
Pengantin itu mestinya tersenyum bahagia, bukan malah bermuram durja. Wajah cantik itu sedikitpun tak menyunggingkan senyum. Netranya sembab oleh tangis yang terus tak tertahan sedari pagi hingga sore tadi.
Sempat terjadi pertengkaran tadi sore antara Anggara dan Rere. Rere dengan keras kepalanya menyalahi Anggara yang selalu mengatur hidupnya.
Anggara sama kerasnya berkilah bahwa yang didinya lakukan semata-mata untuk kebaikan. Pertengkaran itu berakhir dengan Rere memecat Ida, tanpa hormat. Suasana tambah kacau dengan menurunnya kondisi Karina saat tanpa sengaja lagi-lagi Anggara menampar pipi mulus putrinya.
Sesak dada Karina membuatnya mengalami serangan jantung, tak pikir panjang saat itu juga Karina dilarikan ke rumah sakit. Malang nasib orangtua itu, Anggara meninggalkannya hanya bersama asisten rumah tangganya di rumah sakit.
Rere sempat ingin menemani neneknya, namun tentu saja dilarang Anggara. Pengantin mana boleh lari di hari pernikahannya.
Akash sudah bisa bersikap biasa saja, tersenyum saat diberi selamat oleh para tamu. Hadir hari itu pula teman lamanya, Ragga. Membawa putranya bernama Ahmad Sakaf (boleh baca Suamiku, Kekasihku Kak).
"Mana istri lo?" tanya Akash saat tak dijumpai Rain, istri Ragga.
"Dia lagi hamil, nggak bisa diajak pergi jauh." Ujar Ragga, tetap tampan walau akan memiliki dua orang anak.
"Hai, Kaf, ganteng sekali." Puji Akash pada Sakaf yang hari itu mengenakan setelan tuxedo sama seperti Ragga.
"Bokapnya kan bibit unggul," seloroh Ragga menepuk dadanya sendiri.
Kaf hanya memandang bergantian Ragga dan Akash, tak mengerti.
"Siapa yang bibit unggul?" tiba-tiba suara seorang wanita ikut bertanya.
Adalah Cecil bersama putri cantiknya, datang mengenakan gaun yang berwarna sama dengan putrinya.
"Cecil, koq bisa?" tanya Ragga, pandangannya langsung beralih pada Frea, putri Cecil.
"Anaknya jadi model iklan produk perusahaan kami," Rere yang merasa mengundang Cecil dan Frea memberi penjelasan.
"Frea.... " adalah suara Kaf, memanggil lirih sahabat kecilnya.
Frea tak langsung menjawab, dia malah menatap Cecil. Cecil menggeleng seraya menggerakkan jari telunjuknya memberi kode tidak boleh.
Setelah memberi selamat Cecil langsung pamit, entah kenapa. Frea dan Kaf sempat saling bersitatap. Keduanya menyiratkan kesedihan.
__ADS_1
Melihat Cecil dan Frea pergi, Ragga pun ikut turun dari pelaminan membawa putranya.
"Mau mengejar Frea?" tawar Ragga pada Kaf.
"Tidak usah, Ba." Jawab Kaf menggeleng dengan bibir mengerucut.
Akash melihat interaksi Kaf dan Frea tadi, mengingatkan kisahnya dengan Bumi saat kecil. Hatinya kembali digerayangi rindu pada Bumi. Rindu yang kali ini hanya akan benar-benar sebatas rindu tanpa bisa saling bertemu. Apalah arti merindu jika sapa saja tidak boleh ada di dalamnya.
Laut dan Ayesha datang terlambat, keduanya harus berhenti di tengah jalan mencari toilet karena tiba-tiba Ayesha merasakan mual yang hebat.
"Sorry telat nih, sampai keduluan Pak Ragga tadi gue lihat di depan." Ujar Laut.
"Selamat ya Kash," Ayesha menepuk bahu Akash setslah Laut melakukannya.
Tak ada ucapan pada Rere, tampang Rere yang ditekuk membuat Ayesha dan Laut hanya menyalaminya. Lauy dan Ayesha tak berlama-lama di atas pelaminan karena sang photografer meminta pengantin berfoto dengan keluarga.
Selesai berpoto, Akash memutuskan turun dari pelaminan sebab dilihatnya tamu pun sudah mulai berpencar menikmati hidangan. Akash menghampiri teman-temannya.
"Bumi mana?" tanya Akash, tanpa basa-basi.
