguk.
"Gimana kerasanya, Re?" tanya Laut.
"Lebih baik, apalagi ditemani Papi Mami terus." Jawab Rere bergantian menatap Anggara dan Yona.
"Allhamdullillah, jangan diulang, Re." Ucap Laut memperingatkan.
"Tergantung, gue nggak mau ngelanjutin pernikahan ini." Jawab Rere, wajahnya bermuram durja.
"Sayang, kita kan udah janji nggak bahas ini sampai kamu benar-benar sehat dan pulang ke rumah." Protes Yona.
"Iya, Nak. Kamu jangan mikirin apa-apa dulu. Sehatkan dulu badanmu." Tambah Anggara.
Rere tak menjawab, kembali melahap apel yang disuapkan oleh Yona.
Setelah mengobrol ringan akhirnya keempatnya memilih pamit pulang. Namun, baru sempat menutup pintu, Anggara sudah memanggil kembali Laut.
Mengajak Laut berbicara sebentar di kantin rumah sakit. Hanya dua cangkir kopi dan segelas jus alpukat untuk Ayesha yang mereka pesan.
"Saya mau meminta maaf sama kamu atas tindakan saya yang pernah ingin memecat kamu," ucap Anggara seraya menyentuh cangkir kopi dan menggerakan jari telunjuknya di pada permukaan cangkir.
"Maksud Bapak?" Laut belum mengerti.
"Saya juga minta maaf pada adikmu, gara-gara keegoisan saya dia juga menanggung rasa sakit." Anggara masih terus berucap penuh penyesalan.
"Kejadian kemarin membuat saya takut kehilangan Rere," Anggara menghela nafas panjang, lalu tertawa sumbang dan kembali berkata "saya waktu itu sampai berfikir lebih baik kehilangan seluruh aset berharga daripada harus kehilangan Rere."
Detik berikutnya Anggara menangis tanpa suara. Laut dan Ayesha saling berpandangan. Ingin mengusap pundak namun segan.
"Pak, sudahlah. Semuanya sudah lewat. Adik saya pasti memafkan Bapak." Ujar Laut, tangannya reflek mengusap punggung tangan Anggara.
"Saya telah salah menunjukan kasih sayang terhadap Rere," sesal Anggara. "Rere tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan arogan." Tambahnya kembali terisak, wajahnya sampai banjir air mata kiri kanan. Tak peduli di depan siapa dia menangis.
"Allhamdullillah Rere sudah baik-baik saja, Bapak tidak usah menangisinya lagi." Hibur Laut, tangannya kini berpindah memegang jemari Ayesha.
"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Anggara menatap lekat manik mata Laut.
Laut hanya mengangguk mengiyakan. Dirinya bingung memaafkan untuk apa?
Anggara benar-benar menyesali segala perbuatannya selama ini pada Rere. Dia bahkan berjanji untuk mengabulkan keinginan Rere berpisah dengan Akash.
*****
Di tempat lain Akash sedang berbaring di pangkuan Ummi. Hatinya gamang berlinang nestapa. Merasa benar-benar dipermainkan. Tolakannya atas permintaan Rere sama sekali tidak didengar oleh istrinya itu. Alih-alih bicara baik-baik, Rere malah mengusir Akash.
"Kenapa jadi gini sih, Mi?" keluhnya.
"Sabar, Sayang. Tidak akan Allah berikan cobaan di luar batas kemampuanmu." Umi mengelus lembut kepala putranya.
"Perceraian itu dibenci Allah kan, Mi?"
__ADS_1
"Ummi hanya bisa mendoakanmu, selebihnya serahkan pada Allah." Jawab Ummi.
"Kalau akhirnya harus bercerai, artinya aku sudah gagal Mi?"
"Ummi selalu mendukungmu, kamu tetap kesayangan Ummi."
Akash beranjak duduk, ditatapnya lekat netra teduh itu. Ummi tersenyum membalas tatapan putranya. Sebelah tangannya merengkuh pipi seputih pualam itu.
"Kamu kesayangan, Ummi tidak pernah menganggapmu gagal. Setiap manusia memiliki jalan hidupnya sendiri. Semoga setelah ini hidupmu lebih bahagia, Nak."
Selanjutnya Akash berhamburan ke pelukan Ummi, menenggelamkan kepalanya di dada Ummi. Menangis tanpa suara namun tentu Ummi dapat mwngetahuinya.
Akash kembali mengingat surat yang dari Bumi yang terselip di sela peci hitam yang dihadiahkan oleh Bumi kepadanya. Ditulis tangan pada kertas berwarna merah jambu
*Assallamuallaikum, Kak.
Setelah ini berusahalah jadi suami yang baik ya, Kak.
Jaga pernikahan kalian, sebab hanya Kakak yang bisa melakukannya. Ingat ya Kak, langit nggak bakal runtuh setelah kita berpisah. Kakak harus bisa menerima Rere dengan baik. Perceraian dibenci Allah Kak. Jangan pernah berpikir untuk melakukannya, ya. Aku pasti kecewa kalau Kakak melakukannya.
Jangan mengingatku lagi, dosa. Hehehe.
Bahagia ya, Kak.
Bumi Hansa*
Setelah membaca surat itu Akash bertekad untuk mewujudkan pesan Bumi. Walaupun dalam hatinya nama Bumi selalu terukir. Menempati tempat yang sudah sejak dulu tercipta untuknya.
Maaf Bumi, nyatanya aku nggak bisa memenuhi pesanmu. Apa kamu akan kecewa?
******
"Saat pertama kali makan bakso di sini, saya sudah tahu."
"Terus kenapa seenak jidat kamu ganti pangilan namaku? pake nyuruh santri yang lain melakukan hal yang sama lagi!" gerutu Bumi, pipinya mengembung mengunyah bakso.
