Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
127


__ADS_3

Bumi disambut antusias oleh Ummi begitu sampai di rumah. Keduanya memang sudah lama tak bertemu. Bagi Ummi, Bumi sudah seperti anak sendiri.


"Maaf Ummi, harusnya kami yang ke rumah Ummi." Sesal Bumi seraya melerai pelukannya.


"Nggak apa, Sayang. Kamu kan sedang hamil, pasti kesulitan melakukan perjalanan jauh." Sahut Ummi seraya mengusap perut Bumi. "Mereka kembar?" tanya Ummi.


"Do'akan sehat ya, Ummi." Pinta Bumi dan diangguki oleh Ummi.


"Ontiiii" pekik Alisha yang baru saja kembali dari kamar tamu, melihat Ummanya menidurkan adiknya. Alisha memeluk leher Bumi.


"Kangen banget sama Alisha," Bumi balas mengusap kepala yang dibalut hijab ungu muda tersebut.


"Lica juga kangen sama onti." Ucap bocah itu seraya melepaskan pelukkannya.


"Iih bicaranya sudah jelas ya sekarang?" Bumi mencubit gemas kedua pipi Alisha.


"Dia nanyain kamu terus tuh," Zahra yang baru kembali dari menidurkan anaknya ikut bergabung.


"Kak Zha, aku juga kangen sama Kakak." Bumi merentangkan tangan menyambut tubuh Kakak iparnya ke dalam pelukannya.


"Apa kabar Babby twin?" Zahra mengusap perut Buncit itu.


"Alhamdullillah, baik." Sahut Bumi, pandangannya teralih pada sang Mama yang datang membawa dua buah piring berisi buah melon yang sudah dipotong kecil.


"Lisa mau melon nggak?" tawar Ayas pada gadis kecil yang kini duduk di pangkuan Zahra.


"Mauuu" sahutnya girang.


"Lisa apa sih yang nggak mau," sindir Akash yang baru saja datang. Ia hanya mengenakan sarung dan kaos lengan pendek. Mendudukan diri pada pinggiran sofa di samping Bumi.


"Mau disuapin atau makan sendiri?" bisiknya pada Bumi.


"Suapin dong," jawab istrinya malu-malu.


Akash berpindah tempat duduk, dia duduk di karpet tepat di bawah kaki Bumi. Sekilas ia melirik ke arah kaki istrinya yang terlihat bengkak.


"Sayang, kaki kamu bengkak lagi?" Akash menyingkap rok yang menutupi kaki istrinya.


"Tapi nggak sakit kok, Kak." Bumi berusaha memangkas kekhawatiran suaminya.


"Istirahat di kamar aja. Dek. Kakinya harus diselonjorkan itu." Beritahu Zahra.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Kamu istirahat dulu. Ummi juga pulangnya nanti sore." Ummi setuju dengan perkataan Zahra.


"Ayok ke kamar?" tawar Akash. Bumi tak menjawab, ia merasa tak enak meninggalkan tamunya.


"Sayang, dengarkan kata suamimu." Ayas ikut membujuk. "Kan ada Mama yang menemani Ummi."


"Nggak apa-apa Bumi ke kamar?" Bumi meminta kepastian dari Ummi.


"Nggak apa, Sayang. Kamu istirahar dulu." Tutur Ummi tersenyum hangat membuat Bumi yakin untuk segera beristirahat.


Dia beranjak dengan sedikit kesulitan, Akash sigap membantunya. Memapahnya berjalan dengan langkah yang sedikit diseret. Sampai di kamar Bumi segera duduk berselonjor di atas kasur dengan punggung bersandar pada heradboard tempat tidur.


"Gerah kak," keluhnya, "Nyalain AC nya," pintanha seraya menyerahkan remote AC yang sering ia sembunyikan di bawah bantal. Sebab, Akash selalu jahil mematikannya.


"Mau ganti baju?" tanya Akash setelah menyalakan AC dan mengatur suhunya.


"Mau pakai kaos Kakak yang besar itu, aku taruh di lemari paling bawah."


Akash segera mengambil kaos yang dimaksud Bumi. Kaos oblong putih berukuran jumbo. Sudah lusuh tapi sangat nyaman dipakai.


Akash membantu melepaskan hijab istrinya itu. Kemudian membantu membuka resleting gamisnya. Bumi sudah mulai kesulitan bila memakai gamis dengan resleting di bagian belakang.


"Besok jangan dipakai lagi bajunya, pakai yang kancing depan saja." Tutur Akash dan diangguki Bumi.


"Astagfirullah, sampai berbekas gini sih?" Akash mengusap perut istrinya.


"Nggak sakit kok, Kak." Sahut Bumi, terkadang Akash suka memberikan respon berlebihan yang membuat Bumi kesal.


"Dilap dulu pakai tisu basah ya, badannya?" tawar Akash. Bumi mengangguk ia memang merasa lengket.


