Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
122


__ADS_3

"Yang menolong Nazhia itu Allah, aku hanya perantara."


Akash menatap penuh arti wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Dulu ia hanyalah seorang gadis kecil bergigi kelinci yang rambutnya dikucir dua. Gadis cengeng nan manja yang jika makan mie instan harus dua. Kini ia tumbuh menjadi wanita tangguh nan bijaksana.


"Aku tahu aku cantik," ujar Bumi seraya merapikan hijabnya yang sama sekali tak berantakan. "Tapi nggak usah dipelototin terus gitu." Imbuhnya seraya mengusap wajah suaminya dengan telapak tangan.


"Percaya diri banget ini Bunda Dedek," seloroh Akash membuat Bumi berdecak sebal.


"Percaya Allah aku sih," sahut Bumi seraya beranjak dari duduknya karena hari sudah hampir maghrib.


Akash memandang punggung istrinya yang hilang masuk ke dalam kamar. Menelisik pada kejadian yang telah lalu, dirinya sempat tak percaya bisa berada pada titik sekarang ini.


Sempat berpikir akan kehilangan Bumi untuk selamanya, nyatanya itu hanya cara Allah dalam menyatukan cinta keduanya di waktu yang tepat dalam keadaan yang tepat.


***


Celin makin banyak membawa anggota tiap harinya. Nazhia sudah ikut bergabung, kabar baiknya gadis itu kini berhijab. Seperti biasa, Bumi selalu menyempatkan diri ikuy bergabung walau sebentar di antara para remaja itu.


Melihat antusias mereka saling bertukar cerita bahkan tak jarang mengerjakan tugas bersama membuat Bumi sedikit iri. Masa mudanya tak seindah Celin dan teman-temannya.


Ia nyaris tak memiliki teman dekat.


Hari-harinya ia habiskan hanya dengan Uti dan Paman Yudis. Namun, tetap bersyukur dengan begitu Bumi tak pernah mengenal kenakalan anak remaja.


"Jadi, cewek yang dihamilin mantan pacar kamu itu anaknya juragan ikan asin di pasar Bogor?" celetuk salah seorang teman Celin membuat Bumi tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut.


Kebetulan sore itu dirinya sedang memanen tomat hasil tanamannya sendiri.


"Iya, kasihan dia baru kelas X." Tutur Nazhia.


"Iih dasar cowok, lagian ceweknya juga mau aja sih mentang-mentang ganteng. Jijik aku dengernya." Umpat teman Celin itu membuat Bumi tergerak untuk ikut mengobrol dengan mereka.


"Hai semuanya!" sapa Bumi ramah membuat para gadis itu serempak menjawab sapaan Bumi.


"Aku tadi denger kalian ngomongin mantannya Nazhia nih," ujar Bumi melirik Nazhia. "Aku boleh ikut ngomong sedikit, nggak?"


"Boleh dong, Kak."


"Boleh banget, Kak."


"Kuy, Kak gaskeun."


"Oke, deh." Sahut Bumi, "Gini ya adik-adik yang cantik. kalau kita sudah tahu aib seseorang, ada baiknya kita ikut merahasiakannya," ucapan Bumi membuat Celin dan kawan-kawannya menyimak dengan seksama.

__ADS_1


"Kak Bumi pernah loh diceramahin sama suami gara-gara ghibah. Kata suami Kakak, orang-orang yang gemar berghibah itu nantinya akan ditempatkan di neraka yang bernama Huthamah."


"Nanti mulut kita akan dibakar oleh api yang panasnya beribu-ribu kali lebih panas dari api di dunia."


"Nah, yang tadi kalian omongin itu udah termasuk ghibah loh. Nggak ada untungnya buat kalian. Jadi mulai sekarang, stop membicarakan keburukan orang lain."


"Ada hal lain yang bisa kalian lakukan untuk mengisi waktu luang kalian."


Semua terpaku mendengar penuturan Bumi. Semua diam merasa mendapatkan siraman rohani.


"Misalnya, nih Celin hobinya apa?" tanya Bumi pada Celin.


"Aku hobinya membaca dan menulis, Kak." tutur Celin malu-malu.


"Waah hebat ini hobinya, menulis itu bukan sesuatu yang mudah loh." Papar Bumi, "apalagi membuat pembaca betah dengan tulisan kita itu tantangannya besar sekali." Lanjutnya seraya mengusap punggung tangan Celin.


"Tapi, segala sesuatu yang sulit itu bisa kita taklukan dengan melakukannya karena Allah dan karena hati. Semangat menulisnya, ya. Nanti Kakak baca karyanya."


Celin menganguk senang, dirinya seperti mendapat atmosfer kebaikan lewat kalimat yang Bumi lontarkan.


"Kamu hobinya apa?" tanya Bumi pada gadis yang tadi membicarakan mantan pacar Nazhia.


