Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
149


__ADS_3

"Aelah salah mulu lo!" teriak sutradara kesal karena sudah beberapa kali take tapi Aro terus saja tak dapat melakukan adegan berpelukan itu dengan benar.


"Break ... break ... break!"


Aro segera berlari menuju tendanya, menemui managernya yang bernama Omar. Usianya sekitar 25 tahun, memiliki perawakan tambun dan paling senang menghisap lollypop. Pengganti rokok katanya.


"Kok salah terus sih, Ar?" protes Omar seraya menyodorkan air mineral untuk artisnya itu.


"Gue nggak bisa kalau harus mesra-mesra gitu, gue takut sama Bunda," ucap Aro.


"Susah kalau gitu, pake pemeran pengganti aja," usul Omar tapi tak membuat Aro senang. Pasalnya, Bella yang menjadi lawan mainnya tak ingin peran Aro digantikan.


"Si Belek nggak mau, rese emang tuh bocah," geram Aro seraya membasuh wajahnya dengan sisa air mineral yang ia minum.


"Kali ini aja, deh. Gue capek pengen cepet balik," keluh Omar yang langsung mendapat cibiran oleh Aro.


"Biasa pulang shubuh juga."


Aro beranjak berdiri, mengintip ke arah lokasi. Tampak Bella sedang berbincang dengan sang sutradara yang sedang memberikan arahan. Aro berinisiatif untuk mengulang kembali adegan agar segera beres dan cepat pulang.


Ia berjalan mendekati lokasi dan meminta untuk segera take kembali. Para kru sempat protes karena baru saja istirahat. Namun, sang sutradara sudah paham betul seperti apa watak artisnya itu. Jika dia sudah ingin take maka harus segera dilakukan agar moodnya tak berubah lagi.


Benar saja, satu kali take dan hasilnya sempurna. Biar saja nanti diprotes Bunda. Yang pasti dirinya sudah sangat ingin pulang. Sudah lelah sejak siang hingga pukul 21.00 berada di lokasi yang sangat dingin. Senyum pun mengembang di bibir Omar saat Aro bilang selesai dan bisa segera pulang.


***

__ADS_1


Pagi hari selalu jadi kegiatan sibuk bagi Ara. Dia ditugaskan oleh Bumi untuk membangunkan kedua kakaknya. Saat memasuki kamar Aro, nyatanya si empunya kamar tidak ada. Kamar masih rapi menandakan Aro tidak pulang malam tadi. "Mungkin nginep di rumah Kak Omar," gumam Ara seraya menutup kembali pintu kamar bercat putih itu.


Ia segera masuk ke kamar Akhza, harusnya sudah bangun. Karena sebenarnya Akhza terbiasa bangun sebelum azan Subuh untuk pergi ke masjid. Ara memastikan bahwa Akhza sudah tidak ada. Namun, saat masuk ke dalam kamar, nyatanya kakaknya itu masih tidur bergelung selimut.


"Abang, kok belum bangun?" Ara duduk di tepian kasur, mengamati punggung Abangnya yang tidur tengkurap.


"Bang, nggak ke masjid?" Ara kembali bicara agar tidur abangnya terusik.


"Bang, aku mau bicara penting soal surat Abang. Kalau Abang mau denger, Abang ngangguk aja. Mungkin Abang lagi males bangun pagi-pagi," tebak Ara dan langsung diangguki abangnya.


"Bang, aku juga sayang sama Abang. Tapi, kalau buat pacaran aku takut dimarahin Bunda dan Ayah." Ara menelan salivanya. Ia teringat bait demi bait pernyataan cinta dari Abangnya lewat sebuah surat. Bagaimana cara Abangnya menyelipkan surat itu pada novel kesukaan Ara? apa dia tidak berpikir bagaimana jika bundanya tahu?


"Aku juga takut kalau kita pacaran nanti kita bisa putus. Lama-lama Abang bakal bosen sama aku. Apalagi nanti setelah SMA, setelah kuliah dan setelah kerja." Ara menyebutkan satu persatu alasannya tak ingin menerima Akhza.


"Apalagi Mas Ar nggak suka banget sama aku. Aku nggak mau kalian berantem gara-gara aku." Ara menahan tangis untuk mengucapkan kalimat itu.


"Tapi, kalau keberadaanku nyatanya cuma bikin dia terganggu, aku udah mutusin buat tinggal sama mami, Bang."


