
Semburat jingga mengukir indah langit sore ini, ditambah sayup-sayup lantunan syairan dari para santri putra memenuhi mushola tempat mereka memunajatkan cinta pada Sang Pencipta.
Senja, itulah nama keindahan yang pastinya sedang ditatap ribuan, jutaan bahkan milyaran pasang mata manusia di dunia ini. Tapi tidak bagi Bumi, menatap senja yang indahnya hanya sesaat itu layaknya menyaksikan kisahnya sendiri.
Sempat bahagia bahkan rasanya berada di atas awan bersama orang yang dicinta. Namun, sayang semua hanya semu semata. Menggulirkan kembali raganya pada nestapa. Menorehkan kembali hatinya pada luka.
Bukan kembali ingin meratap, sore ini entah mengapa hatinya gundah gulana mengingat satu nama yang nyatanya masih saja bertahta. Merajai hati yang masih sama porak poranda.
Senyum memang selalu terbit, tapi tanya hatinya yang sakit. Di mana lagi ia simpan sebuah nama yang masih terbungkus rapi jika bukan di hati yang paling dalam. Diam-diam dalam do'a nama itu memaksa hadir. Dalam sujud malam nama itu masih terukir.
Ini salah, sudah jelas bukan pembenaran atas sakit hatinya. Tapi, lagi-lagi Bumi Hansa hanyalah manusia. Menyembunyikan luka mungkin ahlinya, tapi membuang begitu saja sebuah nama dalam hati yang sudah terukir sejak lama bukan perkara mudah.
Di balik rencana indah yang telah terukir rapi dari kedua belah pihak keluarga nyatanya tak membuat Bumi menghapus begitu saja nama Akash dalam hatinya.
Andai saja bisa sedikit membuka hati terhadap Hafidz?
Lihatlah betapa manis perlakuan pria itu padanya? Sekuat apa Hafidz selalu membuatnya tertawa, namun tak juga bibir itu tertarik untuk sekedar menyunggingkan seulas senyum.
Sore itu dalam sebuah kamar, Bumi meringkuk di balik selimut. Hatinya sedang kacau hanya karena sebuah mimpi yang tak nyata. Dalam mimpinya semalam dia bertemu Akash, melihatnya dengan tubuh kurus berjalan di atas pecahan kaca. Telapak kakinya berdarah-darah dengan satu tombak tertancap tepat di perutnya. Mungkin mengenai hatinya.
Sebuah mimpi yang hanya bunga tidur itu nyatanya yang membuat gundah gulana. Berkali-kali mengusap dada dalam hati bertanya Kak, apa kamu seterluka itu saat ini?
Bumi masih saja meringkuk saat sebuah ketukan di pintu tertangkap oleh pendengarannya. Disusul sayup-sayup suara Ayas yang memanggilnya.
Demi iba terhadap suara Sang Mama, tubuh itu menyingkap selimut dan berjalan gontai membuka pintu.
"Kamu kenapa seharian ini nggak keluar kamar?" todongan dari Ayas membuat Bumi bingung harus menjawab apa.
Tapi rupanya otaknya masih bekerja cerdas, segera diletakannya telapak tangan pada perut.
"Lagi haid, nyeri datang bulan mam." Lengkap dengan rengekan manja khas Bumi.
"Aduh ini kalau dilihat Hafidz bisa diledek habis-habisan." Seloroh Ayas tak dapat tanggapan dari Bumi.
Pasalnya siapa yang tak tahu jika Bumi dan Akash sudah bersama, tentu didampingi pihak keluarga, keduanya hanya akan berdebat. Hafidz senang sekali menggoda sedangkan Bumi suka sekali menyiksa.
Satu godaan Hafidz, maka tendangan bertubi-tubi dari Bumi. Hafidz marah? tidak, justru semakin gencar menggoda. Semua orang tertawa jika keduanya sudah seperti itu, namun Bumi tak pernah ikut di dalamnya. Sedikitpun tidak ingin.
