
Bumi langsung berhamburan menuju kamar Akash setelah Rino menghentingkan motornya. Bumi bahkan mendorong punggung Roni saat turun dari motor. Bahkan teriakan Roni yang menyuruhnya melepas helm tak Bumi hiraukan. Dia terus berlari sambil melepas helm dan meletakkan sembarangan di meja tamu. Nina yang sedari tadi berjalan mondar mandir di depan kamar Akash bernafas lega saat Bumi sudah datang.
"Kamu nggak berusaha menyadarkan Kakak?"
"Mana berani Saya, Mbak?"
Bumi hanya menggeleng lalu segera masuk. Wajah Akas pucat sekali, keringat masih membanjiri dahinya. Bumi segera mengelap keringat dengan tisu. Lalu membalurkan kayu putih ke dahi, perut bahkan kaki. Dia menggosok-gosok telunjuknya yang sudah dibaluri kayu putih pada hidung Akash. Berhasil, Akash mengerjkan matanya. Wajah Bumi yang pertama kali Dia lihat. Dengan suara yang lemah Dia bergumam. "Yaa Rabb, bahkan wajahnya tidak dapat sebentar saja hilang dari penglihatanku."
Bumi yang mendengarnya tertawa seraha memukul lengan Akash.
"Bangun, ini bukan mimpi. Ini beneran Bumi, Kak."
Akash yang terpejam kembali membuka mata, ingin duduk namun tak bisa.
"Kenapa ada di sini?"
"Diculik Bang Rino, Kamu kenapa bisa pingsan sih?"
"Sakit perut, bolak balik toilet dari semalam. Apa Aku mau mati?"
"Hus, sembarangan!" Bumi mencubit perut Akash dan membuatnya mengaduh kesakitan.
Tak lama Rina datang dengan segelas air putih hangat dan bubur yang baru ia panaskan. Sebelum keluar, Bumi meminta Rina untuk dicarikan daun pucuk jambu biji dan menyuruhnya merebus daun itu.
"Buat apa daun jambu biji direbus?"
"Buat Kakak minum, itu bisa mengurangi rasa mulas. Atau Kakak ke rumah sakit saja ya?" Bumi memberikan penawaran. Melihat bibir Akash yang sangat pucat Bumi sangat khawatir.
"Aku di sini saja, tapi Kamu yang temani." Akash menolak mentah-mentah tawaran Bumi.
"Aku hari ini kerja, masuk shift siang. Nggak bisa nemenin Kamu."
Akash terlihat berfikir seraya mengambil gelas yang diaodorkan Bumi lalu meminumnya sampai habis. Bumi segera meletakkan kembali gelas kosong itu dan beralih mengambil bubur, masih panas. Sedikit Bumi mengambil bagian sisi dari bubur itu. Menempelkan sejenak pada bibirnya, hangat. Lalu Dia menyuapkannya pada Akash.
Terus Dia lakukan kegiatan itu sampai bubur habis dan tanpa ada drama tumpah lagi.
"Aku berasa dicium deh," ujar Akash setelah menerima tisu dari Bumi untuk mengelap bibirnya.
__ADS_1
"Jangan geer, itu trik biar buburnya cepat dingin. Kakak tidur lagi sana. Aku mau pulang." Ucap Bumi menggulung sedikit lengan cardigannya.
Nina kembali ke kamar dan membawa segelas besar air rebusan daun jambu biji yang masih mengepul. Uapnya menyeruak dan dengan sengaja Bumi dekatkan pada hidung Akash. Akash mengkerutkan kening, namun tetap menghirupnya.
"Biar apa?"
"Biar hangat." Jawab Bumi seraya meletakan gelas itu di meja, merasa pegal juga terlalu lama memeganginya.
"Biar hangat tuh, begini...." Akash meraih tangan Bumi dan menggenggamnya. Bumi reflek menarik tangannya dan berdiri menjauh.
"Iih apaan sih, Kamu koq jadi mesum gini?"
Akash tertawa, niatnya hanya bercanda malah dikatai mesum. Dia yang merasa tubuhnya sedikit membaik berusaha mendudukan diri dan bersandae pada headboard tempat tidur.
"Becanda, sayang!"
"Nggak usah sayang sayang, pastikan jika ingin membawa seseorang melayang itu jangan pernah berfikir akan membuatnya terjatuh." Bumi mengangkat jari telunjuknya dan jempolnya lalu menembakannya pada wajah Akash.
"Kamu lucu,"
"Emangnga Aku boneka?" Bumi masih berdiri di posisinya seraya memutar bola mata.
