
"Tadi jam berapa Dia pulang?" pertanyaan itu meluncur dari bibir Akash pada Nina yang sedang membereskan mangkuk dan gelas kotor di kamarnya.
"Sebelum dhuhur, Bang. Diantar Bang Rino." Jawaban Nina membuat Akash bernafas lega. Dia takut Bumi naik angkutan umum.
"Dia bilang sesuatu nggak?"
"Katanya kalau Bang Akash masih belum membaik suruh telepon lagi nanti sepulang bekerja Dia mampir." Jawab Nina tanpa berani memandang sang Bos. Bibir Akash tertarik, senyum tipis hinggap di sana.
"Kalau gitu coba...." Belum selesai Akash bicara, deringan ponsel Nina memotong kalimatnya. Nina membulatkan mata melihat panggilan siapa yang masuk.
"Siapa?"
"Mbak Bumi, Bang." Nina memperlihatkan layar ponselnya pada Akash.
"Angkat di sini, loudspek!"
Tentu saja Nina menurut.
"Assallamuallaikum..."
"Waalaikumsalaam, Mbak. Ada apa?"
"Kakak gimana keadaannya?"
Sebelum menjawab Nina melihat ke arah Akash, tangan dan kepala Akash bergerak-gerak. Dia berkata tanpa suara namun dimengerti Nina.
"Belum baikan kayaknya, Mbak. Masih belum bisa bangun."
Bumi terdengar mendesah.
"Ya udah Mbak, sering-sering dilihat ke kamarnya ya. Nanti malam Saya mampir. Titip Kakak ya, Mbak. Kalau nggak bangun sejam lagi tolong dibangunkan saja. Kasih minum. Sejam lagi saya telepon. Assallamuallaikum."
Setelah Nina menjawab salam Bumi, Dia mendengar bunyi tut. Bumi mematikan panggilannya.
"Bang Akash beruntung banget dicintai dua gadis sekaligus." Nina memberanikan diri menjamah hal pribadi Akash.
"Menurut Mbak Nina, Gue pilih Bumi atau Rere?" Akash malah curhat pada Nina.
"Mbak Bumi lah, Dia baik dan sopan. Lucu lagi orangnya." Jawab Nina, mantap.
__ADS_1
"Gue suka jawaban Lo, Mbak. Gue kasih bonus nanti." Akash segera lompat dari atas kasurnya, mematut sekilas wajahnya di cermin lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Nina hanya menggeleng seraya membawa perabotan kotor keluar dari kamad bosnya. Tak lupa menutup kembali pintu kamar Akash.
Sementara di rumah sakit, setelah menelpon Nina Bumi tampak murung. Dia mendudukan diri di kursi tunggu di depan ruangan pasien yang beberapa waktu lalu Dia periksa keadaannya.
Hatinya begitu nyeri, jika ikhlas harus sesakit itu apa Bumi akan sanggup?. Diam-diam kaca bening itu mulai membingkai matanya. Bibirnya Dia lipat kedalam. Akankah sekuat itu saat kisah cinta tanpa ikatannya dengan Akash mau tak mau harus berakhir. Bumi mendongakan kepala menatap langit-langit. Tak mengizinkan kaca itu pecah. Dia tepuk-tepuk dadanya yang sesak. Nafasnya tersengal, berusaha menelan salivanya namun sulit.
Ayesha yang sedari tadi mencari keberadaannya tersenyum tipis saat melihat adik iparnya itu duduk dengan wajah sendu. Ayesha mempercepat langkah, ketukan flat shoesnya mengalihkan pandangan Bumi. Dan, Prang. Kaca itu akhirnya pecah di mata Bumi.
Ayesha menghambur membawa adik iparnya ke dalam pelukannya. Bumi tak kuasa lagi menahan tangis. Dia tumpahkan segala sesak di dada Ayesha. Tangannya kuat mengepal dengan bibir terkatup agar suara tangisnya tak pecah. Cukup pecah di mata saja, jangan sampai pecah pula di bibirnya.
Ayesha penuh sayang mengusap kepala Bumi. Bergetarnya tubuh Bumi membuat Ayesha ikut merasakan kesedihan gadis itu.
"Kak, Aku nggak bisa. Aku harus gimana Kak?" Bumi akhirnya bersuara setelah tangisannya bisa Dia kendalikan.
"Aku bingung mau jawab apa, tapi Aku yakin Kamu pasti bisa." Ayesha kali ini menepuk-nepuk punggung Bumi. Bumi menarik tubub dari pelukkan kakak iparnya. Dia duduk tegap, mengusap sisa-sisa pecahan si bening kristal di wajahnya dengan ibu jari.
"Kak Akash sakit, malam kemarin Dia membiarkan dirinya semalaman kehujanan. Bodoh sekali Dia, sekolah 12 tahun masih dilanjut kuliah 4 tahun ngakunya Bos wisata kuliner tapi kelakuan seperti anak ABG diputusin pacar." Bumi tertawa lirih. Itu lebih mirip menangis dalam versi lain.