Hening. Hanya suara hembusan napasnya sendiri yang Ara dengar. Ia berusaha menahan tangisnya sebelum keluar dari kamar abangnya. Ara menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar yang dicat berwarna putih. Berkali-kali mengembuskan napas melawan sesak di dada yang berontak minta dikeluarkan. Matanya sudah perih, pandangannya kabur akibat kaca yang membingkai mata itu.


Ara ingat betul saat di mana selebaran kertas menempel di sana sini pada setiap dinding gedung sekolahnya. Kejadiannya sudah setahun yang lalu tapi masih membekas dalam ingatannya. Perih, hancur dan malu setiap mengingat kejadian itu.


Entah apa penyebabnya hingga kabar dirinya sebagai anak pungut yang lahir dari hubungan terlarang menyebar begitu luas di sekolahnya.


Ara dipojokkan semua teman-temannya. Lontaran kalimat-kalimat kasar disertai umpatan menyayat hati ia tangkap begitu menyakitkan lewat indra pendengarannya. Saat itu, hanya Akhza yang membelanya. Akhza berada di barisan paling depan ketika teman-teman melemparinya dengan hujatan dan cemoohan.

__ADS_1


Mereka melemparkan harga diri Ara ke dalam jurang kenistaan seolah dirinya adalah makhluk paling kotor di muka bumi ini. Tak kuasa menahan ribuan tombak yang menghujam hatinya, Ara pingsan saat itu juga. Pandangan dan penglihatannya kabur. Semua hitam, gelap dan dingin.


Ara berusaha mengambil napas sedalam-dalamnya berharap kelegaan masuk bersama dengan udara yang dihirup. Kini semua sudah berlalu. Meski tak ada lagi cemoohan itu, nyatanya Ara tak memiliki teman di sekolah. Bahkan Reta dan Luna yang awalnya menjadi sahabatnya, perlahan menjauhinya. Membentangkan jarak tanpa patahan kata sedikit pun.


"Aku duluan ya, Bang. Abang salat dulu nanti keburu habis waktunya." Ara beranjak, tapi sempat melirik pada punggung Abangnya. Harus diakui kedua kakak angkatnya itu memang rupawan. Bisa gila rasanya bila harus terus bersama mereka setiap saat. Membuat pilihan tinggal dengan Vanya mungkin adalah pilihan tepat. Mungkin.


Ara berusaha tersenyum saat menuruni undakan tangga. Punggung Bundanya sudah terlihat sedang berada di dapur. Ara harus baik-baik saja agar Bundanya tak khawatir.


"Pagi Bunda," sapa Ara seraya memeluk Bundanya dari belakang.


"Pagi cantik, kesayangan Bunda," sahut Bumi seraya membalikkan badan dan mencium cuping hidung Ara. Keduanya melempar tawa dan menularkannya pada seseorang yang baru datang.


"Mau juga dong dipeluk."


Adalah Akhza lengkap memakai sarung dan koko datang bersama ayah. Bumi melerai pelukannya pada Ara. Beralih meraih tangan Akash untuk ia cium. Akash balas mengelus pucuk kepala serta mengecup dalam kening Bumi.


Ara mengerutkan kening, jika Abangnya di sini lalu siapa yang tadi masih tidur? Aro? Jadi Aro yang tadi mendengar ucapannya. Bukan Akhza? kenapa sulit sekali membedakan keduanya?


Ara menarik salah satu kursi seraya duduk sebab lututnya tiba-tiba terasa lemas. Belum hilang rasa kagetnya, sebuah suara kembali memupuk keterkejutannya.


"Pagi, Bunda ...." Aro datang memeluk bundanya. Memberikan kecupan di seluruh wajah Bunda. Meski keras, Aro lah yang masih sangat manja. Akhza sudah tidak pernah mencium Bundanya, mungkin karena dia sudah merasakan ketertarikan pada lawan jenis. Yaitu, Ara.


"Mas pulang jam berapa semalam?" tanya Bumi.


Aro tak lekas menjawab, ia melirik Ara yang sedang menunduk. Jemari Ara yang saling meremas cukup membuktikan bahwa gadis itu sedang resah.

__ADS_1


"Jam 12, Bun. Ketiduran deh di kamar Abang," sahutnya kembali melirik Ara memastikan gadis itu semakin merasa resah.


__ADS_2