Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
130


__ADS_3

Sore yang indah, sambil menunggu suaminya pulang, Bumi ikut bergabung bersama Celin dan kawan-kawannya. Kali ini ada yang mengejutkan. Mereka kedatangan anggota baru yang mana adalah gadis yang dibicarakan tempo hari oleh Celin dan Nazhia. Gadis yang dihamili oleh mantan kekasih Nazhia.


Nazhia tampak tegar mendengarkan kata per kata dari mulut gadis bernama Vanya itu. Vanya kini ditinggalkan oleh lelaki bejat yang hanya merusak kehidupannya.


Vanya sempat ingin menggugurkan kandungannya, namun teman-temannya mengagalkan rencananya itu. Bayi itu tidak memiliki dosa, yang berdosa adalah orangtuanya. Saat Bumi bertanya bagaimana tanggapan orangtuanya, Vanya menjawab mereka tidak boleh tahu. Bahkan pihak sekolahpun tidak boleh tahu.


Entahlah bagaimana cara anak-anak itu dalam membantu Vanya. Bumi hanya ikut mengaamiinkan saat mereka bilang semoga rencananya berhasil.


Akash datang tepat saat Bumi beringsut dari tempatnya duduk membersamai Celin dan kawan-kawannya. Senyumnya mengembang saat Akash mulai mendekat ke arahnya. Rindu itu seperti sudah lama tak bertemu saja. Bumi mengalungkan tangannya di leher Akash, tak peduli bahwa mereka masih berada dalam jangkauan Celin dan teman-temannya.


"Udah makan belum?" pertanyaan itu membuat Bumi mengulum kesal, mentang-mentang selera makannya bertambah, hanya pertanyaan itu yang selalu menjadi prioritas.


"Aku segendut itu ya sampai tiap kali yang ditanyakan selalu makan?" Bumi memicingkan matanya seraya menarik kembali tangannya. Akash salah bicara, baru datang sudah membuatnya kesal.


Rindu yang menggebu menguap begitu saja. Akash terkekeh melihat sikap istrinya itu. Dia tak menyangka jika pertanyaan sederhana yang maksudnya adalah sebuah perhatian bisa membuat istrinya kesal.


"Jangan marah dong, nanti kalau kamu belum makan aku yang berdosa karena telah menelantarkan istriku yang cantik ini." Seloroh Akash merangkul leher istrinya. "Aku mau cerita, mau di sini atau di kamar?"


"Di kamar aja, biar bisa selonjoran di kasur." Sahut Bumi. Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah. Mendapati Ayas yang sedang membuat sesuatu di dapur. Aroma jahe bercampur santan menyeruak di seluruh ruangan.


"Mama bikin bubur kacang hijau?" pekik Bumi, menyingkirkan tangan Akash dari lehernya lalu mendekat ke arah Ayas.


"Masih panas, nanti tunggu dingin." Ayas mengingatkan Bumi yang membuka begitu saja tutup panci. Tangannya sedikit kepanasan saat uap dalam panci menyeruak.


"Hati-hati dong, kebiasaan kamu ini." Akash segera mengambil tutup panci itu dan kembali menyimpannya di atas panci. "Lihat tangannya." Akash meraih kedua tangan Bumi, ia takut uap panas tadi mengenai tangan istrinya.


"Nggak apa-apa kok," ujar Bumi saat kedua tangannya masih diteliti Akash. "Nggak sakit," imbuhnya seraya menarik tangannya.

__ADS_1


"Lain kali jangan ceroboh, gimana kalau kena tangan?" cecar Akash.


"Buktinya kan enggak, Kak." Elak Bumi ingin lebih marah tapi berusaha menahan.


Ayas menggeleng dengan interaksi sepasang suami istri itu. Dulu dia tak semanja Bumi saat hamil. Sampai kehamilan di usia 9 bulan masih dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri.


Akash masih ingin melanjutkan bicara namun, getaran ponsel dalam saku celana mengalihkan perhatiannya. Ia merogoh ponselnya dan mengerutkan kening saat nama Ragga terpampang di layar ponselnya.


"Masuk duluan ke kamar!" titahnya pada Bumi, membuatnya mengangguk lalu pamit terhadap Ayas dan melangkah menuju kamar.


