
Akash berlari-lari sampai tidak menghiraukan saat Roni berkata bahwa ada salah satu perusahaan yang mengcancel katering siang ini dan diganti jadi besok. Dengan santainga Akash menjawab " kamu makan saja kalau memang terlanjur sudah dibuat."
Roni sampai geleng-geleng dengan tingkah bosnya, biasanya dia akan marah besar jika ada pelanggang yang melakukan cancel mendadak.
Akash menyebrangi jalan menuju apotik yang ada di sebelah rumah sakit. Dia memesan dua buah tespack yang paling akurat. Setelah membayar dia segera membawanya kembali ke restoran tak sabar menyuruh Bumi untuk segera memakai alat itu.
Bumi masih berada di kamar mandi saat Akash kembali. Sedari ditinggalkan suaminya, Bumi sudah dua kali diserang rasa mual dan kembali muntah sampai cairan yang dikeluarkannya berwarna kuning.
"Sayang, ayok cepat pipis." Ujar Akash dengan nafas tersengal.
"Masukkan ke sini urin kamu, ayo cepat." Akash menyerahkan gelas beukuran kecil pada Bumi.
"Ya udah Kakak tunggu di luar," suruh Bumi seraya mengambil gelas dan tespack.
"Nggak, nggak, aku di sini. Kamu nggak usah malu, tiap malam aku udah lihat." Akash sekonyong-konyong membawa Bumi ke arah kloset dan memegangi pinggang Bumi membantu membuka celananya.
"Kak, aku nggak nyaman kalau kayak gini. Udah, aku aja yang buka sendiri." Bumi menepis tangan Akash yang masih berada di pinggangnya.
Akash segera menuruti keinginan istrinya, dia menjauhkan dirinya dan membiarkan Bumi melakukan semuanya sendiri. Hingga tertampung urin itu dan Bumi segera meneteskannya pada alat tes kehamilan yang dipegangnya.
"Gimana?" Akash tak sabar.
"Tunggu, Kak. Sabar," omel Bumi seraya kembali menuju wastafel untuk memcuci tangannya.
Akash mengekorinya dari belakang, dia tak sabar melihat hasil yang akan dikeluarkan oleh benda kecil yang akan memberikannya jawaban.
Bumi mulai melihat tespack berjenis compact tersebut. Menurut petunjuknya jika hasilnya adalah hamil maka akan nampak tanda positif pada benda itu.
Bumi mengucap Bassmalah sebelum melihatnya. Akash semakin tak sabar.
"Allhamdullillah....," suara Bumi riang gembira mengucap hamdallah.
"Kak, positif. Itu artinya aku hamil." Pekik Bumi seraya berhamburan ke pelukkan suaminya.
"Allhamdullillah,"
Akash tak henti menciumi pucuk kepala istrinya.
"Kamu hamil sayang, kita akan jadi orang tua." Ujar Akash masih memeluk istrinya erat. Dalam pelukkan itu Bumi mengangguk berkali-kali. Air mata kebahagiaannya tak terbendung lagi.
__ADS_1
"Aku mau telpon Ummi," ujar Akash melerai pelukkannya dan membawa Bumi keluar dari kamar mandi.
Keduanya duduk di tepian tempat tidur. Akash tak melepaskan tangan Bumi, masih mengegenggam tangan itu. Senyumnya terus mengembang sembari tangannya mencari kontak yang ia beri nama Ummi.
Dua kali deringan dan Ummi menjawab panggilannya. Terdengar di seberang sana Ummi mengucap salam dan langsung dijawab oleh Akash.
"Ummi, istriku hamil. Bumi hamil." Ucap Akash girang membuat Ummi yang berada di seberang sana mengucapkan hamdallah berkali-kali.
"Mana dia? mana anakku?"
Akash memberikan ponselnya pada Bumi.
"Assallamuallaikum."
"Waalaikumsalam, sayang kamu hamil?"
"Iya Ummi, do'akan ya, Mi."
"Selamat ya, Sayang. Semoga selalu sehat. Berbahagialah, Nak. Sebab mulai hari ini Allah akan menjadikan shalatmu adalah yang paling utama. Kamu di siang hari akan mendaptkan pahala seperti orang yang berpuasa dan malamnya segala yang kamu lakukan akan mendapat pahala. Semua musibah dunia akan mendatangkan pahala untukmu sekalipun duri kecil yang melukai tanganmu. Malaikat akan beristighfar dan berdzikir untukmu. Sehat-sehat, Sayang."
Jelas terdengar suara Ummi di seberang sana sedang menangis.
"Ummi segera ke sana, ya."