Keduanya tertawa. Berusaha menyembuhkan luka di hati masing-masing. Jika kenyataan tidak bisa dilawan, maka ikhlas adalah cara terbaik menjalaninya.
*****
Pagi itu kehangatan tercipta di ruang makan keluarga Anggara. Pria yang jarang sekali bisa menemani Anak sekaligus Sang Mama sarapan itu terlihat bahagia memandangi putrinya. Setelah shalat shubuh tadi, Anggara menemui Rere dan meminta maaf. Tentu saja Rere memaafkannya.
"Kamu kalau masih enggan mengantor, istirahat saja di rumah." Ucap Anggara setelah menyelesaikan sarapannya.
"Rere lebih baik ke kantor, Pi. Laut kan masih cuti pasti banyak yang harus dikerjakan."
"Laut kemarin ada koq. Papi bertemu dan mengobrol dengannya."
Jawaban sang Papi membuat kening Rere berkerut. Dia meraih ponsel dan melakukan panggilan keluar.
"Kemana saja Bos?"
__ADS_1
"Berisik Lo, memang nggak jadi cuti?"
"Istri Gue datang bulan, mending ngantor aja banyak kerjaan. Minggu depan Gue ambil cutinya."
"Dasar mesum, ya udah. Sampai bertemu di kantor."
Rere mengakhiri sambungan teleponnya.
"Laut cutinya minggu depan Pi."
Ucapan Rere membuat Anggara mengangguk takjim. Dia barusan pun sudah mendengar percakap putrinya dengan Laut. Rere ingin sekali mengutarakan keinginannya untuk membatalkan pernikahan. Namun, Dia urungkan demi tidak ingin merusak suasana hangat pagi itu.
Mereka semua mengakhiri sarapan dan kembali berpisah menjalani aktivitas masing-masing.
****
Sama halnya dengan Laut, Ayesha pun kembali menyibukkan diri dengan bekerja. Cutinya Dia ganti jadi minggu depan. Pasangan suami istri itu sudah sepakat ingin berlibur ke puncak saja mengajak teman-temannya. Agar ramai dan seru. Begitu kata Ayesha saat Laut sedikit protes.
Bumi sendiri berhasil meloloskan diri dan pulang setelah Akash kembali tidur dan menghabiskan air rebusan jambu bijinya. Meski kerepotan, Bumi senang juga bisa membantu Akash. Anggap saja latihan jika suatu hari suaminya sakit Dia sudah ada pengalaman. Suami? memangnya siapa yang akan jadi suaminya setelah Akash dinikahkan dengan gadis lain.
Bumi membuang jauh-jauh pikiran yang dapat merusak jiwanya itu. Bahagia harus diciptakan sendiri. Berhenti, menepi dan ikhlaskan. Cinta tidak melulu soal harus bersama. Atau mungkin ada jalan lain yang indah agar cinta itu bisa bersama. Bumi hanya akan menunggu. Jika kali ino hatinya patah, maka biarkan waktu yang akan membuatnya sembuh. Yang patah tidak selamanya jadi lumpuh kan?
Bumi terus membawa langkahnya siang itu menyusuri koridor rumah sakit. Libur beberapa hari ini membuat Dirinya rindu dengan aroma khas obat-obatan. Saat tiba di ruangan terdengar celotehan para temannya yang menggoda Ayesha, si pengantin baru. Mengoloknya dengan malam pertama yang tentu saja membuat Ayesha merona. Bumi yang tahu kalau malam pertama itu belum terjadi malah menambah-nambahi dengan celotehannya.
"Sekarang sudah sebatas mana Kak? sudah sampai pangkal paha?"
"Bumiiiiiii." Teriakan Ayesha memekikkan telinga mereka, termasuk dirinya sendiri.
"PMS bikin bad mood ya, Kak?
Sontak saja perkataan Bumi kembali mengundang tawa para rekannya.
"Jadi belum belah duren, Mbak? Makanya jalannya masih normal?" pertanyaan meluncur dari bibir Lundra. Dan membuat Ayesha langsung melempar pria itu dengan pulpen yang ada di mejanya.
"Pantesan nggak jadi cuti." Timpal Sofi cekikikan sendiri.
"Boleh nyicil lah, Kak. Sebatas bibir mungkin?" Rumi ikut-ikutan bicara.
__ADS_1
Ayesha hanya menggeleng, Dia tahu anak buahnya itu hanya becanda. Alih-alih marah Dia malah ikut tertawa bersama Mereka. Sekilas melirik Bumi, meski tertawa raut kesedihan sangay jelas di wajahnya. Ayesha harus bicara pada Bumi, begitu pikirnya.