"Tadi Hafidz telpon, kamu kenapa nggak ngaji. Memangnya Hafidz nggak tahu nomor ponsel kamu?"
"Mana tahu, anak itu tiap bertemu juga ngajaknya ribut terus. Dia itu rugi kalau nggak bikin aku kesel." jawab Bumi mengingatkannya akan kejadian beberapa hari lalu saat sedang bergotong royong membersihkan mushola.
__ADS_1
Di samping mushola terdapat banyak sekali semut, saat itu Bumi ingin membersihkannya dengan cara Menyapunya. Tahu apa yang dilakukan Hafidz? Dia melarang Bumi mengusir makhluk kecil itu dengan sapu, tapi malah menyuruhnya berbicara. Ya mengajak bicara semut.
"Wahai kalian para rakyat nabi sulaiman, aku mohon pergilah dari sini. Ini tempatku beribadah, aku tidak ingin menyakiti kalian. Tempat ini akan dibersihkan, jadi tolong pergi dan cari tempat baru untuk kalian. Jangan di sini."
Apa semut itu pergi? tentu tidak. Geram sekali Bumi dibuatnya. Boleh saja bicara seperti itu, tapi jika membiarkan semutnya sendiri yang pergi sampai kapan pekerjaannya akan selesai.
"Kita sapu saja masukan ke dalam serokan lalu pindahkan ke tempat lain," usul Bumi saat itu.
"Jangan Hansa, kalau salah satu di antara mereka ada yang mati akibat kelindes sapu bagaimana?"
Yakin pria ini usianya 27 tahun? Jangan-jangan pemalsuan KTP.
"Koq melamun?" tanya Ayas membuyarkan ingatan Bumi pada kejadian beberapa hari lalu.
Bumi menggeleng, tidak mungkin menceritakan bahwa yang sedang menganggu pikirannya adalah Hafidz. Bisa habis Bumi diledek oleh Ayas dan Uti.
"Terus bicara apa Hafidznya?" tanya Bumi basa-basi.
"Mau ke sini katanya sama Ibu dan Bapaknya." Jawab Ayas.
Reflek Bumi membulatkan mata pertanda kaget. Selama ini tentang perjodohan itu memang hanya mereka singgung lewat candaan. Belum ada obrolan serius. Tapi, kali ini kalau sudah mau mendatangi rumah itu artinya apa?
"Kamu udah dua bulan loh ngaji di Bu Haji, udah lumayan kenal juga kan sama Mas Hafidz. Hehehe."
"Perhatian, suka tiba-tiba bawakan makanan tanpa mau nemuin kamu. Mas Hafidz itu baik. Lucu, rame.... "
"Mama!"
Dan Ayas tertawa setelah putrinya itu mendelik kesal. Bumi makin merasa keadaannya semakin buruk saja. Sedikitpun dia belum melihat celah kebaikan Hafidz, selain dia pintar mengaji karena memang guru ngaji. Apalagi?
"Ya sudah sana ganti pakai gamis, mukanya dipoles dikit. Biar tahu Mas Hafidznya kalau Bumi Hansa ini cantik." Lagi-lagi Ayas menggoda Bumi sampai sebal gadis itu dibuatnya.
Tapi Bumi mengalah juga rupanya. Langkahnya dia tujukan menuju dapur. Saat melintas di meja makan berbagai hidangan sudah tersaji, disusun rapi menggugah selera. Macam chef kenamaan saja Ayas menghidangkan makanan itu. Pasti untuk menyambut kedatangan Hafidz dan keluarganya.
Bumi hanya mencuci muka dan gosok gigi. Setelahnya kembali ke kamar untuk mengganti pakaian. Dipilihnya gamis berwarna hijau floral yang sangat cocok di tubuhnya. Untuk hijab, Bumi belum terbiasa memakai yang syar'i. Masih pashmina yang jadi andalannya.
Lepas isya rupanya keluarga Hafidz datang, bersama Yudis dan juga Lili. Mereka membawa satu karung kecil gula batu lengkap dengan teh poci. Ibu Haji Endah memang perhatian, beliau tahu apa yang menjadi kesukaan Bumi dan keluarganya. Yakni, teh manis gula batu.