Ummi mematikan sambungan telponnya. Bergegas merapikan penampilannya dan keluar dari kamar mencari-cari Nadia. Ummi bahkan lupa bahwa baru saja Nadia pamit berangkat kuliah.
Ummi baru menyadari saat diingatkan oleh asisten rumah tangganya. Dengan tas kecil di tangan Ummi bergegas keluar rumah untuk memanggil supir agar mengantarnya menuju restoran Akash.
Hatinya diliputi kebahagiaan yang amat. Menantu yang sudah seperti putrinya sendiri sedang hamil mengandung dzuriyat dari putranya. Ummi segera naik ke dalam mobil sedan berwarna hitam itu saat sang supir membukakan pintunya.
***
"Kak, wanita hamil sama artinya dengan seseorang yang tengah berjihad bukan? aku sekarang sedang berjihad?" Bumi baru kemarin mendengar penuturan seorang Ustadz di televisi yang siarannya ditayangkan sehabis shalat shubuh.
"Iya sayang, kamu menjadi wanita yang istimewa. Selamat atas kehamilanmu, jangan ragu untuk meminta apapun kepadaku." Tutur Akash, tangannya kembali merengkuh tubuh istrinya itu.
"Aku juga mau memberi tahu Mama," ujar Bumi.
Akash kembali melerai pelukkannya, dia mencari kontak Ayas di ponselnya dan segera memanggilnya begitu kontak itu ditemukan.
__ADS_1
Riang suara Ayas mengucap salam dan langsung dijawab Bumi. Bumi dengan antusias menceritakan kehamilannya. ayas tentu menjawab dengan suara riang gembira juga.
Mengucap selamat pada Bumi dan mewanti-wanti agar putrinya itu berhati-hati dan menjaga pola makan yang sehat. Ayas juga berjanji akan segera menemui Bumi.
Bumi mengakhiri sambungan panggilannya dan menyerahkan ponsel pada suaminya yang sedari tadi terus menatapnya sambil tersenyum.
"Sekarang tuan putri mandi, siap-siap lalu kita ke dokter. Ok?" Akash menyentil cuping hidung Bumi dan Bumi menghadiahinya senyuman hangat dan sebuah anggukkan.
"Tuan putri mau makan apa?" tanya Akash seraya merapikan rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
"Roti panggang, tapi yang baru. Yang itu udah dingin," keluh Bumi seraya menunjuk dengan ujung mata pada roti di meja sebelah tempat tidur.
"Ya sudah aku buat lagi, sama coklat panas lagi. Mau?" tawar Akash dan dianggukki Bumi. Sebelum keluar Akash kembali menyentuhkan wajahnya ke wajah Bumi. Lagi-lagi dia melakukannya tak sebentar.
Anehnya Bumi malah senang, biasanya dia marah tapi saat Akash akan melepaskannya justru dirinya yang menahan dan kembali melanjutkan hingga ketukkan di pintu terpaksa mengkakhiri kegiatan keduanya. Akash dan Bumi saling melepaskan keduanya tertawa untuk kegilaan yang mereka lakukan.
Akash berjalan menuju pintu dan membukanya. Didapatinya Ummi dengan senyum mengembang yang hangat.
Akash serta merta meraih tangan Ummi dan menciumnya khidmat. Memapahnua untuk menghampiri Bumi.
"Ummi....," Bumi merentangkan tangannya tanpa beranjak dari dudduknya.
Keduanya bepelukkan lama seraya saling mengusap pundak masing-masing.
"Jaga baik-baik calon cucu Ummi," ujar Ummi saat melepaskan pelukkannya.
"InsyaAllah, Mi." Ulasan senyum Bumi tampilkan di bibirnya.
"Terima kasih sudah mengandung zuriat putra Ummi." Ujar Umi lagi dengan tatapan penuh haru.
"Terimakasih juga Ummi telah menjadikan Bumi sebagai menantu," papar Bumi.
Keduanya kembali berpelukkan sementara Akash hanya menjadi penonton setia. Perasaan hangat meliputi hatinya menyaksikan interaksi Bumi dan Umminya, dua wanita paling berharga dan menjadi prioritasnya.
"Kalau sudah begini, Ummi tidak izinkan kalian pindah ke Bogor. Kalian tetap di Jakarta hingga Bumi melahirkan." Kalimat Ummi membuat Akash dan Bumi saling melempar pandang.
Pindah ke Bogor adalah hal yang diidamkan Bumi. Dia sudah sangat antusias mengurus dan mengisi perabotan di rumah sederhananya di Bogor. Dua minggu lalu bahkan dia sudah memasang kitchen set di sana. Dia sudah sangat ingin menempati rumah itu.
Jika Ummi yang melarangnya, mampukan dia menuruti kata-kata Ummi?
__ADS_1