"Dia sayang banget sama Kamu, tapi kali ini Dia nggak bisa menolak keinginan keluarganya. Kalau Aku yang jadi Dia mungkin sudah terjun bebas dari rooftop. Bukan lagi sekedar main hujan." Ayesha pun berusaha tertawa.
*****
Pukul 17:00 Rere, Damar dan Laut sudah berjanji bertemu di kafe depan perkantoran. Rere sebagai bos datang paling akhir. Sudah tersedia moccachino kesukaannya.
"Dicampur sianida nggak, nih?" tanyanya sebelum menyesap sesuatu berwarna hitam bernama sedotan itu dengan mulutnya.
"Lo pikir Lo siapa? nggak ada untungnya ngeracunin Bos gila kayak Lo." Ucap Damar, tentu saja becanda.
"Jaga omongan Lo, nggak Gue kasih kado pernikahan tahu rasa," kata Rere seraya menendang kaki Damar di bawah meja.
"Ampun, Bos. Mau juga Gue dapet 30 jeti."
"Nggak ada 30 jeti buat Lo! Gue bungkusin bata merah sebiji aja udah paling bagus." Kelakar Rere disambut tawa dari Laut tapi tidak oleh Damar.
"Pilih kasih Lo, metinya tadi Gue beneran nuangin sianida di minuman Lo." Damar memajukan bibirnya.
"Rere mati Lo dipenjara seumur hidup. Dan Lila janda sebelum menikah. Gue doang yang bahagia." Laut menimpali ucapan Damar.
__ADS_1
Tentu saja kalimatnya membuat Rere dan Damar saling melirik lalu kompak menyerang Laut. Menggelitiki perutnya, mencubiti lengannya. Terakhir kompak menjambaki rambutnya. Ketiganya lupa dengan seragam kantor yang mereka kenakan. Larut dalam tawa canda dengan suasana hangat.
Rere dan Damar kompak melepaskan Laut setelah pria itu meminta ampun seraya mengaduh.
"Gila, Kita dilihatin?" Damar mencoba melirik ke segala arah. Beberapa pasang mata melihat aneh ke meja Mereka.
"Yaudah si nggak apa-apa, udah lama ya Kita nggak kayak gini. Dewasa itu nggak enak. Harus nikah, punya keluarga. Ribet." Ucap Rere seraya menyesap kembali minumannya.
"Lo nggak bahagia nikah sama Akash?"
"Kapan sih Akash buat Gue bahagia? Dari sejak kenal dan tahu dijodohin juga Dia cuek aja. Perjodohan Gue nggak seindah cerita dalam novel online yang bikin pembacanya termewek-mewek." Rere membuang pandangannya ke segala arah.
Damar dan Laut saling melempar pandang, berbicara lewat mata yang saling mengerjap.
"Udah nggak usah bingung, Gue nggak butuh hiburan. Gue bisa nyembuhin luka Gue sendiri." Rere menyandarkan tubuhnya pada kursi, mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.
"Lo nggak ada niatan kabur? Kawin lari sama dokter itu?" tebak Laut hati-hati.
Laut sebenarnya sudah tahu siapa dokter Guntur. Dokter Guntur adalah mantan gebetan Rere saat masih sekolah dulu. Lewat aduan Bumi tempo hari, Laut menyimpulkan bahwa cinta lama belum bersemi itu justru bersemi sekarang. Saat keadaan sudah rumit.
"Tahu dari mana Lo?"
"Nggak penting, yang jelas sekarang belum terlambat kalau Lo mau gagalin semuanya." Laut mulai serius.
"Ciih, Lo lagi berusaha perjuangin kebahagiaan adek Lo kan? Gila saingan Gue anak ingusan gitu." Rere mengepalkan tangannya.
"Gue nggak lagi belain siapa-siapa. Yang jelas antara Lo, Akash dan Bumi sama-sama berarti buat Gue. Kalian terlibat dalam hubungan rumit. Sialnya Gue cuma bisa jadi penonton."
Rere menghela nafasnya, Dia menenggak habis minumannya. Manisnya sudah berkurang karena es batunya sudah mencair sempurna.
"Gue nggak punya kuasa buat batalin pernikahan itu, bahkan Guntur pun nyerah gitu aja. Dia rela Gue nikah asal Gue bahagia."
"Dan Lo akan bahagia?" tanya Laut. Damar hanya jadi penonton. Dia malas jika membahas sesuatu yang serius.
"Pura-pura bahagia lebih tepatnya." Rere tertawa penuh luka.
Saat pergi dari rumah Rere berniat menyerahkan kehormatannya pada Guntur, Dia berharap bisa hamil oleh Guntur. Namun, Guntur menolaknya. Dia yakin itu bukan cara terbaik untuk menggagalkan pernikahan Akash dan dirinya.
Percakapan ketiga sahabat sore itu kembali hangat dan mencair setelah perhatian teralih pada Damar yang sebentar lagi akan melamar secara resmi kekasihnya.
__ADS_1
Setelah merayu dengan ampuh, akhirnya Rere bersedia memberikan uang dengan jumlah yang sama seperti pada Akash untuk Damar. Setelah langit semakin menghitam setelah semburat jingga datang beberapa saat lalu, ketiganya keluar dari kafe. Pulang dengan membawa kendaraan masing-masing.