Bumi keluar kamar setelah Ayas memanggilnya. Penuh khidmat dia cium punggung tangan Haji Endah, Lili dan Yudis. Pada Haji Ma'sum dan Hafidz dia katupkan kedua tangannya di bawah dagu seraya mengulas senyum tipis tanpa mampu menatap netra keduanya. Adalah hal paling mendebarkan jika berhadapan dengan Haji Ma'sum. Suara berat khas bapak-bapak yang hanya Bumi dengar di hari senin pagi saat tausyiah di majlis ta'lim mereka.
"Bumi sakit?" tanya Haji Endah, sosok calon mertua idaman. Sifatnya yang periang dan senang bergurau mungkin penyebab Hafidz memiliki sifat yang sama.
__ADS_1
Bedanya mungkin Hafidz lebih banyak bergaul di luaran sana, sehingga membuatnya selain senang bergurau juga menyebalkan sekaligus.
"Tidak, Bu Haji. Bumi hanya sedang halangan." Jawab Bumi jujur.
"Sudah dibaca belum do'anya?" Dan itu perkataan manusia menyebalkan menurut Bumi. Tapi, justru pujaan bagi Ayas.
"Sudah." Jawab Bumi singkat.
Mengingat kembali saat awal mengaji Bu Haji mengetes bacaan dan gerakan whudunya. Ternyata banyak yang salah. Dengan sabar Bu Haji Endah membimbingnya sampai bisa.
Do'a ketika datang haidpun tak lupa Haji Endah berikan, bahkan Bumi baru mengetahuinya di saat sudah dewasa seperti ini.
"Jangan tegang dong, bukan mau melamar koq." Ucap Hafidz, belum apa-apa sudah menyebalkan.
"Sudah dong, Mas. Kamu seneng banget godain Bumi." Protes Lili demi melihat wajah Bumi yang tegang.
"Sekalian dilamar juga nggak apa-apa, Mas." Sang Nenek malah menimpali candaan Hafidz.
Dan pertemuan mereka memang benar-benar hanya acara makan malam biasa. Ditutup dengan Hafidz yang meminta izin bicara empat mata dengan Bumi.
Di teras lah kini keduanya duduk. Tidak hanya berdua, karena tak jauh dari kursi mereka duduk pula Yudis dan Lili. Menyengaja agar Bumi dan Hafidz terhindar dari fitnah.
"Jadi kamu mau tahu apa tentang saya?" tanya Hafidz memecah keheningan yang sedari 15 menit yang lalu tercipta.
"Nggak ada," jawab Bumi. Matanya menatap lurus ke arah pohon mangga yang menjulang tinggi. Buahnya kini semakin lebat. Biasanya kalau sudah tua sempurna baru dipanen dan dibagikan ke tetangga.
"Kamu nggak mau tahu nama asli saya?" tanya Hafidz langsung mendapat gelengan dari Bumi.
"Nggak apa kalau saya manggil kamu, Hansa?"
"Nggak apa, Mas." Jawab Bumi, untuk pertama kalinya menyebut kata Mas.
Seulas senyum di bibir Hafidz terbit.
"Jadi gimana tentang perjodohan kita?"
"Ya gitu"
Hafidz harus ektra sabar menghadapi Bumi dengan segala sifat judesnya. Senyum dikulum Hafidz kembalu berkata, "kalau kamu siap, kasih saya ruang di hidup kamu. Biarkan saya ada di dalamnya. Kalau sudah yakin saya akan langsung mengkhitbahmu."
Kali ini bicaranya lebih serius, bahkan suaranya berat. Benar-benar menampakan usia 27 tahunnya. Bumi menjawab? Tidak, dia malah berlari ke kamarnya meninggalkan Hafidz tanpa kepastian.
__ADS_1
Jika aku menerimanya, apakah aku telah berkhianat, Kak?