Bumi melepas hijabnya dan menjatuhkannya sembarangan di atas kasur. Namun, cepat ia ambil kembali dan diletakkan ke dalam keranjang baju kotor. Dia tak ingin selalu membebankan pekerjaan sepele pada suaminya.


Setelahnya ia mengganti gamisnya dengan kaos lusuh milik suaminya. Entahlah apa penyebabnya, kaos itu amat membuatnya nyaman. Kakinya mulai terasa berat, saat dilihat ternyata sudah mulai membengkak.


Tapi dia sudah tak kaget, mengingat hal tersebut memang sering terjadi pada usia kehamilan menjelang 9 bulan. Dalam hitungan dokter ini adalah minggu ke 35 usia kehamilannya. Kontraksi palsu seperti yang ia rasakan tadi pagi memang umum menyerang ibu hamil saat menjelang proses kelahiran.


"Kangen deh, padahal nggak sampai sehari aku ninggalin kamu." Ujar Akash mencium kening istrinya itu.


"Gombal...," cibir Bumi seraya memukul lengan Akash membuatnya reflek menjerit sebab mangkuk yang ia pegang hampir menumpahkan isinya.


"Jangan pukul-pukul nanti tumpah." Protesnya seraya menyendok bubur itu dan menyuapkannya pada Bumi.


"Tadi apa kata dokter?" tanyanya, ibu jarinya tergerak mengelap kuah bubur yang tertinggal di ujung bibir Bumi.


Setelah menelan buburnya Bumi menjawab, "dedek sehat, Bundanya sehat, Kepala dedek udah di bawah dua-duanya. InsyaaAllah bisa lahir normal."


Akash kembali menyuapkan bubur pada istrinya seraya berkata, "yakin mau melahirkan normal?"

__ADS_1


"Yakin, panggul aku besar. Sehat semuanya, Kak. Kakak do'a saja yang khusu sama Allah. Biar Bunda sama dedek sehat dan selamat tanpa kurang satu apapun." Sahut Bumi seraya memeluk lengan suaminya dan bersandar di sana.


"Jadi gimana ceritanya bisa kebakaran, kak?" dalam nada bicaranya Bumi tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


Akash mulai menjelaskan segalanya. Ia juga membeberkan bahwa saat ini akan mulai proses pembangunan kembali. Bumi manggut-manggut tanda mengerti.


"Aku nggak bisa bantu modal, nggak punya uang." Keluhnya, sedih dan membuat Akash tertawa.


"Uang dari kak Laut aku kasih ke Paman Yudis buat nambahin modal ternak bebeknya."


"Kamu cukup berdo'a buat aku, nggak perlu ikut memikirkan buat modal." Tutur Akash seraya menyibak anak rambut yang menempel pada dahi Bumi yang berkeringat.


"Aku jadi istri nggak ada gunanya banget, ya? manja, kerjanya cuma makan dan tidur. Aku ngerepotin kamu terus. Maaf, ya." Perkataan itu sontak membuat suasana menjadi haru.


Akash menaruh mangkuk yang isinya tinggal sedikit ke atas meja di samping tempat tidur. Ia kemudian menangkup kedua pipi istrinya. Dahinya yang berkeringat berkilap-kilap diterpa sorot lampu.


"Kamu itu istimewa, kamu berjuang mempertaruhkan nyawa demi memgandung zuriatku. Di mana letak merepotkannya?"


Bumi tak menjawab, air matanya meleleh begitu saja, terasa hangat mengaliri pipi mulusnya.


"Jangan pernah berfikir seperti itu, jika bisa aku ingin melakukan segalanya untukmu lebih dari ini." Papar Akash, ibu jarinya mengusap air mata Bumi yang menganak sungai.


"Maaf aku selalu merajuk tanpa alasan yang jelas, aku juga nggak tahu kenapa selalu ingin marah-marah. Maaf ya." Kata maaf yang ingin ia ucap sedari pagi itu akhirnya lolos juga.


Akash tersenyum hangat, menarik kepala istrinya kedalam dekapannya. "Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menggantikan rasa sakit dan lelahnya mengandung. InsyaAllah ini akan menjadi bagian dari jihadmu, pahalamu sedang dicatat oleh Allah, kamu istimewa, Sayang."


Bumi mengeratkan pelukannya, ia merasa bersyukur memiliki suami yang tak hanya pandai menunjukan kasih sayang tapi juga pandai menuntunnya untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Khalik.

__ADS_1


__ADS_2