"Aku sukanya gambar sketsa pakaian muslim, Kak." Jawabnya jujur.


"Waah aku tahu nama brand itu, Kak. Ini salah satu hijabnya lagi kupakai." Sahut teman Celin yang lain.


"Masyaallah, ternyata Kakak aku terkenal juga, ya." celoteh Bumi membuat mereka tertawa bersama.


Jadilah sore itu mereka menceritakan hobi masing-masing dengan Bumi sebagai sang motivator. Membuat kurang lebih 20 orang remaja itu Merasa bersemangat untuk meraih cita-cita.


***


Bulan ke-8 kehamilan Bumi merasakan beban yang dikandungnya semakin berat saja. Bukan tanpa alasan, setelah USG kedua pada bulan lalu, dokter mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung anak kembar berjenis kelamin laki-laki.


Mendengar hal ini, Akash bahagianya bukan main. Sekali mengandung, istrinya memberinya dua anak sekaligus. Perhatiaanya semakin tercurah untuk Bumi. Dia bahkan mengurangi waktu kunjungannya ke Jakarta. Hari-harinya lebih banyak ia habiskan menemani Bumi mengurusi tanamannya.


"Aku melahirkannya ingin normal ya, Kak." Papar Bumi sore itu saat keduanya sedang duduk di tengah taman buatan Bumi.


"InsyaAllah, tapi gimanapun prosesnya semoga yang terbaik buat kamu dan anak-anak kita." Sahut Akash.


"Pokoknya usahain dulu aku melahirkannya normal," desak Bumi agar suaminya itu mengerti. "Jangan buru-buru ambil tindakan."


"Iya, iya tuan putri. Udah jangan marah-marah. Nanti dedeknya takut." Seloroh Akash membuat Bumi memukul lengannya.

__ADS_1


***


Sesuai janjinya, Ayas akan menemani persalinan putri satu-satunya itu. Ayas datang diantar oleh Laut beserta Ayesha dan bayi mungil mereka.


"Anaknya ganteng nggak kayak Papanya," seloroh Bumi yang sedang menggendong putra Laut yang ia beri nama Rudrapriya Ganendra.


"Eeh sembarangan, anakku ganteng nurun dari Papanya dong." Sahut Laut tak mau kalah.


"Papanya jelek ya, Dek." Akash ikut mencandai Kakak iparnya itu. Tangannya ia sentuhkan pada pipi bulat bayi berusia 3 bulan itu.


"Iih Kakak, jangan pegang-pegang pipinya. Itu tangannya bersih nggak?" omel Bumi seraya menjauhkan Babby Rud dari jangkauan suaminya.


Kontan saja Babby Rud yang sedang tidur, menggeliat dan mencari-cari sesuatu dengan mengendus lengan Bumi.


"Eeh ini kenapa Babby Rud nya, Kak?" panik Bumi membuat Ayas dan Ayesha tertawa.


"Sini, sini jagoan Mama. Mau nen ya, iya mau nen." Ayesha mengambil alih bayinya dari pangkuan Bumi.


"Kakak ke kamar tamu aja, biar nyaman ngasih nen nya." Usul Bumi yang diangguki Ayesha.


"Ayok, Bang. Bawakan tas Babby Rud." Ayesha berdiri menggendong buah hatinya.


"Inget woy. yang nyusu anak lo. Jangan pengen," seloroh Akash membuat Laut gatal jika tak membalas godaanya.


"Lo tuh kurang-kurangin nengok si kembar, kasian ntar keracunan."


"Lo yang kurang-kurangin, kasihan tuh Ayesha udah ngurus bayi harus ngeladenin lo juga." Akash masih tak mau kalah. Ayas dan Bumi hanya geleng-geleng. Tak mengerti lagi dengan sifat kedua sahabat ini.


Laut hendak kembali bicara, namun baru akan menimpali candaan Akash, Ayesha dari dalam kamar tamu sudah meneriaki namanya.


"Tuh sono samperin, siapa tahu dikasih bonus." Ledek Akash seraya tertawa.


"Bac*t lo, adik ipar durhaka." Umpat Laut seraya beranjak menemui istrinya yang kembali meneriaki namanya.


"Kak, jangan ngomong kasar gitu dong," protes Bumi. "Nanti Dedekny ikut-ikutan."


"Iya, maaf. Nanti sedikit-sedikit aku hilangkan," ujarnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kalian ini sudah punya anak masih saja begitu," Ayas ikut menimpali omelan Bumi pada Akash. Semakin salah tingkah saja Akash dibuatnya.


(づ ̄ ³ ̄)づ(づ ̄ ³ ̄)づ


Like dan komennya kakak. Biasakan tinggalkan jejak ya kak. makasih. Nanti ku kasih bonus kisah Nadia dan Hafidz kalau ada yang penasaran.

__ADS_1


__ADS_2