Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
37


__ADS_3

Pagi itu matahari nampak malu bersinar. Hujan semalaman membuat langit berkabut dan menciptakan efek malas beranjak dari tempat tidur. Tak terkecuali Bumi, libur bekerja membuatnya enggan beranjak dari tempat tidur. Walau tidak tidur, Dia memilih bergelung di bawah selimut ditemani sebuah lagu dari Rossa yang dia putar di ponselnya


Mengapa semua ini terjadi kepadaku


Tuhan maafkan diri ini


Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya


Namun apalah daya ini bila ternyata


Sesungguhnya, Aku terlalu cinta Dia


Sebuah lagu mellow yang mewakili hatinya. Ketukan pintu Dia hiraukan. Sampai akhirnya pintu itu dibuka sendiri oleh yang mengetuknya. Ayas datang bersama Nadia. Bumi tidak memyadari kedatangan keduanya. Dia terlalu hanyut dalam lirik lagu selanjutnya yang berputar di ponselnya.


Aku tlah tahu Kita memang tak mungkin


Tapi mengapa Kita selalu bertemu


Aku tlah tahu hati ini harus menghindar


Namun kenyataan Ku tak bisa


Maafkan Aku terlanjur mencinta


Tak ada jawaban saat Ayas maupun Nadia memanggil namanya. Membuat Sang Mama meraih ponsel dan mematikan lagu. Bumi terperanjat. Diusapnya air mata yang menggenang.


"Maaf, Bumi nggak dengar ada Mama dan Nadia." Bumi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu jangan kebanyakan melamun, ini Nadia temenin. Mama mau beres-beres dulu."


Ayas keluar dari kamar Bumi. Banyak hal yang harus Dia rapikan termasuk mengepak baju karena sudah memutuskan untuk pindah ke kampung bersama Uti.


Bumi mengajak Nadia duduk di sebelahnya. Keduanya kompak bersandar pada headboard tempat tidur.


"Aku ganggu ya Kak?"


"Enggak koq, Aku cuma pengen menikmati waktu liburan aja." Jawab Bumi seraya merentangkan tangannya, menggeliat.


"Aku pengen curhat, Kakak mau mendengarkan kan?" tanya Nadia dengan mata sayu dan sembab. Seperti habis menangis.

__ADS_1


"Kamu habis nangis?"


Nadia hanya mengangguk, lalu menghambur ke pelukan Bumi.


"Aku takut kisah cintaku seperti Kak Akash dan Kak Bumi. Aku takut keluargaku tidak mau menerima lelaki yang kucintai."


Nadia berusaha mencerna kalimat Nadia. Dia mulai mengerti. Diusapnya pucuk kepala gadis yang memakai hijab hijau muda itu.


"Kamu sedang jatuh cinta?"


Nadia mengangguk. Sebulan yang lalu dia dikenalkan dengan seorang pria yang merupakan salah satu jamaah tempatnya selama ini ikut kajian islam. Namanya Abqari. Seorang guru bahasa arab di salah satu Madrasah Aliyah ternama di tanah kelahirannya.


"Bukan orang sini?" tanya Bumi saat Nadia bilang bahwa Abqari tinggal di luar kota.


"Dia hanya seminggu sekali datang kemari untuk ikut kajian. Sedang mencari calon istri, Kak. Saat ustadzahku bercerita tentangnya Aku tertarik. Sudah lama sebenarnya Aku mengagumi sosoknya."


"Ganteng nggak?" Bumi mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Nadia. Nadia tertawa, Dia menarik diri dari pelukan Bumi. Mengusap air matanya dan kembali berkata.


"Cinta memang seperti itu ya, dari mata lalu menggetarkan hati. Kukira jatuh cinta itu indah namun nyatanya menyesakkan."


"Jadi beneran ganteng nih?" Bumi kembali menggoda Nadia dan membuatnya tersipu.


"Lalu kenapa Kamu berfikir keluarga akan menolaknya? Dia bukan anak seorang supir kan?" tanya Bumi, menyindir dirinya sendiri.


"Kak, sebelumnya Aku minta maaf ya atas ucapan Kak Zha." Nadia menggenggam tangan Bumi.


"Aku nggak marah koq, terkadang manusia memang perlu ditampar untuk sadar diri."


Nadia semakin merasa tak enak hati. Raut wajah Bumi penuh kesakitan. Jika posisinya dibalik, mungkin Nadia tidak akan sanggup menjadi Bumi.