"Udah deh, Kash. Jaga sedikit perasaan Rere." Timpal Damar.
"Iya, Kash. Balik sana ke pelaminan!" titah Laut.
Akash enggan menjawab hanya mendengus kesal seraya meninju udara di hadapannya. Langkahnya kembali menuju pelaminan. Lagi-lagi sang photografer memintanya berpose mesra dengan Rere. Tentu saja keduanya canggung, bahkan Rere sempat menolak.
********
Pagi itu Ayesha tak henti menangis saat akan melepas kepergian Bumi. Bumi memilih naik travel dan menolak tawaran Laut yang akan mengantarnya.
"Kak Ayesha jangan nangis terus dong," Bumi terus mengusap air mata Ayesha yang sedang memeluknya.
"Gimana nggak nangis, kita mau pisah. Nggak bisa tiap hari bertemu."
"Jangan nangis, kasihan Dedek." Hibur Bumi mengusap perut Ayesha.
__ADS_1
"Kamu baik-baik di sana ya, Dek." Ucap Laut, tentu sedih juga.
"Kalian nggak usah khawatir, aku bukan mau berangkat perang." Seloroh Bumi, namun tak kunjung membuat kedua manusia di dekatnya tertawa.
"Nggak lucu, ya?" Bumi nyengir sendiri.
Suara klakson dari mobil travel berbunyi nyaring, reflek Ayesha melerai pelukannya. Bumi segera beranjak. Mencium punggung tangan Ayesha dan juga menciumi perut Ayesha bertubi-tubi. Ayesha semakin menangis dibuatnya.
Laut segera membawakan koper dan tas Bumi, ikut melangkah setelah Bumi dan Ayesha bergandengan. Dibantu Sang Sopir, Bumi memasukkan bawaannya ke dalam bagasi.
Sebelum naik ke dalam mini bus itu, Bumi kembali memeluk Ayesha yang masih saja menangis. Laut pun sama, tangisnya pecah saat Bumi memeluknya. Dikecupnya kepala Bumi penuh sayang seraya berbisik "kamu harus bahagia,"
Bumi tersenyum naik ke dalam kendaraan yang akan membawanya kembali ke mana seharusnya dia berada. Segera memakai masker dan kaca mata hitam. Buncahan yang bergejolak di dadanya tak dapat terbendung lagi.
Kali ini netranya tak kuasa lagi menahan air mata itu. Meluruh lah buncahan itu, meluruh membanjiri pipi yang disembunyikan oleh masker dan kaca mata hitam. Hanya Allah yang ia izinkan menyaksikan tangisannya.
Tanpa suara, tanpa sedu sedan Bumi membiarkan air matanya luruh. Tangannya ia letakan di pangkuan. Jemari saling bertaut menguatkan diri sendiri. Nestapanya sedang ia dekap, laranya sedang ia nikmati. Bila esok sudah berakhir, biarlah semua jadi kenangan.
****
Di tempat lain dalam sebuah ruangan, meringkuklah Rere di bawah selimut. Dirinya sama seperti Bumi, memeluk nestapa lara. Bedanya, Rere lebih senang meratap.
Pada sofa panjang Akash masih tertidur setelah melakukan shalat shubuh tadi. Hanya sarung dan kaos hitam lengan pendek membalut tubuhnya.
Malam pengantin yang mencekam. Seharusnya bahagia dengan ranjang bertaburan bunga. Rere justru mengamuk tadi malam, dia sapukan kelopak mawar merah itu dengan tangannya. Membanting segala macam peralatan make up di meja rias.
Akash hanya bergidig ngeri melihat tingkahnya. Tak ada niat sedikitpun memintanya berhenti. Akhirnya setelah lelah mengamuk, Rere melemparkan bantal pada Akash. Menyuruhnya tidur di sofa dan mengancamnya untuk tidak sedikitpun menyentuh tubuhnya.
Akash hanya tertawa masam mendengarnya, siapa yang ingin menyentuhnya. Bahkan sampai pada mimpipun hanya ada wajah Bumi. Hanya Bumi yang terekam jelas diingatannya. Hanya suara Bumi yang terekam indah di telinganya. Tawa khas Bumi yang renyah, apalagi pipinya yang kembang kempis saat memakan burger kesukaannya.
Semua itu tidak akan ada yang bisa gantikan. Sampai kapan Akash akan terjebak dalam kemelut seperti ini?
.
. Please jangan kabur dulu ya kakak-kakak reader, Bumi pasti bahagia.
__ADS_1