Akash mengambil tisu basah yang berada di meja rias. Kali ini ia harus bisa menjaga diri. Bagaimana tidak, istrinya sedang menampakan keindahannya. Bahkan bagian dadanya jauh terlihat lebih berisi. Membuat Akash bersusah payah menahan diri.


Ia sapukan tisu basah itu ke bagian punggung mulus istrinya. Aroma bunga lavender menyeruak memenuhi rongga hidungnya. Bumi mulai merasakan tubuhnya lebih rilek.


"Aku sendiri aja," Bumi menepis tangan suaminya saat akan menyapukan tisu itu ke bagian depan tubuhnya.


"Aku saja, kamu kan lelah." Ujar Akash seraya mengerlingkan matanya.


"Ish Kakak, nggak mau." Omel Bumi seraya memukul lengan suaminya. Akash tertawa melihat wajah istrinya yang memerah. Bumi dengan kasar mengelap tubuh bagian depannya seraya bersungut-sungut.


"Pelan-pelan dong, itu aset berharga loh." Cicit Akash diakhiri dengan senyum jahil.

__ADS_1


"Kakaak, aku marah lagi nih." Ancam Bumi membuat Akash terkekeh seraya mengalungkan kaos untuk segera Bumi pakai.


"Aku bisa stress kalau lama-lama dikasih pemandangan indah kayak gini," ujarnya membuat Bumi tertawa.


"Senang banget lihat suaminya menderita." Omel Akash mencubit hidung istrinya.


"Lagian Kakak otaknya kesitu terus, aku lagi menderita kepanasan begini juga." Bumi kembali rertawa melihat tampang suaminya.


"Kamu mau tidur apa gimana? makan melonnya jadi nggak?" tawar Akash seraya membereskan pakaian istrinya kemudian menaruhnya di keranjang cucian.


"Mau tiduran aja tapi sambil dibacain sholawat nariyah, biar Dedeknya ikut tenang." Jawab Bumi seraya berbaring miring sesuai dengan posisi nyamannya.


Akash segera ikut berbaring, memeluknya dari belakang. Mulai melantunkan shalawat nariyah seraya tangannya mengusap perut buncit itu.


"Kak, aku sayang kamu." Ungkap Bumi, kemudian matanya terpejam. Suara Akash sangat merdu dan memanjakan indera pendengarannya. Membuatnya nyaman dibuai mimpi.


Akash tentu tak menjawab, dia menghayati bacaan shalawatnya. Mengulangnya berkali-kali hingga terdengar dengkuran halus dari istrinya.


Ia menghentikan bacaan sholawatnya. Mengusap pipi istrinya. Akash berpindah posisi ke hadapan Bumi. Dipandanginya wajah istrinya yang nampak tenang.


"Aku juga sayang banget sama kamu," gumamnya seraya mencium kening istrinya.


Setelah itu Akash kembali keluar kamar. Banyak yang harus ia kerjakan sebetulnya. Urusan pekerjaannya banyak ia serahkan pada orang kepercayaannya. Baginya tak ada yang lebih penting selain membersamai kehamilan istrinya yang tidak akan terjadi setiap hari.


Saat kembali ke ruang tamu ia mendapati Ummi dan Mama mertuanya saja yang sedang berbincang.


"Mana Kak Zha?" tanya Akash, ia duduk di samping Ummi.


"Alisha minta tidur, dia tadi sepanjang jalan tak berhenti mengoceh." Sahut Ummi.


"Bumi sudah tidur?" kali ini Ummi yang bertanya.


"Sudah, baru saja."


"Kalu belum tidur, Akash tak mungkin bisa keluar kamar, Ummi. Anak itu sangat manja." Papar Ayas yang sudah sangat hafal kebiasaan putrinya.


"Nggak apa, namanya juga kehamilan pertama. Kamu yang harus sering banyak mengalah." Tutur Ummi seraya mengusap kepala putranya.


"InsyaAllah, Ummi." Sahut Akash singkat.


"Akash suami yang baik, Ummi. Dia selalu memperhatikan istrinya walau kadang istrinya sendiri yang uring-uringan tidak jelas." Ungkap Ayas, sedikit merasa tak enak karena putrinya kadang kelewatan.

__ADS_1


"Nggak apa, Mam. Dia mengandung anaku. Dia kesulitan dalam segala hal akhir-akhir ini. Sudah sewajarnya aku memberi perhatian lebih."


Obrolan mereka terus berlanjut. Banyak hal yang dibahas termasuk perihal nama calon bayi mereka. Untuk hal itu Akash dan Bumi belum membicarakannya. Obrolan mulai terhenti saat adzan dhuhur berkumandang. Ummi segera mengikuti Ayas ke kamarnya untu shalat. Sementara Akash sendiri kembali ke kamar untuk membangunkan istrinya.


__ADS_2