"Nama Hansa itu unik, jarang yang punya." Ujar Hafidz, lagi-lagi mengerlingkan mata.
Bumi memutar bola mata jengah. Geli sekali jika Hafidz sudah seperti itu.
"Terus cewek yang kamu taksir gimana nasibnya?"
"Sudah kubilang aku minder," jawab Hafidz kembali menuangkan sambal pada baksonya.
"Iih jangan banyak-banyak, nggak baik buat lambung!" seru Bumi, reflek memukul punggung tangan Hafidz.
"Cie perhatian, takut saya sakit ya?"
"Iih dasar menyebalkan, ge er banget." Gerutu Bumi, malas kembali melanjutkan mengajak Hafidz bicara.
Kembali memakan bakso sampai habis, tak ada percakapan sampai akhirnya Hafidz mengantar Bumi pulang.
Tanpa ikut turun dari mobil kijang tuanya Hafidz kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Sorry, ay.
Gumam Hafidz yang entah ditujukan pada siapa.
*****
Pagi sudah digantikan siang menyuguhkan langit yang indah dengan birunya yang meneduhkan. Sesiang itu, Rere dan orang tuanya sudah berada di kediaman Ummi.
__ADS_1
Banyaknya orang yang berkumpul nyatanya malah membuat suasana hening. Berkumpul di ruang tamu memenuhi sofa dengan menantikan keputusan yang akan dibuat oleh Akash.
"Jadi gimana, Kash?" Anggara kembali bertanya.
Akash yang duduk di samping Umminya mengucap bissmillah dalam hati.
"Hari ini dengan penuh kesadaran, Saya resmi menggugat cerai Andrea dan menyerahkannya kembali pada Pak Anggara. Rere, hari ini aku memberikan talak padamu. Kamu bukan istriku lagi."
Rere tentu menyambutnya dengan rekahan senyum yang lebar. Tak menjawab apapun hanya memeluk Yona yang duduk di sampingya.
Akash tidak merasakan sakit, justru lega yang memenuhi rongga hatinya. Hari ini kedua insan itu saling melepaskan.
Kedua keluarga itu sempat saling berpelukan dan meminta maaf untuk kesalahan masing-masing sebelum pamit. Juga Rere, bergantian dirinya meminta maaf pada Ummi dan Akash.
Perasaannya kini lega, biarlah dia belum tahu akan terjadi apa hari esok. Yang pasti dia sudah merasa bahagia. Tidak lagi tertekan dan merasa utuh dengan orang tua yang kini benar-benar peduli padanya.
Untuk pertama kalinya Rere merasa bangga dan bahagia menjadi putri dari Yona dan Anggara.
Setelah keluarga Anggara benar-benar pulang, bergantian Zahra dan Ilham meminta maaf pada Akash. Akash tak menjawab, dia malah pergi meninggalkan keduanya yang sedang dirundung penyesalan.
Entahlah, pada Zahra dan Ilham Akash bukannya tidak mau memaafkan. Akash hanya masih kesal karena keduanya pernah menyakiti hati Bumi bukan?
Kamu di mana sih? kenapa Laut kembali begitu rapat menutupi kabarmu dariku? kenapa kamu seolah hilang ditelan bumi?
*****
Hingga akhirnya Akash yang mengendarai motor sampai di kediaman Laut. Untuk pertama kalinya setelah hari pernikahan itu dia baru kembali mengunjungi yang menyimpan sejuta kenangan bersama Bumi.
Kamu ingat nggak saat pertama kali kita ketemu setelah 13 tahun? kamu hari itu cantik, lebih cantik dari yang sering kubayangkan.
Akash turun dari motor dan duduk di teras rumah.
*Kamu ingat tidak saat kusuapi melon? pipimu lucu saat mengunyahnya. Atau saat kubawakan burger, aku suka saat kamu sedang makan.
Ingat tidak aku pernah marah karena kamu memakai kebaya yang memperlihatkan sebagian pundakmu? saat itu aku bilang kalau kamu akan lebih cantik jika menutupi rambutmu*?
Akash mengetuk pintu, sekali belum ada tampak pintu itu dibuka. Tapi, Laut pasti ada. Terlihat dari mobil yang terparkir rapi. Lagipula ini hari minggu.
*Kamu ingat tidak saat kita makan bubur dan lupa nggak bawa dompet? atau ingat tidak saat terakhir kalinya kita makan mie instan dalam panci.
Aku tidak bisa melupakan semuanya, Bumi. Semua terekam jelas diingatan. Bumi, bolehkah aku kembali berharap? bolehkan aku kembali di sampingmu? ingat tidak aku pernah memintamu untuk tetap menunggu? apa kamu masih di sana dengan rasa yang sama? rasaku tetap sama di sini*.
Ketukan kedua di pintu beserta salam membuat pintu itu dibuka dari dalam. Laut pelakunya, menatap heran pada sosok Akash yang terlihat kacau.
Wajah seputih pualam itu nampak tirus dengan rambut halus yang tumbuh di sekitaran dagu hingga rahang. Mata itu cekung dengan guratan hitam di setiap sisinya.
"Kash, berapa lama lo nggak cukuran? sejak kapan mulai begadang?"
"Kenapa memangnya?"
"Lo jelek banget, Kash. Kayak napi baru keluar dari penjara." Jawab Laut.
Sendu yang dirasakan Akash tiba-tiba menguap dengan candaan Laut. Dirinya mendorong bahu depan Laut, masuk tanpa permisi dan duduk di ruang tamu.
Kamu ingat tidak saat aku membasahi lantai dan menyuruhmu membersihkannya? hari itu kamu cantik, meski membuat mataku ternoda.
.
.
Kasih balik jangan? kasihan udah merana gitu. Duda oi duda
__ADS_1