"Aku selalu berdo'a agar Kalian bisa bersama."


"Aku juga, bahkan sudah kutikung di sepertiga malam. Namun, lagi-lagi Aku hanya bisa ikhlas."


Bumi mengusap punggung tangan Nadia yang masih menggenggamnya. Di tatapnga Nadia lekat-lekat. Cantik dan sholehah tergambar dari balutan hijab yang membungkus tubuhnya. Tidak ada lekukan tubuh di sana yang terlihat.


"Aku takut kisahku seperti kalian," ucap Nadia memalingkan pandangannya berusaha menahan tangis.


"Kenapa? Dia sudah pasti sholeh, seorang Guru. Apa alasan keluargamu menolaknya?"

__ADS_1


"Status sosial, orangtuanya hanya guru ngaji biasa. Bukan ulama besar. Katanya profesinya hanya sebagai petani." Nadia menggigit bibir bawahnya.


"Nilai plusnya Dia itu sholeh. Aku ditolak karena tidak memiliki keduanya. Miskin ilmu dan miskin harta."


Nadia terhenyak mendengar perkataan Bumi. Seburuk itukah keluarganya memandang Bumi? Yang Nadia tahu Akash dan Rere memang sudah dijodohkan sedari dulu dengan alasan kedekatan antara kedua belah pihak keluarga.


"Aku harus gimana Kak?"


Bumi menghela nafas panjang. Dia menatap lekat Nadia.


"Sudah dikenalkan pada Ummi?"


Nadia menggeleng. Jangankan mengenalkan pada Ummi dirinya saja hanya beberapa kali bertemu dan mengobrol hanya via chat. Itupun hanya sekedar membahas urusan kajian.


"Cobalah mengenalkan pada Ummi, Aku yakin jika niatnya baik pasti Mereka mau menerima. Atau bisa Kamu kenalkan dulu pada Kak Akash. Hitung-hitung diospek."


Keduanya saling pandang dan melempar tawa bersama. Hati Nadia menjadi lega. Tepat sasaran memang jika curhat terhadap Bumi. Dia hanya butuh semangat dan teman bicara.


Ponsel Nadia berdering, Akash menelponnya. Namun, saat dijawab justru suara lain yang mengucap salam. Nadia membulatkan mata saat pegawai Akash memberi tahu bahwa Akash sakit. Tubuhnya ditemukan pingsan di rooftop dengan kondisi bibir biru dan badan demam.


Dengan terbata Nadia menceritakan keadaan Akash pada bumi. Bumi panik, disambarnya handuk bekas semalam yang masih tergeletak di kursi meja rias. Mandi seadanya yang penting bersih, itu pikirnya.


Bumi asal saja mengambil pakainannya, menguncir rambutnya karena tak sempat keramas. Sambil berjalan dia memakai sneakernya. Nadia yang juga panik mengingatkan agar Bumi duduk dulu namun tidak digubris.


Tidak ada waktu untuk memesan ojol, Bumi mengajak Nadia naik angkot saja. Selama perjalanan Bumi tak henti menatap ke arah luar. Berharap semoga cepat sampai.


"Kak, tenang aja. Barusan pegawai Kak Akash kirim pesan katanya Kakak udah sadar."


Bumi hanya mengangguk, sedikit lega. Bersamaan dengan itu Nadia menyetop angkot karena sudah tiba di depan restoran. Keduanya mengambil langkah lebar. Setelah diberi tahu bahwa Akash sudah berada di kamar nya Bumi dan Nadia langsung berlarian.


Akash berbaring di kasur dengan selimut menutup tubuhnya. Terlihat bubur dan segelas air putih di meja samping tempat tidur.


"Kakak kenapa bisa kayak gini?"


Nadia langsung duduk di samping Kakaknya. Menyentuh dahi, pipi dan leher Akash yang sangat panas. Bibirnya pucat dengan mata sayu. Bumi ikut mendekat. Duduk di samping Nadia.


Bumi melirik bubur dan air putih yang masih utuh. Dilihat dari kepulan asapnya bubur itu sepertinya baru saja dibuat.


"Kamu belikan Kakak obat, ya Nad?" pinta Akash pada Nadia dengan tatapan sulit diartikan. Nadia awalnya enggan, tapi Dia mengerti. Sang Kakak sepertinya ingin berdua saja dengan Bumi. Nadia mengangguk, segera beranjak membawa senyuman meledek pada Kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2